Sastra Wangi dan Sastra Lendir

Alunk S Tohank *
mpusastra.blogspot.co.id

Berbicara tentang persoalan sastra, jarang sekali kita mengaitkannya dengan seks. Sastra adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia dan masyarakat melalui bahasa sebagai medium, dan punya efek yang positif terhadap kehidupan manusia. Jadi bagaimana mungkin kita memasukkan unsur seks kedalam persoalan sastra? Bukankah seks lebih bersifat impulsif, irasional dan penuh gairah. Tentu ini menjadi hal yang tabu untuk membicarakan sastra dan seks. Namun apakah benar persoalan sastra jauh dari masalah seks? Ini yang jarang kita bicarakan dan marilah kita coba untuk membicarakan persoalan ini.

Pada abad ke-6 SM persoalan sastra dan seks telah ditulis oleh Sappho, salah satu filsuf wanita paling awal yang memasukkan unsur seks kedalam karya sastra. Sappho beranggapan kalau cinta, apapun bentuknya, erotis atau kasih sayang orang tua, ia anggap sebagai jalan menuju kebenaran. Kebenaran tentang manusia dan kebenaran tentang dunia.

Setidaknya Sappho mengekspresikan pemikirannya kedalam 300 buah puisi, dan hampir kesemuanya berbicara soal gairah cinta dan seksualitas. Maka tidak jarang dia dihujat oleh para laki-laki dan perempuan yang menganggap puisi-puisinya tidak pantas dan tidak bermoral. Padahal Sappho hanya ingin menyatakan bahwa gairah dan cinta adalah bagian dari kehidupan manusia. Lalu bagaimana sastra dan seks di Indonesia?

Sebenarnya tema seks sudah mulai dari dulu menjadi perbincangan yang hangat dan kontroversial, apalagi di belantika sastra Indonesia mutakhir. Tema-tema seks sepertinya begitu akrab dengan para penulis (sastrawan) kita. Coba telusuri karya Saman (Ayu Utami), Jangan Main-Main Dengan Kelaminku (Djenar Maesa Ayu), Wajah Sebuah Vagina (Naming Pranoto), Kuda Ranjang (Binhad Nurrohmat) dll. Melihat dari judulnya saja kita sudah memiliki gambaran “kelamin”, seks dan seteru yang seru.

Kemudian dari isu seksualitas dalam sastra kita tersebut, muncullah petanda Sastra Wangi dan Sastra Lendir sebagai kritik sastrawan mutakhir atas tema-tema seksualitas. Ada yang berargumen tulisan-tulisan mengenai seksualitas dalam karya sastra seperti yang ada dalam “Saman” karya Ayu Utami, tercela dan tak pantas menjadi bahan bacaan masyarakat luas. Ada juga yang mengatakan bahwa ini suatu ideologi dari seorang perempuan atas kebebasan seks. Bahkan ada yang berpendapat bahwa Ayu Utami hanya ingin melepas diri dari hegimoni seorang laki-laki, yang mana perempuan dalam perkara apapun (termasuk bersetubuh) selalu berada dalam posisi di bawah.

Maka berangkat dari berbagai anggapan mengenai seks dan kita, maka tidak berlebihan jika saya mengatakan. Bahwa isu seksualitas dalam kesusastraan kita adalah sebuah kreatifitas murni dari keresahan penulisnya, tidak ada unsur porno atau menjorok-jorokkan nafsu. Memang masuk akal atas beberapa kritik para sastrawan yang dilayangkan atas isu seksualitas yang terlalu vulgar dalam belantika sastra kita, tapi yang perlu kita fahami adalah usaha memahami seksualitas dalam kehidupan kita sehari-hari.

Seperti ideologi yang di bangun Ayu Utami dalam Novelnya ‘Saman’, dia sebenarnya hanya merepresentasikan kehidupan manusia menyangkut kebebasan ber-seks. Dia membayangkan dalam ‘Saman’, inilah kehidupan manusia sekarang, perempuan dan laki-laki yang model bercintanya hanya bergumul pada kepuasan biologis (nafsu). Seksualitas yang salah.

Tidak jauh beda dengan apa yang diresahkan Binhad Norrohmat, alumni pesantren yang tiba-tiba muncul dengan karya (puisi) yang menyentak batin ‘Kuda Ranjang’. Dari pengambilan judulnya saja siapa yang tidak curiga bahwa ini adalah kejantanan di atas ranjang. Kata ‘Kuda’ yang menyatakan simbol kejantanan, sedangkan kata ‘Ranjang’ menunjukkan suatu medan penaklukan perempuan (istilah yang biasa digunakan Damhuri Muhammad). Dengan penafsiran yang lebih luas bahwa ‘Kuda Ranjang’ adalah kejantanan dari seorang laki-laki yang mampu menaklukan perempuan di atas ranjang dan perempuan akan tumbang sebagai sesuatu yang berada di bawah.

Dari fenomena judul puisi Binhad Norrohmat ini penggambaran seks sudah jelas, binal dan vulgar. Makanya kemudia banyak kecaman dan kritik mengarah ke daerah kreatif Binhad, dengan anggapan masak seorang alumni pesantran menulis karya sastra dengan sangat porno dan menjijikkan, ini suatu penyimpangan moral dari seorang lulusan pesantren, sangat tidak wajar. Padahal ini hanya keresahan Binhad sebagai lulusan pesantren ketika dikejutkan dengan melihat dunia luar (tepatnya Jakarta) yang begitu terbuka pergaulan antara laki-laki dan perempuan, lalu hubungan seks yang sangat mudah di jumpai bahkan di jalan-jalan. Sebenarnya proses kreatif Binhad dalam Kuda Ranjangnya berangkat dari realitas lingkungan yang kacau, dia mengalami keterdesakan zaman dan keresahan atas fenomena seks bebas, lalu keresahan-keresahan tersebut di luncurkan lewat karya puisi yang terkumpul dalam buku antologinya ‘Kuda Ranjang’.

Sastra Wangi dan Sastra Lendir bagi saya hanya ungkapan kritis atas tidak mengertinya pembaca terhadap maksud dari karya sastra yang bernuansa seks. Ayu Utami, Binhad Norrahmat dan kawan-kawannya, sebenarnya hanya ingin menyampaikan kepada khalayak (masyarakat umum) bahwa fenomena seks sudah di salah maksudkan prakteknya. Seks kini sudah tidak sakral lagi, tidak suci. Seks bukan Cuma hukum bagi yang berkeluarga (menikah). Tapi Semacam pekerja seks yang beroperasi di berbagai tempat atau di lokalisasi lainnya dan bahkan di kehidupan pemuda kekinian, yang telah menganggap hukum seks adalah kebutuhan nafsu yang perlu di tunaikan.

Inilah sebenarnya carut-marut seks, sastra dan kita.

Kutub 2015

*) Alunk S Tohank (Nurul Anam), Esais tinggal di Yogyakarta. Sekarang aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).
http://mpusastra.blogspot.co.id/2015/03/sastra-wangi-dan-sastra-lendir.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *