Sastrawan Narsis

Anwar Noeris *
Minggu Paagi, Okt 2014

Belakangan ini sepertinya karya sastra sedang meletus dan kepingan-kepingannya berhamburan ke media-media, baik media online maupun media cetak, dengan begitu mudahnya kita dapat menjumpai karya sastra dan membacanya. Perkembangan zaman dan tegnologi telah begitu dirasa majunya. Kita dengan begitu mudah mempublikasikan karya kita di media kemudian dengan mudah pula dapat dibaca oleh masyarakat luas.

Tapi perlu kita sadari bersama, sebagai penikmat sastra saya merasa kurang enak dengan sikap para sastrawan di negara ini. Para sastrawan di negara ini terlalu lebay dan narsis. Perkembangan zaman dan kecepatan akses teknologi bukan dijadikan sarana mutu karya sastra yang lebih baik oleh sastrawan kita, tapi malah dijadiakan ajang unjuk gigi dan pamer popularitas.

Parahnya lagi budaya narsistik yang sudah merambat ke otak para sastrawan kita di dominasi oleh sastrawan muda, yang baru tahu menulis atau yang tulisannya baru di muat di media Koran atau di dalam buku antologi. Mereka (sastrawan usia muda) lalu berbondong-bondong memberitahu/mempromosikan karyanya di media social seperti facebook, bahwa inilah tulisan saya, inilah buku saya, lalu dengan bangga diri karena banyak orang yang nge-like dan memberi pujian ini itu. Saya adalah penulis, saya adalah sastrawan, pikirnya dengan membusungkan dada. Apakah ukuran karya sastra yang baik adalah di muat di media atau di dalam buku antologi? Saya kira media bukan ukuran baik-buruknya karya sastra.

Mari kita renungkan bersama budaya narsistik ini, hal yang begitu sepele memang, tapi kalau dibiarkan ini akan menjadi sikap yang akan meninggikan diri, sikap mengejar popularitas bukan kualitas, yang hal tersebut akan merambat ke karya sastra yang hanya main-main.

Cukup rasional kiranya mengembalikan nilai-nilai luhur sastra kita dan sastrawan pendahulu kita, mengingatkan kepada para sastrawan mutakhir ini bahwa dalam dunia sastra bukan popularitas yang menjadi nilai perkembangan sastra/sastra yang baik. Tapi kualitas dari karya sastra itu sendiri.

Barangkali para sastrawan kita sekarang kurang membaca dan mengikuti jejak langkah pendahulunya. Umbu Landu Paranggi, siapa yang tidak kenal orang ini? semua kalangan yang suka bahkan yang tidak suka sastra akan mengenali orang ini. dia seorang Umbu yang tidak mau dikatakan sastrawan, tulisan-tulisannya tidak mau dipublikasikan beserta identitasnya bahkan dia tidak sempat memikirkan popularitasnya. Sampai suatu hari dulu, majalah sastra Indonesia—Majalah Horison mencuri karya sastra puisinya untuk dipublikasikan di majalah sastra nasional ini.

“dicuri” patut kita garis bawahi dalam konteks ini. dan kita korelasikan kata “dicuri konteks Umbu” dan “dicuri konteks karya sastra mutakhir ini”. “dicuri” dalam konteks Umbu sudah menjadi persoalan langka, tapi bagaimana dengan posisi “dicuri” karyanya sastrawan mutakhir ini. Adakah?

Konteks “dicuri dan mencuri” dalam karya sastra, bagi saya adalah pekerjaan mulya sang subyek, dan hal luar biasa bagi sang objek. Sebab subyek ini mengerjakan “mencuri” lantaran ingin karya sastra tersebut tidak hanya diam dengan sendiri, agar karya sastra itu sampai dan memberi pengetahuan kepada masyarakat luar. Lalu dalam polemic kesusastraan mutakhir kini, adakah “curi-mencuri” karya sastra untuk di terbitkan di media? Dan jelas tidak ada. Yang ada karya sastra dipaksa-paksakan di terbitkan di media.

Alasannya cukup sederhana, sebab sastrwan sekarang yang di kejar pertamakali bukan masalah kualitas sebuah karya sastra tapi nilai muatnya di media dan di buku-buku antologi. Daya ukur yang dipakai sastrawan kita sekarang sudah kabur. Di zaman yang serba praktis ini, untuk menerbitkan sebuah buku begitu mudah, di mana-mana sudah ada percetakan bahkan kita juga bisa membuat percetakan sendiri lalu menerbitkan buku kita sendiri. Begitu mudahnya bukan?

Kemudian seperti inilah persoalan sastra dan sastrawan kita mutakhir ini. mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan nama di mata pembaca, mempromosikan karyanya di facebook, di tweeter, di blog dan sebagainya. Sedangkan mereka lupa bahwa karya yang di baca masyarakat luas adalah karya kacangan, karya yang hanya melompat-lompatkan bahasa, tanpa ada isi dan pesan pengetahuan yang dapat pembaca tangkap.

Lalu benar apa yang digelisahkan Nirwan Dawanto “Setiap akhir tahun saya merasa lara dan terkutuk sebab saya tahu tak banyak karya sastra dalam bahasa nasional kita dalam setahun itu yang layak dikenang. Sebagian besar hanya akan tinggal sebagai dokumentasi. Namun takut menjadi anak durhaka di kampung halaman sendiri, saya berusaha toleran terhadap mutu sastra, lalu menghibur diri, lihat bakat baru yang bermunculan. Ajaib, masih ada yang bisa meloloskan diri dari mediokritas yang kian merajalela dalam masyarakat saya. Bagaimana mungkin negeri yang tenggelam dalam kelisanan ini masih bisa menghasilka penulis unggul?”

Para sastrawan kita terlalu asik dengan dunia narsistiknya, mereka enjoy saja seperti tak ada apa-apa di balik itu semua. Sepertinya memasyarakatkan karya tidak ada tanggung jawab memikirkan apa karya itu diterima masyarakat atau malah menjadi bahan cacian dan noda tersendiri bagi karya sastra. Sekali lagi ukuran karya sastra yang baik bukan ia yang masuk dalam buku-buku antologi atau yang di muat di Koran-koran minggu. Tapi ia yang mengembalikan sastra pada dirinya sendiri; yaitu memberi pengetahuan kepada masyarakat dan bermanfaat untuk perkembangan negara.

Sastra Indonesia kontemporer yang ditulis anak usia muda itu, hanya sastra omongkosong. Seperti juga pernah di ungkap Sitor Situmorang—sastrawan yang terpenjara kosa-kata dan kosa-bentuk. Yang tak memberi andil pengetahuan pada bangsa.

Kiranya wajar sekali untuk sastrawan mutakhir kita berberes dengan jalan pikirannya, jika tujuan menulis sastra hanya karena popularitas—pergilah, karena dalam dunia sastra tidak ada popularitas. Pindah profesi saja jadi artis atau jadi bintang iklan (barangkali laku). Agar tidak hanya membuat dosa kepada para pendahulu sastrawan kita; Chairil Anwar, Subagio Sastrowardoyo, Sutardji Calzum Bachri dan Umbu Landu Paranggi. Mereka-mereka ini yang memperjuangkan sastra untuk sastra jangan di nodai lantaran kalian (sastrawan kini) yang menjadikan sastra sebagai ajang popularitas atau ingin terkenal di mata masyarakat luas.

*) ANWAR NOERIS, Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY), Tinggal di Yogyakarta. Jln, Parangtritis KM 7,5. No 44 Cabeyan, Sewon Bantul, Yogyakarta. No Kontak: 081939007896
https://lesehankutub.wordpress.com/2014/10/13/sastrawan-narsis/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*