Hamzah Muhammad
hamzahmuhammad.wordpress.com

Melupakan adalah bentuk lain dari kematian. –Milan Kundera

Setelah lama tidak merilis buku esai, Anton Kurnia, penulis yang dikenal sebagai penerjemah karya sastra dunia, bulan Mei ini menerbitkan Mencari Setangkai Daun Surga. Buku esai Anton sebelumnya Dunia Tanpa Ingatan: Sastra, Kuasa, Pustaka terbit pada 2004. Sambil mempertahankan ‘jurus’ dan pilihan subtema esai yang relatif sama: dalam MSDS yang menjadi titik tekan adalah pentingnya ‘kesejarahan’ untuk melihat perjalanan suatu bangsa, Indonesia. Esai-esai di MSDS menganjurkan kesadaran akan sejarah di benak publik agar cakap merawat kehidupan berbangsa, membangun negara bersama.

Sebagaimana dibenarkan penulisnya, MSDS tidak ubahnya sebuah mosaik (hlm. 7). Dalam artian buku yang menghimpun esai-esai setebal 384 halaman ini secara garis besar menyoal ragam permasalahan mutakhir sosial dan budaya yang berlangsung serta berkaitan dengan konteks sejarah masyarakat Indonesia. Buku ini–sarat pengalaman jarak dekat di lapangan kebudayaan dan kontemplasi penulisnya generasi 1990an yang runtuhnya Orde Baru–terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kesusastraan dalam/luar negeri, situasi politik kontemporer, dan fenomena kultural yang lumrah ditemukan di tengah rutinitas keseharian.

Ketiga bagian tersebut berbenang merah: manusia yang berbudaya adalah manusia yang tak terpisahkan dari hal ihwal sastra, pustaka, budaya, dan politik di lingkungannnya. Di bagian pertama, Anton menyebut sastra tidak lepas dan mengarus di gerak zamannya. Kontroversi atas terbitnya karya sastra berbumbu seks pasca Reformasi 1998 di Indonesia disinyalir akibat ketidaksiapan masyarakat/penguasa menghadapi ekspresi individu yang berbeda dan bertentangan dengan nilai kolektif. Yang dimaksudnya, ‘sebenarnya merupakan reaksi atas represi terhadap perempuan oleh tata nilai yang serba patriarkis’ (hlm. 38).

Di lain tulisan, Anton menyebut founding fathers penginspirasi seperti Sukarno, dan Tirto Adi Suryo untuk kemudian mengantarkan sosok Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar yang pernah dimiliki Indonesia. Kekaguman Anton kepada Pram berangkat dari rasa simpati sekaligus kagum. Di matanya, Pram tergolong ‘para pencinta buku yang mau belajar dari buku dan berani berbuat’ (hlm. 43). Tidak lupa disebutkan sumbangsih terjemahan sastra dunia yang ditorehkan Pram semasa hidupnya. Berkat keluwesan wawasan dan karyanya, Pram digadang selayaknya prototipe ‘pejuang gigih yang amat peduli pada bangsanya’.

Pada bagian kedua, topik esai dikhususkan guna menyegarkan ingatan peristiwa yang telah berlalu, serta kenangan biografis para korban rezim politik. Ikhtiar ‘melawan lupa’ ini dilandasi cita-cita luhur hidup berbangsa yang sehat: yang tak terjungkal mitos kekuasaan. Pemikiran aktivis lintas zaman seperti Wiji Thukul, Soe Hok Gie, dan Tan Malaka disemai kembali secara kritis. Melalui sejumlah nama tersebut, publik belajar betapa pembungkaman ‘pelurusan sejarah’ harus dihentikan. Untuk itu, Anton tegas menyindir kebangkrutan kolektif ala “piye, isih penak jamanku, to” yang justru memitoskan realitas (hlm. 187–191).

Pemitosan lain yang juga diperingatkan Anton adalah ketika berkomentar mengenai kampanye yang dipraktikan partai politik jelang pemilu 2014 lalu (Musim Kampanye, hlm. 224). Sebagai manuver politik, kampanye sesuatu yang lumrah. Namun, kecemasan muncul saat rakyat hanya ditunggangi sebagai objek yang semata-mata dibutuhkan, diperdaya untuk menguntungkan ‘organisasi politik atau calon yang bersaing’ (hlm. 225) belaka. Esai tersebut diawali dengan alegori yang dipetik dari novel Salman Rushdhie. Pengutipan adegan atau intisari gagasan dari buku sumber menjadi gaya utama esai-esai Anton dalam buku ini.

Lain dari dua bagian sebelumnya yang kental narasi sastra dan sejarah, bagian ketiga MSDS merupakan refleksi atas pelbagai fenomena sosio-kultural. Perhatian dan minat Anton melebar: dari mulai komik, sensor bahasa, isu rasisme, sepak bola, hingga kebiasaan selfie. Perhatiannya berpendekatan budaya yang tak ‘kacamata kuda’. Setiap persoalan dibicarakan sesuai konteksnya. Misalnya, Anton membahas penyesuaian terjemahan kata-kata umpatan di buku seri petualangan Tintin yang perlu mempertimbangkan kode kultural bahasa sasaran agar tidak tampak janggal atau kasar (Haram Jadah dan Makian yang Sopan, hlm. 340).

Lebih kurang, Anton mengajak publik terlibat urusan pembacaan yang tekun. Pustaka demi pustaka disisipkan guna memperkaya gagasan utama. Melalui esainya, Anton membuka pikiran pembaca supaya melek betapa dibutuhkan segala upaya literasi yang menyadarkan. Dari riwayat pengarang sastra dunia dan tentu karyanya–sekaliber Franz Kafka, misalnya–ia menawarkan serangkaian hikmah agar manusia bukan hanya terdewasakan cara pandang sejarah lampau bangsanya, tetapi juga menyindir supaya berani. Ya, berani mengakui betapa kehidupan selalu layak untuk direnungi, dipelajari agar tidak sesat akal.

Contoh yang paling jelas adalah esai berjudul Film dan Kebenaran yang Tersingkap (hlm. 311), Anton menilai Jagal (2012) dan Senyap (2014) besutan Joshua Oppenheimer– yang sempat dilarang beredar dan tayang–sebetulnya bukan sekadar media pengungkap borok lama sejarah pahit nan menyakitkan seputar Peristiwa 1965. Justru tersebab kebenaran maka harus dikabarkan dan disebarluaskan. Oleh karena itu, di beberapa esai dalam MSDS agaknya perlu ditambahkan semacam catatan kaki yang memperjelas sumber utama atau gagasan inti. Penambahan referensi ini akan menghilangkan kesan bentuk awalnya, yaitu ‘esai koran’.

Meskipun begitu, kehadiran Mencari Setangkai Daun Surga merupakan ajakan bijak untuk menguatkan Indonesia agar semakin beradab. Warisan tradisi politik yang cuma bikin masyarakat kecewa, trauma, dan terbodohkan sudah bukan waktunya diberi tempat. Anton mengingatkan untuk mencapai suatu bentukan masyarakat yang egaliter, tanpa penindasan, kemiskinan, kebodohan, dan kejumudan atau pertikaian konyol mestilah dihadapi dengan kesungguhan dalam bekerja. Optimisme tersebut sekiranya baik dibarengi sikap berbakti penuh dedikasi kepada negeri. Karena masa depan kapan pun harus siap untuk disongsong.

Dan sekali lagi, ‘orang boleh kehilangan segalanya, kecuali harapan,’ tulis Anton mengutip pepatah Jerman saat menutup esai terakhir yang disemat menjadi judul buku. Semoga harapan itu bukan seperti menunggu kedatangan Godot. Setidaknya mengulangi kesalahan sejarah di masa silam bukan suatu pilihan atau jalan keluar dari kepelikan hidup berbangsa yang sedang terjadi. Mencari Setangkai Daun Surga: memberi kita arti atas semua kefanaan, sehingga tidak kelewat lesu mengalami zaman yang tak menentu ini.

(Tulisan ini untuk resensi Mencari Setangkai Daun Surga, Anton Kurnia, IRCiSoD, 2016)
https://hamzahmuhammad.wordpress.com/2016/08/28/membaca-esai-mengalami-zaman/

Categories: Resensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*