Perempuan dalam Sastra Indonesia: Perjalanan dari Obyek ke Subyek

Alia Swastika *
Kompas, 18 Des 2004

Sulit untuk menyangkal bahwa ada banyak perubahan yang terjadi di dunia sastra Indonesia dalam kurun lima tahun terakhir. Salah satu gejala perubahan yang sering muncul menjadi diskursus publik adalah lahirnya para penulis perempuan dengan karya-karya yang dianggap “menawarkan kebaruan”, “laris di pasaran”, dan beberapa “emansipatoris”. Banyaknya pembahasan tentang karya para penulis perempuan memancing munculnya perdebatan tentang kualitas kritis dan emansipatoris dari karya-karya ini dalam kolom-kolom di media massa. Semuanya menjadi begitu riuh: banyak orang berbicara tentang perempuan, karya, dan intertekstualitas yang melingkupinya.

Gejala perubahan kedua berkait dengan sedemikian terbukanya akses media massa untuk para penulis ini. Lalu lintas yang dahulu sedemikian terjaga antara yang sastra dan yang bukan, yang tinggi dan yang rendah, yang kanon dan yang populer, sekarang ini bisa mereka lintasi dengan mudah dan tanpa beban. Mereka muncul di media massa tidak saja berkait dengan konsep atau gagasan tentang karya yang mereka publikasikan, tetapi juga-sering kali-berkelindan dengan kehidupan dan sejarah personal mereka. Akan tetapi, siapa yang mengira bahwa bayang-bayang perubahan itu telah terjadi sejak enam atau tujuh dekade yang lalu? Dan, mengapa elan perubahan itu seperti melintas begitu saja tanpa jejak dalam perkembangan sastra Indonesia sering kali tak terlacak dan tak tercatat?

Kritik Sastra Feminis

Pemikiran di atas melintas ketika membaca buku In The Shadow of Change: Citra Perempuan dalam Sastra Indonesia yang ditulis oleh Tineke Hellwig. Buku ini merupakan hasil pembacaan Tineke atas 25 novel dan tiga “cerita panjang” yang terbit di Indonesia dalam kurun waktu lima dekade (1937-1986). Karya Hellwig ini menunjukkan adanya tindak refleksi dan pembacaan yang sungguh-sungguh atas karya-karya yang diteliti, dan mencoba memberikan bingkai yang kontekstual di antara sedemikian banyak karya tersebut. Ia juga, seperti yang diungkap oleh Melani Budianta dalam kata pengantar buku ini, merangkaikan pembacaan-pembacaan itu untuk kemudian memetakannya secara diakronis untuk menjawab satu permasalahan pokok.

Hellwig menyebut bahwa satu masalah pokok yang ingin dijawabnya adalah bagaimana penggambaran tokoh perempuan dalam sastra Indonesia dan sejauh mana gambaran tersebut membantu menciptakan citra umum perempuan dalam masyarakat Indonesia. Ia bertolak dari hipotesis yang menyatakan bahwa norma-norma patriarkhal mendominasi sastra Indonesia. Hellwig telah memilih karya-karya tertentu, yang seturut pengakuannya pemilihan itu tidak bisa dilepaskan dari subyektivitas dan “kesewenang-wenangan”, meskipun ia pun memiliki kriteria tertentu yang telah ditetapkannya: yakni, pertama, ada satu atau lebih tokoh perempuan yang memainkan peran penting dalam alur cerita. Kedua, karya tersebut harus cukup dikenal oleh publik pembaca Indonesia. Hellwig menyadari bahwa konsekuensi yang muncul akibat kriteria yang ditetapkannya tersebut adalah ia “terjebak” untuk memilih karya-karya yang kadung dianggap kanon dalam dunia sastra Indonesia, terlepas dari definisi tentang karya mana yang mengandung kriteria-kriteria kanon. Akan tetapi, pilihan ini pada akhirnya justru menjadi strategis karena dalam karya-karya kanon itulah ditunjukkan bagaimana representasi citra perempuan itu dimunculkan oleh para pengarang, direproduksi oleh institusi-institusi formal, dan kemudian mendapatkan tanggapan dari publik yang lebih luas.

Ihwal seleksi ini juga merupakan soal yang penting dan menarik untuk ditegaskan sekali lagi, dalam rangka melihat bagaimana representasi citra perempuan merupakan sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari posisi “politis” si peneliti. Sejak awal Hellwig telah menegaskan bias-bias yang mungkin muncul berkaitan dengan identitasnya sebagai perempuan indo (ayahnya warga Belanda dan ibunya warga negara Indonesia) dengan dasar pendidikan Barat. Ia juga menggarisbawahi posisinya sebagai perempuan sehingga pembacaan-pembacaannya sangat subyektif sesuai dengan pengalaman dan sejarah personalnya sebagai perempuan.

Dalam perkembangan ilmu sosial sekarang ini, nilai personal dari penelitian tentang perempuan merupakan sesuatu yang secara tidak langsung memberikan ciri khas bagi perspektif feminis. Pengalaman ditimbang sebagai “sesuatu yang tidak bebas jender”, yang berarti bahwa jender adalah elemen yang turut membentuk apa yang disebut sebagai pengalaman. Karenanya, pengalaman personal peneliti sebagai bingkai analisis merupakan bagian dari metodologi yang seharusnya dipertimbangkan sebagai nilai lebih. Berkaitan dengan ini, Hellwig menempatkan pengalaman personalnya, termasuk bias-bias identitas yang mungkin muncul dalam analisisnya, sebagai bagian dari perspektif yang berpusat pada perempuan (woman-centered) yang dipilihnya.

Dalam pandangan Elain Showalter, ada sejumlah tahapan yang terjadi dalam perkembangan kritik sastra feminis. Tahap pertama, kritik sastra feminis, menganalisis berbagai citra stereotip perempuan dengan kritis. Kebanyakan kritikus menganalisis bagaimana kaum pria memandang dan menggambarkan perempuan. Tahap kedua, perhatian diarahkan kepada para pengarang perempuan dan menitikberatkan pada penemuan kembali para penulis perempuan yang terlupakan serta evaluasi ulang terhadap sastra oleh kaum perempuan. Tahap ketiga, berusaha memecahkan masalah-masalah teoretis, merevisi pelbagai asumsi teoretis yang telah diterima masyarakat mengenai membaca dan menulis yang seluruhnya didasarkan pada pengalaman laki-laki.

Sebagian besar penelitian Hellwig dapat dikategorikan sebagai tahap pertama kritik sastra feminis, yakni membaca (ulang) dan mengevaluasi (ulang) teks dalam rangka menemukan citra/gambaran tentang perempuan. Namun dalam perkembangannya, dengan memerhatikan konteks sosial budaya yang terjadi selama kurun waktu lima dekade tersebut di Indonesia, Hellwig juga mengarahkan penelitiannya memasuki tahap kedua dengan melakukan pembacaan terhadap karya-karya yang ditulis oleh pengarang perempuan. Ia juga menilai karya-karya kritik sastra yang ditulis oleh kritikus-kritikus perempuan maupun laki-laki lainnya. Dengan demikian, alih-alih sebagai sebuah analisis teks murni, penelitian Hellwig menyajikan sebuah pembacaan yang relatif komprehensif atas karya sastra dan relasinya dengan sistem sosial yang hidup di sekitarnya.

Cinta dan Pernikahan

Buku Hellwig mengupas karya-karya sastra Indonesia yang terbit dalam rentang lima dekade. Ia mencoba merangkaikan analisisnya secara berurutan berdasarkan periode waktu. Periode pertama adalah masa sebelum perang kemerdekaan. Tiga karya yang dibahas adalah Layar Terkembang (Sutan Takdir Alisjahbana, 1937), Merantau ke Deli (Hamka, 1939), dan Belenggu (Armijn Pane, 1940). Dalam analisisnya, Hellwig dengan jelas sedang berada dalam tahap pertama kritik sastra feminis, yaitu mencoba menggambarkan bagaimana citra perempuan dalam teks-teks yang ditulis oleh laki-laki, dan bagaimana konstruksi sosial turut membentuk citra tersebut.

Ketiga penulis laki-laki yang novelnya dibahas oleh Hellwig adalah mereka yang termasuk dalam generasi awal yang mengenyam pendidikan Barat, di mana pada saat itu wacana tentang modernitas dan modernisasi masih menjadi bahan perdebatan aktual. Tidak mengherankan jika kemudian wacana yang tersirat dalam karya-karya mereka merupakan reaksi yang bersifat spontan sekaligus reflektif terhadap pengaruh modernitas, dalam kaitannya dengan peran dan posisi perempuan dalam kehidupan masyarakat zamannya. Para tokoh perempuan mengalami tabrakan-tabrakan yang keras antara apa yang disebut sebagai “modern dan tradisional”, “Barat dan Timur”, “kodrat dan hak asasi”, dan terutama “individualitas atau independensi dan ketergantungan”.

Dalam jalinan cinta dan ikatan perkawinan antarpara tokoh, hal-hal yang sering kali dipandang remeh dan semata personal, relasi kekuasaan antara laki-laki dan perempuan, justru menemukan bentuknya yang paling nyata. Hellwig menguraikan karakter masing-masing tokoh perempuan, memetakan relasi mereka dengan tokoh laki-laki dan tokoh perempuan lainnya, kemudian menyusun pola-pola kekuasaan yang berlangsung di antara mereka. Strategi penyusunan kembali karakter tokoh dan pola relasi ini menunjukkan bagaimana usaha Hellwig untuk menampilkan pemikiran dan sikap perempuan ketika dihadapkan pada nilai dan norma sosial yang meminggirkan mereka, lebih khusus lagi ketika perempuan memasuki wilayah perkawinan yang ditempatkan para penulisnya sebagai dilema terbesar.

Kedalaman konflik tentang eksistensi diri yang dimunculkan Armijn Pane membuat Belenggu tampak mengandung gagasan yang jauh melampaui zamannya, sekaligus mencela karakter emansipatoris Layar Terkembang. Di dalam Belenggu tokoh-tokoh perempuannya, Tini dan Yah, menunjukkan keberadaan perempuan sebagai individu yang kuat dan mandiri dengan meninggalkan perkawinan dan hubungan cinta dengan pasangannya. Dengan demikian, Belenggu telah mendobrak gagasan tentang perempuan sebagai jenis kelamin kedua (the second sex). Sebagai novel yang terhitung masuk dalam “generasi pertama” sejarah sastra Indonesia, gagasan dalam Belenggu ini menjadi titik awal yang penting untuk memunculkan persoalan perempuan dalam karya-karya selanjutnya. Belenggu menunjukkan kepekaan penulis pada masa itu dengan wacana global, di mana pada masa yang sama gerakan perempuan di Barat mulai berkembang dengan pesat, dan mengolahnya kembali dengan konteks lokal.

Mendobrak nilai feodal

Dua novel Pramoedya, Gadis Pantai dan Bumi Manusia, telah mendapatkan perhatian besar dalam kaitannya dengan wacana jender dan feminisme. Selain empat karya yang dibahas Hellwig, beberapa karya Pramoedya yang lain juga menggarisbawahi besarnya peranan perempuan dalam melakukan pembacaan ulang atas citra-citra perempuan, khususnya perempuan Jawa, dalam berhadapan dengan sistem nilai yang feodal sekaligus berada dalam ketegangan kolonial. Sejak awal, Pramoedya telah melihat bahwa perempuan telah menanggung beban yang paling berat atas kedua sistem nilai tersebut. Akan tetapi, harus ditandai dengan tegas pula bahwa Pramoedya menampilkan perempuan sebagai tokoh-tokoh yang melihat beban dan subordinasi yang mereka alami itu bukan sesuatu yang alamiah, yang sudah seharusnya begitu (taken for granted). Sebaliknya, mereka mengolah beban dan subordinasi itu menjadi energi untuk membangun kekuatan, yang tidak saja dapat mengubah hidupnya, melainkan juga hidup orang-orang lain di sekitarnya. Contoh paling populer adalah tokoh Nyai Ontosoroh di dalam tetraloginya.

Yang barangkali akan berharga untuk dipertanyakan adalah di luar hal-hal yang berada dalam ketegangan feodal dan kolonial, apakah karya-karya Pramoedya Ananta Toer ini telah bebas dari bias jender? Berbeda dengan karya-karya lain pada masa itu yang belum banyak membincangkan persoalan seksualitas perempuan, Keluarga Gerilya dan Midah, Si Manis Bergigi Emas telah berbicara tentang seorang perempuan yang secara sadar memilih kehidupan yang bebas berkaitan dengan seksualitas. Sebagai penulis laki-laki, Hellwig melihat bahwa Pramoedya tetap saja memberikan penilaian yang cenderung negatif terhadap kebebasan ekspresi seksual tersebut. Saya kira, kita bisa membandingkannya dengan Ayu Utami yang menerbitkan novelnya yang pertama, Saman, yang dengan enak dan lancar berbicara tentang seksualitas perempuan. Sebagai perempuan, Ayu memunculkan kesan bahwa tokoh perempuan yang memilih kehidupan yang lebih bebas dalam hal seksual tidaklah selalu berposisi sebagai yang terpinggir dalam kehidupan sosial. Seksualitas tidak dipresentasikan sebagai sesuatu yang harus dipilih untuk diterima atau ditolak, melainkan menjadi bagian wajar dari keberadaan perempuan.

Melalui beberapa novel yang terbit semasa Orde Baru, Hellwig mengetengahkan hasil bacaannya tentang masyarakat Jawa pada masa pasca-Kolonial. Seluruh karya yang dibacanya adalah karya penulis pria, dan semuanya berasal dari Jawa Tengah, yaitu Umar Kayam (Sri Sumarah dan Bawuk, 1975), Arswendo Atmowiloto (Canting, 1986), Linus Suryadi (Pengakuan Pariyem, 1981), serta YB Mangunwijaya (Burung-Burung Manyar, 1981). Hellwig menunjukkan ketelitian pada penggolongan dan memberi perhatian pada hal-hal yang sifatnya intertekstual sehingga menjadikan buku ini cukup berarti. Ia menunjukkan dengan cermat bagaimana latar belakang penulis dan pandangan dunia (worldview) mereka atas makna menjadi orang Jawa memengaruhi pembangunan karakter tokoh perempuan. Semua penulis itu memberikan pembacaan kritis atas perilaku kaum priayi Jawa, terutama berkaitan dengan kegamangannya menghadapi modernitas (bisa juga menjadi urbanitas, mengingat sebagian besar setting novel ini adalah kehidupan kota) dan nilai-nilai baru yang dibawanya, termasuk ketika bersinggungan dengan soal-soal politik. Pada novel-novel ini, para perempuan tidak saja mengalami soal-soal yang menyangkut ideologi jender, melainkan juga berimpitan dengan diskriminasi kelas sosial dan ideologi politik.

Secara khusus, Hellwig membahas karya trilogi Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan Buat Emak (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), dan Jantera Bianglala (1986). Hellwig merasa perlu memisahkannya secara khusus karena trilogi ini berbeda dengan novel-novel lain yang menggambarkan kehidupan para priayi, yaitu dengan melihat Jawa dari kacamata wong cilik yang hidup di desa. Srintil, tokoh utama trilogi ini, pada akhir cerita digambarkan mengalami gangguan jiwa (kegilaan), di mana Hellwig melihat penyelesaian macam ini menunjukkan penolakan kaum perempuan atas dominasi laki-laki, karena pada saat itu sesungguhnya Srintil mempunyai pilihan lain yaitu menikah. Sayangnya, pada bagian ini Hellwig tidak memaparkan dengan lebih detail bagaimana kelompok masyarakat Jawa yang ia pisahkan dari kelas priayi ini menempatkan perempuan dalam relasi-relasi kekuasaan dan profesi yang mereka hidupi seperti menjadi ronggeng. Kesimpulan yang disampaikannya tampak agak kabur dan, karenanya, menarik untuk dieksplorasi dengan lebih mendalam.

Novel populer

Pembahasan tentang novel populer menjadi bagian yang menarik, bukan saja karena Hellwig mengetengahkan karya-karya yang ditulis oleh penulis perempuan, tetapi juga karena ia memasukkan novel-novel yang selama ini tidak dimasukkan dalam kategori sastra dengan “S” besar (kapital), yang secara “sinis” sering disebut sebagai “novel pop”. Dengan membahas secara khusus karya-karya penulis perempuan, Hellwig mulai masuk pada tahap kedua kritik sastra feminis, yaitu melakukan penemuan kembali penulis perempuan yang terlupakan dan evaluasi ulang terhadap karya sastra oleh penulis perempuan. Para penulis novel pop ini muncul sejalan dengan kondisi ekonomi yang melahirkan sektor-sektor usaha yang memungkinkan perempuan terlibat di dalamnya, termasuk usaha penerbitan, serta lahirnya majalah gaya hidup perempuan yang merupakan lahan persemaian bagi lahirnya penulis perempuan.

Novel-novel populer yang digemari pembaca perempuan pada tahun 1970-an antara lain adalah Karmila dan Badai Pasti Berlalu (Marga T), dan Raumanen karya Marianne Katoppo. Novel-novel ini menjadi penting untuk dianalisis bukan karena kualitas sastranya, melainkan karena posisinya yang signifikan dalam kehidupan sosial perempuan. Citra perempuan yang dimunculkan dalam novel-novel jenis ini telah dipercayai sebagai bagian dari kisah hidup yang nyata, semacam buku harian, dan proyeksi mimpi mayoritas perempuan. Seperti halnya yang terlihat dalam sinetron-sinetron yang membanjiri stasiun televisi kita sekarang, beberapa dari novel ini menampilkan kisah hidup perempuan yang bergelimang kemewahan dan larut dalam kehidupan cintanya dengan para lelaki, dan menjadikan hal itu sebagai fokus yang paling penting dalam kehidupan mereka. Mereka terus memburu kebahagiaan dalam kehidupan perkawinan, dan, dalam amatan Hellwig, tak seorang tokoh pun merasakan kebahagiaan sepenuhnya dari karier yang mereka jalani.

“Feminine Writing” sebagai Strategi

Melalui buku ini, Hellwig menggarisbawahi bahwa persoalan esensialisme identitas telah lama menjadi persoalan penting bagi gagasan tentang emansipasi perempuan di Indonesia. Dalam karya-karya sastra yang dibahas Hellwig, tampaklah bahwa kebanyakan pengarang laki-laki masih menganggap femininitas sebagai sesuatu yang ideal bagi perempuan, dan tidak mengherankan jika tokoh-tokoh yang keibuan, pandai mengatur rumah tangga, lembut, dan penyayang, menjadi figur yang kerap ditampilkan. Sementara itu, pada karakter yang diciptakan penulis perempuan, femininitas kerap kali dianggap tidak sesuai dengan konsep kemajuan perempuan. Para penulis perempuan umumnya menggambarkan dilema tentang persoalan esensialisme ini, mengolahnya sebagai inti cerita, dan kemudian membuat penyelesaian-penyelesaian yang justru melanggengkan subordinasi perempuan. Dalam analisis Hellwig, ini terjadi karena para penulis perempuan merasa harus menyesuaikan diri dengan norma lelaki agar karya-karya mereka mendapatkan tempat yang layak, serta karena para penulis perempuan kebanyakan datang dari generasi setelah kemerdekaan, di mana persentuhan mereka dengan gagasan Barat kadung mendapatkan kontrol yang cukup ketat dari negara.

Dimulai pada akhir 1990-an, kemunculan para penulis perempuan, yang barangkali menjadi terasa begitu banyak karena blow-up media massa harus dimaknai sebagai sebuah usaha, tepatnya strategi, untuk menghidupkan refleksi-refleksi dan pandangan dunia kaum perempuan, yang berada di luar dunia dan pikiran laki-laki. Dalam bahasa Helene Cixous, cara penulisan feminin membuat perempuan dapat menghasilkan karya-karya yang merupakan catatan perempuan tentang perasaan, pemikiran, dan denyut kehidupan yang ia alami dan rasakan. Karenanya, penulisan feminin ini menjadi terbuka, plural penuh ritmik dan kegairahan, serta rajin menjelajahi pelbagai kemungkinan.

Femininitas, yang dalam dekade-dekade sebelumnya diperdebatkan, digali dengan teliti, dan dipresentasikan sebagai persoalan zaman, pada masa yang selanjutnya haruslah mulai dilihat sebagai strategi yang justru bisa memberi perempuan semacam “arah” untuk memasuki ruang-ruang hidup yang lebih luas. Identitas perempuan masa kini tidaklah dibangun dengan kualitas-kualitas tertentu yang esensialis, melainkan dari kemampuan perempuan untuk memetakan posisi dirinya, dan kemudian merajut kualitas-kualitas tersebut sesuai dengan keinginannya. Saya kira, menjadi penting dan genting untuk menuliskan proses semacam itu. ***

Judul buku: In The Shadow of Change: Citra Perempuan dalam Sastra Indonesia
Penulis: Tineke Hellwig
Penerbit: Women Research Institute dan Desantara, Jakarta: 2003
Tebal: 283 halaman + xiii
*) Alia Swastika (Anggota Kunci Cultural Studies, Yogyakarta).
http://www.wri.or.id/publikasi/resensi-buku/112-perjalanan-dari-obyek-ke-subyek#.WldqbPmWbIU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *