Penyair John Dami Mukese di Panggung Sastra

Yohanes Sehandi *
Indonesiakoran.com 3 Apr 2018

Penyair John Dami Mukese telah meninggalkan kita semua pada Kamis, 26 Oktober 2017 di RSUD Ende dalam usia 67 tahun. Lahir pada 24 Maret 1950 di Menggol, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Beliau seorang imam Katolik, misionaris SVD, penulis, dan penyair. Setiap kita yang mengenal beliau tentu mempunyai kenangan tersendiri terhadapnya. Bagi saya, mengenang John Dami Mukese adalah mengenang jejak langkahnya sebagai seorang penulis dan penyair lewat karya-karya tulis yang ditorehkan selama hidupnya, antara lain sebagai berikut.

Pertama, karya tulisnya di bidang jurnalistik, terlihat jejaknya di majalah Vox STFK Ledalero, majalah dua mingguan Dian, surat kabar mingguan Dian, dan harian umum Flores Pos. Kecuali majalah dua mingguan Dian, ketiga media cetak lain John Dami Mukese pernah menjadi pemimpin redaksinya. Kedua, karyanya lewat sejumlah buku yang telah diterbitkan, baik yang bersifat ilmiah dan ilmiah populer maupun kumpulan khotbah dan petunjuk berkhotbah. Ketiga, karyanya berupa puisi yang terekam dalam sejumlah buku antologi puisi yang telah diterbitkan.

Tulisan ini coba mengenang John Dami Mukese dalam kiprahnya sebagai penyair. Dilacak sejarah awal proses kreatifnya sampai pada posisi terakhirnya sebagai penyair Indonesia. Titik berat tulisan ini bukan pada kajian terhadap puisi-puisinya yang sebagian besar bersifat religius, tetapi pada kedudukan dalam panggung sastra, baik dalam sastra NTT maupun sastra Indonesia.

Menulis Puisi Sejak 1977

Berdasarkan data yang berhasil saya lacak, John Dami Mukese mulai menulis puisi pada umur 27 tahun, yakni sejak tahun 1977, pada waktu kuliah di STFK Ledalero (1972-1981). Hal itu terlihat dalam puisi-puisinya, di mana pada bagian akhir setiap puisi tercantum nama tempat dan tanggal kelahiran puisi tersebut. Meskipun menulis puisi sejak tahun 1977, namun publikasi karya-karya puisinya baru dimulai tahun 1979, dua tahun kemudian. Misalnya, puisi panjang berjudul “Kota” yang terdiri atas 4 bagian, 14 bait, dan 80 baris, ditulis pada awal tahun 1977 di sebuah kota kecil di Tomor, baru dimuat dua tahun kemudian dalam majalah dua mingguan Dian edisi Nomor 6, Tahun VI, 10 Januari 1979, halaman 6. Demikianpun puisi “Salam Hai Pahlawan” (Bagi yang Gugur di Timor Timur), ditulis di Atambua, Timor, pada tahun 1977, baru diterbitkan tahun 1983 dalam buku antologi puisi pertamanya Doa-Doa Semesta (Nusa Indah, Ende, 1983, halaman 89).

Pada tahun 1978, Dami Mukese menulis dua judul pusi, yakni puisi “Mazmur Cinta” ditulis di Ledalero, Oktober 1978, dan puisi “Balada Imam” ditulis di Ledalero, November 1978. Kedua puisi ini baru diterbitkan lima tahun kemudian, yakni dalam buku Doa-Doa Semesta tahun 1983, halaman 86-87 dan halaman 103-108. Pada tahun 1979, penyair Dami Mukese menulis tiga judul puisi, yakni (1) Natal Seorang Petani, ditulis di Ledalero, 12 Oktober 1979, dimuat dalam majalah dua mingguan Dian pada edisi Nomor 4, Tahun VII, 10 Desember 1979, (2) Natal dan Nelayan, ditulis di Ledalero, 15 Oktober 1979, dimuat dalam majalah dua mingguan Dian pada edisi Nomor 5, Tahun VII, 24 Desember 1979, (3) Manusia (Siapakah Sesamaku), ditulis di Ledaleo, 1 Desember 1979. Ketiga puisi di atas baru diterbitkan dalam buku Doa-Doa Semesta tahun 1983. Tahun 1977, 1978, 1979 itu sepertinya awal proses mencari bentuk kreativitas seni sastranya.

Mulai tahun 1980 kreativitas menulis puisi Dami Mukese meningkat. Masa subur kreativitas dan produktivitasnya terjadi setelah ditahbiskan menjadi imam dan bekerja di bekerja di Penerbit Nusa Indah dan surat kabar mingguan Dian di Ende (1981-1983). Sebanyak 52 judul puisi yang terdapat dalam buku antologi puisi pertamanya Doa-Doa Semesta (1983) sebagian besar ditulis dalam waktu tiga tahun itu. Isi dan bentuk puisi-puisi Dami terasa konsisten dipertahankannya sejak tahun 1977 sampai akhir hayatnya. Gaya pengucapan, diksi, metafora, tema, dan unsur intrinsik puisi lainnya terasa konsisten dipertahankannya sehingga menjadi ciri khas kepenyairannya.

Tembus Majalah Sastra Horison

Nama penyair John Dami Mukese mulai dikenal di panggung sastra nasional Indonesia tatkala puisi panjangnya berjudul “Doa-Doa Semesta” dimuat dalam majalah sastra Horison pada edisi Nomor 2, Tahun 1983, halaman 86-89. Puisi ini ditulisnya selama dua bulan, Juli-Agustus 1982 di Biara Santu Yosef, Ende. Dialah orang NTT pertama yang karyanya bisa tembus majalah sastra Horison meskipun tinggal dan berkarya di daerah (Flores). Memang sebelumnya sudah ada orang NTT yang karyanya tembus majalah Horison, tetapi mereka tinggal dan berkarya di Jakarta, seperti Gerson Poyk, Julius Sijaranamual, Dami N. Toda, dan Ignas Kleden.

Pada waktu itu majalah sastra Horison dianggap semacam “sungai Yordan” tempat pembaptisan seseorang menjadi sastrawan Indonesia. Tim redaksi Horison waktu itu adalah tokoh-tokoh kaliber sastra, yakni H.B. Jassin, Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, dan Sutardji Calzoum Bachri. Menurut saya, puisi “Doa-Doa Semesta” yang terdiri atas 20 bait dan 296 baris ini merupakan puisi terunggul karya John Dami Mukese selama kariernya sebagai penyair. Puisi ini seakan merangkum semua tema dan gaya pengucapan puisi yang dihasilkannya. Mungkin itu pula sebabnya, buku kumpulan puisi pertamanya diberi judul Doa-Doa Semesta (1983). Buku puisi ini memuat 52 judul puisi yang dibagi dalam lima bagian.

Sejak tahun 1983 itulah nama penyair John Dami Mukese diperbincangkan oleh sejumlah pengamat dan kritikus sastra Indonesia di tingkat nasional. Pada tahun 1987, sebanyak sepuluh puisi Dami Mukese masuk dalam buku Tonggak: Antologi Puisi Indonesia Modern (Jilid 4) dengan Editor Linus Suryadi AG (Gramedia, Jakarta, 1987, halaman 36-44). Kesepuluh puisi John Dami Mukese yang dipilih Linus Suryadi adalah Kupanggil Namamu Madonna, Dahlia untuk Madonna, Mawar Bukit Sion, Flamboyan Gunung Tabor, Mazmur Cinta, Setangkai Lilin, Mohon Kesetiaan, Sekeping Nikmat, Natal Seorang Buru Kecil, dan Kerinduan.

Di samping antologi puisi Tonggak, puisi-puisi Dami Mukese yang lain masuk dalam buku Senja di Kota Kupang: Antologi Puisi Sastrawan NTT (Kantor Bahasa NTT, 2013, halaman 24-35) memuat empat judul puisi Dami Mukese. Puisinya yang lain ada dalam buku Ratapan Laut Sawu: Antologi Puisi Penyair NTT (Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 2014, halaman 35-51) Editor Yoseph Yapi Taum, memuat sembilan puisi Dami Mukese. Dalam buku saya Sastra Indonesia Warna Daerah NTT (Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 2015, halaman 40-41) dibahas khusus riwayat hidup dan karya John Dami Mukese bersama 40-an sastrawan NTT.

Yang terbaru tahun 2017 ini nama penyair John Dami Mukese masuk dalam buku Apa & Siapa Penyair Indonesia (Yayasan Hari Puisi Indonesia, Jakarta, 2017) Editor Maman S. Mahayana. Buku tebal ini memuat riwayat hidup dan riwayat karya para penyair Indonesia yang berjumlah 1.000 orang penyair, termasuk John Dami Mukese. Sampai dengan tahun 2017 ini John Dami Mukese adalah penyair NTT yang paling banyak menerbitkan buku kumpulan puisi.

Menulis Sekitar 250 Judul Puisi

Karya-karya puisi penyair John Dami Mukese yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku adalah (1) Doa-Doa Semesta (Nusa Indah, Ende, 1983, 1989, 2015), (2) Puisi-Puisi Jelata (Nusa Indah, Ende, 1991), (3) Doa-Doa Rumah Kita (1996), (4) Puisi Anggur (2004), dan (5) Kupanggil Namamu Madonna (Obor, Jakarta, 2004). Jumlah puisi penyair Dami Mukese yang termuat dalam lima buku kumpulan puisi di atas ditambah dengan puisi-puisi lain yang tersebar di berbagai media cetak yang kini masih terus saya lacak, jumlahnya sekitar 250 judul, ditulisnya selama 40 tahun kariernya sebagai seorang penyair (1977-2017).

Di samping buku kumpulan puisi, John Dami Mukese juga menerbitkan sejumlah buku lain, antara lain berjudul (1) Kristianisasi Upacara Inisiasi Wa’u Wa Tana (1982), (2) Sejenak di Beranda Bercanda dengan Perumpamaan (Jilid 1 dan 2, 2000), (3) Menjadi Manusia Kaya Makna (Obor, Jakarta, 2006), (4) Homiletik: Seni Berkhotbah Efektif (2010), (5) Indahnya Kaki Mereka: Telusur Jejak Para Misionaris Belanda (bersama Eduard Jebarus, 4 Jilid, Provinsial SVD Ende, 2013), dan masih ada beberapa buku lain yang ditulis bersama orang lain.

John Dami Mukese lahir pada 24 Maret 1950 di Menggol, Manggarai Timur. Menamatkan SD di Pembe (1964), SMTP dan SMTA di Seminari Menengah Pius XII Kisol (1971), STFK Ledalero, Maumere (1972-1980). Ditahbiskan menjadi imam pada 19 Juli 1981. Meraih gelar Master of Management (MM) dalam bidang manajemen pembangunan masyarakat desa pada University of The Philipines Los Banos (1983-1987). Meraih gelar Ph.D. (Doktor) dalam bidang Community Development diperoleh pada University of The Philipines Los Banos (2005-2009).

Pernah menjadi pemimpin redaksi majalah Fox STFK Ledalero, surat kabar mingguan Dian, dan harian umum Flores Pos. Mengasuh sejumlah mata kuliah di Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa (Stipar) dan Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Santa Ursula Ende. Menjadi pembina dalam Komunitas Sastra Puisi Jelata (KPJ) Program Studi PBSI Universitas Flores (Uniflor) dan Komunitas SARE (Sastra Rakyat Ende). *

*) Pengamat Sastra NTT dari Universitas Flores, Ende
http://yohanessehandi.blogspot.co.id/2018/04/penyair-john-dami-mukese-di-panggung.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*