CERITA LAMA

Taufiq Wr. Hidayat *

Wilayah ujung timur pulau Jawa ini menyimpan kekayaan alam yang menakjubkan. “Tamansari nusantara,” kata lagu Umbul-umbul Blambangan ciptaan Andang Cy. Tetapi, sebagian besar penduduknya berada dalam kelemahan ekonomi.

Memang pemerintah Banyuwangi pernah mengumumkan, angka kemiskinan telah turun. Tapi, kenapa di Muncar penduduk menjual sandal dan prabot-prabot rumah demi sesuap makan? Itu cerita lama! Dari dulu kemiskinan memang selalu turun, yakni “selalu turun ke anak cucu”.

Saya rasa, itu semua akibat kepemimpinan, apakah pemimpin formal atau non formal, yang hanya lebih sibuk dengan kegiatan dan acara bersolek ria. Itu pun cerita lama. Sejak dulu kala, pemimpin yang gemar menyuburkan diri sendiri memang punya ciri-ciri utama bersolek, berpesta, banyak mulut dengan tingkat kejujuran yang “nol puthul”.

Secara historis, Banyuwangi adalah pewaris Blambangan. Kekuasaan Blambangan yang luas adalah pecahan Majapahit, masyhur disebut Kedaton Wetan yang gagah dan berwibawa. Ini pun cerita lama, memang pemimpin yang mampu mengelola potensi alam dan manusia di daerahnya dengan jujur dan tidak banyak mulut akan membuat wilayahnya makmur dan disegani.

Di masa kerajaan Macanputih yang dipimpin Mas Tawangalun, Blambangan telah menyatakan sebagai wilayah agraris, penguasa laut, dan tempat perniagaan yang menciutkan nyali perdagangan orang-orang Eropa.

Di masa bupati pertama Banyuwangi, Mas Alit (Mas Wiraguna), wilayah ujung timur Jawa ini mengalami kemakmuran. Mas Alit membangun jalur-jalur air untuk sawah, menghapus pajak pertanian, menguatkan modal perniagaan di pasar Rogojampi, membangun pelabuhan ikan di dekat teluk Pangpang, Muncar, dan menguasai jalur transportasi Jawa-Bali di Pelabuhan Ketapang.

Kenapa di masa itu Banyuwangi hebat? Karena kepemimpinan di masa itu tidak banyak mulut, tapi bekerja dengan cerdas memberdayakan dan mengolah potensi daerah tanpa membebani rakyat.

Di mana-mana dikatakan anggaran pendidikan melimpah-limpah, tapi wali murid tetap mengeluh sekolah mahal dan terdapat anak putus sekolah. Itu terjadi di mana-mana daerah, memang sudah cerita lama.

Banyuwangi berasal dari dua kata, yakni “banyu” (air) dan “wangi” (harum). Jelas sudah, potensi utama Banyuwangi adalah air. Airnya yang berkualitas (wangi). Tidak banyak metafora “air yang wangi” menjadi nama sebuah wilayah di dunia ini. Kalau bicara air, berarti bicara hutan. Air melimpah dan berkualitas layak minum tanpa dimasak itu adalah anugerah hutan yang angker dan lebat. Dan itu terdapat di Banyuwangi, ada hutan wingit, bersejarah, dan disakralkan orang Jawa, yakni hutan Purwo.

Dalam syair lagu Umbul-umbul Blambangan, potensi alam Banyuwangi disebutkan: “kulon gunung wetan segara/lor lan kidul alas angker/keliwat-liwat” (barat adalah gunung, timur adalah lautan, utara dan selatan hutan wingit yang luar biasa). Banyuwangi dikepung potensi alam yang kekayaannya sungguh mengherankan. Belum lagi budaya khas dan watak sosial masyarakat yang dinamis; “akeh prahoro, taping langitiro mageh biru yoro” (banyak prahara, tetapi langitmu biru selalu). Banyuwangi melewati pengalaman sejarah yang telah menciptakan kekokohan sikap dan kedewasaan masyarakatnya.

Banyuwangi tak punya pabrik tebu, karena limbah tebu berdampak buruk bagi pertanian. Tebu hanya terdapat di wilayah yang airnya tak begitu melimpah. Banyuwangi punya air melimpah berkualitas buat perkebunan dan persawahan. Kenapa harus dicemari limbah tebu dari pabrik gula? Kenapa pemerintah membangun pabrik giling tebu yang besar?

Di Banyuwangi terdapat banyak sekali daerah menggunakan nama-nama air. Misalnya, Sumbersewu (seribu mata air), Sumberayu (mata air indah), Kalirejo (sungai besar), Kaligondo (sungai wangi), banyak lagi. Ini bukti potensi air di Banyuwangi. Tetapi, petani masih saja seperti cerita lama, menanam padi dan menjualnya dengan harga yang ditekan-tekan. Kopi pun tak lazim dinikmati orang Banyuwangi, dikirim ke luar daerah. Begitu pun beras Genjah Arum yang masyhur itu, dinikmati orang luar. Kenapa kita tak mampu membeli? Mana bukti kalau wilayah ini punya ekonomi yang baik? Mana pula bukti kemiskinan turun? Turun ke mana, Tuan?

Itu cerita lama. Cerita lama yang diulang-ulang lantaran tak punya cerita lain. Pengingkaran terhadap potensi air itulah yang menyebabkan daerah ini diserbu tambang-tambang dan pabrik-pabrik semen. Pengingkaran terhadap budaya itulah yang menyebabkan daerah ini disesaki festival, karnaval, dan orang-orang asing yang menghabiskan uangnya di hotel dan restoran mewah. Pengingkaran terhadap perniagaan rakyat di pasar-pasar tradisional itulah penyebab suburnya supermarket dan hotel berbintang.

Dan semua itulah cerita lama. Cerita lama yang diulang-ulang dari pidato pemimpin-pemimpin yang kejujurannya nol puthul. Sebagaimana cerita lama, kemiskinan benar-benar menurun, “menurun ke anak-cucu”. Untung tidaklah banyak pemimpin Banyuwangi yang berkumis, sehingga tidak disebut “pemimpin kumiskinan”.

Muncar, 2017-2019
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *