Prosa-Prosa Pendek Ahmad Syauqi Sumbawi

TANDA HIDUP

Laki-laki itu beranjak dari kursi, berjalan meninggalkan layar komputer yang menumpulkan sorot matanya. Muram, di bawah bohlam. Di sebuah jendela, dia kemudian berhenti dengan menumpukan kedua sikunya. Menatap malam larut dan lengang, di mana rembulan tanggal sembilan menusuk-nusukkan garis-garis cahayanya pada daun-daun pohonan yang bergoyang perlahan. Di sana, udara mengendap dan menjadi dingin.

Sejenak tangan laki-laki itu mengeluarkan sebatang rokok kretek. Memijat-mijat pelan, seperti tengah bersabar dalam menyiapkan sesuatu yang besar pada cita-citanya. Sebentar dia menyulutnya. Lantas asap pun merayap di udara dan melenyap di bawah dedaunan.
Perempuan yang beberapa waktu lalu menghidangkan secangkir kopi untuknya, telah tertidur di punggung kasur. Nyenyak. Seperti memahami waktu atas laki-laki itu agar tidak menjadi rusak.

“Yah… siapa yang bernama nanti atau kini, segera menjelma kemarin setelah siang dan malam menandunya pergi, selalu begitu, selalu tak abadi peristiwa di bumi…*)” gumam laki-laki itu pelan seraya menatap rembulan tengah malam.

Dan laki-laki itu tak peduli. Telah tertancap tongkat perjalanan hidupnya di sini. Begitu juga waktu-waktu yang lalu, kini dia terus bersetia pada keyakinannya. Inilah hidup. Senantiasa bergerak adalah tanda. Seperti pagi yang tak berapa lama lagi tiba bersama matahari yang menggurat merah cakrawala. Selalu datang menghangatkan kehidupan.

Selepas menghembuskan asap rokok, laki-laki itu melangkah ke kursi dan mendudukkan tubuhnya. Sejenak ditatapnya perempuan yang telah sekian tahun menemaninya itu. Cukup lama.

“Tidak ada yang lebih membahagiakan dalam hidup ini, melainkan kesetiaan pada apa yang diyakini,” gumamnya sendiri, lalu menghadapkan wajahnya kembali ke layar komputer yang tampak muram di bawah bohlam.

Sebentar jari-jari tangannya menari-nari, menandakan dirinya belum mati.

*) Kutipan sajak “Malam Sebelum Tidur” karya Herry Lamongan.
***

GUMAM DI BERANDA RUMAH

“Kalau saja aku jadi kau, sungguh enak rasanya. Simpel. Tanpa tetek-bengek manusia. Cuh, bangsat semua.

“Ya, dengan sepasang sayap, aku bebas ke mana saja. Membelah angkasa. Hinggap hanya mencari makan dan bersebadan. Pasti tak serumit ini jadinya.”

Dalam sangkar tergantung di depan rumah seekor burung meloncat-loncat tak karuan, seperti hendak mengatakan: Bangsat kau, manusia! Enak kepalamu. Tidakkah kaulihat?!

“Ah, kasihan. Sebentar, akan kuambilkan makan.”
***

MASKERADE

Malam itu seperti malam di mana langit tampak olehmu tengah bertabur gemintang di belakang purnama. Begitu cerah, secerah mekar wajah seorang bocah yang bergegas ke sebuah gedung dengan sebuah topeng di ayun tangannya yang gembira. Sungguh, betapa ‘kan meriah maskerade di sana. Semua berkumpul dan bersuka-ria bersama.

Melewati pintu, ia membelaikan senyum kepada dua orang resepsionis. Juga kepada mereka yang datang. Lantas memasang topeng ketika tiba terdengar lonceng mendentang, menandai dimulainya maskerade.

Tiba-tiba ia menyentakkan teriak. Menggugat suasana. Selepas tak menemukan seorang pun di antara mereka yang bertopeng seperti dirinya.

“Bukankah ini maskerade?” katanya merebut podium. “Mana topeng anda semua?”

Akan tetapi hanya tawa yang terdengar. Dan ia pun berlari dari keterasingannya. Meninggalkan mereka yang terus tertawa. Menertawakan dirinya yang masih bocah.

Sebentar ia bergabung bersama teman-temannya. Mengenakan topeng, menari, dan menyanyi dalam sebuah maskerade di sebuah taman dekat perempatan di bawah malam, seperti malam di mana langit tampak olehmu tengah bertabur gemintang di belakang purnama.
***

DALAM SAKIT

Di satu kamar pasien yang tenang di rumah sakit. Seorang laki-laki rebah, dengan sebuah buku di tangannya. Sudah tiga hari dia berada di kamar itu. Sungguh, sakit benar-benar telah menyita waktunya. Mengurangi gerak aktifitas kesehariannya. Mengistirahatkan tubuhnya, rebah di punggung kasur.

Sementara seorang perempuan, istrinya, sedang mengupas buah apel merah yang dibawa oleh kerabatnya yang baru saja datang membesuk.

“Makanlah, Mas,” kata perempuan itu mengulurkan seiris apel.
Mendapati suaminya hanya diam seraya membalok-balik halaman buku. Maka, dia pun menyuapkan seiris apel itu kepadanya. Kemudian dia mengiris apel kembali.

“Sudah, Dik,” seru laki-laki itu seraya menggelengkan kepala ketika istrinya mengulurkan seiris apel lagi.
“Baiklah. Aku habiskan saja,” kata istrinya memakan seiris apel itu, lalu mengiris sisanya.
Laki-laki itu terdiam. Menerawang. Menatap buah apel yang tinggal separuh di tangan istrinya,
“Kok melamun, Mas?!” sergah istrinya tersenyum.
“Tidak, Dik. Hanya… kira-kira, ke mana hilangnya rasa enak apel merah ini pada orang yang sakit?!”
“Mas itu bagaimana sih?! Namanya juga sakit. Apa-apa yang biasanya enak, jadi tidak enak. Selera makan mendadak sirna.”

Laki-laki itu mengalihkan perhatiannya kepada istrinya yang tengah mengiris apel. Kemudian tersenyum.
“Ada apa, Mas? Kenapa tersenyum sendiri?!”
“Benar katamu. Namanya juga sakit… kalau tidak sakit, belum tentu saat ini kau mengupas buah apel untukku,” kata laki-laki itu tersenyum.
“Itu karena Mas yang sibuk bekerja. Jadi tidak ada kesempatan untukku mengupaskan buah apel,” sambut si istri tersenyum pula.
Sejenak mereka terdiam dalam kebisuan suara. Laki-laki itu kembali memperhatikan istrinya yang tengah mengiris apel.

“Eit, eit, jangan dihabiskan. Bukankah itu untukku?” Laki-laki itu menarik tangan istrinya. Namun, irisan apel itu keburu masuk ke mulut istrinya.
“Katanya tidak mau?!”
“Itu ‘kan tadi. Sekarang aku mau.”
“Baiklah kalau begitu. Sebentar aku kupaskan…” Perempuan itu tersenyum lalu mengambil sebuah apel.

Perlahan laki-laki itu meletakkan buku di atas meja. Lantas memperhatikan perempuan itu yang tengah mengupas sebuah apel merah untuk dirinya.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *