BIMA SUCI

Taufiq Wr. Hidayat *

Setelah Seabad Kesunyian

Tentang seseorang di pintu Sang Kekasih
dan mengetuk.

Ada suara bertanya
“Siapa di sana?”

Dia menjawab
“Ini aku.”

Sang suara berkata
“Tak ada ruang untuk aku dan kamu.”

Pintu tetap tertutup

Setelah setahun kesunyian
dan kehilangan,
dia kembali
dan mengetuk lagi.

Suara dari dalam bertanya
“Siapa di sana?”

Dia berkata
“Inilah kamu.”

Maka sang pintu pun terbuka untuknya.

(Jalaludin Rumi)

Terdapat ayat suci yang berbunyi “kun fayakun”. Kalimat itu sejatinya tak dapat diucapkan manusia, lantaran kata “fa” adalah “waktu Tuhan”, bukan “waktu manusia” yang membutuhkan proses kesejarahan. “Kun” adalah fi’il amr (kata perintah) dari “kaana” yang memaknakan pada “fa-yakun”. Kata “fa-yakun” yang berasal dari “fa-yakuunu” (memakai huruf wau), tetapi huruf wau tidak dipakai dalam kata “fayakun” pada teks ayat suci tersebut. “Kun” itu masdar-nya: “kaunan: kaana-yakuunu-kaunan”. Bentuk dasar yang menyembunyikan pelaku pada kata kerja. “Fa-yakunu” kalimat fi’il (kerja). “Fa” (maka, jeda waktu) kepada “yakunu” (terjadi/jadi). Jeda waktu itu pun merahasiakan pada pelaku. “Kun fa-yakuna” ber-athaf (terlimpahkan, bukan dilimpahkan) pada “yaqulu” (yang berkata), huruf ya’ mengandung dhamir (kata ganti) “huwa” (subyek yang tak terdefinisi). Maka kalimat “kun fa-yakun” sebenarnya tak bisa diucapkan manusia, sebab jika pengucapnya manusia akan berbunyi: “kun fa-kana” (jadi, maka akan terjadi). Nah “kun fa-yakun” berbentuk fi’il amr (kata perintah) dan fi’il mudhari’ (perfect-present-future), yang berarti “jadi, maka (pasti) terjadi dan terus-menerus jadi”. Ada jeda bagi makhluk, tapi tidak mutlak bagi pengucapnya (yaqulu).

Puisi Rumi di atas, agaknya menyimpan logika tata bahasa itu. “Siapa di luar?”. Tatkala dijawab “aku”, pintu tak mungkin terbuka (kun fakana). Tapi ketika dijawab kepada subyek penanya dengan “akulah engkau” (kun fa-yakun), pintu pun terbuka. Di sini, tak ada yang dapat menemui-Nya selain diri-Nya sendiri. Jika makhluk hendak menemui-Nya, makhluk itu meniscayakan tiada selain Dia. Itu kiranya yang bernama “al-ikhlas” atau penyerahan (muslimun). Hal ini mirip dialog antara Brantesena dan Dewa Ruci di kedalaman samudra dalam Serat Dewa Ruci.

“Siapa kamu?” tanya Brantasena pada sosok kecil yang mirip dirinya yang menghadang.

“Aku adalah kamu. Dan kamu, tak lain adalah aku sendiri,” jawab sosok kecil yang bernama Dewa Ruci itu. “Sebelum kau mengambil air keabadian itu, langkahi dulu mayatku,” tantang Dewa Ruci. Yang jelas dalam kisah ini, nama Dewa Ruci bukanlah nama kapal laut.

Dalam kearifan Jawa, seseorang mestilah melewati dirinya sendiri untuk meraih apa yang ingin diraih dengan kehendak-kehendak. Dan untuk mereguk keabadian, tak ada pilihan lain selain melangkahi kematiannya sendiri. Dalam arti menundukkan segala kehendak itu, yang dalam istilah ajaran tersebut disebut nafsu. Ia mestilah belajar pada dirinya sendiri, berdialog, dan bertukar posisi dalam keutuhan yang langgeng dan ajeg. Semua itu tak lain upaya menguasai diri oleh dirinya sendiri. Kearifan Jawa inilah yang dilakonkan dalam wayang Dewa Ruci. Sehingga sosok Brantasena menjelma Bima Suci. Bahwa bagi Jawa, kesucian sejati adalah keluhuran perbuatan. Bukan keagungan dan kesucian sang aku, simbol, atau posisi dan pencapaian-pencapaian hidup belaka.

Uraian mistik itu mengandung pengertian, bahwa nilai kemanusiaan yang tak lain perwujudan nilai ketuhanan, ialah yang utama bagi setiap pribadi yang mengaku beriman dan menghamba kepada Tuhan. Menyatukan atau meleburkan sifat ketuhanan dalam sifat kemanusiaan. Dalam al-Ghazali disebut “takhallaqu bi akhlaqillahi ‘ala taqatil basyariyah”, yaitu berperilaku sebagaimana perilaku Tuhan dengan nilai kemanusiaan (basyariyah) yang merupakan bukti nyata bahwa makhluk adalah hamba (pengabdi nilai kemanusiaan). Itu kiranya pengertian istilah “manusia setengah dewa” dalam khazanah kebudayaan. Sikap ketuhanan atau yang membumikan nilai ketuhanan dengan nilai kemanusiaan itulah yang oleh Sang Rasul disebut “al-islam”: kesejahteraan. Nilai-nilai kemanusiaan untuk saling menyejahterakan. Itu barangkali sebab, dalam ajaran ini, dikutuk sekeras-kerasnya kebakhilan dan keangkuhan. Lantaran sikap demikian hanya mengutamakan kesejahteraan diri sendiri, tak sudi untuk berbagi, dan tak mungkin rendah hati, yang melahirkan kebencian, perang, dan penindasan. Jelas bukan nilai ketuhanan. Mudah sekali dimengerti, namun nyatanya tak gampang dilazimkan dalam kehidupan orang yang mengaku beriman, bukan?

Tembokrejo, 2019
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *