Sajak-Sajak A. Syauqi Sumbawi

PERIPHERAL
– nusantara

terlampau lekat warna tanah
menerima jernih langit
seperti kulit-kulit, manusia
dan bumi tak sebulat, mufakat

terlampau coklat warna ini tanah
dalam jernihnya, udara
tak pernah menampik warna
bagi burung, layang, dan bendera

maka, biarlah pertemuan ini menjadi diri
bukan dalam paksa pualam pasir gurun arabia
tak juga, sanderaan akal persia dan batin india
karena seperti juga di sana, pada jernih langit
manusia tumbuh dengan tanah asalnya.

MAQAMAT HARAKAT KARAT

pada ini maqamat, khalwat
harakat-harakat karat
dalam semayam hakikat

bawah samudera aku menyelam
ikan-ikan mangap berucap
ini jernih adalah hijabnya
karatmu hitam dalam buku

dalam tanah aku menyusup
cacing-cacing menggeliat
tanah adalah warnamu,
karat warnanya

atas angkasa aku melayang
burung-burung berkelapak
dalam bening udara ini
karatmu abadi

pada ini maqamat, khalwat
inilah aku, debu sucimu.

BERCAKAP DALAM RAHIM
-k

aku mengetuk pintumu dengan sejahtera
meski masih tertutup inderamu atas cakrawala

—yah, rungu kuat menembus buntu, ibu—

bukankah dia telah kalam padamu,
dan bersaksi atas diri sendiri
dan kau telah mengikat hati
pada janji azali ini

dan kau mengembang dalam darah,
daging, tulang, sumsum, otot, kulit, dan bulu
dalam bentuk sempurna atas sebuah tanda
lantas menggeliatkan tangis tanpa airmata
atas bercampurnya dunia

maka, ingat janji azali ini
jangan terampas lupa
karena bagi para kekasih, lupa adalah dosa

—yah, rungu kuat menembus buntu, ibu—

benar, pun aku harus menggenggam janji sendiri
menjaga kata-kata yang menembus ibu
dalam rungu lewat liang udara
menulis pelajaran mula
menjaga segala tingkah,
karena segalanya, tak pernah membekas sirna
yang tak ‘kan berpisah di muara
karena hanya mata yang tak sanggup membaca

—yah, rungu kuat menembus buntu, ibu—

yah, aku mengetuk pintumu dengan sejahtera selalu
dan tak akan menutupnya,
lantaran tak pernah mampu, membuntu.

DALAM HARAKAT WAKTU

kelam pada nisan adalah penat sejarah
dalam sapa, dalam langkah peziarah
di mana masa pudar, dan matang
dan menit-menit berseteru dalam ingatan
lantas bercerita,
seperti hidup yang muncul dari nisan itu
melayang, dalam harakat waktu
mendiamkan aku seperti tubuh
dalam tanah, fana.

USAI EUPHORIA

apa yang tersisa usai euphoria
sebatang rokok memungkas asap
lenyap menguap dalam senyap
akhir cerita yang lengkap

detik-detik hening dalam sejarah
kisah-kisah terbuntal
tentang niat,
niat karat dan amis keringat
jiwa-tubuh payah dan mati rasa
jalanan dengan ranting-ranting gang
arah-arah sesat, hentak dan kubang
barangkali mudah dilupa nasib manusia
tersisih satu kisah, dua sisi
selisih, waktu kuasa menera

usai detik sejarah bersama euphoria
cukuplah cinta memberi harga segala
dan penuh waktu mengusung pergi.

GEMPA MENGUSUNG KA’BAH

barangkali gempa yang mengusung ka’bah
seperti tanah batin yang rentan berpindah
ber-hala pada jenis dan ganda

manakah retak atas fitrah
kaca dipenuhi warna, bentuk, dan matra
memudar, menghalau lebih luar
dari wajah terdalam, terpesona pada bianglala

oh, bianglala, bianglala
indahmu biasan terik dan hujan
udara membumbung ragam warna
seperti dunia yang memenuhi kilau mata

laiknya, metrologi hanya memberi garis dan angka
seperti ka’bah yang menjadi satu tanda atas arah
pun segala arah dipenuhi wajah yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *