SEPERTI KATA

SEPERTI SUARA
Taufiq Wr. Hidayat *

Melalui caviar dan vodka
kami langgar sepuluh dosa.
Di atas kain meja yang putih
terbarut tindakan yang sia-sia.
Botol-botol anggur yang angkuh
dan teman wanita yang muda
adalah hiasan malam yang terasa tua.

(WS. Rendra; “Sebuah Restoran, Moskwa”, dalam “Sajak-sajak Sepatu Tua”)

Dalam peristiwa, selalu saja ada yang ingin kekal. Tatkala ia dilewati dengan kesadaran keindahan. Seseorang membayangkan stasiun yang sepi. Bangku panjang di bawah pohon beringin. Dan kegelapan yang lebih meliputi daripada cahaya. Keheningan, lena, bulu-bulu bunga jambu bertebaran dibawa angin, dan lenyap dari ceriwisnya dunia.

Pada 1970-an, Rendra tak lagi mabuk anggur dan bulan. Mungkin seteguk anggur di lain waktu. Tapi bukan dalam puisi. Ia mengutuki “penyair salon” yang menulis rembulan, mencatat waktu dalam ekstase, tak berpihak pada derita keadaan. Menghilangkan makna dari kata, atau memaksakan makna pada kata. Membuat masa lalu bagai rentangan ketertindasan tanpa kabar tanpa perlawanan. Perlawanan tak pernah padam. Ia selalu saja berdenyut dalam sejarah. Tapi narasi besar sejarah itu, seakan selalu meninggalkan narasi kecil. Orang mengira yang besarlah sejarah itu. Seperti karya sastra. Ada rasa sakit yang dicatat dalam sebuah narasi agung yang disaksikan dunia. Orang menduga, tak ada lagi kemungkinan penderitaan di tempat lain, lantaran sejarah besar diimani besar hanya karena menuliskan “yang besar-besar” belaka dengan huruf-huruf kapital. Sedang di balik itu semua, ada kepedihan yang jauh lebih menyakitkan, kelam, dan tak terjelaskan. Yang selalu membuat yang besar ciut dalam kekerdilan. Kepedihan yang tak pernah tercatat dalam narasi agung, yang tak seorang pun mengerti, dan dianggap tak pernah ada oleh dunia. Urvashi Butalia menulis derita yang bersembunyi di balik narasi agung dan heboh tatkala pemisahan India dan Pakistan. Ia menyebutnya “The Other Side of Silence”: yang lain, yang sunyi, yang tak pernah dimengerti, yang bahkan tak pernah diketahui.

Masa lalu bagai sebuah prosa. Senantiasa ada. Tak dapat dimusnahkan sebagai realitas yang tersusun dari rasa kehilangan. Dan kini—di dunia yang profan, semua yang hilang lenyap tak berjejak, bagai tak pernah ada. Dan tak pernah terjadi. Orang begitu mudah mendapatkan, betapa gampang melepaskan, ia alangkah lekas melupakan, dan tak tahu balas budi. Di ruang yang singkat tak bersekat, waktu dari sisa laju usia, jasa dan balas budi setara harga sepotong roti dan perhatian-perhatian palsu. Itu seakan-akan telah dilazimkan. Selazim mengeluarkan berak di lubang kakus waktu bersama layar sentuh.

Masih ada yang tercatat. Meski sisa. Ingatan masih diabadikan dalam bentuk yang lain, yang menggetarkan. Selalu ada prosa masa lalu, yang lupa dibereskan dari dalam pikiran “malam yang terasa tua” itu. Hujan sesekali menjenguk kemarau bulan ini. Seperti hendak menumpahkan rindu pada bumi. Di tempat lain—dengan lena, manusia melanggar-Nya, bersama anggur dan kenangan purba yang tiba dalam peristiwa sementara. Anak jadah. Dan ludah dari langit. Ada yang ingin kekal. Lantas orang melompat pada hari depan yang tak terpecahkan. Tapi apa yang lebih utopis dari suatu kebanggaan yang selesai pada puncak pengakuan-pengakuan?

Bagi WS. Rendra, waktu dapat dibunuh dengan keterlenaan. Dengan kepayang yang tiba sampai tulang. Mungkin juga bersama anggur percintaan yang melenyapkan diri dari dunia. Tapi yang tak bebas dari kepalsuan, juga “dosa asal” manusia.

Dengan gelas-gelas yang tinggi
kita membunuh waktu dalam dosa

Tapi apakah membunuh waktu membuat waktu mati? Tak! Sebab dalam dosa, manusia menjadi benda-benda yang tak mengolah dan tak merangkai peristiwa.

Bila begini:
manusia sama saja dengan cerutu
bistik atau pun wiski-soda
berhadapan dengan waktu
jadi tak berdaya.

Dalam “Sajak-sajak Sepatu Tua”, Rendra memang tak membawa serta Si Paman Doblang dalam petualangannya itu. Sepatu tua bagai berjalan sendiri dalam kesepian, peristiwa yang dikekalkan dalam ingatan, dan catatan-catatan kelabu dari satuan waktu. Di dalamnya, penanda dibubuhkan untuk melukiskan peristiwa pada cermin sejarah. Di situlah barangkali puisi bernyanyi, merayakan nurani dan akal sehat. Bahwa dalam keterlenaan diri, barangkali kebangaan bagai sebuah ranjang tua. Sisa-sisa kejayaan masa lalu. Ia musti dikritik. Atau dibongkar supaya tak menyimpan kutu. Agar tahu diri. Lantaran tiap “nama besar” yang masih hidup, seringkali mandeg. Ia hanya lebih gemar menciptakan tahayul, mempernyatakan sesuatu yang dirinya sendiri tak mengerti di hadapan kenyataan yang selau berubah-ubah secepat cahaya. Pencapaian dan kebanggaan sejatinya tahayul. Orang haruslah menghikmati sebuah perjalanan yang membuatnya tiba. Dan segala tiba akan meminta tiba. Bagai tiba pada segala yang tak bertiba. Bukan capaian yang hanya membutuhkan tepuk tangan, yang hanya membuat si nama besar itu mendaulat diri sebagai nabi. Orang lupa, hidup sesungguhnya—pada keadaan yang seringkali, tak memerlukan makna. Ia hidup saja. Tanpa membubuhkan apa-apa. Kadang sendiri yang tak untuk diakui dan dimengerti.
*
Sartre pernah merasa sinis, bahwa baginya kata—katanya, ialah solek. Solek jika kata hanya kata tanpa makna, tanpa pengertian, bagaikan bunyi kambing di tengah padang rumputan, tanpa kesadaran manusia yang merangkaikan narasi atasnya. Tapi prosa membebaskan, lantaran prosa memakai kata yang mengemban gagasan. Dan itu tak terjadi pada puisi. Mungkin Sartre hanya mendesah, dalam sastra, prosa dan puisi dapat bertemu, berpagut mesra. Sajak-sajak Rendra membuktikan itu. Tak hendak membebaskan kata dari makna. Dan tak akan mencipta kata bagi segala makna. Ada yang bukan kata, bukan makna, dan bukan apa pun. Ialah yang tanpa huruf dan tanpa suara. Ada yang berkata-kata tanpa suara. Gerak. Sebentuk peristiwa.

Memang kata—lantas Sartre menegaskan, tak kuasa mengungkap bawah sadar manusia. Tapi Rendra melakukan sejumlah pembacaan sajak dan teater-teater, ada sebentuk situasi yang tercipta dari persenggamaan prosa dan puisi, mengungkap yang tak terungkap dalam kehidupan. Rasa dalam ketimpangan nasib yang tak menemukan wakilnya pada kata, menjelma daya gerak dan suara yang menggedor sejarah. Suara yang tak harus kata. Dan kata yang tak meniscayakan suara. Segala yang tak menjelma kata ialah “ada”, segenap yang tak terungkap adalah “mengada”. Ia seringkali menyebutnya “mengalir bagai air, berhembus seperti angin”.
*
Berabad lampau, Al-Masih berseru-seru dari kayu salib: “ely, lama sabakhtani?”. Seruan Isa itu—kata yang terucap dari sebuah keadaan genting yang mengerikan, menyayat sejarah menjadi memorabilia yang tak gampang diendapkan dalam suatu yang belaka makna. Tak mungkin dihapuskan. Tatkala seruan menyayat itu terbenam dalam sejarah, masihkah seruan serupa dapat didengarkan di antara bising mesin dan mulut zaman hari ini? Ah! Barangkali inilah kasur tua kebudayaan yang dianggap baru, tetapi jumud dan uzur, yang lembab dan penuh kutu. Atau segala ingatan dari perlawanan pada kenyataan yang menindas, adalah “sepatu-sepatu tua” yang dilupakan dan tak sempat dikenangkan. Teronggok tak berdaya di bawah meja makan siang yang ramai penuh makanan. Waktu beriman pada rupa, dan persoalan-persoalan sosial disulap jadi gambar, suara, klenik kekuasaan, dan tahayul yang mirip harapan mirip impian. Orang makin gemar beranak-pinak, tapi tidak mau memikul tanggungjawab pada kehidupan. Dan penderitaan cuma tontonan petang sambil makan kacang.

Pendengaran dari kesaksian-kesaksian penderitaan dan yang tergilas dalam ketimpangan nasib, menjelma daya kata, daya pikir, daya rasa, daya hidup. Zaman tak membutuhkan kehendak membebaskan kata atau menyusun teror dari benda-benda. Ia hanya membutuhkan setetes kesadaran, ialah membebaskan diri dari omong kosong sejarah. Dan tiap orang punya pilihan. Tak penting benar-salah. Tapi apakah kebenaran menjadi kesadaran dan kesalahan menjadi pertanyaan yang tak diingkari? Paman Doblang yang dihadang mastodon dan srigala itu meneriaki para pesolek sejarah: “dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata!” ujarnya. Sembari mengemukakan apa saja di tengah kecemasan yang tak pernah dikenangkan dunia.

Tembokrejo, 2019

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *