Ronggeng Dukuh Paruk : Cacat Latar yang Fatal

F. Rahardi
Majalah Horison, Januari 1984

Kesan utama yang segera timbul sehabis baca novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari (Gramedia, Jakarta 1982) adalah adanya sebuah latar (setting) yang sangat bagus. Latar tersebut terbentuk suasana alam pedesaan dengan lingkungan flora serta faunanya dan Ahmad Tohari berhasil melukiskannya dengan bahasa yang bagus dan menarik. Kesan yan begitu mendalam terhadap latar tersebut juga lebih diperkuat lagi oleh tidak terlalu luarbiasanya unsur-unsur lain seperti kerangka cerita, tema, alur, karakter tokoh dan lain-lain. Komentar terhadap latar yang cukup bagus tersebut ternyata sangat dominan pada setiap pembicaraan terhadap Ronggreng Dukuh Paruk, baik dalam pembicaraan lisan maupun tertulis. Sayang sekali, bahwa ternyata dalam latar yang kuat dan bagus tersebut tersembunyi cacat yang sangat fatal, berupa kesalahan, penamatan yang kurang cermat maupun keteledoran.

Tak pelak lagi, Ronggreng Dukuh Paruk adalah sebuah novel realis. Artinya, karya fiksi tersebut berangkat dari peristiwa-peristiwa yang dapat, bahkan lazim terjadi di masyarakat dan penulis berusaha untuk melukiskannya dengan gaya sepersis mungkin meskipun di sana-sini ada yang agak didramatisir. Dalam situasi seperti ini, kesalahan, kejanggalan dan kekurangcermatan tentu akan mengganggu. Lain halnya dalam karya fiksi yang sifatnya satiris, surealis atau absurd. Dalam keadaan seperti ini, penjungkirbalikan fakta atau unsur-unsur yang terdapat dalam fiksi merupakan sesuatu yang sah. Kesepakatan seperti ini tidak hanya melulu monopoli sastra atau dunia perfiksian. Dalam seni lukis, drama dan lain-lain juga ada kesepakatan serupa.
***

Berikut ini kami akan memaparkan kesalahan, kejanggalan, serta kekurangancermatan Ahmad Tohari dalam karyanya tersebut. Dengan pertimbangan bahwa apabila saya melakukan kutipan karya asli maka tulisan ini akan menjadi sangat panjang, maka dalam kesempatan ini saya hanya menyebut halaman serta alinea lalu langsung ke permasalahan yang akan dibahas. Saya mulai dari bagian pertama novel, hal 5 alinea II. Di sini penulis menyebut bahwa “kerokot” adalah tumbuhan jenis kaktus yang hanya muncul di sawah pada saat kemarau berjaya. Itu tidak betul. Kerokot yang tumbuh di sawah dukuh paruk itu nama latinnya Alternanthera sesilis atau disebut “keremek” atau “keramak”. Tumbuhan ini termasuk famili bayam-bayaman (Amaranthaceae) yang jauh sekali berbeda dengan kaktus yang merupakan sub famili dari sekulen (Succulentus) yang kesemuanya berasal dari benua Amerika (Pereskieae, Opuntieae dan Cereeae atau Cacteae). Ini merupakan suatu kesalahan yang cukup fatal untuk ukuran seorang novelis yang pernah memenangkan hadian Sayembara Penulisan Roman DKJ dan untuk penerbit Gramedia.

Kesalahan kedua masih ada di halaman 5 alinea selanjutnya. Penulis melukiskan bagaimana ganasnya burung alap-alap memangsa pipit dengan cara mengejar lalu menggigit menggunakan paruh. Padahal semua jenis burung ordo Falcoiformes selalu menangkap mangsanya dengan menggunakan cakar dan dengan cara menyambar. Jelas dalam hal ini penulis malas untuk membuka-buka raferensi. Alasan bahwa perubahan perangai alap-alap tersebut adalah untuk tujuan mendramatisir suasana tentunya kurang kena.

Mesih soal satwa, kali ini menyangkut katak dan kodok. Di halaman 25 alinea V dan halaman 88 alinea I, penulis menceritakan bahwa kodok adalah bangsa reptil, yang setelah malamnya kawin paginya akan nampak telurnya. Juga disebutkan bahwa suara katak pohon lebih jarang, atau tak sesering katak dan kodok hijau. Semua itu tidak betul. Kodok itu termasuk golongan amfibi. Yang masuk reptil adalah buaya, penyu, biawak, ular dan lain-lain. Cara kawin kodok juga seperti ikan. Artinya begitu mereka kawin, si betina mengeluarkan telur sementara si jantan memuncratkan sperma. Telur dan sperma ketemu di air di luar tubuh mereka. Jadi alat kelamin mereka tak saling masuk seperti pada reptil atau mamalia. Artinya pada saat mereka kawin itu telur sudah ada. Juga tidak benar bahwa katak pohon (Rana rhacopharos) bersuara lebih jarang daripada kodok atau katak hijau. Soalnya semua jenis rana (katak pohon, katak hijau, katak sawah, katak rawa dan katak batu serta rana-rana lain dari luar negeri), suaranya memang keluar dengan tenggang waktu terutama yang jantan. Yang bersuara ribut tak berkeputusan adalah bufo alias bangkong.

Masih tetap soal satwa, sekarang yang mendapat giliran adalah kelelawar. Di hal 14 alinea II penulis menyebut adanya kelelawar dan kalong serta kampret yang makan daun waru lantaran tak ada buah dan serangga. Sebenarnya, “kelelawar” adalah nama umum untuk ordo Chiroptera yang di tanah air kita ada tiga.

Pertama kalong (Pteporus vampirus) yang paling besar dan makan buah-buahan, kedua codot (Pteporus edulis) yang lebih kecil dan juga makan buah-buahan, yang ketiga kampret (Microchiroptera) yang hanya makan serangga. Jadi kalau kampret ada di daun waru, itu untuk makan serangga entah semut entah apa dan bukan untuk mengganyang daun tersebut.
***

Untuk lebih menegaskan pada para pembaca bahwa penulis betul-betul akrab dengan lingkungan pedesaan, di hal 6 alinea II dan III diceritakan bagaimana caranya tanaman kapuk dan dadap menyebarkan jenisnya ke tempat yang jauh dengan bantuan angin. Tapi yang nampak justru kesan bahwa penulis kurang akrab dengan lingkungannya. Tentang pohon randu penulis menyebut bahwa setelah buah menghitam, lalu pecah dan isinya (kapuknya) berhamburan kena angin. Yang betul adalah, kalau baru berwarna hitam, kapuk dan randu itu belum pecah karena ini baru fase masak. Setelah kering dan berwarna cokelat, baru kulit tersebut pecah lalu jatuh. Nah, pada saat itu si kapuk telanjang demikian, matahari mengembangkannya lalu menghamburkannya kemana-mana, atau tidak ada angin. Itu tentang randu, sekarang tentang dadap. Ahmat Tohari hanya menyebut bahwa dadap memilih cara yang sama untuk penyebaran jenisnya, yakni dengan menggunakan kulit polongnya yang dapat terang seperti baling-baling. Padahal yang bisa demikian ini hanyalah dadap serep yang tidak berduri (Erythrina sumbummrans), dadap ayam atau dadap duri (Erythrinaorientalis) lain lagi sebab polongnya mirip buncis.

Sekarang ganti tentang singkong. Di halaman 7 alinea IV, penulis berusaha mendramatisir suasana. Tiga orang anak kecil tidak kuat mencabut singkong di tanah kapur yang kering membatu. Baru setelah dikencingi beramai-ramai maka singkong tersebut dapat dicabut. Sungguh fantastis. Orang Gunung Kidul serta Wonogiri pasti akan ketawa membaca kisah demikian. Tanah kapur itu senantiasa remah dan mudah hancur baik di musim penghujan maupun kemarau. Dan ingat, lapisan tanah subur di tanah kapur itu hanya terpendam dangkal sekali. Logikanya, mencabut singkong di tanah kapur sangat mudah. Lain halnya di tanah liat. Tanah jenis ini di musim kemarau memang keras dan membatu.

Sekarang pindah ke halaman 15 alinea I. Penulis menyebut bahwa karbohidrat yang terkandung dalam singkong kering itu telah banyak rusak hingga anak-anak tak cukup kalori. Karbohidrat dan kalori singkong kering itu justru tinggi. Kalau si singkong rusak atau sengaja dirusak (dibuat leye dan gatot) justru malah lebih mudah dicerna oleh mulut maupun perut. Lain halnya kalau Ahmad Tohari mau bicara soal gizi, yang bukan melulu menyangkut karbohidrat atau kalori tapi juga protein, lemak, vitamin dan mineral. Jangankan singkong kering, singkong segarpun kandungan lemak serta proteinnya sangat rendah yakni 0,45 dan 0,19%.

Lalu darimana orang-orang dukuh Paruk mendapatkan lemak protein, vitamin dan mineral? Tentunya dari tempe bonkrek yang digoreng dan sayuran. Tapi soal tempe bongkrek pun penulis telah membuat kesalahan yang cukup fatal. Di halaman 30 sampai dengan 39 penulis menceritakan adegan orang-orang yang sekarat karena keracunan tempe bongkrek. Yang dilukiskan oleh penulis, para korban tersebut (termasuk Santayib yang sengaja makan tempe buatannya sendiri), seperti mabuk alkohol. Nafas mereka memburu, mata mereka melotot dan sebagainya. Padahal salah satu akibat racun bongkrek adalah terhambatnya pembentukan Adenosine Triphosphat (ATP) yang setelah diubah menjadi Adenosine Diphosphat (ADP) akan menghasilkan enersi untuk gerakan otot dan lain-lain. Dengan terhambatnya pembentukan ADP, si korban cenderung seperti lumpuh, mata sulit dibuka (kelopak mata menggantung) dan juga sesak nafas. Kalau sekiranya Ahmad Tohari belum pernah menyaksikan sendiri bagaimana keadaan orang keracunan tempe bongkrek, tentunya dituntut untuk tanya sana-sini atau rajin membuka-buka referensi.

Masih tentang tempe bongkrek, di halaman 49 alinea I penulis membayangkan bagaimana orang-orang pandai ingin tahu tentang pengaruh racun bongkrek terhadap jantung, sel-sel otak serta bagaimana si racun membunuh sel-sel darah merah. Teka-teki bongkrek memang baru dapat dipecahkan dengan pasti tahun 1973 oleh Prof. Lijmbach dari negeri Belanda, tapi para ahli, di tahun terjadinya Ronggeng Dukuh Paruk tentu tidak pernah berpikir bahwa racun bongkrek itu kerjanya sama dengan kerja Plasmodium malaria.
***

Tema sentral novel ini ada di sekitar ronggreng atau tayub atau tledek. Tapi nampaknya penulis agak malas untuk sedikit bersusahpayah mencari informasi soal ronggeng. Saya tahu, pada saat Ahmad Tohari menulis novel ini (di atas tahun 80) Ronggeng memang sudah teramat jarang. Tapi di perpustakaan tentunya ada segudang informasi. Penulis tahu soal “bukak klambu” dan sebagainya tapi masalah calung dan lampu bisa salah. Di halaman 19 alinea II dan III penulis menyebut bahwa tali ijuk calung putus dimakan tikus dan ngengat tapi bubuk dan anai-anai (rayap) justru tidak makan bambunya. Setahu saya, di mana-mana tikus, ngengat dan rayap jauh lebih suka bambu daripada tali ijuk. Jadi logikanya, gamelan bambu tadi hancur karena tikus, ngengat, bubuk dan anai-anai, sementara tali ijuk masih utuh. Tapi entahlah. Barangkali tikus, ngengat dan rayap di dukuh Paruk punya gigi palsu dari baja, hingga kuat mengerat ijuk.

Kejanggalan tentang lampu saya dapatkan di halaman 20 alinea III. Untuk acara ronggeng, sebuah lampu tersebut dipasang cincin penerang. Begini ya, dulu, di abad-abad yang banyak ditulis, acara ronggeng selalu menggunakan penerangan obor. Setelah diketemukan lampu pompa (“petromak” dan “stromking”), acara-acara serupa tentu menggunakan jasa lampu tekan tersebut. Dukuh Paruk di tahun 50/60-an tersebut memang miskin. Tapi toh lampu-lampu semacam itu ada yang menyewakan dengan harga murah? Saya ingat, acara wayang, ketoprak dan lain-lain di dukuh yang paling udik sekalipun di tahun 1950-an selalu menggunakan lampu pompa sewaan. Lain halnya kalau kisah ini terjadi di Irian Jaya sana.

Lalu apa akibatnya kalau yang digunakan lampu minyak besar seperti yang dikemukakan oleh penulis? Pertama kurang terang, dan kedua akan mati-mati melulu. Dalam acara wayang di desa-desa, para bandar dadu atau penjual rokok memang lazim juga menggunakan lampu minyak tersebut, tapi hanya untuk menerangi dagangannya dan bukan areal ronggeng. Lagi pula, semprong lampu tersebut terlebih dahulu disambung dengan kertas sampai panjang agar si lampu tidak mati-mati melulu kena angin.

Tentang perangkat wayang orang serta ronggeng, penulis juga bingung. Meskipun ini terjadi di dunia anak-anak, tapi anak-anak desa di Jawa tentunya hafal betul mana itu badong (badongan) dan mana pula kuluk serta sumping. Badong itu memakainya di punggung seperti pada tokoh Gatotkaca, sementara kuluk itu memakainya di kepala karena kuluk itu memang topi. Yang laxim, daun bacang alias pakel alias Magnefera foetida itu hanya dibuat kuluk oleh anak-anak di Jawa, karena ukurannya yang kecil. Yang lazim dipakai untuk badongan adalah daun keluwih atau sukun (Artocarpus communis). Ini terdapat di halaman 10.

Bukan hanya soal ronggeng yang ada cacatnya. Bercerita soal perangkat desa atau pamong desa pun penulis kurang sempurna. Dalam novel ini penulis menyebut-nyebut adanya seorang kamitua. Padahal di Jawa, kamitua itu adalah kepala dukuh alias bekel yang mengepalai dukuh tempat kepala desa berdomisili. Kamitua yang statusnya selain sebagai kepala dukuh juga sebagai wakil kepala desa, yang lazim disebut “lurah” tapi sebenarnya salah. (Silahkan baca Undang-Undang nomor 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa). Jadi logikanya, dimana ada kamitua, disitu pasti ada kepala desa. Kalau tidak ada kepala desa, cukup ada kepala dukuh alias bekel. Tentu saja terbuka kemungkinan bahwa di suatu pedukuhan, ada kesalahkaprahan. Tapi seperti halnya kesalahan pada sebutan kepala desa yang di bebebrapa tempat dipanggil “lurah” maka bagi seorang penulis perlu dituntut untuk memberikan penjelasan pada pembaca atau menggunakan istilah yang betul saja.
***

Kejanggalan dan kesalahan ini masih terus berlanjut. Penulis berulangkali menekankan bahwa dukuh Paruk adalah sebuah pedukuhan miskin. Sampai-sampai, anak-anak makan dengan menggunakan daun pisang tiap hari. Ini terlalu ekstrim. Orang desa itu bisanya praktis. Tahun 50-an memang belum ada plastik termasuk piring plastik. Tapi toh sudah ada piring seng atau alumunium? Bagaimana kalau mereka tak kuat beli piring seng atau aluminium? Biasanya pakai layah atau cobek tanah atau tempurung kelapa. Daun pisang itu mahal dan bagi warga dukuh Paruk terlalu berharga untuk disobeki tiap hari. Mending dibawa ke pasar ditukar garam dan sabun.

Begitu miskinnya dan udiknya dukuh Paruk itu, kita maklumlah sudah. Tapi kenapa kalau di halman 30 penulis menceritakan tentang anak-anak yang makan pakai daun pisang, justru di halaman 43 penulis berkisah tentang bau bunga sedap malam. Padahal bunga sedap malam itu merupakan tanaman hias yang mahal asal dari Meksiko (Polianthes tuberosa). Masuk ke Jawa tentunya dibawa para orang bule pada zaman kolonial dulu dan hanya terbatas ditanam di rumah-rumah orang kaya di kota atau di kebun-kebun bunga di Bandungan, Kopeng atau Tawangmangu, paling tidak di Baturaden. Kenapa bisa nyelonong masuk ke dukuh Paruk? Masih sempatkah orang-orang dukuh Paruk keluyuran ke Baturaden atau Purwokerto untuk mencari bibit bunga sedap malam?

Selanjutnya di halaman 87, penulis juga menunjukkan ketidakakrabannya terhadap musim dan serangga. Dia menyebut : “Langit pekat meski hujan belum lagi turun. Selagi tanah basah, jengkerik dan gangsir malas berbunyi. Orong-orong menggantikannya”. Ini memang musim hujan, tetapi kalau ada kalimat : Hujan belum lagi turun lalu disambung selagi tanah basah tentunya kalimat jadi rancu. Lagipula, cengkerik dan gangsir itu bertelurnya memang di musim kemarau dan menetasnya di musim hujan. Jadi di awal musim hujan tersebut memang belum ada cengkerik serta gangsir yang dapat berbunyi karena sayapnya memang belum tumbuh. Yang tua-tua tentunya sudah habis. Juga, cengkerik dan gangsir itu berbunyinya memang jauh lebih malam daripada orong-orong yang mulai “ngentir” di saat maghrib. Soalnya rangsang untuk berbunyi itu datangnya dari perubahan suhu udara. Orong-orong sudah mau berbunyi dengan sedikit saja penurunan suhu udara, sementara untuk gangsir dan cengkerik harus cukup banyak penurunan suhu udara.

Di halaman 102 penulis menyebut ada kadal (bengkarung) yang nyelonong begitu saja lalu melahap capung yang lagi hinggap di tanah. Ada dua kejanggalan. Kadal tidak pernah mengejar mangsanya dengan tergesa-gesa dan capuing hidupnya dekat air serta tidak pernah hinggap langsung di tanah. Minimal hinggapnya di rumput. Jadi adegan kadal ini nampak sekedar tempelan. Logikanya, kalau Rasus, dan Srintil ada di kuburan yang banyak pohon-pohon besarnya, mereka itu kejatuhan tahi burung atau pantatnya digigit semut.

Barangkali puncak dari kecerobohan penulis adalah di halaman 51 dan 106. Di halaman 51 dia menyebut adanya semut “burangrang”. Semut burangrang itu tidak ada. Yang ada semut ngangrang (jawa), rangrang (sunda) atau kerengga (indonesia) yang nama ilmiahnya Oecophylla smaragdina. Lalu apa pula itu, burangrang? Itu nama gunung di kawasan Priangan (tinggi 2.064 m). Ini barangkali masih kalah dengan di halaman 106. Penulis menyebut di sore hari (menjelang maghrib) ada bianglala di langit barat. Mestinya kan di timur? Ini menurut Pak Guru SD.
***

Masih banyak memang kejanggalan-kejanggalan yang saya temukan tapi tentunya tak dapat semuanya dibahas di sini. Sebab kalau semuanya dibahas, bahasan tersebut salah-salah akan jadi sebuah novel tersendiri. Tentu saja penulis punya hak untuk berdalih, bahwa ini karya sastra atau fiksi yang merupakan hasil imajinasi belaka. Jadi boleh tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dalih tersebut tentunya sah apabila penulis, seperti telah saya sebut di atas, memang sengaja membuat kejanggalan dan kesalahan demi efek humor, satir, surealis atau absurd. Pada karya yang realis, ketelitian dan ketepatan data mutlak perlu. Hemingway adalah contoh yang paling mudah. The Old Man and The Sea sungguh merupakan pameran latar yang bagus, menyatu, utuh dan juga tepat. Dia tentu tak hanya sekedar berimajinasi atau sesekali ikut mancing tapi pasti mengadakan riset lama. Ini terbukti dari pelukisannya yang sungguh sangat natural tentang seluk beluk kehidupan pemancing di laut.

Tapi tentu saja Ahmad Tohari tak harus berkecil hati meskipun di masa mendatang lebih dituntut untuk berhati-hati. Anda tidak sendirian. Y.B. Mangunwijaya dengan Burung-burung Manyarnya yang banyak dipuji-puji bahkan memenangkan hadiah Asia Tenggara itu pun ternyata tak luput dari cacat fatal meski tidak banyak. Antara lain dia menyebut amben sebagai “panggung”. Padahal amben itu balai-balai (ranjang) yang terbuat dari bambu. Burung ketilang dia sebut makan wijen. Padahal burung ini bukan pemakan biji-bijian. Ketilang hanya makan buah-buahan dan serangga. Ada juga adegan membidikkan pelanting atau ketapel sambil memanjat pohon. Padahal itu sangat sulit untuk dilakukan. Yang paling fatal, Romo Mangun menyebut wijen sebagai butiran kecil semacam buah rumput. Yang betul wijen itu tumbuhan yang masuk famili biji-bijian dan bukan rumput-rumputan. Nampaknya Romo Mangun dalam hal ini telah bersusahpayah membuka Ensiklopedia Umum terbitan Yayasan Kanisius (1977). Tapi apa lacur, diskripsi tentang wijen dalam Ensiklopedia tersebut ternyata salah. Di situ wijen juga disebut sebagai rumput-rumputan. Memang, untuk menghasilkan karya yang prima, kita tidak hanya dituntut agar bersemangat menggebu-gebu tapi juga bersikap teliti dan mau bekerja keras. Sayang, sasterawan kita umumnya mau cepat melejit lalu hantam kromo begitu saja.
***

https://frahardi.wordpress.com/2010/10/29/polemik-f-rahardi-dan-ahmad-tohari/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *