IMAN TANPA PENANTIAN


(Sketsa: Ndix Endik, Judul: Sarmadhan)
Taufiq Wr. Hidayat *

Apakah Tuhan mencipta alam semesta dan manusia bagai mencipta sebuah arloji? Setelah arloji selesai dicipta, dirangkai dengan sempurna dan mengagumkan, arloji itu pun bergerak sendiri tanpa campur tangan-Nya lagi. Ada orang yang menanti. Dan penantian telah membuat “jarum arloji ciptaan Tuhan” itu bergerak lamban. Atau bahkan berhenti. Orang diselimuti cemas, ragu, dan keluh. Perjalanan seakan tak kunjung selesai. Pada keadaan ini, sesungguhnya sebuah kesetiaan menampakkan diri dengan mengesankan. Lantaran di situ—di palung kesejatian yang dalam, kita tak perlu mendapatkan apa-apa dari suatu penantian. Kesetiaan itu—kata orang entah siapa, yang bersikap ramah pada kebosanan, mengajaknya duduk dan berdiskusi dengan mesra.

Tapi di ruang dan waktu yang amat jenak, penantian dan kesetiaan dianggap tak penting. Dilupakan saja. Atau tak lagi dikenali. Orang tak sabaran dan tergesa-gesa untuk mewujudkan perjumpaan. Peralatan layar sentuh membuyarkan rindu yang gelap, dalam, hikmat menjadi sebentuk komunikasi yang terus-menerus dan singkat setiap saat. Orang tak mendapatkan sebuah wilayah dan saat guna menemukan jeda di sana. Segalanya seolah berlalu begitu saja tanpa kenangan yang mengesankan, terburu, dan tak utuh. Gambar, audio, suara, teks tergunting-gunting menjadi guntingan-guntingan yang menyerak dan sukar diutuhkan. Kita menikmati potongan-potongan tanpa kerinduan. Tanpa penantian. Agaknya kisah percintaan pun menjadi layar, gampang, tanpa kecemasan. Segalanya biasa-biasa saja. Amat langka jejak dan entah apa yang menggetarkan dada. Alangkah hidup berlalu saja, tak mudah dirangkul, diajak duduk minum kopi untuk berbagi derita, setidaknya mendengarkan keluh kesah, menghikmati rahasia dengan membiarkannya tetap sebagai rahasia. Tapi dengan peralatan layar, berbondong-bondong orang membongkar dan melucuti rahasia demi rahasia. Hidup tanpa berdegup, tak ada yang membuat kita takjub. Selain keheranan-keheranan tak berguna setelah menyaksikan peristiwa heboh atau tak lazim lewat layar. Kemudian yang segera kita lupakan. Nama-nama Tuhan pun tak lagi menggetarkan dada orang beragama, karena sudah jadi biasa diulang-ulang setiap saat melalui pengeras suara, dakwah-dakwah ramai, atau lewat sponsor. Menjadi sangat profan. Kehilangan kesakralannya.

Ada iman yang tanpa penantian. Tanpa kecemasan dan keraguan. Ia hanya keyakinan yang tiba-tiba, tak pernah melewati ambiguitas batas-batas, terjalnya bukit-bukit ketakterdugaan dalam kehidupan yang diniscayai kemungkinan. Tanpa pertanyaan. Tanpa tertawa, ujar Kundera. Belaka kepastian yang tak berhikmat pada ketakpastian-ketakpastian. Iman pun kaku dan marah-marah. Tanpa rindu. Tuhan yang diimajinasikan belaka, akan terperangkap dalam realitas dari semesta yang majemuk. Ketidakhadiran-Nya diandaikan hanya dengan yang harfiah. Borges dalam fiksinya perihal cermin, menukas; Kebenaran yang tak mungkin terwadahi pengalaman diri seorang manusia, dapat dirasakan dalam dirinya sendiri. Ibn Arabi pun mengurai cermin itu. Bahwa apa yang diinginkan dari indera manusia, tak lain ialah pengalaman inderanya: dalam dirinya sendiri. Orang menginginkan apel lantaran ia pernah mendengar atau melihat apel secara empiris. Ia musti keluar, sehingga tak terkurung dalam segala yang sudah selesai dan harus dari pengalamannya belaka. Iman bukan kebaktian yang tanpa alasan. Ia melampaui simbol dan pengertian.

Tapi penantian selalu menciptakan wilayah yang hikmat. Lantaran ada harapan yang dirawat atas sebuah janji suci. Kecemasan yang menumbuhkan sikap jiwa-raga yang berserah. Manusia memasuki dirinya sendiri, melihat dirinya yang rapuh, naif, dan asing. Tapi yang tak mungkin dihindari dan ditinggalkan. Ia memerlukan upaya-upaya wajar mengenali dan bercakap-cakap dengan dirinya perihal banyak sekali pertanyaan dan kegelisahan yang tak pernah usai diselesaikan. Dalam “Ayat-ayat Api”, Sapardi mencatatnya.

aku tengah menantimu, mengejang bunga randu alas
di pucuk kemarau yang mulai gundul itu
beberapa juni saja menguncup dalam diriku dan kemudian layu
yang telah hati-hati kucatat, tapi diam-diam terlepas

awan-awan kecil melintas di atas jembatan itu, aku menantimu
musim telah mengembun di antara bulu-bulu mataku
kudengar berulang suara gelombang udara memecah
nafsu dan gairah telanjang di sini, bintang-bintang gelisah

telah rontok kemarau-kemarau yang tipis; ada yang mendadak
sepi
di tengah riuh bunga randu alas dan kembang turi aku pun
menanti
barangkali semakin jarang awan-awan melintas di sana
dan tak ada, kau pun, yang merasa ditunggu begitu lama

(Aku Tengah Menantimu, Sapardi Djoko Damono)

Hidup pun tak hanya dan harus terperangkap pada menang dan kalah, kuat atau lemah, tinggi maupun rendah. Ia tak perlu diringkus tuntas dalam keharusan dan kepastian-kepastian belaka. Lantaran manusia musti melewati perjalanan panjang dalam setiap peristiwa. “Pertemuan dan perpisahan, di mana awal akhirnya di mana bedanya?” tanya Iwan Fals dalam “Doa dalam Sunyi”. Yang tersisa, hanya doa. Doa-doa yang menyimpan harapan dari ketakberdayaan, ketaksanggupan, dan ketidaktahuan di puncak terjauh segala peristiwa. Segenap niscaya fana, yang menyadarkan impian manusia pada yang baka. Dan ketakziman dalam keberhikmatan jiwa-raga atas penderitaan-penderitaan.

Tembokrejo, 2019

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *