JABUR BINSUD

Taufiq Wr. Hidayat *

Dengan jantung yang berdebar, Jabur Binsud memasuki sebuah halaman rumah kayu sederhana. Anak-anak kecil berlarian di halaman. Sebuah surau kecil tempat anak-anak belajar membaca al-Qur’an.

“Assalamu’alaikum,” ujar Jabur Binsud.

“Walaikumsalam,” jawab tuan rumah.

Tuan rumah menyilahkan tamunya duduk. Ia telah mengenali tamunya dengan baik. Dialah Kisarkowi, putra dari Rowi Sarkowi.

Jabur Binsud duduk. Jantungnya berdegup kencang. Kisarkowi masuk, tak lama ia keluar dengan segelas kopi hitam yang panas.

“Silahkan. Jika memang keimananmu benar, minumlah segelas kopi hitam ini. Buktikan keimananmu, Jabur Binsud!” ujar Kisarkowi.

Jantung Jabur Binsud berdegup semakin kencang. Tapi, ia berupaya tetap tenang. Kedua matanya tertembak pada segelas kopi pekat di atas meja.
***

Jabur Binsud adalah nama yang diberikan oleh sang kakek. Ketika Jabur Binsud lahir, tak ada gejala aneh. Ia lahir seperti bayi-bayi lain. Dengan demikian, Jabur Binsud bukan seorang nabi atau keturunan rasul.

Jabur Binsud sejak kecil dibesarkan dalam keluarga yang keras dalam beragama. Sehingga setelah dewasa, Jabur Binsud gemar mengenakan baju-baju bersimbol agama. Jabur Binsud mengamalkan agama dengan kebencian, menipu dengan menggunakan ayat-ayat suci, dan keimanan harus dibuktikan dengan kesetiaan sampai mati.

Satu-satunya penghalang Jabur Binsud adalah Rowi Sarkowi, seorang guru mengaji yang mengajarkan agama dengan mudah dan dengan kasih-sayang. Rowi Sarkowi menentang Jabur Binsud. Sehingga banyak orang meninggalkan Jabur Binsud. Jabur Binsud sangat membenci dan memusuhi Rowi Sarkowi.

Hingga pada suatu petang, Jabur Binsud mengundang Rowi Sarkowi ke rumahnya. Undangan untuk sebuah makan malam, hidangan sate dan gulai kambing. Ruangan dipenuhi wewangian. Rowi Sarkowi memenuhi undangan Jabur Binsud, sikap terpuji terhadap orang yang memusuhinya.

Jabur Binsud menghidangkan secangkir kopi yang telah dibubuhi racun. Setelah Rowi Sarkowi meminum kopi itu, dia mati. Jabur Binsud ditangkap. Dia dipenjara hampir 20 tahun.
***

“Apakah dengan datang ke rumah ini, Anda akan menebus dosa?” ujar Kisarkowi.

“Maafkan saya, Kisarkowi. Dosa itu telah saya tebus dengan penjara,” jawab Jabur Binsud.

“Ayahku, Rowi Sarkowi, tidak pernah tahu kalau secangkir kopi yang dia minum telah kau bubuhi racun mematikan. Dia tidak ragu meminumnya, karena Rowi Sarkowi beriman kepada Allah, sehingga ia yakin tak ada yang dapat mematikan dan menghidupkan selain Allah.”

Jabur Binsud menatap tajam pada segelas kopi hitam di hadapannya. Jantungnya berdegup dengan kencang. Kedua tangan dan kakinya mulai gemetar.

“Apakah engkau yakin dan apakah engkau beriman pada firman Allah yang menegaskan, tak ada yang mematikan dan menghidupkan selain Allah?”

“Saya sangat yakin dan mengimaninya.”

“Mengimani dengan apa, Jabur Binsud? Apakah engkau mengimaninya dengan seluruh jiwa-ragamu?”

Jabur Binsud diam.

“Kau tidak tahu, apakah segelas kopi yang kuhidangkan di hadapanmu ini mengandung racun atau tidak. Yang tahu hanya aku dan Allah. Maka, saya persilahkan dengan hormat, minumlah segelas kopi ini, wahai Jabur Binsud. Buktikan keimananmu. Jika kau beriman hanya Allah yang dapat mematikanmu, kalaupun kopi ini mengandung racun, tentu kopi ini tidak akan membunuhmu.”

Jabur Binsud membisu. Tubuhnya bergetar. Ia tidak dapat menyembunyikan kecemasannya.

“Minumlah kopi ini, Jabur Binsud. Buktikan keimananmu. Kau tidak tahu apakah kopi yang kuhidangkan ini mengandung racun atau tidak. Kau tidak tahu! Ketidaktahuanmu adalah iman, bukan? Tidak ada yang mematikan dan menghidupkan selain Allah. Minumlah kopi ini dengan tenang setenang ayahku yang tewas setelah meminum kopimu yang beracun itu,” ujar Kisarkowi tersenyum.

“Apakah, Kisarkowi menaruh dendam terhadap saya?” tanya Jabur Binsud.

“Kau tidak mungkin mengetahui hati manusia. Hanya Allah yang mahatahu hati manusia, tidak kamu, juga bukan aku. Aku sendiri tidak mengerti, apakah aku dendam kepadamu atas kematian ayahku yang telah kau racun dengan keji itu. Aku tidak tahu, apakah aku dendam. Menurutmu, apakah aku dendam padamu dan akan meracunmu dengan segelas kopi ini, wahai Jabur Binsud?”

Jabur Binsud makin bergetar.

“Aku percaya, kau tak mungkin menaruh dendam padaku. Kau mewarisi ajaran Islam dari ayahmu, ajaran Islam yang luhur yang melarang manusia dendam, membenci, dan membunuh.”

“Lalu, kenapa engkau masih ragu untuk meminum kopi hitam yang kuhidangkan padamu ini, Jabur Binsud? Kenapa ragu? Mana imanmu yang meyakini tak ada yang dapat mematikan dan menghidupkan selain Allah? Buktikan keimananmu itu, minumlah dengan tenang kopi ini. Habiskan segelas kopi ini dengan mantap, agar keimananmu dapat kau buktikan dengan senyata-nyatanya. Minumlah dengan tenang,” ujar Kisarkowi sambil tersenyum.

Jabur Binsud menatap tajam pada segelas kopi hitam di hadapannya. Tubuhnya gemetar, jantungnya berpacu dengan kencang. Angin senja mengelus jendela.

Muncar, 2017

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *