Kemah Budaya Pantura (22–25 Desember 2019) di Rumah Budaya Pantura

Desa Kemantren – Paciran — Lamongan – Jawa Timur
Dody Yan Masfa

Rekreasi terbaik adalah berteater, lalu berfikir membangun kunduktifitas atmosfir kulturnya dengan asumsi ada prospek yang terealisasikan sebagai agenda berkelanjutan. Rumah Budaya Pantura, memiliki potensi itu, ditunjang dengan keberadaan beberapa komunitas teater baik pelajar, kampus, maupun kelompok kesenian yang bergerak secara independen.

Penyelenggaraan Kemah Budaya Pantura (22–25 Desember 2019) di desa Kemantren – Paciran – Lamongan, dikemas serius sebagai upaya pengembangan berbagai bidang kesenian, berbingkai kebudayaan lokal (pesisiran). Teater dan masyarakat pelakunya sebagai inti penggerak dari kegiatan tersebut ternyata mampuh berinteraksi secara fleksible dengan entitas lokasi yang nota bene adalah wilayah wisata religi, dan masyarakat dari sub kultur pesisir pula suport vasilitas dari pengelola pusat olah raga dan pemilik pabrik industri.

Kegiatan berupa pewujudan proses kreatif penciptaan pertunjukan teater itu juga melaksanakan worshop membatik dan berbagai pertunjukan, wayang kulit, pembacaan puisi, monolog, teater anak, musikalisasi puisi, orasi budaya, dan sarasehan seni budaya khususnya jawa timur dalam sentrum wilayah pantura.

Kemah Budaya Pantura
sebagai pijakan geliat kerja teater Jawa Timur

Desa Kemantren – Paciran – Lamongan terletak ditepi pantai perbatasan antara kabupaten Gresik dan kabupaten Lamongan, letak setrategis bagi bertemunya masyarakat pelaku teater dari kedua kabupaten tersebut, begitu terasa gairah geliat dan totalitas para pelakunya. Kolaborasi yang apik terjadi dibeberapa elemen penyelenggaraan. Sosialisasi, koordinasi, suportifitas antar kelompok, sanggar teater sekolah, kampus dan kelompok independen sangat mewarnai membentuk keguyuban dan spirit yang sama, bahwa pereka para pelaku kerja teater begitu memerlukan progresifitas pengembangan wacana, kreatifitas, dan kualitas karya sebagai bagian dari geliat perteateran Jawa Timur khususnya dan Indonesia umumnya.

Beberapa waktu terakhir perbincangan mengenai perkembangan teater Jawa Timur, bermuara pada persoalan krisis identitas. Mengapa begitu.? bukankah Jawa Timur memiliki sekian banyak sub kultur.? Budaya pesisir (pantura) salah satunya. Kabupaten Gresik, Lamongan, Tuban, merupakan basis budaya pesisir bagian utara, keberadaan sanggar sanggar kesenian di sekolah, pondok, kampus, dan kelompok independen semuanya aktif di tiga kabupaten itu. Praktek kerja kesenian juga seperti tak pernah berhenti, selama kurun waktu lima tahun terakhir.

Barangkali soal kerja kreatif tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak wilayah sosial itu memiliki sub kultur, bisa jadi sejauh mana para pelaku keseniannya memiliki kesadaran dan memahaminya sebagai kekayaan ide kreatif. Hal yang paling menarik dalam penyelenggaraan event KEMAH BUDAYA PANTURA 2019, oleh RUMAH BUDAYA PANTURA, adalah sinergitas kesadaran para person penggeraknya, bagi pentingnya tukar tambah pemikiran kesenian dan kebudayaan pesisir utara, beserta praktek kerja penciptaan karya berbasis lokal genius yang ada diwilayah tersebut, masyarakat yang egaliter dengan atmosfir religiusitas agama dan sosial yang kental namun terbuka penerimaannya terhadap global kultur, religiusitas pendidikan modern dan tradisi pondok saling bertemu tanpa problem primordial, saling mengisi dengan komunikasi yang baik.

Kerja kesenian (teater) adalah mengakomodir tradisi dan kebudayaan lama, mengidentifikasi esensi lokal geniusnya, lalu mengolahnya untuk membaca masa depan dengan pencapain, menemukan trobosan baru pemikiran kebudayaan alternatif bagi bergeraknya peradaban yang juga selalu berubah. Dengan begitu gerak geliat teater Jawa Timur (disetiap wilayah sub kultur) saya yakin tak akan pernah berhenti dan akan terus menemukan inovasi baru dalam hal artistik, estetika, dan etika bahkan bentuk naturalnya, tanpa harus mengadopsi semuanya dari luar Jawa Timur.

Gresik, 27 Desember 2019

Leave a Reply

Bahasa »