Puisi-Puisi Rakai Lukman

Ikan Bersisik Daun 01

Ikan bersisik daun menelan bulan pualam, berenang di laut dalam menyentuh terumbu karang waktu, yang mengendong garam purba, silau meraba rumput laut, pepasir mencatat buih-buih peristiwa, gelombang berduyun membelai ikan-ikan, pun tebing tergurat senyuman angin.

Ikan bersisik daun bersirip sayap elang mencumbu matahari, matabatin meneropong masa, masa pancaroba lewat pelipis wajah samudera Hindia membawa badai pada kota pun desa, desa yang menjelma kota, kota yang meletuskan isi tubuhnya.

Ikan bersisik daun emas mengunyah bintang-bintang, arungi lautan kosmis, membawa kabar nebula yang menetas di sarang sejarah, ia menampung suhuf-suhuf yang gugur tak beraturan, menghitung kalkulasi remah qudro yang terabai, ikan pun tersenyum ramah bersama tonggak dan tiang semesta, pada jatah pun nasib pencatat cakrawala.

Ikan Bersisik Daun 02

Di ruang pekat rongga cincin gerhana tubuh ikan bersisik daun telusuri ranggaa reranting, lewati lengkung tulang mengupas kulit ari, bekerja dalam keringat dilindung kehangatan darah putih, ia jelajah pori-pori pun urat tubuhnya sembari merapal risalah mimpi purbani.

Selepas susuri reranting, ikan bersisik daun meramu siklus cuaca dalam tabung laboratnya, menjadi bekal menempuh batang ruang tubuh, tubuh yang gigih menerka putaran kambium iklim kesementaraan, panas-dingin nan sembab-didih campur doa-doa moyang menyatu padu dalam loyang kearifan, kebajikan angin barat-timur ditampung di lambung pencerna impian pencatat usia bulan.

Lantas ikan bersisik menemui akar air mata, juga diliputnya gerai tawa manja semesta, disimpannya nukleus pun auorta kebangkitan malam keramat, ikan bersisik daun melesatnya di danau di bawah pohon sidrah, di mana di simpan catatan azali silsilah para nabi, pun dirambahnya ayat-ayat yang tercatat dalam kitab Budi pekerti.

Ikan bersisik daun pun tergolek manja di pangkuan keabadian, direguknya tirta keheningan, cahaya tanpa batas, ia mi’roj menaiki hujan pertama proses penciptaan alif usai Kun dilafalkan, wayakun pun ejawanta di haribaan semesta diri, diri yang papa, yang lena, diringkus sendagurau juga tragedi berazas tunggal, manunggal rasa surahsa, ikan bersisik daun tak mengenal lagi diri sebab selebihnya hanya cahaya yang tak lekas ditafsirkan.

Kalirejo, Desember 2019

Semesta Manula

Penuaan dini tubuh bumi, agraria menyempit, maritim mendidih campur limbah, rambutnya menjelma padang savana, gurun-gurun membadai, kutub Utara-selatan mluber, pucuk-pucuk gunung terbakar lumpur api.

Penuaan dini wajah bumi, keriput nan beruban diterkam amuk badai radiasi, satelit buatan menyerbu isi kepala, kulit ozon mengelupas, udara memberat, sengat lepuhkan atmosfir nasib, asap pun residu mereguk oksigen, tabung raksasa serupa oven jelang 100 derajat Celcius.

Penuaan dini selimut bumi, mendung berarak membawa air didih, ubun-ubun retak gigi gemeretak, kabut lahir di siang bolong, para melata melonglong, knalpot pun cerobong merobek hidung juga paru-paru waktu.

Penuaan dini dari dini hari, daulat alam dilahap kemelut angkara, daulat manusia dijangkiti amoeba pun bakteri sahwat kuasa. Selamat datang cuaca anomali, telah tiba iklim kecemasan. Mari nikmati keindahan, adalah kegaduhan yang teracik rangkap rencana, rancangan bigbang semesta

Surabaya, 20 Desember 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *