PUISI BULAN SEPTEMBER


(Sketsa karya Endik)
Taufiq Wr. Hidayat *

Dibisikkanlah sabda.
Gelisah senjakala.
Yang gerimis.
Ikutlah!
Tapi, ke mana kutelusuri jejakmu?
Pada langit yang terus meluas,
suara-suara terlepas.
Angin melintas jembatan tua yang dibangun entah pada tahun berapa.

Ada desah,
kenangan dara,
daun-daun akasia menguning berluruhan di jalan itu. Dibawa angin selatan.

Mengenang sepeda tua. Ada wajahmu yang menjauh,
bagai bayangan pulang pada setiap perlintasan.

Kutulis perihal bunga sepatu. Lalu angin sejarah yang tak mudah terbaca,
melewati sungai kota yang keruh.
Seharusnya kau di situ, menunggu malam, sambil membuka sebuntal kenangan dan cendramata.
Menderu musim, bahu karang, rahang-rahang gelombang. Seperti melayani sangsi, mengenali maut yang tak pernah mati. Menghitung derita dari balik jendela.
Dan kabut keluh-kesah yang memagut masa.

Tapi waktu. Bis kota, jalanan tua yang patah-patah. Tiang-tiang rambu. Tanda silang.
Gemuruh.
Wajah-wajah yang kaku.
Biru.
Dan ragu.
Keperihan dipahat di antara resah pergumulan manusia.
Tembok-tembok pengaduan.
Pada sepi yang patah hati. Pada riang yang hilang. Pada duka yang geram. Pada kepergian dan kepergian yang tak pernah dengan tegas diceritakan. Pada curiga yang diasah tajam-tajam,
dan kepala-kepala yang bengkak penuh ingatan kekejian.

Sempat juga kau tanyakan cinta. Pada langit senjakala yang berduka cita.
Rindu yang purba. Menaburkan bunga-bunga pada masa lalu yang terkubur dalam gagap kata, dokumen-dokumen rahasia, buku-buku yang berdebu.

Mata yang menanti. Segala yang bernama pedih, tersisih. Lambung yang perih. Di jantung ramai dan sangsi.
Puisi dan sepi tak pernah jadi.

Lubuk-lubuk pertanyaan.
Pikiran-pikiran tertawan.
Palung-palung keterasingan.

Zaman berkemas, ujarmu. Membungkus segala cemas. Tapi mereka melintas dengan perut lapar dan mata bara, menyisa bekas yang tegas. Siasat dan persekongkolan kelam, mengaburkan segala kesaksian, meracuni waktu dengan bisa kekuasaan.

Selalu tak dapat kudengar detak arloji, bimbang segala peristiwa yang berlalu hingga pedalaman jauh belantara jiwamu, kekasihku.
Bagaimana akan kutelusuri jejakmu dengan kedua kaki yang payah?

Anak-anak waktu. Bunga-bunga yang merekah dari keluh. Menziarahi mimpimu yang dipendam hilang di belantara siang,
dalam sibuk masa,
dan lupa.

Diam-diam kuhunus sebilah pedih yang diasah pada ketakpahaman.
Ketakutan lebih kelam daripada malapetaka. Dan air matamu menjelma hujan yang diminum dalam resah pengungsian.

Kau pun terdiam. Semisal bayang. Saat entah di mana, awan menjatuhkan gerimis. Bibirmu menyerbak anggur.
Kita mabuk di cakrawala.
Keringat dari lautan. Dan aroma daun-daun yang terbakar.

Betapa lengahnya kamu, sebaris puisi hinggap di tepi lengkung alismu.

Berkemaslah, ujarmu.
Namun ke mana harus kuikuti jejakmu?

Di meja tua itu, pernah kau tampung secangkir air mata yang bening,
sebening pipimu.

Kaki yang rapuh.
Kamar yang gelap.
Dindingnya beku.
Lampu api.
Kualamatkan rindu,
pada cerita seperti dulu. Pohon mangga. Gang kecil. Dan hujan yang meluruhkan bunga-bunga sepatu.

Seperti dukamu.
Sejarah dirangkai dalam bisu.
Seperti igauan demam di tengah malam.

Di negeri kecemasan ini, kulihat kau melintasi kota-kota.
Keperihan dirahasiakan pada bangku-bangku tunggu,
di hotel mewah,
atau di meja-meja perjamuan yang terang.
Keterasingan diselipkan di lubuk-lubuk pertanyaan yang tidak pernah menemukan jawaban. Gelisah lampu-lampu,
perempatan jalan,
dan jembatan-jembatan malam. Menidurkan lelah pada keringat di ketiak bening perempuan malang,
asap rokok,
anggur kelam,
dan kefanaan yang menggetar.

Dikisahkan persinggahan. Tapi di mana dapat kutemukan istirahmu?
Pada malam yang benam. Dan tatapan matamu menjelma gerimis. Bagai musykil peristiwa yang tak pernah utuh di dalam ingatan-ingatan manusia.

Bersyukurlah karena Tuhan telah menciptakan malam, ujarmu.
Kegelapan rumah sejati, seperti ikan-ikan di dalam lautan. Dalam kegelapan, kita masih bisa menyembunyikan mimpi. Menjilati nasib. Membenamkan sebilah belati ke hulu hati dunia. Atau menikam dada sendiri di dalam sunyi yang tak pernah dimengerti.

Darah. Serupa pula doa. Aroma kembang dan bau sabun. Senjata.
Dan segala dendam yang sia-sia.

Tetapi malam mengirimkan kembali aroma keringatmu. Ingatan dan lupa bersengketa. Gelap dan malam bersekutu. Orang-orang asing, orang-orang bersenjata berseteru dengan hantu.

Dikisahkan perihal manusia yang ditanam di kebun-kebun pisang. Makam-makam tanpa nama.
Aku membiru mencari jejak riwayatmu yang disamarkan waktu.

Percintaan kita tak pernah utuh, kekasihku.
Dipenggal ragu waktu dan ruang gagu.
Tapi masih bisa kubayangkan tubuhmu yang gugup, bekas-bekas luka, rindu menelan waktu.

Kuhayati tatapanmu.
Mawar liar.
Segaris pesan yang tak punya tujuan.
Surat-surat, foto-foto, serpihan-serpihan nota. Bisu padamu. Menyimpan gelisah dan dosa.
Berbicara tanpa kata,
bertegur sapa tanpa suara.

Karanganyar, 2017-2019

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *