AKAR DAN LUKA

Anindita S. Thayf *
Koran Tempo, 23/11/2019

Apakah melupakan akan menyembuhkan luka? Apakah memelihara kenangan baik mampu menguatkan cinta? Untuk bisa menjawab kedua pertanyaan ini dibutuhkan proses pencarian panjang yang barangkali akan memakan waktu nyaris sepanjang sisa hidup. Namun, bagaimana jika waktu yang tersisa tidak banyak lagi? The Buried Giant mencoba menawarkan jawabannya.

Sebagian besar manusia tidak menyadari bahwa dirinya hidup di atas kuburan masa lalu. Yang mereka tahu, kehidupan sudah seperti apa yang mereka saksikan setiap hari, tidak pernah berubah. Hari kemarin seperti hari ini, dan hari esok pasti tidak akan berbeda jauh dari hari ini. Dalam The Buried Giant, ketidaksadaran ini diperparah oleh kabut aneh yang rutin muncul menutupi pandangan penduduk desa-desa di Inggris. Hingga pada suatu hari, kegelisahan melanda salah satu warga bernama Axl, yang kemudian menular pada istrinya, Beatrice. Axl mulai mempertanyakan hal-hal yang diyakininya pernah ada. Beatrice juga mulai dilanda kerinduan yang tidak terjelaskan pada sesuatu yang diyakininya masih ada. Pada akhirnya, keduanya memutuskan melakukan pencarian.

Adalah cincin misterius peninggalan sang paman yang menggerakkan Frodo Baggins, tokoh hobbit dalam The Lord of The Rings, untuk memulai perjalanannya. Kemisteriusan masa lalu pula, dalam bentuk sosok anak laki-laki yang hanya teringat samar-samar, yang membuat Axl dan Beatrice meninggalkan desa mereka. Serupa Frodo yang tak kenal gentar, sepasang suami istri tua ini juga memaksa diri mereka menghadapi ogre, raksasa, dan makhluk mistis lain demi mencari putra mereka, juga naga. Ya, naga. Ada naga dalam novel ini. Begitu pula penyihir Merlin dan kesatria Sir Gawain.

Berlatar era Anglo-Saxon, The Buried Giant menyuguhkan suasana Inggris Kuno yang jarang ada dalam sastra modern. Suasana yang langsung membuat setiap orang yang pernah membaca karya Tolkien mesti disergap deja vu kala membuka halaman demi halaman novel ini. Namun, Kazuo Ishiguro bukan Tolkien. Axl dan Beatrice bukan hobbit kendati keduanya tinggal di dalam kamar yang mirip gorong-gorong tikus tanah. The Buried Giant adalah sebuah novel yang hendak menggali masa lalu, bukan sebatas pada mitos dan legenda, tapi juga manusia dan kemanusiaannya.

Sejak manusia menghuni dunia, masalah kemanusiaan telah ikut menjadi bagian dari dunia ini pula. Perang, salah satunya, tidak pernah kunjung selesai hingga hari ini. Perang membelah dunia, membentuk wilayah, melahirkan benteng, istana, kerajaan, negara. Perang juga menciptakan musuh, meninggalkan luka dan mencabut manusia dari akarnya tanpa pandang bulu. Dunia tidak lagi sama seperti sedia kala.

Pada sekitar abad ke-6 atau ke-7 di Inggris, ketika kepercayaan pagan masih bertahan di sela-sela rutinnya penginjilan oleh para pastor, memulihkan dunia yang dirusak perang antara Saxon dan Briton adalah keniscayaan. Dibantu sihir Merlin, Ishiguro menghadirkan seekor naga betina yang mampu menghasilkan kabut pencipta amnesia kolektif dari nafasnya. Axl dan Beatrice adalah dua di antara banyak korban yang ada. Namun, hanya tubuh keduanya yang memberontak, menolak lupa.

Melupakan mungkin cukup bisa diandalkan untuk menghilangkan nyeri luka, atau bahkan menyembuhkannya, tapi tidak dengan bekasnya. Oleh tubuh, bekas luka itu disimpan, untuk kelak ditagih penjelasan atasnya, sebagaimana yang dialami Axl dan Beatrice. Didorong sedikitnya sisa waktu yang ada, sepasang suami istri tua ini nekat mencari penjelasan atas banyak ketidakjelasan yang mereka rasakan. Mereka pun menggali kenangan dalam kepala mereka, mengumpulkan keping-keping yang tercecer di sepanjang perjalanan sampai bertemulah mereka dengan apa yang dicari. Akar dari semua jawaban itu ternyata ada di sana. Di dalam kuburan masa lalu, bersanding dengan apa yang diduga sebagai raksasa: kenangan buruk. Pada titik inilah hidup menjadi terlihat lebih utuh.

The Buried Giant merupakan sejenis novel sastra yang mudah disalahartikan sebagai novel fantasi. Hal ini disebabnya kuatnya unsur-unsur cerita fantasi yang hadir dalam novel ini, ditambah gaya penceritaannya yang mendongeng. Disebabkan hal yang sama pula, banyak pembaca mungkin akan terjebak pada lapis pertama cerita dan tidak mau repot-repot mengupas isinya.

Secara keseluruhan, The Buried Giant berhasil menunjukkan kemampuan pertukangan Ishiguro dalam meracik sebuah karya sastra hingga menghadirkan rasa yang tidak medioker. Sayangnya, ada satu hal yang mengganggu dari segi penerjemahan. Yaitu, ketidakkonsistenan penerjemah dalam menerjemahkan kata panggilan. Oleh penerjemah, panggilan kesayangan Axl untuk istrinya diterjemahkan dari “Princess” menjadi “Putri”. Namun, panggilan untuk tokoh lainnya dibiarkan sesuai bahasa aslinya, seperti Sir, Mistress, Master. Ketidakkonsistenan ini terasa agak mengacaukan nuansa dongeng yang diinginkan sang pengarang.

Petualangan Axl dan Beatrice ibarat petualangan manusia dalam melayari kehidupan ini. Di ujung petualangannya, pasangan tua itu akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaan kedua. Bahwa cinta tidak akan pernah menjadi kuat dengan hanya memelihara kenang-kenangan yang baik saja. Bahwa kekuatan cinta terletak pada kesungguhan berkomitmen untuk menjalani setiap belokan, turunan dan tanjakan yang ada di kehidupan ini bersama-sama. Pun, menerima kenangan buruk dan kenangan baik sebagai bagian dari proses penempaan untuk menjadi manusia yang lebih baik bagi satu sama lain.***

Judul : The Buried Giant
Penulis : Kazuo Ishiguro
Penerjemah : Ariyantri E. Tarman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2019
Tebal : 480 halaman
Isbn : 978-602-063-055-7

*) Anindita S. Thayf lahir pada 5 April 1978 di Makassar. Menulis cerpen dan novel. Novelnya, Tanah Tabu (Gramedia Pustaka Utama, 2009), menjadi juara I lomba menulis novel Dewan Kesenian Jakarta 2008, finalis Khatulistiwa Literary Award 2009, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Daughters of Papua (Dalang Publishing, San Francisco, 2014). Novel terbarunya “Ular Tangga” (GPU, 2018).
https://www.facebook.com/anindita.thayf/posts/10206891643447821

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *