APAKAH SEBUAH PUISI YANG INDAH SELALU MUDAH “DIPAHAMI”?

Ahmad Yulden Erwin

Apa yang dimaksud puisi kompleks, puisi sederhana, dan puisi gelap? Di Indonesia, puisi sering dimaknai kompleks atau sederhana terkait soal ekspresi bahasanya. Puisi sederhana cenderung menggunakan kalimat sederhana, parole, diksi sehari-hari atau diksi yang umum digunakan, serta metafora atau simbol sederhana. Sedangkan puisi kompleks cenderung menggunakan kalimat luas atau permainan sintaksis, abstraksi atau pemadatan makna, diksi-diksi khusus, serta metafora dan atau simbol yang kompleks. Sebenarnya, kedua ekspresi bahasa itu bukanlah ukuran dari estetik atau tidak estetiknya satu puisi yang bernilai sastra, tetapi tergantung pada kemampuan penyair untuk membangun komposisi puitik (ketepatan linguistik, kedalaman tematik, gita-puitik, lukisan-puitik, serta inovasi puitik) secara tepat, sehingga puisi itu menjadi indah secara estetika dan bermakna.

Puisi dengan ekspresi bahasa yang sederhana, seperti pada sebagian besar puisi karya Matsuo Basho, Walt Whitman, Carl Sandburg, Du Fu, Kotaro Takamura, Jalaluddin Rumi, Sa’di, Kabir, Robert Frost, Wislawa Szymborksa, Mahmod Darwis, Vasko Popa, Milan Djordjevic, Allen Ginsberg, Gary Snyder, Sitor Situmorang, Rendra, hingga Joko Pinurbo. Puisi-puisi mereka mampu membangun komposisi puitik, sehingga bisa disebut sebagai puisi-puisi sederhana yang indah secara estetika dan bermakna.

Sebaliknya, puisi dengan ekspresi bahasa yang kompleks, seperti pada sebagian besar puisi karya Pablo Neruda, Ezra Pound, T. S Eliot, Wallace Stevens, Sinkichi Takahashi, Bei Dao, Omar Khayam, Hafiz, Jami, Octavio Paz, Derek Walcott, Mario Santiago Papasquiaro, William Shakespeare, Arthur Rimbaud, Baudelaire, Apollinaire, Stephane Mallarme, E. E. Cummings, Tomas Transtromer, Hamzah Fanzuri, Chairil Anwar, hingga Goenawan Mohamad. Puisi-puisi kompleks mereka mampu membangun komposisi puitik, sehingga bisa disebut sebagai puisi-puisi kompleks yang indah secara estetika dan bermakna.

Sedangkan “puisi gelap”, bagi saya, adalah puisi yang tak mampu membangun komposisi puitik–baik menggunakan ekspresi bahasa sederhana maupun kompleks–dengan tepat sehingga gagal secara estetika dan pembaca teks puisi itu (diasumsikan sebagai pembaca puisi yang terlatih) tak mampu “menduga” maknanya. Kenapa saya katakan “menduga makna”, bukan “memahami makna”? Karena makna di dalam puisi bukanlah sebuah hipotesis yang bisa dibuktikan benar atau salahnya, sedemikan sehingga hanya bisa dipahami dalam konteks logika tautologis monistik. Kebermaknaan sebuah puisi adalah kebermaknaan yang plural, seperti sebuah logika fuzzy. Subjek pemberi makna bisa berputar di sebuah “nilai” aksiologis atau epistemologis atau antologis tertentu dengan menggunakan pendekatan logika fuzzy, namun pemahaman kita, interpretasi kita, tidak bisa identik dengan “nilai” itu secara rigorus.

Hans-Georg Gadamer, filsuf hermeneutika dari Jerman menolak pandangan bahwa tujuan dari kerja menafsir suatu teks–apalagi teks humaniora–adalah untuk meraih kebenaran objektif dari teks itu. Sebaliknya ia hendak menunjukkan bahwa makna suatu teks diciptakan melalui “komunikasi intersubjektif” antara teks, pengarang, dan pembaca.Jadi, interpretasi sebuah teks sastra bukanlah sebuah interpretasi proposisi logika monistik, di mana sebuah proposisi hanya bisa dimaknai secara tunggal (p v -p, hanya salah satu yang benar, tautologis), dan tak membuka ruang bagi penafsiran yang berbeda (p ? -p, keduanya benar, kontradiksi).

Proyek filsafat Gadamer, seperti yang dijelaskan dalam “Kebenaran and Metode” (1960), adalah untuk menguraikan konsep “hermeneutika filosofis”, seperti yang diuraikan sebelumnya secara sekilas oleh Martin Heidegger di dalam buku “Ada dan Waktu”. Gadamer berargumen bahwa pendekatan hermeneutika filosofis bisa membuktikan perbedaan antara motode ilmu-ilmu humaniora dengan ilmu-ilmu alam. Perbedaan metode ini menentukan pula “kebenaran” yang akan didapat di dalam kerja menafsirkan satu teks. Gadamer sangat dipengaruhi oleh metode filsafat fenomenologi Edmund Husserl, khususnya dengan konsep “intensionalitas’. Mengetahui, menurut Husserl, adalah mengetahui tentang sesuatu, dan itu berarti keluar dari konsep diri tertutup yang mengetahui (solipstik), meski yang hendak diketahui itu adalah diri sendiri. Metode intensionalitas ini mencoba melawan dominasi epsitemologi solipsitik Kantian. Pemikiran dari Husserl ini kemudian amat memengaruhi pemikiran filsafat modern seperti pemikiran para filsuf eksistensialisme, pemikiran filsafat ontologi Heidegger, pemikiran hermeneutik Gadamer, hingga pemikiran “new left” dari Jurgen Habermas.

Yang perlu dipahami dengan baik oleh kita saat ini bahwa metode fenomenologi itu menolak pandangan monistik subjektivitas maupun objektivitas, juga menolak pandangan dualistik dari Rene Descartes. “Intensionalitas” dalam metode fenomenologi adalah “proses”. Begitu juga, menurut saya, metode “komunikasi intersubjektif” dalam filsafat heremenutika Gadamer. Hal ini membawa kepada konskuensi logis bahwa metode interpretasi Gadamer mengakui kebenaran pluralistik. Salah memahami hal ini, maka salah pula menafsirkan konsep “hermeneutika filosofis” dari Gadamer. Itu sebabnya penting bagi kita untuk memahami sejarah epistemologi, sebelum mencoba menerapkan metode interpretasi hermeneutika Gadamer dan atau yang lainnya ke dalam sebuah teks. Filsafat tanpa logika, tanpa epistemologi, tak ada bedanya dengan “klenik”–dalam arti tak bisa diuji oleh pihak lain yang berkompeten dan tak bisa dipertanggungjawabkan oleh pihak yang berargumen.

Berikut saya beri contoh satu puisi yang menggunakan ekspresi bahasa sederhana karya Matsuo Basho. Namun, kesederhanaan ekspresi bahasa itu tak berarti Anda bisa dengan mudah “memahami” maknanya. Kebermaknaan haiku Basho ini tergantung pada kesadaran dan pengalaman dari masing-masing pembacanya. Bila pembaca haiku ini hanya memiliki pemahaman dan pengalaman “anak remaja”, maka puisi ini hanya akan dimaknai sebagai soal “aku lirik yang kangen”. Sebaliknya bagi mereka yang memiliki kesadaran dan pengalaman spiritual Zen, maka haiku Basho ini merupakan ekspresi satori (pencerahan) dari Basho. Kedua interpretasi itu benar, namun bukan berarti pemahaman kedua orang yang menginterpretasikan itu setara nilainya. Pemahaman yang satu mungkin jauh dari nilai estetika puisi Basho ini, sedangkan pemahaman yang lain mungkin mendekati nilai estetika puisi Basho. Begini lengkapnya saya kutip haiku Basho dimaksud (baik dalam versi bahasa Jepang, terjemahan bahasa Inggris, maupun terjemahan bahasa Indonesia):

Di Kyoto—
dengar kicau kedasih,
aku rindu Kyoto.

In Kyoto,
hearing the cuckoo,
I long for Kyoto.

Sebagai pembanding, saya akan memberikan satu contoh puisi yang menggunakan ekspresi bahasa kompleks dari seorang penyair “infrarealismo” di Meksiko, Roberto Bolano. Sebagian penyair di sini mungkin tahu siapa itu Octavio Paz, penyair Meksiko yang mendapat anugerah Nobel Sastra 1991. Tetapi, jarang dari kita di sini yang mengetahui bahwa Paz memiliki “musuh” estetika di negerinya sendiri, yaitu para penyair yang lahir pada tahun 50-an dan menyebut diri mereka sebagai para penyair “infrarealismo”.

Pada tahun 1976, beberapa penyair muda Meksiko yang paling kritis mulai menghimpun diri ke dalam gerakan puisi infrarealismo. Mereka membuat puisi menjadi sebuah gerakan sosial-politik dengan tetap mempertahankan estetika, menjadikan estetika dan etika sebagai hal yang tak terpisahkan dan membawanya ke titik ekstrim–avant gardisme. Mereka memberontak, melawan, dikucilkan, miskin, dibenci oleh publik sastra di negerinya sendiri–dan tetap tak mau menyerah. Mario Santiago Papasquiaro, Roberto Bolano, Cuauhtemoc Mendez Estrada, Ramon Mendez Estrada, Bruno Montane, Ruben Medina, Juan Esteban Harrington, Oscar Altamirano, Jose Peguero, Guadalupe Ochoa, Jose Vicente Anaya, Edgar Altamirano, Elmer Santana dan Mara Larrosa: itulah sekian nama para penyair infrarealismo yang memadukan estetika puisi surealisme Andre Bretton, dadaisme, realisme, dan puisi beat. Mereka berpandangan sangat kiri dalam politik, namun juga sangat estetik dalam puisi. Puisi-puisi mereka baru dikenal dunia sastra berbahasa Inggris secara internasional pada tahun 2007 – 2011, setelah para pendiri infrarealisme meninggal dunia. Di negeri mereka sendiri, di Meksiko, mereka dikucilkan dari pergaulan sastra, dibuang, dan dijauhi bagai “najis”. Suara mereka, suara lain itu, “dibunuh”.

Salah satu pendiri dari gerakan infrarealismo adalah Roberto Bolano. Ia adalah seorang jurnalis, esais, novelis, dan penyair yang lahir di Santiago Chili pada tahun 1953. Sejak berusia lima belas tahun ia tinggal di Mexico City. Meski tak pernah menyelesaikan kuliahnya, ia adalah seorang pembaca yang tak kenal lelah dan bekerja sebagai kolumnis pada berbagai media di Meksiko. Pada tahun penghujung era 70-an ia kembali ke Chili dan bergabung dengan “kelompok kiri”, yang membuatnya terpaksa lari ke El Salvador. Ia kemudian eksil ke negara-negara Eropa sebelum memutuskan tinggal dan menikah di Spanyol. Ia meninggal pada tahun 2003.

Sebagai penyair, Roberto Bolano berusaha keluar dari hagemoni gaya lirik surealisme puisi-puisi Pablo Neruda atau Octavio Paz, dan lebih menekankan kepada “realisme yang mendalam sekaligus kritis” (infrarealismo) ala Walt Whitman, yang diaduk dengan gaya puisi surealisme dan dadaisme dari Perancis, pula gaya puisi beat dari Amerika Serikat. Sebagai seorang novelis Roberto Bolano berusaha lepas dari pengaruh realisme magis Amerika Latin dan menulis gaya eksprimentalnya sendiri, meski sebagian kritikus sastra Amerika Latin menganggapnya tidak terlalu berhasil.

Roberto Bolano adalah sastrawan avant garde dari Amerika Latin, yang mesti berjuang melawan dominasi estetika sastra para raksasa pendahulunya. Sebuah perjuangan yang tidak mudah mengingat “frame” surealisme romantik dan realisme magis terlanjur menjadi label dari sastra Amerika Latin. Karya-karyanya baru dikenal oleh kalangan pembaca berbahasa Inggris justru setelah kematiannya.

Berikut saya terjemahkan satu puisi dari Roberto Bolano yang cukup kompleks sebagai sebuah “puisi politik”. Bolano mencoba menggunakan metafora jenis fauna–meski imajiner–yang tidak umum dalam dunia sastra, yaitu: Godzila. Monster raksasa mirip dinosaurus dalam salah satu film Holywood itu bisa ditafsirkan sebagai metafora kekuasaan riil politik yang mencengkram politik dan kebudayaan Meksiko sejak lama, yaitu Amerika Serikat. Namun, Godzila itu bisa juga ditafsirkan sebagai “musuh” gerakan infrarealismo dalam dunia sastra Meksiko–para rejim estetika monistik di Meksiko. Lebih lengkapnya, silakan dibaca puisi “infrarealismo” karya Roberto Bolano berikut ini:

GODZILA DI MEKSIKO
Karya Roberto Bolano

Dengarkan baik-baik, putraku: bom berjatuhan
di Mexico City
meski tak ada yang menyadari.
Udara membawa racun melintasi
jalan-jalan dan memasuki setiap jendela terbuka.
Kau baru saja selesai makan dan menonton
film kartun di TV.
Aku tengah membaca di kamar tidur sebelah
ketika mendadak kusadari kita akan segera mati.
Meski pusing dan mual kuseret tubuhku perlahan
ke ruang makan dan menemukan kau tergeletak di lantai.
Kita berpelukan. Kau bertanya apa yang terjadi
dan aku tak ingin kau tahu kita sedang menuju kematian
sebaliknya kukatakan kita akan melakukan perjalanan,
sekali lagi, bersama-sama, dan kau tak perlu takut.
Ketika hal itu berlalu, maut bahkan tak sempat
mengatupkan kedua mata kita.
“Apakah kita?” tanyamu seminggu atau setahun kemudian,
“Semut, lebah, atau hanya nomor yang salah
di tengah sup busuk besar kesempatan?”
Kita manusia, putraku, hampir serupa burung,
pahlawan publik dan segala yang rahasia.

_______________________________________

GODZILA EN MEXICO
Por Roberto Bolano

Atiende esto, hijo mío: las bombas caían
sobre la Ciudad de México
pero nadie se daba cuenta.
El aire llevó el veneno a través
de las calles y las ventanas abiertas.
Tú acababas de comer y veías en la tele
los dibujos animados.
Yo leía en la habitación de al lado
cuando supe que íbamos a morir.
Pese al mareo y las náuseas me arrastré
hasta el comedor y te encontré en el suelo.
Nos abrazamos. Me preguntaste qué pasaba
y yo no dije que estábamos en el programa de la muerte
sino que íbamos a iniciar un viaje,
uno más, juntos, y que no tuvieras miedo.
Al marcharse, la muerte ni siquiera
nos cerró los ojos.
¿Qué somos?, me preguntaste una semana o un año después,
¿hormigas, abejas, cifras equivocadas
en la gran sopa podrida del azar?
Somos seres humanos, hijo mío, casi pájaros,
héroes públicos y secretos.

___________________________________________

GODZILA IN MEXICO
By Roberto Bolano

Listen carefully, my son: bombs were falling
over Mexico City
but no one even noticed.
The air carried poison through
the streets and open windows.
You’d just finished eating and were watching
cartoons on TV.
I was reading in the bedroom next door
when I realized we were going to die.
Despite the dizziness and nausea I dragged myself
to the kitchen and found you on the floor.
We hugged. You asked what was happening
and I didn’t tell you we were on death’s program
but instead that we were going on a journey,
one more, together, and that you shouldn’t be afraid.
When it left, death didn’t even
close our eyes.
What are we? you asked a week or year later,
ants, bees, wrong numbers
in the big rotten soup of chance?
We’re human beings, my son, almost birds,
public heroes and secrets.

Ketika pada tahun 90-an Roberto Bolano sempat kembali berkunjung ke Meksiko, ia langsung mengunjungi rumah salah satu sahabatnya, penyair Mario Santiago Papasquiaro–sang pendiri dan sekaligus dianggap sebagai penjaga estetika gerakan puisi infrarealismo. Namun, apa yang ia saksikan membuatnya hanya mampu berdiri terpaku. Rumah Mario Santiogo sudah jadi rumah hantu, berantakan dan sangat kotor. Dari beberapa pemuda pemain band liar yang tinggal di sana, ia mendapat kabar bahwa Mario Santiogo telah hilang sejak beberapa tahun lalu. Salah satu dari mereka berkata bahwa Mario Santioga sakit parah dan hidup sebagai gelandangan. Mendengar kabar itu Bolano menitikkan air mata. Perjuangan gerakan puisi infrarealismo untuk bertahan dalam pengucilan dunia sastra Meksiko telah sampai pada puncak pedihnya, lewat kehidupan sang tokoh pendiri utamanya, penjaga estetikanya, Mario Sontiago Papasquiaro. Itulah kemudian yang melatari Bolano menulis novel “The Savage Detectives” (1998), novel yang secara alusif mengisahkan tentang pencarian seorang penyair yang hilang di Meksiko. Novel setebal 600 halaman yang menggunakan teknik narator polifonik (ada 40 narator dalam novel ini) dengan latar waktu antara tahun 1996 – 1996, telah dianugerahi penghargaan sastra dan ulasan positif dari para kritikus sastra di Eropa dan Amerika. Mungkin, karena keunikan novel ini pula “The New York Times” menyatakan bahwa Bolano merupakan salah satu sastrawan terpenting Amerika Latin yang menyuarakan generasinya. Namun, Roberto Bolano menyatakan bahwa novel ini hanyalah semacam “surat cinta yang lirih bagi generasinya”–mungkin juga surat cinta terpedih bagi gerakan puisi infrarealismo.

Sikap para penyair infrarealismo untuk memilih jalur puisi kompleks, bukan sekadar untuk tampil beda, tetapi didasari oleh landasan paradigma estetika dan pandangan ideologis yang kuat–sebuah pilihan ekstrim untuk terus bertahan dalam sikap kritis sekaligus menjadi inventor demi mencari jalan lain bagi estetika puisi pada jamannya. Sebuah perjuangan yang heroik pada awalnya, namun berakhir dengan nasib tragik para tokoh-tokohnya. Puisi kompleks itu, mungkin, hanyalah alegori dari kehidupan para penyairnya. Dan, karena itulah–menurut saya–suara lain mereka akan tetap terdengar, akan terus didengar. Seperti saat ini, suara lain itu, suara dari puisi-puisi penyair infrarealismo, pelah-pelan telah melintasi batas negara yang mengucilkan mereka.

____________________________________________
Terjemahan @ Ahmad Yulden Erwin, 2015 – 2016
____________________________________________

Photo: Roberto Bolano, poet from Mexico.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *