DALAM JENAK


Taufiq Wr. Hidayat *

Dalam “Sang Petualang” (Kantata Takwa, 1990), Iwan Fals mengisahkan perihal seorang petualang yang “sendiri di kelam hari”. Ke mana saja gerangan ia bertualang, hingga tiba ke kelam hari? Betapa singkat hari, tapi betapa panjang kelam. Ia menembangkan.

Sebebas camar engkau berteriak
Setabah nelayan menembus badai
Seikhlas karang menunggu ombak
Seperti lautan engkau bersikap

Alangkah singkatnya wewangian, tapi betapa panjang penderitaan. Pun begitu, betapa sedikitnya segala apa yang diinginkan, namun sangat tak terbatas segala keinginan. Dalam film Jerman “Perfume : The Story of A Murderer” (2006) garapan Sutradara Tom Tykwer yang diangkat dari novel “The Perfume” (1985) karya Patrick Süskind, aroma itu kekal. Akan tetapi tubuh sangat jenak, sehingga aroma sirna bersama tubuh entah ke mana. Alkisah tersebutlah seorang penghirup wewangian bernama Jean-Baptiste Grenouille (Ben Whishaw). Ia terlahir di pinggiran kota yang busuk dan dalam kemelaratan yang mengerikan. Orangtuanya tak jelas. Ibunya dihukum gantung akibat ketahuan hendak membunuh Grenouille ketika baru saja lahir. Ia tumbuh dengan kelainan bawaan, yakni tergila-gila pada aroma apa saja. Itulah yang membuatnya dijauhi siapa pun sejak kecil, yang menjebaknya dalam kesepian yang ganjil. Mungkin nasibnya seperti Joker, yang terlahir dalam nasib buruk.

Segala aroma telah ia hirup. Ia memburu. Ia terus mengembangkan pengalaman penciumannya. Hingga tibalah pada suatu malam, Grenouille menemukan aroma wangi alami tanpa pengharum dari tubuh seorang perawan pembawa buah. Aroma tubuh yang tak lazim dan sangat menakjubkan itu, membuat Grenouille jatuh cinta. Ia menciumi tangan sang perawan, mendengus dengan amat rakus. Gadis itu ketakutan, ia lari menjauh. Grenouille memburunya. Ia ingin mencintainya, ingin memiliki aroma tubuh sang perawan cantik. Grenouille tak kesulitan melacak rumah gadis tersebut, lantaran ia mengikuti ke mana aroma wangi tubuh perawan itu pergi. Aroma yang metafisik dari gadis suci itu telah menguasai perasaannya. Ia mendengus aroma tubuh ranum sang gadis. Sang gadis berontak. Orang lewat. Grenouille mendekap sang gadis supaya tak berteriak, dan secara tak sengaja ia telah menghabisi nyawanya. Seketika aroma wangi menakjubkan dari tubuh sang perawan yang telah tewas itu sirna entah ke mana. Apakah tubuh tanpa ruh, tanpa nilai hidup yang membuatnya ada? Grenouille bersedih dengan pertanyaan sendiri, pertanyaan yang tak terjawabkan; ke mana wangi itu menghilang? Hanya kebisuan. Kenapa kematian membawa pergi wangi dari tubuh? Ia muram. Dan ia bertualang, memburu wangi yang ia kenangkan dari tubuh sang gadis ketika masih hidup dulu dalam ingatannya.

Betapa singkat suatu percintaan, tetapi untuk melupakan alangkah panjangnya. Manusia menyimpan kenangan yang tak pernah mau selesai dikisahkan, yang diam-diam ketlingsut dalam kesibukan. Namun sekali waktu menguasai sebagai yang metafisik. Tiba dalam lengah senja dan malam hari. “Love is so short, forgetting is so long,” kata Neruda.

Hari ini, ganjil agaknya mengaitkan cinta dan segala kegombalannya dengan realitas hidup yang teknis, kaku, praktis, yang matematis. Kehidupan yang tak usai mengetengahkan kontradiksi, lelucon yang muram, dan dendam yang meledakkan bumi dengan api. Di belantara rutinitas dan benda-benda yang selalu mengada dengan kepastiannya yang matematis itu, cinta yang gombal dan patah hati rasanya lebih berarti.

Dalam film “Hiroshima Mon Amour”, garapan Alain Resnais pada 1959 dengan naskah Marguerite Duras, ada cinta tak dapat diraih walau dua tubuh berpeluk erat. Dua tubuh lawan jenis itu terbaluri debu vulkanik, berkeringat penuh hasrat. Dan perpisahan. Juga kehendak dalam upaya saling melupakan. Manusia berlarian. Bom. Kehancuran. Di antara asap dan reruntuhan perang, ada hati remuk redam dalam ketakberdayaan. Hati yang hancur dan sungguh sukar kembali diutuhkan.

Alangkah agung cinta, hingga harus darah, harus perpisahan, harus melupakan dengan rasa sakit yang tiada batasnya. Tetapi siapakah petualang yang tiba sampai di kelam hari? Dalam lagu “Sang Petualang” itu, ia terkapar. Terkapar oleh kejamnya dunia, kerasnya kehidupan, betapa lelah dan hancur melayani panjangnya perjalanan dan pelik segala peristiwa. Namun di dalam dadanya, semangat masih kobar. Ia pun terkulai, lelah dan capai. Tapi matahari di dalam dirinya. Ia pun kembali bangkit. Kembali beranjak, lantaran hidup harus terus dilanjutkan. Karena perjalanan tiada pernah menyatakan kapan akhirnya. Dan manusia, katanya. Tak pernah berhenti mengenali dirinya sendiri. Dirinya—yang pada saat lain, asing, peyot, dan tak berdaya. Tapi yang menghancurkan apa saja karena ketakutannya yang aneh, kelam, dan demam. Sang petualang tak perlu menghindari kenyataan atau bersembunyi dari hantaman. Ia hanya perlu menjelma “seikhlas karang menunggu ombak”, katanya. Dan biarlah segala pertanyaan selamanya menjadi pertanyaan yang tak memuara pada jawaban. Seolah kekal dalam sekejapan mata. Sedang hari-hari tak bertepi. Hari-hari yang menghitam. Di tengah itu semua, ia terjaga. Dan ketika ia terkapar, ia hanya sendirian saja.

Tembokrejo, 2019

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *