Puisi-Puisi Raudal Tanjung Banua

Koran Tempo, 18 Mei 2014

Karangantu
—bersama nidu

Dua rangka kapal baja
hitam berkarat
mencengkeram erat-erat
urat nadi muara
Air hitam. Langit hitam
menyulapnya diam-diam
jadi sepasang karang hantu
tegak menyeringai
dalam badai
menggentarkan karang batu
kejayaan lampaumu!

Di malam-malam tanpa bulan
—sayup sinar suar
ia menjelma bayang-bayang
sepasang istana. Hitam kelabu
digeret dari hulu
berderak sepanjang tepian
rumah-rumah kelam
Di lambungnya (atau ruang balairung)
kadang terdengar raung dan jerit pluit
yang tak kesampaian
Tapi lebih sering gemuruh
dan lecut cambuk
membangkitkan roh-roh pesakitan
yang sesiang hari, di bawah panas matahari, menitis
ke tubuh para pelaut malang
yang berkelit dari nasib
ranjau hitam kutukan.

Banten-Yogya, 2013-2014

Pulau di Balik Pulau

1.
Setelah laut-Mu tak habis gelombang*
Kami kira akan sampailah kami
di tempat asing yang sebentar biasa
debur ombak, menara patah
ketapang kekasih karang
nyanyian laut yang itu-itu juga
kembali
lalu kami lempar pandang ke seberang
menampak pulau-pulau lain
yang rasanya lebih hijau
buat dijelang

Maka kami pun berangkat, angkat jangkar
lajulah pencalang
ke pulau yang kami kira lebih hijau
rimbun bakau, kelapa dan karang
rumah yang hangat, menunggu
rasa takjub yang cepat padam
jadi abu

Ah, pulau mana lagi? Sama saja
nyanyian laut yang itu-itu juga
kembali
menanti tak habis-habis gelombang
pasang demi pasang
kembali
ada yang hilang

2.
Ke mana pun kami berlayar kami dihadang
segala yang lampau atau setengah silam
pulau-pulau kekal di lautan
menyimpan jejak nasib pelayaran
yang ditatahkan di karang-karang

Jejak yang terpantul kerlip mercu suar
di jauhan. Kadang terbaca di air jernih
waktu pasang. Di malam larut
ia terkaca di langit
di wajah bulan bundar berkarang

Bagaimana akan kami sentuh semua yang lalu
dan setengah silam? Mercu suar,
menara patah, jernih pasang, bulan
Kami tak tahu. Tapi kami tahu
bahwa di depan ada laut lain
minta dijelang
sebelum angin dan badai tak dikenal
memadamkan satu demi satu
lampu-lampu damar di perahu
satu demi satu
tiang-tiang kapal
tunduk
gemuruh.

Talango-Yogya, 2013-2014

* Laut-Mu tak habis gelombang, judul buku puisi D. Zamawi Imron

__________
Raudal Tanjung Banua lahir di Lansano, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Mengelola Komunitas Rumahlebah dan Akar Indonesia, di Yogyakarta. Buku puisi terbarunya, Api Bawah Tanah (2013).
https://puisi2korantempo.wordpress.com/category/raudal-tanjung-banua/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *