DI DALAM LUBANG JALAN YANG DALAM

Indra Intisa

“Bapak-ibu, tuo tengganai. Pilih saya. Kelak desa ini akan maju layaknya kampung lain yang telah maju. Mari kepalkan tangan untuk membangun. Langkahkan kaki di jalan yang benar. Demi daerah yang maju dan bermartabat. Nanti, tiada lagi jalan-jalan yang berlubang. Kecuali jalan mulus, licin dan lancar.”

Itu adalah kampanye sepersekian kalinya yang diumbar oleh orang-orang berkepala besar, jidat lebar dan pantat lebar. Di balik mulut mereka yang besar, tak heran banyak janji bulus yang diumbar layaknya anjing yang gemar mengumbar liur. Lidah menjulur menjilat kaki tuannya. Sayang, ketika lengah tuan digigit.

“Bapak-ibu bersabar saja. Kami ini berbeda dari pemimpin sebelumnya. Kami adalah penduduk asli pribumi. Mana mau kami membiarkan jalan semakin berlubang?” janji salah satu pasangan calon yang diusung oleh Partai Jambu.

“Ah, jangan-jangan Bapak sama saja dengan pasangan sebelumnya. Janji tinggal janji. Deras air tatkala banjir di hulu!” sanggah salah seorang tetua desa

“Tidak akan begitu, Bapak. Makanya, pilih pasangan asli penduduk asli. Jangan mau lagi ditipu oleh pemimpin yang bukan berasal dari pribumi. Mereka hanya menghabiskan sumber daya alam kita untuk membangun desa penduduk yang bukan pribumi saja—penduduk transmigrasi. Makanya, kita harus bersatupadu melawan ketidakadilan. Setuju?”

“Setuju!”

Penduduk bersorak. Bapak-bapak berjoget di bawah pentas bersama guyuruan hujan yang mulai lebat. Anak-anak berlarian di jalan. Dan kami, masih berlubang di sini. Digenangi oleh air yang semakin tinggi, sampai sedalam lutut.

“Selepas hujan, akan banyak mobil tersangkut di sini,” kataku kepada lubang jalan sebelah Utara.

“Kamu benar. Dan mobil itu akan terpuruk lebih dalam di lubang sebelah hilir. Apa pendapatmu, Hilir?”

Lubang Hilir diam saja. Sesekali ia tertunduk di antara air yang semakin dalam. Hujan terus menitik dengan deras. Aspal yang biasanya keras sudah mulai habis terkikis. Terganti oleh lapisan dasar batu dan tanah yang mulai menjadi lumpur.

“Aku sudah muak, Hulu,” akhirnya ia bersuara juga, “kejadian ini tidak pernah ada habisnya ….”

Tiba-tiba hantaman mobil datang secara tiba-tiba. Air memancar ke mana saja. Karena ngebut, sebelah ban mobil masuk ke lubang sebelah Utara. Dan sebelahnya yang lain masuk ke Lubang Hilir. Jadilah timpang.

“Kurang ajar! Sejak kapan ada lubang di sini?”

Seorang pria bertubuh tambun turun sambil memeriksa ban mobilnya yang terbenam di hilir.

“Dalam, eh….”

“Salah Abang sendiri,” timpal suara dari dalam mobil. Dari suaranya yang halus menandakan orang tersebut adalah wanita.

“Kenapa saya yang disalahkan, heh?! Jelas yang salah adalah lubang ini. Jika tidak ada lubang, tentu mobil tidak akan terpuruk.”

“Kenapa yang dipersalahkan adalah lubang? Sudah jelas hujan, harusnya jalannya pelan-pelan. Jika ada lubang, tentu tidak akan terlihat oleh jarak pandangan yang pendek.”

“Ya, tetap saja salah lubang. Air menggenanginya sehingga terlihat sama dengan jalan.”

“Sudah, sudah. Minta bantuan sama Doni.”
***

“Utara, apa gerangan yang kau pikirkan hari ini? Tumben kau tidak banyak bicara. Biasanya kau yang paling banyak bicara terkait kondisi kita,” ucap Lubang Hilir suatu hari yang basah.

Kulihat genangan air tidak terlalu banyak lagi. Namun lumpur tanah sudah menjadi-jadi. Sudah seperti kubangan kerbau saja.

“Aku memikirkan, kapan kita akan berubah. Lubang kita semakin lama semakin dalam saja. Itu seperti sakit yang terus melubangi hati. Kelak hati akan pecah terburai, tentu sulit untuk memperbaikinya lagi.”

“Ah, kau seperti penyair saja, Utara,” timpal Lubang Hulu.

“Memangnya kau bisa memecahkan masalah?”

“Kondisi kita tidak akan pernah berubah, kawan-kawan. Setiap pergantian pemimpin, mulai dari kepala desa, bupati dan DPR, gelagatnya sama saja. Janji-janji tinggal janji. Itu seperti kentut yang bau sebentar saja.”

“Bukankah sebagian dari mereka ada yang sudah mencoba memperbaiki kita? Seperti setahun lalu, Tono yang DPR itu memperbaiki jalan kita,” tambah Hulu. Hilir mengangguk tanda setuju.

“Namun tidak bertahan lama. Beberapa bulan setelah itu lubang kita kembali lagi. Bahkan lebih dalam,” sambungku.

“Itu bukan salah mereka lagi, Utara. Memang struktur tanah kita yang kurang bagus. Struktur tanah yang lembut membuat jalan mudah hancur.”

“Tanah kita memang agak lembut. Masalahnya bukan itu saja. Jalan yang dibuat asal jadi saja. Kualitas yang buruk membuatnya cepat hancur. Coba lihat, setiap lubang kita ditambal, tidak lama kemudian akan kembali berlubang. Apalagi pada Hilir. Benar, bukan?”

“Masalahnya bukan itu saja, Utara, Hilir. Pemerintah juga tidak bisa menahan laju mobil-mobil angkutan besar yang berjalan di jalan ini. Sesuai ketentuan, ya, tidak layak. Bukan ukuran kita menahan berat mereka. Belum lagi beban mobil yang berlebihan, tentu akan menyebabkan kita semakin rusak dan dalam.”

“Kalau begitu salah siapa? Pemerintah dan masyarakat harusnya bisa menjaga secara bersamaan.”

“Mereka semua pengecut. Namun bagiku yang salah ya pemerintah. Jika saja jalan mereka buat sesuai standar, tentu akan tahan,” ucap Hilir.

“Tidak juga,” bantah Hulu, “jika saja masyarakat mau menjaga jalan bersama-sama, tidak membiarkan mobil-mobil besar dengan muatan besar lewat, tentu jalan tidak akan semakin hancur, Hilir. Benar tidak, Utara?”

“Ya, tergantung. Kesemuanya harus seimbang. Masalahnya sulit, masyarakat tergantung pada hasil pertanian seperti sawit dan karet. Tentu mobil-mobil besar dengan muatan banyak akan terus melalui kita.”

“Iya, benar juga. Namun bagaimana dengan mobil super jumbo yang masuk melintas di jalan ini? Bukankah itu sudah keterlaluan? Benar-benar sudah tidak layak,” sanggah Hilir. “Aku curiga para aparat itu sudah disogok duluan.”

“Tak baik suuzon begitu, Hilir. Mereka pun serba salah. Sedang rakyat benar-benar butuh.”

“Butuh, kok, merusak? Uang sogokan buat kantong sendiri. Sedang mereka lupa akan kantong-kantong yang lain yang bergantung dengan jalan ini. Coba kalian lihat orang-orang yang tidak memiliki usaha yang besar tetapi bergantung dengan jalan ini. Bagaimana dengan mereka?” Hilir benar-benar emosi. Lubang yang berlumpur itu bergoyang-goyang seiring dengan deru motor yang lewat.

“Bagaimana kalau mereka tidak punya pilihan?” timpalku sebijak-bijaknya. “Seperti dahulu, ada jembatan putus di salah satu lintas Sumatera. Satu-satunya jalan pengganti—sebagai penghubung adalah jalan ini. Jadi, mau tak mau mobil jumbo hanya lewat di sini.”

“Tumben kau bijak, Utara?” cemooh Hulu. Hilir tertawa.

“Saat terjepit, kita terpaksa menjadi bijak.”
***

Beberapa tahun setelah bupati terpilih memimpin, lubang-lubang kami tidak pernah tertimbun dengan baik. Bahkan kali ini lubang-lubang semakin dalam menghunjam. Tidak sedikit masyarakat yang mengeluh terkait rusaknya jalan. Susahnya mereka berbisnis keluar daerah, atau berurusan apa saja yang terhubung dengan kendaraan. Padahal, di sini adalah jalan satu-satunya menuju lintas Sumatera yang mentereng, serta penghubung antara desa dan kota.

Dengar-dengar kabar burung, bupati berdalih bahwa jalan ini adalah jalan provinsi. Bukan kewajiban mereka untuk memperbaiki dan membuat jalan menjadi baik dan sesuai standar. Meskipun diperbaiki, itu hanya seadanya, dan dilakukan jika gelombang protes benar-benar telah meluas. Lalu kembali redam seperti semula.

Saat pemilihan gubernur berlangsung, tidak sedikit masyarakat menyuarakan keluhannya terkait jalan. Jalan yang dikenal sebagai jalan tua—jalan lama sebelum adanya lintas Sumatera—menjadi jalan yang semakin terpinggirkan. Dan seperti yang lain, calon gubernur pun berjanji akan memperbaiki jalan, bahkan akan membuatnya menjadi lebar dan besar layaknya jalan utama yang lain. “Jalan ini adalah salah satu prioritas kami,” begitu umbarnya.

Tidak lama setelah terpilih, masyarakat mulai bergembira. Ada berita yang mengatakan gubernur bersiap untuk memperbaiki jalan menjadi sangat layak. Jalan akan diperbesar. Tentunya masyarakat diminta untuk mengikhlaskan tanah-tanah mereka yang sudah ditanami tanaman atau bangunan seperti toko dan rumah untuk dijadikan jalan. Sempat terjadi beberapa penolakan. Bagaimana mungkin rumah atau toko mereka dihancurkan menjadi jalan tetapi tidak diganti rugi oleh pemerintah provinsi?

Polemik baru ini tentu saja membuat kami khawatir. Jika gelombang protes dari masyarakat benar-benar terjadi dan diterima, tentu saja jalan kami tidak benar-benar menjadi mulus dan layak. Akan tetap seperti jalan yang lama, lubang ditambal dan beberapa bulan kemudian kembali berlubang.
Syukurlah, pemerintah sekarang lebih tegas dan kuat. Apapun risikonya, jalan tetap akan dibangun menjadi jalan utama.

Kami berteriak. Tidak terasa lubang kesedihan kami mulai menutup di antara lubang kami yang semakin menganga.

Tidak lama kemudian, jalan-jalan mulai dipoles. Kabarnya ini adalah tahap awal untuk perbaikan. Kami tertawa. Kami bernyanyi. Bergojet. “Ini adalah tahap awal, “ ujarku, “dan kau Hilir, lubangmu nanti tidak akan pernah kembali lagi.”

“Hilir, Hulu. Jika nanti jalan sudah diperbaiki dan diperkuat seperti jalan utama, tentu kita tidak akan bertemu lagi. Kita tidak memiliki lubang. Keadaan ini tidak akan kembali lagi seperti dahulu. Bagaimana cara kita untuk bertemu lagi? Tentu kita tidak saling mengenal lagi. Kita sudah menyatu menjadi jalan yang mulus bersamaan dengan lainnya,” ujarku.

Hulu dan Hilir terdiam sejenak. Kemudian Hulu meninju bahuku yang berlubang, “Kau seperti manusia saja, Utara. Bukankah ini yang kita inginkan?”

Aku dan Hilir mengangguk.

“Bagaimana kalau kita tidur saja mulai dari sekarang? Kelak kita akan terbangun jika jalan ini sudah membesar menjadi jalan utama. Jika itu sudah terjadi, kita bertaruh, siapa yang paling pertama bisa mengenali antara satu dengan yang lainnya maka akan menjadi pemenang. Bagaimana?” usulku.

Hulu dan Hilir mengangguk. Kemudian kami tertidur sampai sekarang. Entah sampai kapan kami bisa terbangun, sedang pemerintahan baru telah berjalan layaknya panah terlepas dari busur. Bahkan hampir sampai ke tujuan. Dan mungkin sampai ke pemilihan pemimpin yang baru lagi, tetapi dengan kampanye yang sama, “Ayo bapak-ibu, pilih kami. Kelak lubang di desa ini akan terhapus.” Dan lubang sakit di hati masyarakat tumbuh semakin dalam.
***

Keterangan:

Terinspirasi pada kisah jalan-jalan yang berlubang di jalan Padang Lamo yang membentang antara perbatasan Dharmasraya (Sumbar) ke Kecamatan Tebo, menuju Provinsi Jambi.

Cerpen ini ada di buku kumpulan Cerpen: “Sungai yang Dikencingi Emas,” 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *