4 Cerita Mini tentang Kolonialisme Karya Ahmad Yulden Erwin *

1. SILAT

Tuma Sutan Kentut Pahlawan, pada suatu malam di pesta yang ramai dan sedikit angin, putus harap atas politik etis di tanah Hindia. Demang muda itu yang selalu berpeci hitam, pemuka adat awal abad ke-20, tanpa dinyana, bersilat pada pesta malam itu dan melompat ke meja perjamuan Meneer Van Dick, lantas, dengan elegan, kentutlah ia semerdu-merdunya. Alhasil, nun sepuluh ribu tumbak tanah ulayat di kampungnya—beginilah heroisme ganjil kakekku—dirampas kongsi kebun Belanda.
_______________

2. KOLONIALISME CITA RASA

Banyak kini orang yang sedikit tahu, kolonialisme Eropa semula bukanlah terpicu cerlang logam kuning 24 karat, tetapi semata urusan penjinak cita rasa di lidah, karena—ada juga sedikit dibumbui bisik-bisik Ilahi—para penjelajah samudera dari Eropa itu percaya bahwa rempah-rempah berasal dari tanaman surga. Pada titik ini, kolonialisme jelas menampakan motif aslinya.
_____________

3. COCA COLA DARI BATAVIA

Bagi Coca Cola, pada mulanya bukanlah kata, tapi sedikit kayu manis, sedikit pala, sedikit getah barus dioplos air soda. Tiga sedikit itu, kecuali air soda, tanpa perlu manipulasi sejarah lagi, adalah nyata-nyata rempah paling eksotis dari koloni Batavia.
______________

4. PEROMPAK

Para opas kompeni itu menyebutmu dengan gelar berlebihan: “Perompak Berkalung Seribu Hidung dari Selat Malaka”. Angin muson membawa desas-desus merendahkan itu ke daratan. Para syahbandar gemetar dan hanya sanggup berbisik saat menyebut gelarmu. Lubang telinga para hulubalang seperti tersumpal tahi kambing saat mendengar desas-desus tentangmu. Kini, kaurasa, ada gunanya sedikit berbesar kepala.

Malam itu, di bawah bulan sabit dengan bintang-bintang selatan di atasnya, di palka satu kapal layar yang kaurampas dari pedagang candu milik kerajaan Inggris, kau menatap cahaya suar dari Pelabuhan Singapura. Dari sanalah, gerutumu dalam hati, candu-candu siap dikirimkan ke pelabuhan-pelabuhan di tanah Jawa. Dan, oleh karenanya, kau telah mengambil keputusan paling nekat (sekaligus paling cemerlang menurutmu) untuk jadi satu pukulan telak ke jantung keserakahan paling menjijikkan. Kau telah memutuskan untuk merompak setiap kapal pedagang candu di Pelabuhan Singapura.

Dan, tentu saja, kau telah bertekad merompak kapal Wu Li—pedagang candu terbesar di bawah kuasa gubernur jenderal Kerajaan Inggris di Hongkong. Lalu, masih dalam kemabukan gemilang rencana perompakan nekatmu, kelak kau akan melemparkan semua candu hasil rampasanmu ke laut, semuanya, dan membiarkan kapal pengangkut candu itu terapung seperti bangkai undan di Selat Malaka. Lalu, tentu saja, kau akan mengiris satu demi satu hidung para kelasi kapal Wu Li dan merangkainya jadi kalung besar yang kaugantung di ujung pagar depan kapal layarmu. Kau telah bertekad untuk mewujudkan hinaan para opas kompeni itu menjadi kenyataan.
___________

*) Ahmad Yulden Erwin lahir di Bandarlampung, 15 Juli 1972. Ia telah menerbitkan kumpulan puisi “Perawi Tanpa Rumah” (2013), “Sabda Ruang” (2015), “Hara Semua Kata” (2018) “Perawi Tanpa Rumah (Edisi revisi, 2018), “Perawi Rempah” (5 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2018).

One Reply to “4 Cerita Mini tentang Kolonialisme Karya Ahmad Yulden Erwin *”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *