JEJAK


(Wajah Semar, karya Ndix Endik)
Taufiq Wr. Hidayat *

Manusia tak pernah selesai merindukan yang telah hilang di dalam waktu. Ia selalu ingin menyelenggarakan pertemuan untuk melepaskan kerinduan, kata seorang penyair yang entah siapa. Tetapi buat apa pertemuan jika hanya akan membunuh rindu? Bukankah rindu harus selalu ada, agar manusia menemukan dirinya di dalam kehilangan, di dalam harapan-harapan, di tengah ketakberdayaan mengutuhkan segala yang telah lampau dan berlalu? Ia hidup dengan ingatan. Tanpa ingatan, mungkinkah kehidupan terjadi?

Barangkali bagi Beckett, manusia belaka absurditas muskil dan panjang tak terpecahkan. Suatu hari, orang datang. Kemudian pergi lagi. Pertemuan-pertemuan terjadi. Lalu diakhiri perpisahan. Dan hati pun terluka. Kenapa harus bertemu, jika harus berpisah? Tanya lagu. Orang pun heran. Atau tak tahu. Kenapa ada yang selalu saja datang dengan persoalan? Dunia tak kunjung surut dengan persoalan. Soal rumah tangga, soal gas atau ban bocor, soal negara. Soal seks. Dan perang. “Lalu buat apa Kau ciptakan semua ini, jika semua ini harus rusak, hilang, saling tikam, dan penuh derita sangat pedih dan kematian-kematian yang tak terhindarkan?” tanya seseorang dalam sebuah novel kepada Tuhan. Dari langit tinggi, Tuhan menjawab cuek sambil berlalu: “itu urusanmu sendiri!”
***

Ingatan menubuhkan bentuk ke dalam imajinasi, atau intuisi. Konon para penyair memandang dunia dengan intuisi. Bagi Ibn Arabi, dari intuisi, manusia meraba dunia dengan tubuhnya. Tubuh siapa dan milik siapa? Itu tubuh—katanya, yang dihuni sukma. Ruh, kata agama. Atau esensi. Dengan itu, ia pun menyelenggarakan perjumpaan-perjumpaan. Ia mengalami perjumpaan dengan kesempurnaannya sebagai manusia, dengan kebertubuhannya. Ia makhluk yang berbeda telak dan tak sama dengan hewan, tumbuhan, jin, malaikat, iblis. Dengan kesempurnaannya—dengan “al-kamil” itu, manusia menemukan kebenaran. Atau senantiasa merindukan kebenaran. Demi apa yang kita namakan kebahagiaan. Kemudian ia sadar atas kelemahan di balik kesempurnaannya itu, sehingga ia meyakini bahwa kebahagiaan dibangun dari pengalaman penderitaan. Peristiwa di dalam diri itu, terjadi terus menerus serupa denyut jantung. Tetapi kadangkala ia tak menyadari ada dua hal yang mendetak senantiasa di dalam diri itu, di dalam hidupnya. Sehingga ia terjebak dalam penderitaan yang tak bersudah, ujar Budha. Atau terpenjara kebahagiaan yang melenakan dari kenyataan dunia. Jika tanpa penderitaan tak ada kebahagiaan, maka sesungguhnya kebenaran tak lain, dicapai dengan kearifan. Dalam bahasa, ia berbunyi “arafah, ya’rifu, irfan, ma’rifatan”, yakni pengenalan, mengenali, pengertian tertinggi yang membumi, menafsirkan kemuskilan ke dalam kenyataan hidup sehari-hari. Dan hanya manusia mempunyai pengertian itu, lalu menghikmatkan pengertian-pengertian bagi sesama, bagi ruang-waktu yang dialaminya.

Sehingga ia harus bermuara pada kesejatian. Kesejatian itu—bagi yang beriman, hanyalah Tuhan. Tatkala yang disebut adalah Tuhan, serta-merta segala nama luhur-Nya niscaya utuh, segalanya semata terdiri dari sifat dan nama-nama-Nya. Dia yang tak terjangkau (ahad). Tetapi manusia mengarifi sifat dan nama-Nya, sebagai kenyataan alamiah atau fitrah meraih kesejatian hidupnya. Bagi Ibn Arabi, kemengadaan khayal (hadirat khayal), merupakan hadirat yang menghimpun dan mencakup segala sesuatu dan yang bukan sesuatu. Tidak ada dalam wujud selain Tuhan, segalanya walaupun ada (maujud), sesungguhnya keberadaannya ialah dengan-Nya. Maka apa pun yang keberadaannya dengan selain-Nya, ia dalam hukum ketiadaan. Ketiadaan yang tanpa eksistensi sejati. Dari bentuk, ia mestilah berenang menuju esensi. Nabi Ibrahim mengajarkan esensi segala sesuatu atau substansi tiap-tiap peristiwa, sehingga bentuk tak disembah atau dimutlakkan. Karena bentuk musnah, tapi esensi dan substansi itu baka. Dan kita pun berpikir habis-habisan tentang Tuhan. Dia tak pernah tertangkap dengan segala kesempurnaan manusia, tetapi Dia juga tertangkap dalam segala pengandaian atau keyakinan yang meniscayakan keanekaragaman. Orang Yahudi punya pepatah—sebagaimana dikutip Milan Kundera; “manusia berpikir, dan Tuhan pun tertawa.” Lantaran tatkala ia berpikir, ia tak sanggup keluar dari kepalanya.
***

Bagaimana dan ke mana rindu ini dibawa? Tanya seorang perindu yang gelisah. Katanya, pohon cinta tidak akan tumbuh di atas hati yang keras membatu. Tapi pohon cinta itu pun akan layu kemudian mati, jika ia tumbuh di atas hati yang terlalu becek dengan air mata. Di atas kerapuhan, seharusnya ditegakkan segala yang kuat dan kokoh. Justru di atas kekokohan, yang rapuh perlu diwujudkan. Bagaimana akan tiba ke larut senyuman, jika sepanjang jalan hanya air mata? Tetapi bagaimana mungkin sampai ke lubuk hati yang tenteram, jika sepanjang jalan hanyalah kekeringan tanpa hikmat tangisan. Agar di lautan penderitaan, dapat didayung perahu, terbenam jauh di pedalaman rindu. Agar malam dihikmatkan kelembutan. Bukan gairah untuk menghanguskan. Tapi apakah untuk tiba pada kedamaian—sebagaimana dikatakan seseorang dalam film “John Wick”; “engkau harus bersiap untuk berperang habis-habisan”? Apakah pengertian terhadap kerinduan pada yang tak pernah selesai ditemukan bentuknya, dapat menundukkan dendam, sehingga sengketa dapat diselesaikan? Sanggupkah dunia menyelenggarakan kasih-sayang, agar kasih-sayang Tuhan menjelma, kemudian perang dapat dicegah atau dihentikan? Penguasaan dan ketakutan bisa dipadamkan? Manusia memang takut bangkrut, sehingga ia harus merampas dan menipu. Ia takut terhina, sehingga ia harus menegakkan kejayaan dengan perang. Ia takut dilupakan, sehingga ia memasang wajahnya di mana-mana, kemudian memuja dirinya sendiri.

Betapa rapuhnya, sehingga ia harus mengabadikan jejak rindu pada prasasti, penanda-penanda waktu dan peristiwa, dinding, bangunan, kekuasaan, dan pencapaian tertinggi yang tak boleh ditandingi. Ribuan tahun atau mungkin setelah dihantam keganasan alam—kita tahu, jejak-jejak itu menjadi samar berdebu. Jadi narasi kesepian kita dari masa ke masa. Sesuatu yang semakin hari semakin susah sekali untuk sekadar dikenali. Orang pun “pangling” pada dirinya sendiri. Dari segala-galanya itu, yang tersisa hanya dongeng perihal kejayaan dan kegagahan yang tak lagi ada, kebanggaan-kebanggaan gombal yang tersisa hanya dalam romatisme cengeng yang memuakkan, tak lagi bernyawa, dan keluh di dalam bisu. Sanggupkah ia—dengan meraih segala sepuncak-puncaknya, memunguti nilai-nilai yang berantakan oleh kehendak-kehendak yang tak menjejak? Orang pun tak habis mengerti, kenapa ia tak bisa mewujudkan diri—sebagaimana dalam sajak Chairil Anwar, dengan “hidup seribu tahun lagi”? Pertanyaan-pertanyaan pun terjerembab dalam kompetisi ekonomi yang tak mengenali derita dan nasib yang kalah dan dilemahkan. Tuhan dan agama cuma omong kosong, menjadi dongeng usang yang tak pernah menyelesaikan lambung kelaparan. Dan jejak kerinduan, makin benam, kelam, gelap, dan terasing jauh. Jauh sampai tak tahu.

Siti Inggil, 2020

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *