PENYAIR YANG PATAH HATI


Taufiq Wr. Hidayat *

Sahdan, ada seseorang yang jatuh cinta pada sekuntum teratai. Teratai itu hidup di tengah kolam. Teratai putih warnanya, bagaikan salju, katanya. Ia ingin sekali memiliki teratai itu. Namun keinginan untuk memiliki tak tercapai. Lalu kecewalah hatinya. Apa daya, hati telah terlanjur terlena. Teratai bercahaya, cahayanya menyinari sanubari. Sayang disayang, ratapnya. Datang burung menginjak teratai itu. Teratai berguguran dan merana. Bunga hatinya pun menjadi layu.

Lagu yang dilantunkan Tetty Kadi, “Teratai Putih” ciptaan A. Riyanto, puluhan tahun yang lalu itu, jika didengarkan kembali, memancarkan khas sastra Indonesia lama. Metafora-metafora yang memesona. Dan nada Melayu yang mendayu. Tetapi syair, tak belaka rangkaian kata-kata indah dan imajinatif. Bagi Adonis, ada sesuatu yang tertanam di dalam kepala penyair. Baginya penyair tak belaka menciptakan puisi, melainkan pun gagasan atau ide dari suatu pikiran. Menciptakan puisi, berpikir dan meneliti adalah keutuhan. Penyair—tak lain, adalah pemikir. Dan penyair agung—tak terelakkan lagi, ialah pemikir agung sekaligus. Apa yang diyakini Adonis, sebagaimana diyakini pula oleh Martin Heidegger: “the thinker as poet”. Namun bagi Adonis, kegiatan berpikir utuh dengan berpuisi secara imanen. Tatkala menciptakan bait-bait puisi, penyair berpikir, pikiran dan gagasannya yang segar menetes. Sehingga pada yang lebih lanjut, hal itu dapat dirangkai sebagai narasi yang detail di luar puisi. Keutuhan tersebut, membuat puisi tak sekadar pengalaman personal. Apa yang metafisik—dalam puisi, tercurah. Ia melihat tatanan yang dipedomani pada saat ini, sesungguhnya telah tersusun dan ada pada saat lampau. Dalam gagasan keagamaan, ia tak keluar dari lingkaran, bahwa semua manusia sejatinya tersingkir dari surga. Maka yang kini—guna meretas lingkaran itu, harus dibongkar untuk dapat mengarifi masa lampau. Bagi Plato, yang awal tak lain ialah “yang benar”, dan peristiwa hari ini ialah titik pijak guna mengenang ulang kenyataan “yang benar” tersebut. Lantaran apa yang ditancapkan pada hari ini, tak lain komposisi tak utuh dari kenyataan “yang benar” di masa lalu. Tetapi apakah “yang benar” di masa asal itu? Jika itu adalah wahyu, ia tidaklah terlucuti dari “kenyataan kehari-ini-an” sebagai keharusan sejarah tatkala “bahasa wahyu” diturunkan.

Dan puisi sejatinya memang tak menetes dari kehampaan. Ia—pada setiap diksinya, merupakan hasil dialektika dan loncotan sejarah. Pada sekali waktu, ia menjadi sangat dalam melukiskan hati yang patah apatah daya.

Hati penyair yang dipatahkan realitas itu bagaikan arang yang remuk. Ia seolah tak mungkin diutuhkan lagi. Atau ia tak ingin diutuhkan lagi, ia ingin biarkanlah hati itu remuk sahaja. Biarkan begitu adanya. Supaya menjadi saksi atas kekejaman cinta, kata lagu dangdut, yang pernah dilakukan oleh seseorang yang entah siapa, atau oleh kenyataan yang tak tertangguhkan . Sang “penjahat cinta” itu tak lebih lembut daripada sang “penjahat waktu”. Zaman—yang katanya, mencetak pertanyaan-pertanyaan, tetapi dengan bersemangat membakar jawaban-jawaban. Barangkali kecemasan Akutagawa, sastrawan agung Jepang itu, memang bukan omong kosong. Ia dicekam ketakutan mengerikan tatkala melihat kewarasan dan kegilaan pada suatu zaman, tak punya batas yang tegas. Dan dalam layar maya, dunia penuh kontradiksi sebagaimana realitas yang faktual. Mana yang mendahului? Dunia benar-benar dalam genggaman tangan, memancar dari sebuah alat yang mengherankan, dari selembar layar yang disentuh. Representasi yang menyimpan parodi. Segalanya diukur gambar, suara, teks, dan angka yang tak nyata. Kenyataan telah ilusi, ilusi jadi kenyataan, pendapat jadi kebenaran mutlak, segalanya harus cepat dan singkat. Berbaur!

Dalam keserbacepatan dan keserbasingkatan, apakah sebenarnya kita tak sedang melamban dan bertele-tele? Realitas jumpalitan! Yang privat telah publik. Segenap sudut menjadi profan. Tak ada ruang di mana orang bisa mengalami pertemuan yang mendebarkan, atau rindu yang begitu biru dan jauh. Orang diperalat ketaksadarannya dalam gairah mempublikkan yang privat, memprivatkan yang publik. Seks, perasaan, doa, agama, iman, ditertawakan. Tapi sekali waktu ditangisi dengan perasaan ganjil pada ruang yang disaksikan jutaan mata.

Dalam dunia layar yang profan, manusia jadi obyek yang terpecah-pecah dalam cengkeraman paradoks dan ironi, tapi yang angkuh, di ambang waras dan edan. Pun yang terseret kelamin dan pemberhalaan tubuh. Dan penyair masih saja hidup di antara itu semua. Kata-kata masih digali, dicari, dirangkai, atau dibiarkan saja berantakan lantaran pikiran telah lelah meneteskan gagasan.

Dinyanyikan kembali lagu lama itu.

Helai demi helai gugur
Teratai merana

Duhai bungaku
Hati iba dan membeku

Teratai putih berseri
Kini hancur layu

Teratai hati itu, oh sayang disayang, katanya.

Sobo, 2020

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *