ROPPONGI

Muhammad Antakusuma

Setelah 11 jam penerbangan dari Amerika Serikat, Acong keluar dari pesawat Delta Airlines. Sambil berlari, ia keluarkan paspor berlogo garuda menuju ruang imigrasi Bandara Narita Jepang. “Visa Transit” tertulis di halaman paspor Indonesianya. Di money changer, ia serahkan se­lembar dolar Amerika. Seratus dolar sudah berubah men­jadi tujuh ribu empat ratus yen.

Di tempat penitipan ba­rang, ia serahkan dua koper besar berisi oleh-oleh dan buku pelajaran politiknya selama dua semester di univer­sitas Amerika. Ia harus transit satu malam di Jepang se­belum melanjutkan penerbangan ke Indonesia di hari be­rikutnya. Dua ribu yen habis untuk jasa penitipan selama dua hari.

Tiket bus limosin sudah di sakunya. Tokyo hangat, tak ada bunga sakura. Tujuannya hanya satu, pusat hiburan malam di kawasan Roppongi, satu setengah jam dari bandara. Pekerja kantoran setengah mabuk, anak muda gaul, dan wanita pesolek bertebaran di sisi jalan Roppongi. Pria berkulit hitam gentayangan di depan klub telanjang, agresif menawarkan paket kencan. Di kafe Al­mond, Acong menenggak Cafe latte. Dibacanya selebaran tentang karaoke bersama gadis malam.

Sejak 14 tahun lalu, ia hanya bisa melihat senyum ayah dan ibunya lewat foto keluarga yang tersimpan di dompetnya. Bisnis karaoke keluarganya di Jakarta hancur ketika kerusuhan Mei 1998. Segerombolan pria pribumi masuk ke dalam rumahnya. Acong dimasukkan oleh ibunya ke dalam kamar. Ingatan terakhirnya adalah jeritan sang ayah sebelum digorok dan rintihan sang ibu ketika diperkosa. Ia tak bisa melihat kejadian di ruang tamu, hanya bisa mendengar dari bawah kasur. Seminggu sekali, ia menemani ibunya di rumah sakit jiwa. Ibunya selalu mengulang cerita yang sama tentang pria yang menghunuskan samurai ke kepala ayahnya.

Pukul 01:00 dini hari, Roponggi penuh tawa. Seorang pria tua berdiri di depan pohon sakura. Acong mengha­biskan kue tar almond-nya, kemudian melangkah keluar.

“Bapak dari Indonesia?” sapanya sambil tersenyum. Tak ada balasan senyum. Si pria tua langsung menyebe­rang jalan, menyelinap ke kerumunan. Acong terdiam. “Indonesia?” sapa seorang perempuan.

Mereka kemudian berkenalan. Si perempuan mengajak Acong berjalan menuju Tokyo Tower. Bagi Acong, Roppongi lebih menarik daripada kota New York. Lebih rapi dan ramah. Sepertiga malam, mereka habiskan di kamar kencan.

Pukul 9:00 pagi, pesawat All Nippon Airways berang­kat ke Jakarta. Acong duduk di samping perempuan ber­paras Indonesia.

“Mbak dari Indonesia?” sapanya sambil menikmati omlet yang baru saja disajikan pramugari.

“Iya, tapi saya sudah di Jepang sejak umur sepuluh tahun,” jawab si perempuan dengan terbata-bata.

“Oh, begitu. Masih ada keluarga di Indonesia?” tanya Acong ketika si perempuan sedang menyeruput teh hijau.

“Tidak. Saya ingin melakukan penelitian tentang ke­rusuhan 1998,” jawab si perempuan.

“Kenapa tertarik dengan itu?” tanya Acong setelah meletakkan sumpit.

“Karena ayah saya dituduh memenggal kepala tetangganya ketika terjadi kerusuhan itu,” jawab si perempuan sambil mengambil selembar foto yang terselip di catatan hariannya.

“Ini ayah kamu?” tanya Acong sambil menatap si pe­rempuan. Ia teringat pria tua yang disapanya di Roppongi. Persis sama dengan sosok pria yang selalu diceritakan ibunya sebelum bunuh diri.
***

2012

One Reply to “ROPPONGI”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *