Puisi-Puisi Ibnu Wahyudi

ELEGI SEBUAH HATI

sebuah hati yang bernyanyi
tentang nanti yang penuh wangi
meregang dalam nestapa papa
terguncang oleh sunyi tanpa sapa
di ketika semua berbunga

segala suka dalam bata-bata
bahkan pun termasuk cinta
tapi tak ada yang serba pasti
seperti angin terjebak halusinasi
termasuk pula mimpi kita

12 Desember 2019

ADA WAKTUNYA KE HENING

ada waktunya ke hening
penting menyimak tiap denting
belajar menghargai rinai
menyimak bisik yang sampai
dan meredam risau yang galau

hening tak selalu berteman sunyi
dalam riuh tetap ada ruh bunyi
penuhi benak serasa ombak
rangsang otak bagai tiada tak
bagi jiwa penuh kuota harga

10 Desember 2019

SELALU ADA

selalu ada yang harus kita biarkan untuk menemui jeda lantaran mustahil dalam kefanaan ini ada keabadian. apalagi kalau itu kangen, jangan dikekang sebab ia dapat menjelma rasa kenyang yang bisa saja punya tabiat ganjen

selalu ada jarak yang tiba-tiba mengetuk waktu sehingga kita lantas bisa berhitung tentang rindu yang sulit untuk diawetkan itu. tapi keterpisahan terkadang amat kita perlukan agar ada ruang untuk memahami diri yang resah.

7 Desember 2019

HANYA MALAM

hanya malam
pendengar darahku
menggelegak sendiri
di album suram
dalam api yang beku
mencari citra diri
yang terus ragu

malam paling setia
rela dimadu gairah
juga mengelola rindu
yang batal kukirim
sebab sinyal kita
deras bersenada
membangun cinta

7 Desember 2019

HARUSNYA AKU JUGA BAHAGIA

harusnya aku juga bahagia
seperti yang ada di kata-kata itu
“yang penting engkau bahagia”

begitukah sejujurnya?

sandiwara yang ada
kecemburuan beranak-pinak
rasa ditinggalkan muskil dihapus
dan iri hati kian mencadas

inilah sejujurnya

tapi kita gemar basa-basi
sampai kita sendiri di ketakjelasan
juga tentang makna bahagia

7 Desember 2019

AKU BERTANI KATA

aku bertani kata
di ladang hatimu
sudahkah ia bernas?

kutanam terus benih
dan kau selalu sedia
tak lupa kau menyirami
saat aku dalam galau
antara membenihimu
atau cuma menyiangi

kutempuh jalan puisi
kusemai pada dirimu
terasakah akan panen?

7 Desember 2019

MENYIA-NYIAKANNYA

menyia-nyiakannya
berbuah resah di belakang
meski akhirnya bersama
yang tersisa cuma buat dibuang
termasuk janji bening dari hati
tersiksa sampai harapan mati

di ujung senja
ketika tak lagi hilang gairah
hindari berhenti di semenjana
sebab begitu banyak arah
harus terus kau sambangi
bagi satu misteri abadi

jika tanya itu terus memburu
berkilahlah dengan neraca baru

7 Desember 2019

AKU DAN MULTATULI

aku dan Multatuli
berbagi rasa derita
dalam nuansa tersakiti
terhempas depan mata
berulang dan berkali
hingga tiada duka cita
sebab telah ditinggal arti

pun empati tak ada lagi
ditelan pemeluk amanah
seiring nurani yang pergi
tinggalkan karut wajah
yang laiknya satu energi
sarat hasrat bedebah
mengelabui harga diri

6 Desember 2019

KETIKA TANDA ITU TIBA

ketika tanda itu tiba
mungkin kita tengah tak siap
ketakterdugaan begitu kerap
menyekap dalam lanskap kelabu
hingga semua berlalu saja
tanpa sempat kita beri salam
apalagi berbincang

bagaimana mau menyapa
ia sering serupa tanda tanya
sementara yang nyata pun
banyak yang tak lekas terhimpun
dalam kebeningan catatan
dalam isyarat keseharian
sebagai peringatan

5 Desember 2019

ANTARA MENYERAH DAN BERGAIRAH

antara menyerah dan bergairah
terentang rasa bernada kinanti
tak henti mengalirkan darah
berenang mengarungi hati
menyelinap menyemai kiat

betapa badai kerap menjerat
membuat kita lalu menimbang
hendak bergumul dengan mimpi
dan bersekutu dengan gamang
tapi tetap tak patut bermain api

4 Desember 2019

Pada Multatuli Kita Mencari Arti *

pada Multatuli kita mencari arti
belajar mengerti hidup tergadai
perlahan membaca derita sesama
buka cakrawala yang diperkosa
oleh kuasa yang tak punya hati

lewat Multatuli kita belajar baca
sebab derita bukan milik manusia
pun kebodohan bukanlah pilihan
tapi sebab cengkeram kuku liyan
yang bahagia atas penindasan

bersama Multatuli kita tak lagi tuli
darinya pula tersemai harga diri
maka perlawanan adalah jalan
perjuangan adalah keharusan
bagi kebebasan untuk terus maju

oleh Multatuli kita dibukakan
titian untuk jadi sepenuh insan
manusia merdeka di tanah sendiri
manusia digdaya punya jati diri
yang harus paham arti kehidupan

dari Multatuli kita diingatkan
pentingnya hati dikedepankan
gunanya pengetahuan diajarkan
agar kepicikan tidak terus tumbuh
tapi kejayaan insani yang berlabuh

3 Desember 2019

*) Puisi ini saya buat sekaitan dengan peresmian patung Multatuli karya Dolorosa Sinaga, FIB UI, 3 Desember 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *