SEBUTIR MUTIARA

Taufiq Wr. Hidayat *

“Kemujuran—oh ketahuilah olehmu, selalu membawa serta pasangannya yang setia, yaitu celaka,” ujar John Steinbeck melalui narasi dalam “The Pearl”-nya yang kelam.

Alkisah, sang nelayan yang miskin di La Paz, Bolivia, tak sengaja menemukan sebutir mutiara istimewa berukuran besar. Dokter yang pernah mengusir si nelayan ketika si nelayan hendak mengobati bayinya yang disengat kalajengking, mendengar berita bahwa si nelayan menemukan sebutir mutiara besar yang sangat berharga. Dokter yang pongah itu bergegas ke gubuk miskin si nelayan pribumi, berharap mengobati bayi si nelayan jelata dan mendapatkan mutiaranya.

Si nelayan kere itu melewati banyak sekali perkara dalam hidupnya sejak ia menemukan sebutir mutiara tersebut. Ia bertarung habis-habisan mempertahankan mutiaranya dari para penjarah yang hendak merampas. Ia ingin menguangkan mutiara mahal temuannya itu. Ia menyusun keinginan, memperjuangkan cita-cita guna menjadikan mutiara berharga tumpukan uang untuk membasmi kemiskinan hidupnya. Tapi ia menderita. Dalam perjalanan hendak menguangkan mutiaranya, bayinya telah tewas. Ia sendiri babak belur, perahu dan gubuknya dirusak orang yang mau mencuri mutiara temuannya. Semua itu terjadi gara-gara ia memiliki mutiara berharga. Orang melihat, si nelayan tak layak mendapatkan mutiara berharga karena kemiskinan dan kekumuhannya. Sebutir mutiara dipandang jauh lebih berharga daripada nasib orang kere. Tambang emas jauh lebih penting daripada nasib alam dan nasib manusia beserta keturunannya. Si nelayan miskin dalam novel tipis John Steinbeck itu pun menyadari segala penderitaan yang mendera sejak dirinya menemukan mutiara. Ia segera membuang mutiara yang sangat berharga itu ke laut, tempat asal benda itu ditemukan. Mutiara pembawa malapetaka. Dengan sangat tragis dan sedih, ia juga membuang pula segala keinginannya. Ia telah berusaha membahagiakan keluarganya dengan menjual mutiara temuan itu supaya terbebas dari belenggu kemelaratan yang jauh lebih mematikan daripada kematian itu sendiri, tapi ia kalah. Orang miskin tak boleh bahagia. Karena kebahagiaan hanya milik orang kaya dan berkuasa.

Dalam “The Myth of Sisyphus” (1942), Camus mengumumkan teori “absurditas”-nya yang ganjil. Bagi Camus, hidup cuma serangkaian kesia-siaan. Bagai Sisipus yang mengusung batu ke atas bukit. Batu menggelinding ke bawah, ia kembali mengusung ke atas bukit. Demikian terus-menerus seumur hidupnya. Itulah kutukan manusia. Tetapi barangkali apa yang berharga, sejatinya tak semata terletak pada benda-benda. Benda-benda itu berharga lantaran ada manusia beserta kesepakatannya yang dengan meyakinkan memberikan harga pada benda-benda itu. Tak ada benda-benda yang berharga dengan sendirinya jika tak ada manusia yang bersepakat memberikan harga padanya. Bahwa yang berharga tak lain terletak pada subyek, yang bergerak dan menentukan obyek.

Dalam kebudayaan Jawa, dikenal sosok Semar. Kita tahu, Semar hanyalah tokoh fiksi dalam “kisah carangan” pewayangan. Namun ia sejatinya nyata. Semar dapat melampaui yang fiksi itu dengan karakternya yang nyata pada diri siapa saja. Tatkala ia menjadi realitas, ia melampau realitas seolah fiksi. Semar adalah sosok siapa saja. Ketika siapa saja bersungguh-sungguh menyerap kearifannya “yang tak lazim” dan menerapkan “lelaku” hidup yang selalu selaras dengan kenyataan lahir-batin, maka siapa pun sesungguhnya telah menjelma Semar. Semar pun ngejawantah, katanya. Atau jika ia merendahkan hati, kemudian sanggup menjalankan kepatuhan dan belajar kepada siapa pun atau obyek apa pun—kendati pada yang berada jauh di bawah dirinya dalam segala hal, ia pun memperoleh hikmat. Sehingga obyek apa pun dan siapa pun telah menjadi Semar baginya, atau telah menjadi guru sejati baginya. Metafora ini seperti metafora Nabi Khidir dan Nabi Musa di dalam teks suci al-Qur’an. Sosok Semar atau Nabi Khidir adalah sosok misterius yang selalu ada dalam diri tiap orang. Ia gambaran alangkah paradoksnya sifat-sifat manusia. Ia yang kokoh, tapi lemah. Yang tertawa, tapi menangis, yang bahagia, tapi menderita, dan seterusnya. Ia bisa berguru kepada siapa saja, karena pada hakikatnya, guru yang sejati adalah dirinya sendiri, sifat luhur ketuhanan yang adalah nilai kemanusiaan di dalam dirinya. Ia patuh kepada kebaikan, karena sesungguhnya yang ia patuhi adalah hati nuraninya. Tanpa pengertian hati dan kesungguhan yang jauh dari basa-basi sosial yang memuakkan, sosok Semar tak akan menjelma sebagai yang “diwujudkan” atau yang diejawantahkan dengan kearifan kemanusiaan itu. Pengertian Jawa ini menarik. Jika orang mengutuk Joker, sesungguhnya ia tengah mengutuk dirinya sendiri yang tak berdaya dalam paradoks, yang tak sepenuhnya suci, juga yang tak seutuhnya terkutuk. Hanya manusia yang kalah di dalam kemenangan, atau merasa menang di dalam kekalahan. Yang rakus dan congkak, tapi yang selalu takut sendirian. Sehingga ia harus membangun tembok yang kokoh, membuat senjata yang mematikan, dan membangun sekutu-sekutu. Ia mengobarkan perang, tapi demi kedamaian dan kesejahteraan.

Tak ada manusia suci, yang ada hanya manusia yang mengaku atau sok suci. Tak ada manusia buruk, selain manusia yang terjerembab dalam noda dan kecongkakan. Seperti dalam agama, kita tahu lebih banyak “mustaswif”, ialah orang yang “merasa sufi”, seolah-olah sufi, dan mengaku pelaku tasawuf daripada yang benar-benar seorang hamba yang sepenuh kewajaran menyepuh diri dengan sikap agung ketuhanan dalam kehidupannya sehari-hari. Sama halnya, lebih banyak orang “merasa/mengaku bertuhan, beriman, beragama”, merasa “sudah bahagia”, atau “merasa tenang” karena tak pernah peduli. Merasa paling kuat, sehingga harus memusnahkan. Keduanya sama saja, al-Ghazali menyebutnya “ghurur”, yakni tertipu atau—dengan kata lain; omong kosong. Itu bukan perkara baru, melainkan penyakit purba manusia, yang segala kebejatannya telah dinamai Iblis yang tak pernah punya identitas nyata dalam sejarah. Sang utusan mendesah, bahwa kesejatian “al-islam” itu “gharib”, yakni asing dan sendiri. Lantaran dalam sendiri, ia berpeluang memahami dirinya. Jalan tanpa tepuk tangan, tanpa pujian dan hinaan. Beruntunglah mereka yang memilih “jalan gharib” itu, ujarnya. Meski di dalam ramai sebagai keniscayaan sosial dan “bebrayan” kata orang Jawa, dan di dalam kesibukan rutinitas hidup yang persis mesin, keharusan-keharusan yang genting dan tak ada pilihan lain, ia tak lupa pulang ke dalam kesunyian relung jiwanya, di “goa renungan” yang gelap, lalu berhikmat dan mengentaskan penderitaan. Bukan yang senang, tapi senangnya sendiri. Bukan yang menang, tapi dengan menghancurkan yang lain. Bukan makan sendiri, katanya. Namun memiliki kesadaran sejati untuk bisa menyuapi. Keselamatan yang saling menyelamatkan. Bukan tipu daya atau kekejaman untuk saling menghancurkan.

Konon sebutir mutiara terdapat di kedalaman samudera, suatu tempat yang gelap, jauh, asing, dan rawan. Di permukaan hanya ombak dan gelombang, badai dan hujan. Di kedalaman samudera hati itu, katanya. Ada mutiara yang bernama nurani. Namun tatkala mutiara itu dipamerkan dan mengemuka pada yang profan—entah secara sengaja atau tak sengaja, kesakralannya batal. Ia hanya akan jadi lelucon. Menjadi praktis. Dan berbahaya. Seorang guru sejati pernah berpesan; “jika kau sebut nama Tuhan dalam samudera hatimu, kau temukan sebutir mutiara. Gerakmu tak lain, gerak-gerik Tuhan. Namun jika sebutir mutiara yang telah kau temukan itu kau bawa keluar dari kedalaman hatimu, nama Tuhan menjadi nyaring dan memekakkan telinga. Hanya dikagumi dengan setakjub-takjubnya, tapi tak pernah berguna, cuma rutinitas, dan hanya mendatangkan malapetaka.”

Siapakah gerangan guru sejati yang berpesan dengan pesan aneh itu? Tanyaku pada orang yang telah menyampaikan pesan dari si guru sejatinya tersebut. Sebelum menjawab pertanyaanku, orang itu buru-buru berlalu, hanya puntung rokoknya yang masih tersisa di warung itu.

Siti Inggil, Muncar, 2020

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *