DICARI PEMBACA KRITIS

Anindita S. Thayf *
Harian Fajar, 17/09/2017

Penyair Ezra Pound, sebagaimana dicatat Laughlin dalam bukunya Recollections of a Publisher, pernah berkata bahwa sebuah karya sastra lebih baik “dibaca oleh 27 orang, asalkan mereka adalah pembaca yang tepat, yaitu orang-orang yang akan menyebarkan gagasan-gagasannya.”

Lewat pernyataan itu, Pound hendak menyampaikan dua hal. Pertama, peran pembaca sangat penting bagi kesusastraan. Tujuan akhir dari karya-karya sastra yang telah ditulis adalah dibaca. Kedua, Pound hendak menekankan bahwa yang terpenting bukanlah seberapa banyak sebuah karya dibaca, melainkan kualitas pembacanya. Cukuplah karya itu dibaca oleh 27 orang yang tepat maka ia pun akan menyebar dengan baik.

Guna melihat pentingnya peran pembaca bisa diambil contoh satu kasus yang terjadi di Goodreads Indonesia (situs pembaca), beberapa tahun lalu. Dalam situs tersebut, seorang pembaca mengulas sebuah novel pemenang sayembara dan memberinya bintang satu karena tidak suka. Atas hal itu, pengarang novel yang merasa “lebih tinggi” daripada pembaca tersebut memberi tanggapan yang merendahkan. Akibatnya, para pembaca lain menghujaninya dengan komentar balik yang mengritik laku pengarang yang bersangkutan. Hukum sosial pun diterapkan: para pembaca tidak mau lagi membeli buku karya pengarang tersebut karena menganggap pengarangnya congkak dan tidak simpatik. Di sinilah kita lihat betapa penting peran pembaca terhadap sebuah karya.

Setidaknya ada dua tipe pembaca. Pertama, tipe sapi. Pembaca tipe ini akan membaca karya sastra dengan cara memamahnya pelan-pelan. Dari tipe ini diharapkan lahir pembaca kritis. Kedua, tipe cicak. Pembaca tipe cicak berusaha melahap bacaan sebanyak-banyaknya dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, satu tahun. Serupa cicak menelan nyamuk, pembaca tipe ini akan menelan bacaan apapun yang ditemukannya tanpa mau repot-repot mengunyah. Yang dikejarnya dari proses membaca adalah kuantitas, bukan kualitas. Tipe inilah yang mendominasi pembaca karya sastra.

Setelah karya tercipta, pengarang dan pembaca berada pada posisi sejajar. Pada titik ini, pembaca memiliki ruang otonom yang luas untuk melakukan pembacaan dan penafsiran. Kehadiran pembaca kritis tidak kalah penting dibandingkan kritikus. Dia diharapkan mampu mengulas sebuah karya secara mendalam, bukan berhenti pada penilaian sekadar suka atau tidak suka.

Di Zurich, Swiss, umpamanya, ada klub baca yang khusus memelajari karya James Joyce. Pada awalnya, mereka hanya pembaca biasa yang, karena ketekunannya, akhirnya mampu melakukan pembacaan lebih mendalam. Kemampuan mereka menganalisa karya-karya James Joyce tidak kalah dibandingkan profesor atau kritikus sastra dari universitas ternama. Adapun di Harvard terdapat klub Fine Arts 5e yang cukup legendaris. Salah satu tujuan klub baca ini adalah melatih kepekaan mahasiswa untuk menjadi pembaca kritis sehingga dapat memilih buku-buku bacaan yang bermutu.

Ketiadaan pembaca kritis juga berdampak besar. Kasus novel Karmila karya Marga T bisa dijadikan contoh. Berdasarkan penelitian Tineke Hellwig (2003) terhadap novel tersebut ditemukan fakta bahwa pengarang memanipulasi pembaca untuk berempati pada pemerkosa. Pembaca yang tidak kritis mudah didorong untuk tidak berpihak pada perempuan korban perkosaan. Dalam kasus ini, kehadiran pembaca kritis diperlukan untuk membongkar ideologi patriarkal yang disusupkan secara halus oleh pengarangnya.

Empat Tabu

Setidaknya ada empat tabu penyebab pembaca enggan mengkritisi sebuah karya. Pertama, karya itu ditulis oleh temannya sendiri. Atas alasan pertemanan, kritik enggan disuarakan. Tanggapan yang muncul mengiringi karya itu hanyalah puja-puji penggelembung tanpa argumentasi kuat. Bila karya tersebut dihasilkan oleh sesama pengarang, selain untuk menjaga perkawanan, keengganan mengkritik juga bertujuan untuk investasi. Demi pujian berpamrih (pujian), kritik ditiadakan.

Kedua, label best seller. Awalnya, karya sastra berada dalam arena yang otonom, namun setelah diproduksi maka ia berada dalam arena pasar. Pasar selalu memburu karya yang laris, lantas dilabeli best seller. Buku semacam ini serupa kembang api yang berpendar sesaat sebelum lenyap dengan cepat. Terkadang, operasi pasar menggoreng karya berlabel best seller secara berlebihan. Hal ini membuat Octavio Paz (1991) jengah dan berkomentar: “Buku-buku best seller bukanlah karya-karya sastra; buku-buku itu adalah barang dagangan.” Oleh pasar, pembaca digiring menerima karya best seller seolah ia sempurna. Dan, sebagaimana logika pasar umumnya, ketika sebagian besar orang menyukai karya tersebut maka siapapun yang berpendapat beda akan dianggap aneh. Siapapun yang menemukan kelemahan karya best seller itu dan mengkritiknya juga bakal dikeroyok oleh penggemar karya tersebut dengan argumentasi yang cenderung ad hominem.

Ketiga, karya pemenang sayembara. Karya model begini sering disertai kalimat pengukuhan dari dewan juri sayembara yang biasanya sastrawan ternama. Kalimat ini dipandang bak sebuah garansi produk sehingga menjerikan pembaca yang hendak mengkritik. Nama besar para juri juga membuat pembaca enggan melakukan kritik karena takut dianggap selera atau pengetahuan sastranya rendah. Jikapun ada yang berani, kritik itu hanya sebatas argumentasi standar, semisal, “Bukan selera saya.”

Keempat, karya kanon. Inilah jenis karya yang telah dibaptis kanonik dan menjelma klasik serupa karya Shakespeare, Goethe, atau TS. Eliot. Di Indonesia, karya Chairil Anwar dan Pramoedya Ananta Toer adalah contohnya. Terhadap karya demikian, pembaca sungkan melakukan kritik karena status “kanon” seakan sudah merupakan jaminan kesempurnaan. Selain itu, jumlah penggemar karya tersebut yang sangat besar kian memperkokoh posisinya. Tidak hanya pembaca, kritikus sastra seperti Subagio Sastrowardoyo (1980) pun gamang saat hendak mengkritik karya Chairil Anwar. Tentang karya semacam ini, Subagio berujar dengan nada berkelakar bahwa kain lap pembersih kuas milik Picasso pun diburu pemujanya karena dianggap karya seni bernilai tinggi.

Di tengah kehidupan sastra Indonesia yang cenderung monoton, kehadiran pembaca kritis sangat dibutuhkan untuk membuatnya bergeliat. Seorang pembaca yang dengan dingin sanggup mengupas lapis demi lapis sebuah karya sastra sebagaimana mengupas bawang merah. Darinya, diharapkan lahir kritik yang mendalam, membangun dan mendorong perkembangan sastra ke arah yang lebih baik. Apakah Puan/Tuan pembaca kritis yang semacam itu?***

*) Anindita S. Thayf lahir pada 5 April 1978 di Makassar. Menulis cerpen dan novel. Novelnya, Tanah Tabu (Gramedia Pustaka Utama, 2009), menjadi juara I lomba menulis novel Dewan Kesenian Jakarta 2008, finalis Khatulistiwa Literary Award 2009, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Daughters of Papua (Dalang Publishing, San Francisco, 2014).
https://www.facebook.com/anindita.thayf/posts/10203980163942653

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *