7. Cerita Mini Karya Ahmad Yulden Erwin *

1. EDWARD TEACH

Awal abad ke-18, di tengah putaran arus balik Atlantik yang tak terduga, setelah habis-habisan membela Ratu Anne dalam perang suksesi tahta Spanyol melawan Raja Philip V dari Prancis, angkatan laut Inggris membuang sebagian prajuritnya di kepulauan Bahama. Tiga tahun kemudian, salah satu prajurit terbuang itu, yang paling cerdas dan berani, namun tak cukup pandai menjilat atasannya, mengutuk dirinya menjadi kepala bajak laut paling ditakuti di perairan Amerika Utara. Sejak itu, mulai dari Boston hingga North Carolina, mengombaklah lagenda kebengisan kepala bajak laut yang misterius. Berjanggut panjang, pembaca loyal kitab kejadian pada malam-malam badai hingga laut tenang, pengunyah daging hiu mentah dan batang rumput laut, bertopi hitam laksamana angkatan laut Inggeris yang keempat ujungnya disulut sumbu meriam, serta, tak lupa, berselempang tujuh pucuk pistol siap picu yang bergagang perak di bagian depan mantel kulitnya–ialah sang lagenda penuntut balas angkatan laut Inggris: Kapten Blackbeard.

________________________

2. ARGUMEN HITAM

Awal musim semi 1835, William Stanton, anggota kongres paling konservatif dari California, saat menatap sehamparan bunga kapas di ladang miliknya, secara tak terduga, ia menemukan satu argumen cemerlang. Perbudakan itu baik, pikirnya, sebab orang kulit hitam telah melakukan eksodus-suci dari Afrika yang kafir ke Amerika yang Kristen. Tepat saat seekor elang hitam terbang menodai langit senja, masih secara tak terduga, seolah Gabriel turun membisikkan ilham paling suci ke telinganya, Stanton dengan keyakinan yang tak tergoyahkan mengubah kata perbudakan menjadi “Institusi Khas Selatan”.

_________________________

3. ABSURDITAS DAVID REID

“Mengerikan, cuaca menjelang badai pagi ini memang mengerikan,” gerutu David Reid, “seperti kulup penis selesai diparut.” Perlukah kujelaskan siapa penggerutu itu? Baiklah, dengan satu kalimat akan kuurai benang-Ariadne muasal lelaki dengan brengos duri-duri kaktus itu menggerutu bagai para penyair Beat era 60-an. David Reid, seorang sopir taksi di Manhattan, lahir 46 tahun lalu di kota Belfast (tepatnya di satu lingkungan yang terkenal paling kacau dengan dentam FN, AK-47, dan bom C-4 atas nama kasih tak berbalas Jesus Kristus).

Saat ini, dalam kegamangan khas para imigran gelap, ia tengah menunggu kelahiran anak pertamanya. Menurut prediksi dokter kandungan bertarif murah, yang tinggal dua blok dari apertemennya, anak pertamanya akan lahir dua hari lagi. Karena itulah ia memutuskan bekerja dua kali lebih ngotot. Setelah berpatroli mencari penumpang di sekitar Broadway, ia pun memutuskan parkir di depan sebuah hotel murahan di Brooklyn; yang tampak muka terlihat seperti wajah kuyu seorang penari telanjang saat pulang pagi. Dan hujan, sama sekali jauh dari bayangan romantis penyair Inggris abad pertengahan, menerpa dengan sengit kap depan taksi kuningnya.

Samar-samar, di samping pintu depan hotel, ia melihat seorang bocah lelaki berdiri dengan pandangan kosong. Mantel hujan dan tas ransel beroda di sampingnya, sama sekali tak mampu menyelamatkan wajah inosen bocah lelaki itu dari metafora menyedihkan: seperti patung tembaga yang telah berabad terabaikan–coklat, dingin, murung, dan abu-abu.

___________________________________

4. JOHN

New York City tak selalu menyeramkan, juga tak terlalu eksotis, buat seorang pengembara paruh baya yang terombang-ambing dalam rasa hampa eskistensialis era 50-an. John, sahabatku itu, adalah seorang penyair jenius menurutku, begitu terseret dalam pukau sihir lunatik Narcissus. Tak heran bila ia begitu bangga menyebut dirinya seorang asing di tengah kota yang juga asing. Saat aku menuliskan catatan ini, sempat terpikir olehku bahwa cekam rasa asing itulah yang membuatnya memilih New York City sebagai salah satu kota persinggahannya.

Aku berkenalan dengannya dalam suatu pameran lukisan karya para pelukis abstrak ekspresionis di The Museum of Modern Art (MoMA)—sebuah museum seni yang, gedungnya lebih mirip hotel bertingkat, terletak di Midtown Manhattan. Siang itu, awal musim semi, masih kuingat jelas dalam serabut kenanganku, ia terpaku di depan satu lukisan “tetesan cat” karya Jackson Pollock. Ronanya memancarkan kekaguman sekaligus kesedihan misterius. Berkacamata tebal, ia duduk terpaku selama hampir sepuluh menit di sebuah bangku panjang, tanpa bergerak sedikit pun, sekitar lima meter di hadapan lukisan cat minyak berjudul “One: Number 31, 1950”.

Saat itu aku merasa ia lebih mirip satu patung perunggu di sebuah taman tua yang mulai gerimis. Rautnya inosennya tak bisa sembunyi dari mataku, seolah memancarkan kepedihan mendalam yang hanya mungkin tertanggungkan oleh seorang pencuri api di bukit Olympus. Sekitar tiga meter dari samping kanannya aku berdiri dan mengamatinya beberapa saat. Aku memutuskan melangkah mendekatinya. Aku berkata dalam hati: “Patung perunggu yang hidup ini pastilah bisa jadi sahabatku.” Suatu keyakinan naif yang benar-benar tak pernah kusesali hingga saat ini.

Begitulah awalnya aku, seorang mahasiswa antropologi—sekaligus seorang suami dengan dua putri yang cantik—berusia tiga puluh satu tahun, terjebak dalam cinta segitiga yang kompleks. Aku mencintai seorang lelaki, sekaligus mencintai seorang perempuan yang kelak justru menjadi kekasih dari lelaki yang kucintai.

____________________________

5. UNTUKMU, YANG KELAK DAPAT MERASAKAN…

Terasa ada yang lembab saat mata saya menatap satu lukisan lanskap ekspresionis karya Vincent van Gogh, “Plain Near Auvers”. Betapa ajaib, sekaligus asing, saat terpikir oleh saya bagaimana van Gogh bisa melukis sebuah lanskap biru muda dengan begitu indah, begitu bergelora, begitu hidup pada pertengahan musim panas di sebuah desa terpencil di Prancis Selatan, tepatnya pada bulan Juli 1890, bulan saat kematian datang menjemputnya. Seolah ia dengan hari-harinya tersisa menyerap seluruh daya hidup dalam dirinya dan menuangkan “keajaiban” alam di atas kanvasnya.

Tatkala saya tengah menatap warna-warna cerah yang lembut begitu, serasa-rasa ada tangan gaib menarik saya masuk ke dalam lukisan itu, menuntun saya berjalan-jalan ke tengah bentangan ladang biru muda–seolah kami berjalan di permukaan laguna dengan batang-batang gandum dari kristal air berkilau di kiri-kanannya, terasa dingin saat tersentuh kulit. Mendadak terpikir oleh saya bahwa van Gogh tidak hanya sekadar melukis satu pemandangan ladang desa, tetapi ia telah melukiskan jiwa dari setiap lanskap, jiwa dari benda-benda, jiwanya sendiri.

Sungguh, dini hari begitu, saya seakan merasakan duka terdalam Vincent van Gogh tatkala ia selesai menggoreskan warna terakhir di atas kanvasnya. Memiringkan kepala, ia sedikit menarik sudut bibirnya, dan tersenyum. Menghela napas perlahan, menggosok sebelah daun telinganya dan, dengan mata yang menyiratkan kebahagiaan dan keikhlasan purna, ia menitikkan air mata. “Untukmu, yang kelak dapat merasakan jiwa dari lukisan ini—” demikian ia berbisik. Sebelum sunyi.

___________________________

6. MAK EROH, PEREMPUAN PENAKLUK PADAS

Perempuan paruh baya itu tak kenal R. A. Kartini, apalagi membaca surat-suratnya yang indah, yang kata-katanya mampu mengobarkan api perlawanan terhadap feodalisme dan kolonialisme di tanah Jawa–sebab ia, perempuan tua yang nekat melakukan sendiri perubahan bagi masyakatnya, memang sejak kecil sudah buta huruf. Orang-orang kampung menggelarinya Mak Eroh Perkasa (sebagian lagi menyebutnya gila); satu gelar yang dilatari perjuangan melawan kekeringan, yang, bahkan, akan membuat R. A. Kartini mencium punggung tangannya–bila saja pejuang emansipasi perempuan dari Jepara itu masih hidup hingga tahun 1988.

Kesal oleh kelembaman penduduk kampungnya yang bertahun-tahun hanya pasrah membiarkan tanah mereka dicekik kekeringan, Mak Eroh, janda dari Kampung Pasirkadu-Tasikmalaya, mengambil keputusan nekat melawan kemarau dengan cara yang paling gila. Ia berencana, usai membajak sepetak sawah tadah hujan warisan suaminya, akan memahat tebing batu setiap hari untuk menembus punggung delapan bukit di kaki Gunung Galunggung. Ia tahu, jika kelak ia berhasil membuat saluran air di punggung bukit-bukit itu, maka air Sungai Cilutung dari kampung tetangganya akan mengalir dan memadamkan kemarau yang bertahun-tahun telah melanda kampungnya.

Awalnya, ia menawarkan gagasannya itu kepada Pak Lurah. Namun, aparat desa yang lemah gemulai perangainya itu dengan mimik memelas menganggapnya sedang sakit panas, lalu memberinya sedikit uang untuk berobat ke puskesmas. Tak sudi menyerah, ia tawarkan lagi solusi cemerlang itu kepada lima tetangga lelakinya, yang berprofesi sebagai pemecah batu, dan mereka semua menganggapnya gila. Setelah itu Mak Eroh tak lagi berniat untuk meminta bantuan kepada siapapun. Berbekal peralatan warisan suaminya: cangkul, linggis, dan tali areuy (sejenis tali rotan); ia pun memulai rencana gilanya dengan membulatkan tekad sekeras buah kelapa.

Pada suatu siang, sedikit lewat terik tengah hari, ia bergantung di tali areuy yang diikat erat ke satu padas di puncak bukit, lalu mulai menghantamkan ujung linggisnya ke dinding tebing. Begitulah, dari hari ke hari, ia menghantam kutuk kekeringan di kampungnya. Satu setengah bulan kemudian, tebing padas sepanjang 45 meter itu pun berhasil ia tembus. Melihat kegigihan Mak Eroh, beberapa lelaki warga kampung yang semula mencibirnya mulai tergerak ikut membantu. Hingga suatu petang, setelah dua tahun enam bulan menghantam punggung delapan bukit sejauh 4,5 km, ia pun bisa menatap lega aliran air yang jatuh melewati sela-sela batu tak jauh dari belakang rumahnya. Itulah satu-satunya sumber air yang ada di kampungnya.

Dua tahun kemudian, kabar keperkasaan perempuan paruh baya dari satu kampung terpencil di Propinsi Jawa Barat itu, akhirnya mampir juga ke telinga Menteri Negara Lingkungan Hidup. Mak Eroh pun diundang ke Istana Negara di Jakarta untuk menerima penghargaan Kalpataru sebagai Pejuang Lingkungan Hidup. Setiba kembali di rumahnya, Mak Eroh hanya tersenyum menatap selembar sertifikat dan piala penghargaan Kalpataru yang baru diterimanya dari Presiden Soeharto. Sambil menatap piala Kalpataru yang bentuknya seperti akar pohon beringin, ia berpikir kenapa Bapak Presiden tak memberinya pompa mesin saja agar air sungai dapat mengalir lebih deras ke kampungnya. Ia tak dapat menemukan alasannya. Namun, sepasang mata hitam Mak Eroh memancarkan binar bahagia saat ia memandang pohon rambutan di halaman depan rumahnya mulai berbuah. Ia berpikir untuk berbagi beberapa ikat buah rambutan itu kepada tetangganya, para tukang batu yang pernah menganggapnya gila dan, tentu pula, kepada Pak Lurah yang baik hati serta lemah gemulai nyalinya.

Esok harinya, menjelang senja, bersama putri dan cucunya yang masih balita, ia berziarah ke makam suaminya. Pelan-pelan ia letakkan piala Kalpataru dan seikat buah rambutan di depan nisan suaminya. Diiringi suara jengkrik menyambut terbenamnya matahari, Mak Eroh menutup doanya dengan suara lirih sambil mengelus nisan suaminya: “Terima kasih, Akang… Terima kasih.” Sehembus angin menggoyang reranting pohon kamboja; berdesir lembut menyentuh kedua pelupuk matanya yang berkaca-kaca.

_____________
*) Ini adalah sinopsis cerita yang terinspirasi dari kisah nyata, meski hingga hari ini tak kunjung bisa saya tuliskan secara lengkap. Selain meraih penghargaan Kalpataru pada tahun 1988, Mak Eroh juga mendapat penghargaan dari Presiden Megawati tahun 2002, Menteri Peranan Wanita, PBB, Walhi dan Menteri Lingkungan Hidup. Pada tahun 2004 perempuan perkasa dari Pasirkadu-Tasikmalaya Propinsi Jawa Barat ini wafat. Sekarang namanya diusulkan oleh masyarakat menjadi nama satu jalan di Kabupaten Tasikmalaya.

_________________________

7. SUMBER

Ada senarai hari ketika beberapa sahabat bertanya tentang sumber asli dari tulisan-tulisan saya, dan terutama, terkait sejarah-sejarah “miring”, baik dari dalam atau apalagi dari luar Indonesia. Dengan berat hati, demi kebaikan bersama, tanpa bermaksud menyinggung kelembutan budi Tuan dan Puan semua, barang sesamar saya hanya bisa berkata, “Anggaplah saya sekedar menulis fiksi belaka, kebenarannya bukan terkait rantai verifikasi fakta, tetapi ada di dalam lubuk hati Anda.”

________________________
Cerita Mini ©2012 – 2014
________________________
*) Ahmad Yulden Erwin lahir di Bandarlampung, 15 Juli 1972. Ia telah menerbitkan kumpulan puisi “Perawi Tanpa Rumah” (2013), “Sabda Ruang” (2015), “Hara Semua Kata” (2018) “Perawi Tanpa Rumah (Edisi revisi, 2018), “Perawi Rempah” (5 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2018).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *