DUNIA JAWA DI MATA NH DINI: PANTULAN NOVEL TIRAI MENURUN


Djoko Saryono

/1/
Menurut NH Dini sendiri, selain novel Pada Sebuah Kapal, novel Tirai Menurun merupakan novel serius yang penting dalam kepengarangannya. Berbeda dengan novel Pada Sebuah Kapal yang mengisahberitakan dunia lintas-batas budaya di tengah hamparan pergaulan dan kehidupaan multinasional, novel Tirai Menurun mengisahberitakan dunia Jawa di tengah proses perubahan sosial budaya yang gencar-masif. Bisa dikatakan, novel Tirai Menurun adalah novel NH Dini yang paling kuat, tebal, dan kental menggambarkan dunia Jawa khususnya dunia wong cilik Jawa.

Dunia wong cilik Jawa dijadikan NH Dini sebagai ajang menceritakan perubahan sosial budaya Jawa di masyarakat Jawa. Di samping segi-segi sosial budaya Jawa yang lain, yang menurut saya amat menarik dari novel Tirai Menurun adalah gambaran dinamika perubahan nilai sosial budaya di kalangan wong cilik Jawa. Hal itu menyangkut nilai spiritual, filosofis, dan etis Jawa yang dihayati dan dipedomani oleh kalangan wong cilik Jawa.

/2/
Penghayatan ketaudihan, pengetahuan Kejawen, dan pemahaman keimanan adalah beberapa nilai spiritual Jawa yang tergambar kuat di dalam novel Tirai Menurun. Teks Tirai Menurun menampilkan nilai ketauhidan yang dihayati dan diikuti oleh orang-orang kecil Jawa. Beda dengan Pengakuan Pariyem, teks Tirai Menurun mengisahberita¬kan orang-orang kecil di lingkungan desa dan kesenian tradisional (orang-orang yang berkecimpung di dunia wayang wong) yang berada di luar pusat lingkaran konsentris Kerajaan Mataram Islam atau BJ pedalam¬an. Di samping itu, orang-orang kecil yang dikisah¬berita¬kan bukanlah pembantu sejenis Pariyem, melainkan orang-orang mandiri: Simbok, Pak Cokro, Pak dan Bu Carik Jayus, dan yang utama ¬Kedasih, Kintel, Sumirat, serta Wardoyo.

Pengha¬yatan dan pengamalan nilai ketauhidan dalam teks Tirai Menurun dapat diketahui dengan memperhatikan sikap dan perilaku tokoh-tokoh novel. Dengan sudut pandang diaan, pengarang teks Tirai Menurun memaparkan kesadar¬an tauhid zati (kemaha¬kuasaan Tuhan) Simbok Kedasih sebagai berikut: “Kedalaman lubuk hatinya mengetahui bahwa makanan bukan satu-satunya tiang kesejahteraan, karena kelanggengan yang mutlak tidak akan pernah akan ada. Yang dikhawatirkan adalah persediaan buat masa depan. Itulah pikiran yang juga dia warisi dari bapaknya Simbok, yang turun dari sifat-sifat kakeknya Simbok. Langsung di malam kesripahan, ketika mereka pulang dari kuburan, Sumirat turut duduk mende-ngarkan pembicaraan apa yang akan dikerjakan Simbok. Tiga generasi: neneknya Sumirat, Simbok dan Paman, dan Sumirat sendiri. Semuda itu dia daiajar bahwa kehidupan ditentukan oleh Gusti, tetapi diolah oleh akal dan rasa manusia sendiri. Menurut garis itu, di masa hidupnya, kakeknya Sumirat selalu berusaha mendapatkan hasil yang lebih dan yang lebih lagi. Perkataan usaha tidak pernah dilupakan di dalam pondok mereka. Bapaknya Sumirat menuruti ajaran itu pula” (TM:63)

Kesadaran tauhid zati tersebut lebih didasari oleh kesadaran purbani lubuk hati orang kecil dan kesadaran komunalitas dari desa yang jauh dari pusat budaya Jawa¬. Bukan didasari oleh kesadaran keberagamaan tertentu. Alam semesta¬lah dan tradisi lisan lebih mengajari kesadaran berketuhanan kepada Simbok Kedasih daripada pengetahuan rasional atau tarikat tertentu. Mereka tidak pernah mempelajari tarekat tertentu atau menjalani kehidupan asketis tertentu untuk memupuk kesadaran tauhid. Dalam teks Tirai Menurun dikatakan: “Meskipun sebagian besar dari masa bodoh dalam hal doa-doa agama, mereka semuanya menghargai kenduri dan selamatan¬. Dalam rundingan kemarin, mereka telah sepakat berhemat demi kepentingan yang masih hidup. Uang simpanan lebih berguna untuk kebutuhan lain-lain daripada buat tahlilan, uang selamatan serta makanan, suguhan atau berkatan”(TM:66).

Selain itu, dalam teks Tirai Menurun, ada pula kesadaran tauhid zati yang lebih didasari oleh pengetahuan kejawaan atau Kejawen. Di sini kesadaran tauhid berkembang berkat pengetahuan-pengetahuan kejawaan yang dihayati dan dipelajari. Kesadaran tauhid yang berpang¬kal pada Kejawen tersebut tentu saja merupakan akomodasi atau kompromi berbagai paham kepercayaan, mistisisme, agama primitif, dan agama Islam. Hal ini terlihat pada kesadaran tauhid yang dihayati dan atau diikuti oleh Pak Carik, Karso, Wardoyo, dan Kintel.

Teks Tirai Menurun menggambarkan hal tersebut sebagai berikut. “… Kalau seorang anak telah menemukan jalan kepercayaan¬nya pada umur sebegitu, Wardoyo yakin pasti bakal langgeng. Dia bergembira untuk anaknya. Dia sendiri masih seperti Pak Cokro, seperti Mas Tirto dan lain-lainnya yang menganut kawruh Jawa, menekuni kepercayaannya yang mantap terha¬dap Gusti. Walaupun dia tahu kebanyakan doa dalam bahasa Arab, dia mengucapkan apa yang dia rasakan dalam rohani¬nya dalam bahasa Jawa”. Ada pula gambaran begini: “Kini tergantung kepada kehendak Tuhan Yang Mahakuasa. Seperti kata Tirto, kita berasal dari tidak ada menjadi ada karena Yang Kuasa. Sekarang diusahakan berdirinya rom-bonga¬n anak wayang yang baru. Kalau Tuhan meridoinya, tentu berhasil. Sebaliknya, jika Dia mempunyai rencana lain, kita hanya bisa pasrah. Setidak-tidaknya kita sudah bergerak, berjuang menuruti naluriah kita” (TM:424).

Lebih lanjut dalam teks Tirai Menurun digambarkan begini: “Beberapa waktu berlalu, Wardoyo mencoba memusatkan perhatiannya ke layar kaca di atas rak buku. Televisi membe¬rikan siaran Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Mahaesa. Dia juga Maha Pemurah, kata Mirati. Dia tidak dapat dibohongi dan Dia melihat serta mengetahui ketidakrelaan Wardoyo saat itu. Saya malu dan saya minta maaf, Gusti, kata Wardoyo di dalam hati” (TM:434). Tokoh Kintel digambarkan mengatakan sebagai berikut: /”Tahu doa-doanya, Dik Kintel?”/”Doa bahasa Jawa, Mas. Tuhan juga mengerti bahasa Jawa, kok, “katanya. Kemudian dia menambahkan bahwa ketika masih berada di desa, dia juga berdoa begitu jika ternah yang dijaganya akan mempunyai anak. Wardoyo tertawa perlahan seorang diri’. (TM:196)

Petikan-petikan di atas juga menyiratkan bahwa kesadaran tauhid Pak Carik, Karso (Kintel), dan Wardoyo bercorak abangan. Maksudnya, ciri-ciri abangan tampak dalam kesadaran tauhid mereka. Orang-orang kecil yang berasal dari desa dan bergerak mempertahankan salah satu aspek BJ, yaitu wayang orang, wayang wong.

/3/
Teks Tirai Menurun tidak menggambarkan keimanan orang-orang kecil yang bermasa¬lah pelik-dilematis. Dalam teks tak tergambar sebuah dilema keiman¬an. Tetapi, sosok keimanan orang-orang kecil Jawa yang dalam kadar tertentu “sedikit bermasalah”. Keiman¬an orang-orang kecil di dalam teks ini digambar¬kan ti-dak kepada selain-Nya meskipun kemaksiatan dan kenistaan kadang-kadang mengotori keimanan itu. Tokoh utama dan tokoh sampinga¬n seperti Kedasih, Kintel, Sumirat, Wardoyo, Karso, Pak Jayus dan Bu Jayus dapat dikata¬kan memiliki keimanan yang monoteistis meskipun mereka tergolong pemeluk Kejawen atau abangan.

Bagi mereka, kejawen atau abangan ini tidak lebih jelek dan tidak lebih baik daripada Islam karena sama-sama memperc¬a¬yai dan menyem¬bah Gusti Allah. Sebagai sikap batin, aspek moralitas keimanan orang abangan juga tidak kalah dengan Islam. Disebutkan dalam teks Tirai Menurun sebagai berikut: “Pak dan Bu Carik Jayus mengagungkan hukum moral meskipun tidak sembahyang secara Islam. Mereka mengakui sendiri sebagai penganut abangan, tetapi memiliki garis kebajikan yang tidak kalah lurusnya dari ibadah-ibadah agama ajaran para kiai. Amal mereka juga besar, tidak terbatas lingkungan tertentu” (TM:241).

Demikian dikisahberitakan di dalam teks sebagai berikut:/”Sempat sembahyang, Nang?”, tanya Bu Carik/ “Sangat tidak teratur, Bu. Hanya kalau hari Jumat, sering kali mendapat kesempatan ke mesjid. Saya menjadi abangan, seperti Bapak,” sahut Karso sambil memandang ke arah Pak Carik./”Kalau bapakmu sama sekali tidak sembahyang. Hanya tirakatnya kuat. Setua sekarang itu dia tetap kuat puasa, kadang kala ngebleng empat puluh hari tidak makan nasi atau rempah-rempah” (TM:252). Petikan ini tampak memberikan citra positif dan baik aspek moralitas keimanan orang-orang abangan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa – dari segi keimanan – antara abangan dan Islam tidak perlu dipertentangkan. Teks Tirai Menurun tampak menegaskan bahwa abangan juga Islam sehingga apresiasi orang abangan kepada Islam juga baik. Di samping itu, abangan hanya merupakan fase keberagamaan manusia. Pada pada saatnya dan akhirnya akan bertransfor¬ma¬si menjadi Islam. Diungkapkan dalam teks begini: “ Bagi Wardoyo, kebangkitan Islam di tanah air akhir-akhir itu sangat mengesan¬kan. Dia perhatikan, di kalangan kaum muda banyak yang melaksanakan ibadah dengan ketekunan baru. Beberapa kali dia mendengarkan kotbah di radio. Umumnya sekarang menarik. Wawasan para pembicara itu jauh lebih terbuka. Lebih berisi sifat-sifat kemanusiaan dan toleransi tinggi terhadap orang-orang beragama lain. Hal ini sungguh amat menyenangkan bagi pendengar”.

Lebih lanjut, di dalam teks juga terdapat gambaran sebagai berikut: “/Di kalangan anggota Krido kini juga semakin banyak yang bersembahyang lima waktu. Bulan puasa tidak dilewat¬kan seperti dulu, melainkan diisi dengan pengendalian nafsu yang dapat ditiru. Meskipun di antara mereka juga tetap ada yang bermain kartu atau minum tuak, mengelompok di belakang tirai pada saat pertunjukan usai./ Wardoyo membuka kembali buku-bukunya mengenai Islam. Dia pelajari ulang apa yang dulu pernah dia ketahui. Dari perpustakaan di samping Krido bermain, dia meminjam buku-buku lain sebagai pelengkap. Supaya dia bisa lebih memahami lagi. Dan dia senang sekali ketika anak sulungnya dengan Sumirat menjalani lima waktu sehari. (TM:421)’. Transformasi keberislaman ini merupakan proses religiokultural yang dapat dialami oleh siapa saja. Apalagi oleh wong-wong cilik semacam Wardoyo.

Di dalam teks Tirai Menurun nilai keimanan digambarkan dalam sikap dan laku eling, awas, pracaya, dan mituhu. Berbagai tokoh digambark¬an mampu selalu eling, awas, pracaya, dan mituhu kepada Tuhan Yang Maha-esa. Eling paling dasar dan umum diwujudkan dengan rasa syukur dan te-rima kasih kepada Tuhan Yang Mahaesa secara terus-menerus. Diungkapkan dalam teks sebagai berikut:”Saya juga selalu berterima kasih kepada-Nya karena dibesar¬kan oleh Anda berdua,” kata Karso (TM:252)”. Di bagian lagi dikatakan begini: “Tidak hentinya ibu Sumirat mengingatkan anaknya supaya bersyukur kepada Gusti Yang Maha Pemurah, karena telah mempertemukan mereka dengan perempuan seperti Bu Usup” (TM:264).

Secara kelembagaan, eling juga bisa diwujudkan dengan ritus dan ritual atau ibadah, terutama shalat lima waktu. Hal ini jelas dari pelbagai petikan di atas. Kemudian pracaya dan mituhu diwujud¬kan antara lain dengan pengakuan kuasa Tuhan Yang Mahatung¬gal atau kemahakuasaan Tuhan atas segala yang dimiliki dan diterima manusia. Dengan sudut pandang diaan, di dalam teks hal ini digambarkan pada diri Bu Krijo dan Karso. Petikan berikut ini menggambarkan hal tersebut: “Bu Krijo menambahkan, bahwa soal mati, rezeki, dan jodoh, sudah ditakdirkan oleh Gusti. Tidak ada seorang pun yang bisa mengubahnya. Pendek kata, gadis-gadis itu harus berterima kasih kepada Tuhan kalau kelak mendapat pasang¬an hidup yang utuh, tidak cacat, dan tidak mempunyai kebiasan memukul” (TM:267).

Pada bagian lain teks dinyatakan demikian: “Di antaranya yang paling sering dia pikirkan ialah, konon manusia di dunia ini tidak dapat menghindari tiga ketentuan. Satu adalah datangnya kabegjan atau keberuntungan. Dua, bahwa manusia tidak mungkin mengelak jika tiba masanya bertemu dengan jodohnya. Dan yang ketiga, manusia tidak pula bisa menghindarkan diri dari pesti yang berarti datang¬nya kematiannya. Malam itu Karso tidak tahu mana dari ketiga ketentuan itu yang telah ataupun akan dia temukan.”

/4/
Teks Tirai Menurun mencoba menggambarkan ketakwaan orang-orang kecil desa yang berurbanisasi ke kota –terutama kota Semaran¬g. Tokoh-tokoh utama dan tokoh-tokoh samping¬an, yaitu Kedasih, Kintel, Sumirat, Wardoyo, Karso, Pak dan Bu Carik Jayus, Pak Cokro, Simbok, dan Yu Irah, adalah orang-orang abangan yang menyadari keabangannya, tetapi tetap menghar¬gai atau mengapre¬siasi tinggi Islam. Mereka bertakwa dalam arti menyadari atau merasakan keselaluhadiran Tuhan, merasakan perlindungan Tuhan, dan menerima segala ketetapan Tuhan.

Di dalam teks, dengan sudut pandang diaan, digambarkan bahwa Sim¬bok, misalnya, selalu merasa kedermawanan-Nya melalui kedermawan¬an bumi: “… ladang itu adalah sebagian dari bumi. Dan bumi bersifat pemberi. Simbok telah melihat bukti kedermawanannya” (TM:69). Demikian juga, dengan kebesaran jiwanya, Simbok merasa perlindungan Tuhan, takut akan murka Tuhan, dan merasa selalu optimis atas segenap anugerah Tuhan: ”Tidak, simbok tidak pernah mengeluh. Tuhan sangat melindungi keluarga Simbok meskipun Dia telah terlalu cepat mengambil suaminya. Barangkali suami itu pernah mempu¬nyai kesalahan besar di masa hidupnya sehingga hantu penjaga bukit perkebunan mengambilnya menjadi pembantu mereka. Kalau memang demikian, itu juga sudah kehendak Tuhan. Reze¬ki dan kehidup¬an baik di kota itu pun diberikan Tuhan kepada Simbok, sebab itu dia takut untuk menjadi rakus.” (TM:158).

Tokoh Karso, dengan sudut pandang diaan juga, di dalam teks digambar¬kan selalu berdoa sebagai wujud kesadaran akan keselaluhadiran Tuhan di dalam hidupnya. Meskipun demikian, sebagai abangan, doanya tidak sama dengan tuntunan agama Islam yang “murni”. Akan tetapi, hal ini tidak perlu dipersoalkan sebab yang penting dia mengerti. Digambarkan di dalam teks demikian: “Orang-orang tua yang membawanya bekerja di sawah juga memberitahukan doa-doa dengan bentuk lain, dan dia mengerti artinya sehingga mudah diingat sampai sekarang. Doa-doa itu terdiri dari campuran bahasa Jawa dan bahasa Arab, dileng-kapi serangkaian kata yang berisi suku kata berakhiran sama, amat enak didengar. Sebelum tidur, sebe lum makan, sebelum masuk ke sungai untuk mandi, ada doa-doa tersendiri.” (TM:184)

Tokoh-tokoh lain di dalam teks Tirai Menurun umumnya juga digambar¬kan selalu berusaha menerima ketetapan Tuhan dan menyadari keselaluha¬diran Tuhan dalam segenap hidup dan kehidupan mereka. Meskipun demikian, ketakwaan ini tidak dapat dikatakan konsisten sebab tindakan, perbuatan, dan perilaku mereka sering tidak mencerminkan budi luhur. Meskipun ada, ketakwa¬an yang berwujud pengembangan budi luhur, luhuring pambudi, tidak begitu tampak pada tokoh-tokoh di dalam teks Tirai Menurun. Memang, ada beberapa tokoh utama dan sampingan, misalnya Simbok, Pak dan Bu Jayus, Pak Cokro, dan Wardoyo, yang digambarkan berusaha mengem¬bang¬kan budi luhur.

Namun, pada umumnya tokoh-tokoh sampingan Tirai Menurun yang sebagian besar awak wayang orang digambar¬kan oleh pengarang abai terhadap budi luhur. Dalam teks, hal ini terlihat pada perbuatan dan perilaku yang tergolong maksiat dan nista, misalnya berjudi, bermain perempuan, dan penyeleweng¬an. Ini bisa dianggap suatu bentuk ketidakserasian ucapan atau batin mereka dengan tindakan atau perilaku mereka. Walaupun demikian, hal ini dapat juga dipahami sebagai suatu wujud problematik ketakwaan di kalangan orang-orang kecil yang wawasan dan kesadaran religiositasnya kurang bisa terangkat oleh perkembangan ekonomi, sosial, dan pendidikan.

/5/
Nilai keutamaan manusia Jawa bermakna kemampuan dan kesanggup¬an manusia Jawa untuk tidak merugikan dan menyusahkan siapa pun dan apa pun. Menurut Serat Dewaruci, keutamaan dicirikan oleh pengabdian dan pengorbanan secara sungguh-sungguh, tanpa bertanya, seperti Bima atau Wrekudara. Demikian juga di dalam Serat Tripama disebutkan bahwa keutama¬an berarti pengor¬banan total sebagai¬mana dilakukan oleh Patih Suwondo, Kumbokarna, dan Adipati Karna. Secara umum, keutamaan dicirikan oleh kesukaan mengheningkan cipta, kesucian jiwa, kebersihan hati, kebenaran bertutur dan berlaku, kemampu¬an merawat diri, dan kelihaian memikat-menyenang¬kan hati sesama. Dalam bahasa Jawa hal ini tertuang dalam konsep — antara lain — amasuh budi, mulat sarira, susila anoraga, menep, rila, nrima, temen, dan sabar.

Oleh N.H. Dini, di dalam teks Tirai Menurun, semua itu disebut kehalusan budi dan kebajikan sifat dan sikap manusia. Lebih lanjut, diungkapkan oleh Dini bahwa keutamaan relatif penting dalam BJ. Orang-orang yang berbuat maksiat dan nista, misalnya berjudi dan bermain perempuan, bukan orang yang utama karena tidak memiliki kehalusan budi dan kebajikan. Dalam teks Tirai Menurun, pada waktu menggambar-kan sifat dan perilaku awak wayang orang yang senang berjudi dan bermain perempuan setelah pertunjuk-an selesai, pengarang menyatakan demikian. “Ternyata hidup di malam hari tidak banyak memberi tempat kepada kehalusan budi dan kebajikan dalam sifat maupun sikap yang dalam filsafat Jawa disebut kauta¬man.” (TM:93

Dalam teks Tirai Menurun, nilai keutamaan dipersonifikasikan di dalam diri Wardoyo. Wardoyo digmbarkan sebagai citra manusia utama dari kalangan orang kecil menurut pandangan tradisi Jawa. Orang yang benar-benar mulat sarira, penuh pengabdian dan pengorbanan, dan mengembangkan budi luhur antara lain dalam wujud ora milikan (sebab milik nggendong lali), roso syukur, roso mapan, ora mata duiten, dan ora ma-lima. Sebagai awak wayang orang, Wardoyo digambar¬kan tidak suka berjudi dan main perempuan, tetapi senang tirakat.” (TM:93¬).

Dalam perspektif pengetahuan Jawa, Wardoyo tidak pernah melang¬gar pan¬tangan mo-lima, yaitu madat, madon, main, maling, minum. Wawasan¬nya luas dan tergolong intelek. “Wardoyo bukan semba¬rang anak wayang. Dan dia bangga menjadi anak wayang intelek, pernah mengecap bangku MULO hampir tamat. Asahan jiwa dan otak telah dia peroleh dari guru asing maupun Jawa, dari buku-buku tulisan Latin dan Jawa — bahkan Melayu Arab gundul pun …” (TM:288). Kawruh Jawa dikuasainya dengan baik. “Gamelan, wayang, fisafat sudah mendarang daging, mendasari setiap gerak dan setiap ucapan. Batin maupun lahir” (TM:315). Pengabdian dan pengorbanannya untuk melestarikan budaya Jawa khususnya wayang orang total dan habis-habisan (TM:315).

Meskipun orang kecil yang tidak kaya, dia tidak membiarkan diri terjerat oleh keinginan material. Dengan penuh idealisme, baginya persaudaraan dan kehangatan antarmanu¬sia jauh lebih penting daripada kekayaan material. “Wardoyo memang tidak berbakat mencari kekayaan. Nilai sesuatu hasil kerja atau perbuatan tidak selalu harus dibayar atau diimbali dengan benda maupun uang” (TM:289). Prahara rumah tangga dihadapi dengan sabar, tabah, dan penuh hikmat. Kesusahan dan kebutuh¬an material teman-teman sesama awak wayang orang dibantu diatasinya (TM:395). Dalam keadaan hidup seperti tersebut, ” Wardoyo merasa amat bersyukur … merasakan kemapanan …” (TM:395¬). Semua itu menunjukkan keutamaan diri Wardoyo. Jadi, dengan sifat, sikap, dan perilaku yang disandangnya, Wardoyo menjadi contoh citra manusia utama Jawa yang masih konservatif di tengah-tengah ¬berbagai perubah¬an sosial, budaya, ekonomi, dan politik.
***

[Eyang Putri NH Dini memiliki tanggal kelahiran sangat istimewa. Jatuh pada tahun kabisat: 29 februari -yang hanya ada empat tahun sekali. Tegasnya, kita hanya bisa merayakan ultah NH Dini empat tahun sekali. Sebab itu, patut kita rayakan dengan memberikan macam-macam hadiah atau penghargaan, dan ini semacam hadiah bagi Eyang Putri NH Dini dalam ultahnya ke-84 tahun. Dan dari esai tentang Novel Tirai Menurun di atas, kita tahu bahwa kejawaan NH Dini sangat kental sekaligus tebal, meskipun dia seorang pelintas-batas budaya]

Catatan terkait: http://sastra-indonesia.com/2020/03/cerita-nh-dini-sebagai-teks-autoetnografis/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *