PETANG HARI PERTELON SUKOWIDI

Taufiq Wr. Hidayat *

Sebelum memasuki kota Banyuwangi, dari arah utara, kau akan dicegat lampu merah di pertelon jalan. Menoleh ke kiri, tepat di pertelon itu, tumbuhlah pohon beringin jenis benjamina. Pohon itu tak begitu tua. Tapi setidaknya ia telah berusia 30 tahunan. Cukup untuk menyusun sebuntal kenangan. Pohon beringin itu telah berkali-kali dipangkas, berkali-kali tumbuh lagi, bermusim-musim menjadi saksi siapa pun yang pernah lewat di pertelon Sukowidi, pertelon jalan yang tak mungkin dipisahkan dari kota Banyuwangi. Pertelon Sukowidi itu seolah gerbang memasuki kota Banyuwangi dari arah utara.

Lurus melewati lampu merah, sebuah jembatan. Wilayah itu disebut Kanalan. Entah bagaimana muasalnya. Mungkin di situ dulu terdapat kanal-kanal. Lingkungan kecil di Kelurahan Lateng. Ada toko kelontong orang China. Toko jamu, busana, dan warung sate orang Arab. Pemakaman dekat sungai. Dan pohon mangga yang tua. Ketika petang datang, orang-orang hidup melihat lampu-lampu kota. Ada yang berjualan bawang ke pasar Banyuwangi ketika subuh hari. Jalan lurus yang bercabang. Trotoar yang ramai pada siang hari.

Tikungan di pertelon Sukowidi dari arah barat itu seringkali memakan korban. Seruas jalan yang menurun tajam, tepat di ujung turunan, menikung mendadak. Beberapa kali truk besar tak sanggup menikung, atau remnya blong. Terjadilah kecelakaan. Kemudian ke barat pertelon Sukowidi, berbeloklah ke kanan sebelum rel. Kau akan bertemu sebuah stasiun kereta kecil, bersih, dan berdiri sendiri di antara sawah dan kebun. Ketika senja, matahari menyinari atap stasiun itu. Itulah Stasiun Argopuro, Klatak, Kalipuro. Digunakan sekitar 1985. Ia punya dua jalur lurus. Ia masih memasukkan penumpang. Namun kereta api yang lewat hanya satu, yakni kereta api Pandanwangi. Usia stasiun Argopuro sangat cukup menyusun kenangan dalam ingatan seseorang. Senja yang memerah akan tiba pada atap stasiun kecil yang indah itu, serasa kita ingin berumah di sana. Begitu tatkala pagi, cahaya pagi menyiram halamannya yang kecil, yang menyimpan kenangan entah siapa. Di situ, orang masih melakukan perjalanan.

Ingatan yang disusun oleh pikiran selalu menghanyutkan. Ada “yang pernah ada” atau “yang pernah terjadi”. Seringkali “yang pernah terjadi” itu begitu bersih tak bernoda. Orang akan memaklumkan tiap dosa di masa lalu, ketika pada hari ini ia mengalami kehilangan. Barangkali bagi Derrida, meski tak ada yang boleh dilupakan, tak boleh ingat digusur oleh lupa, bukan berarti yang lalu tak boleh dimaafkan dan dimintakan maaf. Melainkan keadilan—seabsurd apa pun itu, tetap harus ditegakkan dalam kehidupan manusia sekuat tenaga. Lantaran ia menjadi ukuran kekokohan kemanusiaan pada hari ini, pada hari-hari yang akan datang. Dan manusia melanjutkan hidupnya. Ada orang menyebut kenangan. Kenangan tak lain “yang pernah terjadi” sebagai realitas, namun tak lagi memiliki eksistensi pada realitas hari ini. Ia hanya hidup dalam ingatan, di mana pikiran merangkainya bersama kehendak manusia, menjelma rangkaian yang menakjubkan seolah tak tergantikan. Ia boleh jadi sebentuk narasi kelam, sakit hati, kehancuran, atau sepenuhnya kegelapan. Atau boleh jadi, pikiran merangkainya dalam ingatan manusia berupa gerimis, malam, seulas senyum, dan sepucuk surat yang harum. Bagi Freud, represi tak akan utuh. Tetapi ia datang kembali tatkala lembar kesadaran seseorang tengah menurun. Ia akan menjelma mimpi atau igauan yang merupakan gambaran acak sebagai penafsiran atau pemaknaan yang polos terhadap represi. Dan kenyataan aktual, tak pernah bisa dibentuk pikiran sebagaimana ia menyusun realitas “yang pernah ada/terjadi” dalam ingatannya. Lantaran kenangan tak memiliki eksistensi pada hari ini. Sedangkan kenyataan hari ini, memegang eksistensi sebagaimana adanya. Ia tak dapat diotak-atik semau-maunya. Tetapi kehendak manusia, selalu mendorong atau bekerjasama dengan pikiran untuk merealitas-hari-inikan kenangan sebagai kenyataan yang tanpa eksistensi dalam diri manusia itu. Di sinilah, kesadaran kemanusiaan sesungguhnya menjadi penting untuk ditegakkan, agar ia tak ditelan masa lalu yang hanya menyimpan sakit hati, atau romantika cengeng yang mengharu-haru. Bagi Nietzsche, kenyataan senantiasa menggoda untuk disentuh dan dielus, dikuasai sepuas-puasnya. Ia terlampau seksi hanya sekadar disaksikan. Akan tetapi manusia tak bisa menunggu sambil memohon kenyataan menanggalkan pakaian, lalu ia dapat menggagahinya dengan sepenuh kehendak. Kenyataan tak dapat dimiliki secara mutlak. Tetapi kehendak dan pikiran manusia yang diliputi masa lalu, rasanya enggan menerima kenyataan yang eksistensial tersebut. Kehendak dan pikiran terus menerus bekerjasama supaya narasi dari masa lalu mewujud, sehingga dapat dinikmati sebagai kenikmatan empiris. Namun ia telah tertinggal. Ketertinggalannya entah di mana. Kenyataan yang dimasuki manusia, tak terjamah. Ia tak tahu bagaimana tiba-tiba masuk dalam kenyataan, dan bagaimana ia menemukan jalan keluar. Dan pada “yang telah berlalu”, seyogianya manusia berhikmat, mencoba mengenali dirinya pada kenyataan hari ini, atau menatap apa yang akan datang.

Di situ dulu, di Sukowidi itu, saya punya seorang kawan. Dia wartawan lokal. Menulis puisi, meski tak produktif. Pencinta musik blues. Ia hidup sendiri. Berjalan pincang karena cacat lahir. Berambut panjang. Ia hidup dalam kemelaratan di sebuah kota yang kian hari kian tak punya tempat bagi orang-orang melarat. Selain hanya sebentang rimba. Kemiskinan hanyalah olok-olok, cuma alat untuk mencari sponsor dan popularitas. Kawan penyair itu telah meninggal dalam kemiskinan. Alangkah sosok seorang manusia sungguh tak tergantikan. Bagi Ibn Arabi, Tuhan—walau tentu maha semau-mau-Nya, tidak pernah mengulangi “penampakan-Nya” pada makhluk yang bernama manusia. Kita pun tahu—pelan atau cepat menyadari, ketika seorang manusia pergi, seburuk atau sebaik apa pun ia—ada bahasa yang juga telah pergi bersamanya entah ke mana. Atau ada khasanah yang tak mungkin ditemukan kembali, lenyap dari dunia. Kawan penyair itu pernah menulis puisi perihal Sukowidi pada petang hari. Baginya, Sukowidi seolah 12 bar chord blues, dengan tempo kecemasan. Chord mayor yang selalu digelayuti minor. Ia mengungkai kesendirian. Melungsurkan tanya. Kesepian. Keterasingan. Ketika petang, katanya. Sukowidi menerima kembali kepulangannya dalam keadaan kalah dari kesehari-harian, dengan hati yang telah babak-belur dihantam kenyataan.

Dan di pertelon Sukowidi, lampu menyala ketika petang datang. Pada suatu petang, gerimis jatuh di situ. Kendaraan dari luar kota, datang berjejal di lampu merah. Mau masuk kota. Sedang dari arah selatan, kendaraan-kendaraan melaju, berjubal mau keluar dari kota. Orang-orang datang dan pergi. Ada yang telah terjadi, tengah terjadi, akan terjadi. Peristiwa dan perlintasan silih berganti. Musim-musim hinggap pada dahan pohon beringin di pertelon Sukowidi. Di situ, mungkin pernah ada orang berteduh entah siapa, di bawah pohonnya yang rindang. Menunggu tak tahu apa. Sementara kota Banyuwangi tumbuh, terus tumbuh. Orang-orang datang membawa semen, menanam hotel mewah, dan membawa alat-alat berat untuk menambang emas. Sedang penguasa tertawa bersama pesta-pestanya yang terjadwal rapi dalam aneka perayaan-perayaan sepanjang tahun. Apa pun yang sampai padamu dari para penguasa itu, hanyalah gincu!

Sukowidi, 2020.

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *