Membaca Novel Kambing & Hujan


Fatah Anshori *

Resolusi membaca saya tahun ini adalah buku-buku yang memenangkan penghargaan. Salah satunya buku yang memenangkan Sayembara Menulis Novel DKJ. Atau jika ada buku bagus lain yang merupakan rekomendasi dari penulis-penulis besar, saya tidak keberatan untuk membacanya.

Kebetulan sekali Kambing & Hujan novel pemenang Sayembara Menulis Novel DKJ 2014, saya dapatkan dengan cuma-cuma. Buku itu nangkring di Perpustakaan Umum Kabupaten Lamongan, disertai dengan tanda tangan penulisnya juga. Tentu saja itu rasanya seperti permen nano nano. Hehe

Maaf kebiasaan buruk saya terbawa lagi, suka melipir kemana-mana. Baiklah mari kita bicarakan seperti apa novel pemenang sayembara itu. Apakah memang benar-benar bagus dan enak dibaca. Setelah saya membaca habis novel ini. Menurut saya tidak hanya itu saja. Mungkin itu seperti makanan yang tidak membuat kita enek saat kita sedang memakannya. Dan rasanya ingin membaca lagi dan membaca lagi.

Dan Brown juga pernah memikirkan bagaimana membuat para pembaca tidak pernah bosan membaca sebuah buku. Dan sepertinya di novel Kambing & Hujan ini saya seperti merasakan tidak mau berhenti membaca buku ini. Sejak awal saya rasa Mahfud Ikhwan sudah berhasil menyelipkan penasaran di kepala para pembacanya, termasuk saya.

Novel ini menurut saya mempunyai Point of View (POV) yang unik. Pertama ini di kisahkan oleh orang ketiga yang sok tahu dan tidak terjun dalam cerita itu sendiri. Selanjutnya setelah agak lebih dalam kita akan menemukan tokoh di dalam novel ini berubah menjadi narator. Pada awalnya saya mengira novel ini serupa novel Saman yang memiliki lebih dari satu POV namun dalam novel Ayu Utami itu, yang menjadi narator adalah tokoh-tokohnya sendiri. Sementara disini tidak. Mugkin ini yang di maksud novel adalah seni, tidak ada batasan didalamnya.

Seperti yang saya sebut tadi, novel ini sangat bergizi. Cerita-cerita di dalamnya bermula ketika Mif anak dari imam besar masjid utara yang merupakan Islam Modern menyatakan keinginannya untuk menikah dengan perempuan idamannya, Fauzia anak dari imam besar masjid selatan yang merupakan Islam Tradisional. Dimana nanti keduanya akan memperjuangkan cinta ditengah perbedaan dua organisasi besar yang menyimpan masalalu yang suram. Namun keduanya tetap saling berjuang meski jalan yang dilalui mereka tampak buntu. Akhirnya mereka mau tidak mau harus mengurai benang kusut itu untuk menemukan harapan yang sedang mereka perjuangkan.

Selanjutnya kita akan dibawa berjalan kesana kemari dan seolah disuguhi cerita yang di pecah-pecah. Itu seperti kita di ajak menuju kota, namun di setiap perjalanannya kita di ajak berhenti sejenak, bahkan tidak jarang kita juga akan diajak berbelok, menyimpang, memutar, sehingga cerita yang seharusnya pendek akan memanjang. Namun tetap menyenangkan. Di sini saya seolah melihat Mahfud Ikhwan sebagai pemandu wisata yang menyenangkan.

Novel ini sebenarnya sangat serius, menyangkut perbedaan pandangan antara dua organisasi besar Islam di Indonesia. Yang diseret ke sebuah perkampungan kecil bernama Tegal Centong. Disinilah keseluruhan cerita berlangsung, kita akan menemukan kearifan lokal Jawa Timur-an khususnya Lamongan-Tuban.

_____________________
*) Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Novel pertamanya “Ilalang di Kemarau Panjang” (2015), dan buku kumpulan puisinya “Hujan yang Hendak Menyalakan Api” (2018). Salah satu cerpennya terpilih sebagai Cerpen Unggulan Litera.co.id 2018, dan tulisanya termuat di Sastra-Indonesia.com sedang blog pribadinya fatahanshori.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *