Membaca Ritus Khayali


Fatah Anshori *

masih selalu kunanti, wangi/ senyap tubuhmu yang sedikit mencuat/ sebagai ziarah ritus sunyi khayali/ yang makin digandrungi tukang sajak. (Ritus Khayali, hlm. 28)

Ritus Khayali adalah buku kumpulan puisi tunggal Astrajingga Asmasubrata yang ditulis dalam rentang waktu 2015 – 2016, sebelum menerbitkan buku kumpulan puisi terbarunya, Miryam. Dalam buku Ritus Khayali terhimpun 92 puisi Astrajingga yang tampaknya sebagian besar berbicara tentang kesunyian, kesedihan, kemuraman yang sepertinya memiliki konotasi sama antara satu dengan yang lain, yakni sebuah keadaan yang tidak menyenangkan. Meski begitu sebagaimana dikatakan Rendy Jean Satria, dalam membacakan puisi-puisinya, Astrajingga selalu tampa enerjik, semangat dan penuh improvisasi. Seakan-akan dari itu kita tahu Astrajingga tidak pernah tenggelam dalam kesunyian di puisi-puisinya.

Beberapa puisi Astrajingga yang membicarakan kesedihan ditunjukkan dalam puisi yang berjudul Antara; dengan apa atau karena/ yang bagaimana: ini kesedihan/ kuhadapi tanpa Sedih?/ dalam puisi tersebut tampak seolah aku lirik ingin sekali keluar dari kesedihan yang telah datang kepadanya sebagai suatu kesusahan yang nyata. Dan ia telah berusaha menghadapi dengan tidak hanya diam, aku lirik berupaya untuk bertanya, meski ia tahu jawaban belum tentu datang dengan mudah. Sebuah kesedihan memang selalu datang tanpa pernah diharapkan, ia datang tiba-tiba, dan hanya atau memang selalu menghadirkan kesusahan, namun adakah sebuah cara untuk menghadapinya tanpa tanpa kita merasa sedih atau terbebani? Seolah itu menjadi pertanyaan bagi setiap orang yang pernah mengalami kesedihan.

Di buku ini kesunyian seakan ditunjukkan memiliki berbagai bentuk, warna, bahkan juga aroma. Kesunyian seperti suatu benda nyata yang bisa dipegang dan kita mainkan sesuka hati. Sehingga kita merasa tak ada suatu kejanggalan di sana. Tapi dalam kenyataannya, sunyi adalah sesuatu yang abstrak dan relatif, tak ada keadaan yang tepat untuk menggambarkannya, barangkali untuk sebagian orang yang mencintai keramaian tentu kesunyian adalah suatu keadaan yang sangat tidak diharapkan dan mungkin menakutkan. Namun apakah selalu seperti itu? apakah kesunyian selalu menakutkan, berwarna hitam, berbau anyir, dan tidak terlalu dibutuhkan?

Dalam buku Ritus Khayali, seolah kesunyian adalah segalanya. Kita bisa tenggelam ke dalam jurang yang sangat dalam, tak memilik dasar, dan sangat mengerikan. Di satu sisi kita juga akan dibuat merindukan kesunyian sebagaimana kesunyian yang menenangkan, menentramkan, dan membuat kita betah berlama-lama di sana. Selanjutnya jika kita sudah terbiasa, kesuanyian bisa menjadi hal yang lumrah yang setiap hari selalu kita lihat dan rayakan.

Seperti dalam puisi Wilayah Tak Bernama Tak Ada Dalam Peta; di wilayah yang entah ini, langkahku kehilangan jejaknya. aku seolah/ tapi tak seolah dibekap kesunyian yang amat jahanam, bahkan/ ketika bayangan perempuan silam melintas aku tak mampu/ menyebut nama atau melambaikan kisah-kisah buram. Di puisi tersebut kita seolah tahu, saat aku lirik sedang berada dalam suatu tempat yang asing, bahkan sebuah langkah juga kehilangan jejaknya. Aku lirik seperti merasa atau tidak merasa, kesunyian tiba-tiba datang dan membekap, memeluk erat si aku lirik. Namun kesunyian di sini tak memiliki konotasi kesunyian yang menyenangkan, sebaliknya kesunyian diartikan sebagai sebuah bencana yang tidak diharapakan kedatangannya. Kesunyian yang datang itu hanya membuat si aku lirik semakin susah. Ketika membaca larik ketika bayangan perempuan silam melintas, aku lirik tak mampu melakukan apapun meski hanya sekedar menyebutkan sebuah nama atau sekedar melupakan suatu kisah tidak menyenangkan. Dan itu ditegaskan dengan umpatan ‘jahanam’ oleh aku lirik ketika kesunyian datang membekapnya.

Selanjutnya dalam puisi Sekedar Braga yang Bernyawa; jejak masa silam malih menjadi bangkai/ sementara sepi dengan kukunya tajam/ mencengkeram hatiku seerat tambang/ pada sekibar bendera di tiang pancang./ kita kembali menemui sunyi yang menakutkan, meski dalam penggalan sajak tersebut penyair lebih memilih menggunakan diksi ‘sepi’ dari pada ‘sunyi’. Pada akhirnya sepi dan sunyi memiliki arti harfiah yang hampir sama, tidak ada bunyi atau suara apapun; hening; senyap. Dan dalam sajak Sekedar Braga yang Bernyawa, penyair kembali menggambarkan kesepian atau kesunyian yang menyakitkan, kesunyian yang memiliki kuku-kuku tajam untuk mencengkeram erat. Tentunya bisa dibayangkan kesunyian macam apa yang memiliki kuku-kuku tajam.

Sementara dalam puisi Sajak Mabuk seperti ada warna berbeda dalam penggambaran penyair terhadap kesunyian. Ini bukan kesunyian seperti dalam dua puisi sebelumnya. berikut saya kutip beberapa larik: aku takjub pada mereka/ yang berkhidmat dalam kesunyian/ kadang aku menginginkan/ bisa juga ambil bagian/ walau cuma di tepi-tepi malam/ dari beberapa larik puisi dalam Sajak Mabuk ini, saya rasa jelas sekali ada sebuah kerinduan untuk masuk ke dalam kesunyian, berkhidmat atau menakzimi kesunyian itu sendiri, seakan kesunyian adalah sesuatu yang memiliki segalanya sehingga membuat aku lirik takjub, terpesona dan berhasrat untuk memilikinya. Saya berasumsi dalam puisi ini kesunyian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, tapi sebaliknya. Dan sebagaimana umumnya sesuatu yang selalu diinginkan adalah sesuatu yang baik, sesuatu yang menyenangkan, sangat berharga, sehingga dalam sajak tersebut aku lirik tetap sangat menginginkannya meski hanya di tepi-tepi malam yang barangkali memiliki konotasi yanga amat sedikit jumlahnya.

Kondisi kesunyian yang seperti dalam puisi Sajak Mabuk, seolah ditegaskan lagi dalam puisi Ritus Khayali; masih selalu kunanti, wangi/ senyap tubuhmu yang sedikit mencuat/ sebagai ziarah ritus sunyi khayali/ yang makin digandrungi tukang sajak/ di puisi ini kesunyian seakan selalu menjadi sesuatu yang amat dirindukan, meski datangnya dalam bentuk lain, semacam kenangan yang samar dan masih abstrak, belum berbentuk. Namun aku lirik seolah telah menjadikan kesunyian yang abstrak itu menjadi sesuatu yang konkret dan bahkan ia ingin menakziminya sebagai sebuah ritus atau upacara suci kesunyian yang tertata, meski itu hanya sebuah utopia yang belum jadi nyata. Sesuatu itu telah menjadi candu sehingga barangkali batasan antara abstrak dan konkret  telah memudar dan menjadi samar-samar. Sebagaimana kita tahu sesuatu yang telah menjadi candu—entah itu baik atau buruk—sudah tentu selalu dinanti, dirindukan, dan amat dibutuhkan. Seakan-akan si pecandu tak akan bisa hidup jika tak mendapatkannya.

Namun bagaimana jika kesunyian itu datang berkali-kali, di puisi Aforisme, seolah peristiwa itu telah ditegaskan. Dalam larik; “Selamat sunyi, penyair!” seperti ingin menunjukkan bahwa kesunyian juga pantas untuk dirayakan sebagai sesuatu yang lumrah. Sebagaimana ucapan selamat lainnya, yang diucapkan dengan intonasi yang ramah dan bersahaja. Sehingga di sini kata ‘sunyi’ seolah memiliki konotasi sebuah kondisi yang tak perlu disesali–bukan sebuah fenomena atau tragedi–hanya perlu dirayakan sebagaimana kondisi sehari-hari, semacam ibadah yang telah menjadi kebiasaan. Sebagaimana disebutkan Rendy Jean Satria dalam epilog untuk buku Ritus Khayali, mengatakan bahwa dalam kesunyian yang seakan-akan abadi. Satu-satunya kesempatan untuk keluar dari kegelisahan itu, adalah dengan cara untuk menghadapinya bagai seorang satria kelana yang membawa pedang di atas kuda putih. Sepertinya itulah upaya yang sudah berhasil dilakukan penyair dalam menyikapi kesunyian yang datang berkali-kali padanya. Ia tidak pernah lari, memungkiri, atau mengabaikan. Tapi sebaliknya ia peluk kesunyian-kesunyian itu sekaligus merasakan suka serta duka lara yang dibawa olehnya, sehingga kesunyian yang datang seperti memiliki warna-warna yang meriah.

Terlepas dari itu semua di dalam buku puisi Ritus Khayali, seperti nampak sekali usaha Astrajingga untuk mengeksplorasi puisi-puisinya, dengan cara mencari tubuh yang pas dengan berkunjung ke puisi-puisi penyair pendahulunya, membacanya, mengolahnya menjadi puisi orisinal miliknya, dan pencarian itu seolah belum berhenti. Sehingga di sana-sini akan kita temukan diksi-diksi, juga gaya ucap yang kerap kita jumpai pada penyair-penyair tanah air seperti, Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, dan Afrizal Malna (sejauh yang saya tahu hanya tiga nama itu yang bisa saya tangkap). Meski saya yakin Astrajingga Asmasubrata sebagai penyair kontemporer telah banyak sowan ke puisi-puisi penyair-penyair tanah air maupun mancanegara. Barangkali seperti itulah seorang pembelajar sejati, ia seperti musafir yang terus berkelana tanpa mengenal lelah mengarungi luasnya hamparan bumi yang entah seberapa luasnya.

Sekali lagi membaca Ritus Khayali, tidak hanya tentang sunyi yang kelam dan menakutkan, lebih dari itu Ritus Khayali mengajak kita untuk menyelami dan tersesat di kesunyian-kesunyian yang multitafsir.
***

______________________
*) Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Belajar menulis sejak pertengahan 2014, dan novel pertamanya “Ilalang di Kemarau Panjang” (2015), dll. Website: fatahanshori.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *