Puisi-Puisi Abi N. Bayan

Mereka Bukan Tentara, tapi Mereka Berpangkat

Anak-anak kecil itu
telah mengangkat senjata
memerangi segala yang berangkat
senjata mereka adalah bambu yang pelurunya
mereka buat dari buah pepaya, gora, dan daging kelapa.

Di atas tanah merah, kerikil
batu hitam, dan batu rijang
di kaki gunung
di bawah pohon sagu
kelapa goji, dan pohon pala

di bibir sungai, dan paka-paka ombak
di antara alang-alang, dan loloro
setiap hari mereka berperang:
saling mengejar, saling menembak,
tapi mereka tak pernah saling membunuh.

Sebab yang mereka inginkan
bukan kemenangan atau kemerdekaan
mereka hanya menginginkan kehidupan
dan yang mereka perangi adalah hari depan
hari yang akan membunuh kebiasaan mereka.

Kini anak-anak itu telah mati tanpa nisan,
tak tahu siapa yang akan menghidupkannya.

Morotai, 2020.

Piring Buatmu

Aku ingin menjadi piring buatmu
bila sehabis makan———kau lelah
letakkan aku di tiris-tiris rumah tua itu
biarkan hujan yang membersihkan tubuhku
atau letakkan saja aku di bibir pantai berteluk itu
biarkan pasang mengambilku, dan membawaku ke laut
lalu saksikanlah berapa banyak ikan yang saling merebut
sisa-sisa makananmu yang kau tinggalkan di sekujur tubuhku.

Morotai, 2019.

Kembali ke Madrasah
—Firzi Nurdin

Bila esok
kau tak melihat lagi
anak-anak itu duduk
melingkar di taman
menjelajahi lautan
di lipatan buku-buku

atau kau
tak mendengar lagi
puisi dan suara kultum
menggema—
menderu di taman itu

datanglah
ke teras rumah
yang pernah kita duduk
yang di dalamnya
kau pernah berdiri
sebagai seseorang
yang dipanggil guru

aku telah mengajak
mereka kembali, ke
Madrasah yang aku percaya, kelak
akan jadi mimbar dari segala mimbar
perpusatakaan dari segala perpustakaan.

Aku yakin,
di Diniyah,
mereka akan tumbuh,
mekar, merdeka, dan berbuah.

Morotai, 2019.

Di Kota Tua

Di bahu jalan
kau merasakan jejak
yang letih dan sepi itu
pulang kepada kepalamu
sebagai tamu tak diundang

kau tatap gedung-gedung
yang berdiri di jalan-jalan
seperti huruf, dan tabel-tabel
yang meliuk-liuk di sebuah layar
yang baru saja kau tinggalkan

sementara suara
yang kau lemparkan ke udara
tak jua menemui alamatnya
kau pulang membawa
bergerobak-gerobak gelisah
yang tak ada sapinya.

Ternate, 2020.

Musim Cengkeh Bagi Kami

Musim cengkeh bagi kami adalah pulang
pulang ke tanah ibu, pulang kepada kebun.

Di puncak, di bawah pohon,
di atas steleng, kami rayakan pertemuan.

Angin adalah media paling jujur
mengirimkan tigalu dan lagu kami ke mana-mana.

Daun, ranting, dan suara burung-burung
adalah instrumental, penggiring lagu, dan tigalu kami.

Di atas steleng, salapa adalah nasib kami yang selalu kosong
kami tak henti-henti mengisinya dengan riang, dengan juang.

Sebab kami tak ingin terbuang dari negeri
yang jalannya penuh likuan dan kepalanya penuh tipuan.

Ternate, 2020.

Keterangan:
tigalu: seruan/panggilan ketika di hutan.
steleng: tempat injak/duduk di pohon cengkeh.
salapa: karung untuk mengisi cengkeh yang telah dipetik.

__________________
*) Abi N. Bayan, lahir di Desa Supu Kec. Loloda Utara, Kab. Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, 14 September 1990. Anak dari Hi. Naser Dano Bayan, dan Hj. Rasiba Nabiu. Kini tinggal di Morotai sebagai guru MA Nurul Huda, dan Pembina Sanggar Nurul Huda Gotalamo. Tahun 2019, menerima Anugerah Sastra Apajake (kategori penyair), dan salah satu nomine Anugerah Sastra Litera 2019. Karyanya tergabung beberapa antologi, diantaranya: Antologi Puisi Dari Negeri Poci 9: Pesisiran (2018), Perjumpaan: Antologi Sastra, Festival Sastra Bengkulu (2019), Membaca Asap (2019), Antologi: Situs Kota Cinta dalam Puisi (2019), dll. Karyanya pernah dimuat di Majalah MAJAS Edisi-3, dan di Website Sastra-Indonesia.com Nomor Kontak: 081343630934. Email: abibayan1990@mail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *