Kompas, 16 Des 2012
Malin Kundang
Bahkan saat dikutuk menjadi kepompong batu, engkau kalahkan suntuk panjang itu dengan menggambar kembali dirimu. Titik demi titik, lalu garis, dan sebuah bentuk. ”Ini bukan metamorfosis yang sulit,” katamu. Mereka tak tahu. Sebelum menjadi batu, jiwamu adalah kupu-kupu.
2012
Kutaraja, 1874
Di Kuala, ada lagu serdadu kumpeni
”Jayalah Willem, sebelum pagi.”
Pada laras senapan yang ria
Ayat-ayat sembunyi
di arus kali,
Lidah naga menari.
Dari Kuala, ya dari Kuala
Kapal-kapal bergerak,
Dari mulut kanon
bau mesiu merambat.
Di Kutaraja, ada doa bergema
”Tuwanku, kami bersiap mati.
Jiwa merdeka, berkalung kenanga.”
Langit gelap
dalam mimpi yang kedap.
Bulan runcing,
berlari di ujung lembing
Pedang kelewang bersijingkat,
dalam khianat.
Siapa menukar sangkur
dengan dusta sungai anggur?
Di jantung Kutaraja
pada subuh hitam itu,
Kumpeni ria bernyanyi
”Jayalah Willem, sebelum pagi.”
2010
Cinta dalam Setengah Blues
Cinta, katamu, adalah tangga nada
dan kau pun mulai menyusun not buta
Kudengar piano itu berdenting, garing
Ada suara saksofon, monoton
Mungkin kau tak mengerti
Cinta bukan partitur biasa
Tak bisa dimainkan dari la
Lalu berhenti sebelum si
2012
_______________________
*) Nezar Patria lahir di Sigli, 5 Oktober 1970. Ia bekerja sebagai wartawan, dan berkumpul di Komunitas Tikar Pandan, Banda Aceh.
https://puisikompas.wordpress.com/2012/12/17/puisi-nezar-patria/
