
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ahmad Yulden Erwin
UTOPIA
By Wislawa Szymborska
Island where all becomes clear.
Solid ground beneath your feet.
The only roads are those that offer access.
Bushes bend beneath the weight of proofs.
The Tree of Valid Supposition grows here
with branches disentangled since time immemorial.
The Tree of Understanding, dazzlingly straight and simple,
sprouts by the spring called Now I Get It.
The thicker the woods, the vaster the vista:
the Valley of Obviously.
If any doubts arise, the wind dispels them instantly.
Echoes stir unsummoned
and eagerly explain all the secrets of the worlds.
On the right a cave where Meaning lies.
On the left the Lake of Deep Conviction.
Truth breaks from the bottom and bobs to the surface.
Unshakable Confidence towers over the valley.
Its peak offers an excellent view of the Essence of Things.
For all its charms, the island is uninhabited,
and the faint footprints scattered on its beaches
turn without exception to the sea.
As if all you can do here is leave
and plunge, never to return, into the depths.
Into unfathomable life.
From “A large number”, 1976
Translated by S. Baranczak & C. Cavanagh
________________________
UTOPIA
Karya Wislawa Szymborska *)
Pulau tempat segalanya menjadi jelas.
Tanah padat di bawah kaki Anda.
Satu-satunya jalan adalah jalan yang menawarkan akses.
Semak membungkuk di bawah bobot bukti.
Pohon-pohon anggapan yang valid tumbuh di sini
dengan cabang-cabang menjuntai sejak zaman dahulu.
Pohon Pemahaman, sangat lurus dan sederhana, juga
segala kecambah musim semi yang kerap disebut Kini Saya Mengerti.
Semakin tebal hutan, segalanya tampak semakin nyata:
Lembah Mulai Terang.
Jika ada keraguan, angin pun cepat mengusir mereka.
Gema menggema tanpa diundang
dan dengan penuh semangat menjelaskan segala rahasia dunia.
Di sebelah kanan ada gua tempat Makna bertapa.
Di sebelah kiri ada Danau Keinsafan.
Kebenaran pecah dari bawah dan terisak-isak ke permukaan.
Keyakinan yang tak tergoyahkan menjulang di atas lembah.
Puncaknya menawarkan pemandangan luar biasa tentang Esensi Segala Hal.
Untuk semua pesonanya, pulau ini tidak berpenghuni,
dan segala jejak kaki yang samar tersebar di pantainya
lalu berbelok tanpa terkecuali ke laut.
Seolah yang bisa kau lakukan di sini hanyalah pergi
dan terjun, tak pernah kembali, ke dalam kedalaman.
Ke dalam kehidupan yang tak terduga.
Dari antologi “Sebagian Besar”, 1976
Diterjemahkan oleh S. Baranczak & C. Cavanagh.
_________________________
GOING HOME
By Wislawa Szymborska
He going home. Said nothing.
It was clear, though, that something had gone wrong.
He lay down fully dressed,
Pulled the blanket over his head,
Tucked up his knees.
He’s nearly forty, but not at the moment.
He exists just as he did inside his mother’s womb,
clad in seven walls of skin, in sheltered darkness.
Tomorrow he’ll give a lecture
on homeostasis in metagalactic cosmonautics.
For now, though, he has curled up and gone to sleep.
_______________________
PULANG KE RUMAH
Karya Wislawa Szymborska
Dia pulang ke rumah. Tak berkata apa-apa.
Namun, jelas sekali, ada sesuatu yang salah.
Dia berbaring dengan pakaian lengkap,
Menarik selimut di atas kepalanya,
Terselip hingga lututnya.
Dia hampir empat puluh, tapi bukan saat ini.
Dia eksis persis seperti yang dia lakukan dalam rahim ibunya,
terbungkus dalam tujuh dinding kulit, dalam kegelapan terlindung.
Besok dia akan memberi kuliah
tentang homeostasis dalam kosmonotika metagalaktik.
Namun, sekarang, dia sudah meringkuk dan pergi tidur.
_______________________
NOTHING TWICE
By Wislawa Szymborska
Nothing can ever happen twice.
In consequence, the sorry fact is
that we arrive here improvised
and leave without the chance to practice.
Even if there is no one dumber,
if you’re the planet’s biggest dunce,
you can’t repeat the class in summer:
this course is only offered once.
No day copies yesterday,
no two nights will teach what bliss is
in precisely the same way,
with precisely the same kisses.
One day, perhaps some idle tongue
mentions your name by accident:
I feel as if a rose were flung
into the room, all hue and scent,
the next day, though you’re here with me,
I can’t help looking at the clock:
A rose? A rose? What could that be?
Is it a flower or a rock?
Why do we treat the fleeting day
with so much needless fear and sorrow?
It’s in its nature not to stay:
Today is always gone tomorrow.
With smiles and kisses, we prefer
to seek accord beneath our star,
although we’re different (we concur)
just as two drops of water are.
_________________________
TAK ADA YANG DUA KALI
Karya Wislawa Szymborska
Tidak ada yang pernah terjadi dua kali.
Karena itu, fakta yang menyedihkan adalah
bahwa kita tiba di sini melalui improvisasi
dan pergi tanpa kesempatan untuk berlatih.
Bahkan jika tak ada orang bodoh,
dan jika kau adalah orang paling bodoh di planet ini,
kau tak dapat mengulang kelas di musim panas:
kursus ini hanya ditawarkan satu kali.
Tak ada salinan dari hari kemarin,
tak ada dua malam yang akan mengajarkan kebahagiaan
dengan cara yang persis sama,
dengan ciuman yang persis sama.
Suatu hari, mungkin beberapa lidah menganggur
menyebut namamu secara tak sengaja:
Saya merasa seolah bunga mawar yang terlempar
ke dalam ruangan, seluruh rona dan aroma,
keesokan harinya, meskipun kau di sini bersamaku,
Saya tetap saja tak bisa melihat jam:
Setangkai mawar? Setangkai mawar? Apa itu?
Apakah itu bunga atau batu?
Mengapa kita memperlakukan hari yang singkat
dengan begitu banyak ketakutan dan kesedihan yang tak perlu?
Sudah menjadi sifatnya untuk tak tinggal:
Hari ini akan selalu berlalu besok.
Dengan senyum dan ciuman, kita lebih suka
mencari persetujuan di bawah bintang terang kita,
meski kita berbeda (kita pun bersetuju)
sama seperti dua tetes air.
_____________________________
REPORT FROM THE HOSPITAL
By Wislawa Szymborska
We used matches to draw lots; who would visit him.
And I lost. I got up from our table.
Visiting hours were just about to start.
When I said hello he didn`t say a word.
I tried to take his hand–he pulled it back
like a hungry dog that won`t give up his bone.
He seemed embarrassed about dying.
What do you say to someone like that?
Our eyes never met, like in a faked photograph.
He didn`t care if I stayed or left.
He didn`t ask about anyone from our table.
Not you, Barry? Or you, Larry? Or you, Harry?
My head started aching. Who`s dying on whom?
I went on about modern medicine and the three violets in a jar.
I talked about the sun and faded out.
It`s a good thing they have stairs to run down.
It`s a good thing they have gets to let you out.
It`s a good thing you`re all waiting at our table.
The hospital smell makes me sick.
___________________________
LAPORAN DARI RUMAH SAKIT
Karya Wislawa Szymborska
Kami memakai korek api & menggambar banyak hal: siapa akan mengunjunginya.
Dan aku kalah. Aku pun bangkit dari meja kami.
Jam besuk baru saja akan dimulai.
Ketika saya mengatakan halo, ia tak mengatakan sepatah kata pun.
Kucoba raih tangannya–dia menariknya kembali
seperti seekor anjing lapar yang tak ingin melepaskan tulangnya.
Ia tampak malu untuk mati.
Apa yang akan kau katakan kepada orang seperti itu?
Mata kami tak pernah bertemu, seperti dalam sebuah foto palsu.
Ia tak peduli apakah saya tinggal atau pergi.
Ia tak bertanya tentang siapa pun dari meja kami.
Bukankah kau, Barry? Atau kau, Larry? Atau kau, Harry?
Kepalaku mulai terasa sakit. Siapa yang sedang sekarat dan pada siapa?
Aku melanjutkan pengobatan modern dan ketiga violet ada dalam toples.
Aku berbicara tentang matahari dan menghilang.
Untung mereka memiliki tangga untuk berlari.
Untung mereka membiarkan kau keluar.
Untung kalian semua menunggu di meja kami.
Bau rumah sakit ini mulai membuatku mual.
___________________________
*) Wislawa Szymborska (2 Juni 1923 – 1 February 2012) adalah penulis, eseis, kritikus sastra dan penerjemah sastra Prancis dari Polandia. Pada tahun 1996 Szymborska dianugerahi Penghargaan Nobel Sastra. Szymborska lahir di Bnin (kini bagian Kórnik) dekat Poznan di Polandia. Pada 1931 keluarganya pindah ke Kraków, dan hingga kini tinggal di sana. Pada bulan Maret 1945 Szymborska menerbitkan karya pertamanya, “Szukam slowa” (“Aku Mencari Kata”) di harian Dziennik Polski. Dari tahun 1945 hingga 1948 ia belajar bahasa Polandia dan sosiologi di Uniwersytet Jagiellonski, Krakow. Pada tahun 1953 ia mulai bekerja di harian sastra lycie Literackie (Kehidupan Sastra) hingga tahun 1981.
