7 Gerbang Cahaya, Sebuah Rumah Eksistensial

Matroni Musèrang *
Minggu Pagi, 2019/9/1

Senang sekali saya bisa membaca 7Gerbang Cahaya ini, di samping menambah cakrawala pengetahuan juga bisa silaturrahmi dengan guru. Membaca cerita 7Gerbang Cahaya yang berisi 15 cerita saya diajak untuk mengumpulkan kekayaan-kekayaan rohani dari peristiwa kehidupan yang serba fana dan sementara. Membaca 7Gerbang Cahaya memberikan tetes kesadaran bagi kita bahwa ternyata kita hidup di dunia membutuhkan guru untuk menemukan kunci gerbang cahaya itu. Oleh karenanya saya akan mencoba menelusuri gerbang-gerbang itu dengan membawa kunci ilmu dan pengetahuan yang bernama kunci eksistensi-spiritual. Istilah ini saya pakai karena memang pas untuk membuka gembok gerbang di 7 Gerbang Cahaya itu.

Walau pun saya tidak akan memberikan catatan semua tulisan di 7Gerbang Cahaya, selebihnya pembaca bisa membaca dan menelusuri sendiri makna dikedalaman pesan dalam tulisan ini. Angka 7 itu berkaitan dengan proses terciptanya alam, sehingga kita harus mencintai alam, di situ juga ada etika lingkungan dan lainnya, namun dalam catatan saya untuk 7 Gerbang Cahaya akan masuk pada wilayah keinginan teks kemudian mencoba sedikit menkontekstualisasikan dengan pendekatan filosofis, sehingga menemukan angin segar.

Kesadaran adalah pusaran kemungkinan, kata Sartre. Itulah kata yang pantas untuk kita ungkapkan pertama kali sebelum kita masuk lebih mendalam ke 7 Gerbang Cahaya. Sebab di gerbang itulah kita dituntut untuk berpikir kritis dan berani memutuskan kemungkinan apa pun dalam kehidupan ini. 7 Gerbang Cahaya merupakan pengakuan secara eksistensial seorang yang jujur akan Ada pada dirinya sendiri, dan keber-ada-annya tidak sama dengan yang lain. Inilah yang membedakan tulisan Evi Idawati dalam 9kubah, walau pun sama-sama menyuguhkan kompleksitas eksistensi-spiritual. Kalau dilacak kebelakang tulisan ini bisa dikatakan bahwa Evi Idawati tidak berhenti menjalani dan mengumpulkan kekayaan-kekayaan rohani.

Eksistensialisme adalah filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal pada eksistensi. Pada umumnya kata eksistensi berarti keberadaan, akan tetapi di dalam filsafat eksistensialisme ungkapan eksistensi mempunyai arti yang khusus. Eksistensi adalah cara manusia berada di dalam dunia. Cara manusia berada di dunia berbeda dengan cara berada benda-benda. Dan 7Gerbang Cahaya salah satu cara ber-adanya angka tujuh di gerbang cahaya itu bahkan 7 itu sendiri adalah simbol yang harus dipecahkan, kadang angka 7 bisa menjadi kunci.

Kata Sartre manusia “suatu proses penciptaan diri tanpa henti”, keberanian Evi Idawati dalam menjelajahi ruang-ruang eksistensi-spiritual merupakan usaha yang luar biasa, sebab tidak mudah manusia mampu merekam secara detil dan bernas proses pencarian kedudukan dalam cahaya, kadang cahaya yang dianggap cahaya oleh kita itu bukanlah cahaya yang sebenarnya, melainkan pantulan-pantulan dari cahaya-cahaya yang lain. 7Gerbang cahaya itu adalah proses pencarian diri dimana cahaya yang sebenarnya? Apakah di dalam kemegahan dunia? Apakah ada dalam suami yang kaya raya? Apakah ada di dalam kesunyian ibu Fatima yang tinggal bersama anak-anaknya? Apakah ada di perempuan pemangkul kubah? Atau cahaya itu ada dikedalaman eksistensi spiritual diri si Fatima?

Memasuki 7Gerbang cahaya ternyata ia sebuah jembatan sekaligus ruang yang didalamnya kita tidak bisa diam bersama benda-benda baru yang sebenarnya akan hangus dimakan waktu. Dikatakan jembatan karena di sana manusia harus terus berjalan. Baik berjalan secara spiritual maupun berjalan secara eksistensial. Keduanya harus sama-sama seimbang agar menjadi manusia yang kuat dalam menentukan ke mana arah perjalana kita selanjutnya.

Misalnya Kembali aku menatap sunyi yang menggelepar di meja perjamuan/ Kumpulan dari segala nyeri dan duka. Bumbu dari kepedihan dan nestapa. Betapa hidup kita sebenarnya selalu berhadapan dengan hidangan-hidangan semesta, hanya saja itu semua tergantung bagaimana cara kita membaca dan melihat hidangan-hidangan itu. Hidangan itu akan menjadi indah jika samudera spiritulitas kita berdiam dikedalaman eksistensial kemanusiaan. Kamu tahu, jari-jarinya, aku tabung dari tetesan airmata. Tubuhnya aku bentuk dari kesendirianku ditengah malam. Dari redaman bisikan gairah dan rindu yang tak padam. Itulah progresivitas spiritual manusia jika kesadaran itu muncul dengan sendiri, walau malam-malam sunyi mendekam, namun ia adalah teman yang mendamaikan, sebab kesunyian lebih damai daripada keramaian yang penuh amarah dan emosi sesaat. Oleh karenanya Aku dan dia telah menyatu.

Dia memejamkan mata sambil mengikuti doa-doa. Setelah selesai, matanya membuka. Dia melihat cahaya. Dia jatuhkan kepalanya sekali lagi, menjerit, melafalkan doa-doa yang sama, membuka matanya lagi, dia menyaksikan cahaya di depannya semakin besar, semakin besar, menelan dirinya. Menggulung dengan cepat. Seakan putaran yang menjadikan semua waktu berhenti. kemudian pecah ke segala arah. Menjadi tujuh gerbang cahaya yang terbuka. Dia tetap berada di titik pusatnya. Dengan kedua tangan yang menadah ke atas, dengan teriakan yang tak terucapkan, dia jatuhkan kedua tangan dan kepalanya dengan sekuat tenaga. Dentumannya mengalahkan ledakan bom yang sengaja dilemparkan untuk membunuh dunia dengan kebencian.

Jalan cahaya adalah jalan eksistensi-spiritual dalam artian manusia benar-benar mencari bahwa manusia dilingkupi cakrawala spiritual yang jarang kita cari, jarang kita temukan, jarang kita pikirkan. 7Gerbang Cahaya merupakan sebuah tetes kesadaran eksistensi-spiritual manusia yang haus akan airmata spiritual yang selama ini masih tergantung di gerbang-gerbang cahaya. Misalnya bagaimana Fatima yang belajar /Dari pohon dan tanamanlah dia belajar bersabar, belajar tumbuh dan berkembang. Fatimah menganggap tanaman adalah makhluk yang paling kuat dan sabar menjalani hidup. Selalu tumbuh keatas. Saat kering bertahan, kala hujan menyimpan bekal, jika berbuah, dia memberikannya pada siapa saja yang ingin mengambil dan menikmatinya.

Dewasa ini kita sedang mengalami krisis kegersangan pembacaan itu, manusia hari ini lebih duka belajar pada teknologi yang seringkali gersang daripada belajar pada sesuatu yang paling dekat dengan diri kita, misalnya lingkungan. Manusia hari ini ingin melihat sesuatu yang besar, tanpa melihat yang kecil, ini artinya manusia lupa akan proses lupa riyadhah bahwa kita memiliki tanggungjawab untuk menjaga dan melestarikan alam.

Aku, perempuan yang merawat cinta dengan luka, berjuta kali aku berdoa, mengiba, duduk dengan tangan gemetar memegang tasbih, tak kuasa menyeru, hanya berbisik lirih, menampung seluruh peristiwa dengan airmata. Fatima sebagai sosok yang memiliki karakter yang hari ini mulai jarang dilakukan, sehingga “manusia hidup itu tidak ada hubungannya dengan alam, dengan bunga, dengan tanah”, mencari sosok Fatima yang seperti ini, hari ini sungguh sulit kita temukan di tengah-tengah keramaian teknologi begitu bebas berkeliaran di rumah-rumah dan dipikiran manusia dan tapi di jaman teknologi, informasi menjadi tuhan baru dalam pemujaan manusia, tak ada yang disebut rahasia.

Oleh karenanya Evi Idawati sebenarnya mencari satu cahaya dari 7 gerbang cahaya tersebut, sebab 7gerbang cahaya hanya gerbang-gerbang cahaya untuk menuju satu gerbang cahaya, dan satu gerbang itulah cahaya sebenarnya.

Namun, kita harus menemukan kunci gerbang itu. Lelaki itu, adalah huruf demi huruf yang tersusun di dalam hatinya, hingga mampu membuatnya menemukan kunci untuk membuka gerbang demi gerbang yang ada di dalam perjalanan hidupnya, dengan cara, menyapa langit, mengenali, berkarib, terbang, bertautan, bermukim dan bersama, tak terpisahkan lagi.

Dari sini kemudian kita mengetahui untuk membuka 7Gerbang Cahaya itu juga ada 7 kunci.

Pertama kita harus mampu menyapa langit, bagaimana cara menyapa langit? Ini tentu membutuhkan pembersihan demi pembersihan jiwa (tazkiyatun nafsi) melalui tangisan rindu dan kenyerihan jiwa yang terus meronta-ronta karena didekam kerinduan yang luar biasa. Menyapa langit bukan perkara gampang, ada ritual-ritual khusus bagaimana manusia mampu berdamai dengan dirinya sendiri.

Sehingga manusia mampu berkata; Maka tidak ada yang aku tabung dalam diriku, kegembiraan dan kebahagiaan adalah oase abadi yang akan hadir dan hidup dalam hatiku. Jadi, bila kukatakan, aku tidak membutuhkannya, ya, karena kebahagiaan itu adalah diriku sendiri. Disinilah eksistensi-spiritual manusia sebenarnya, siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhan. Begitulah hadistnya, namun untuk berdiam dan mengenal siapa aku, syarat utama adalah kita harus mampu menyapa langit.

Kunci kedua kita harus mampu mengenali, siapa yang harus kita kenali, bagaimana cara kita mengenali? Dan untuk apa kita kenal? Yang harus kita kenali adalah Tuhan Yang Maha Kaya. Orang datang silih berganti, berkunjung datang dan pergi, aku hanya tinggal di dalam doa-doa yang bergulir dari waktu ke waktu dari segala arah, dari semua penjuru, dari berbagai sudut yang mengepung dan memelukku dan mengawalku dengan ketat.

Siapa pun di dunia yang tidak mengenal, maka ia akan menjadi manusia yang tungganglanggang dalam kehidupannya. Akan menjadi manusia yang tersesat di padang sahara kegelapan. Di sinilah pentingnya guru bagi para pejalan spiritual. Guru ibarat cahaya yang selalu menerangi perjalanan. Cahaya adalah tentara kalbu. Maka kita harus mampu mengenali. Mengenal merupakan kunci utama setelah kita benar-benar selesai menyapa langit. Semesta ini memiliki tanda dan setiap tanda itu memiliki nama dan setiap nama diperintah untuk dikenal. Mulai dari manusia, alam semesta, Tuhan, malaikat, Nabi, Rasul, kitab Tuhan, para Guru, pohon, tanah dan lainya. Di hati para pejalan yang menemukan Tuhan di kalbunya. Kupandang langit bening, kubaca takdirku. Aku bukan lagi perempuan pemanggul kubah, tetapi menjadi penghuni abadi, bagi cahaya yang dicintai.

Kunci ketiga berkarib, dalam kamus Besar Bahasa Indonesia Jilid V maknanya “rapat hubngannya dengan”, “bersahabat”. Dari sini terlihat sekali bahwa kita memang harus menjadi manusia yang selalu nerima terhadap apa pun, bukankah samudera juga begitu. Samudera spiritual merupakan samudera yang tak bertepi. Dalam hal ini kalau kita ingin masuk ke gerbang ke tiga harus benar-benar sahabat karib. Sebab sahabat lebih abadi dari saudara.

Untuk menjadi sahabat yang memiliki daya tampung rohani seperti samudera buatlah perahu cahaya. Karena cahaya adalah kendaran dan rahasia jiwa. Cahaya adalah tentara kalbu. Tak ada yang menemukan sebuah rahasia yang berasal ada jiwa-jiwa yang bercahaya, meskipun semua begitu terang dan benderang.

Kunci kelima terbang, ketika kita sudah menyapa langit, mengenal dan berkarib, kita akan sampai di taman-taman rohani. Dimana di taman-taman rohani inilah kita seolah-oleh terbang bersama cahaya. Bersama para orang-orang kaya akan rohani. Kedamaian, ketentraman dan kesejukan menemukan pasangnya di sana, sebuah perkampungan rohani bagi manusia yang memiliki sayap rohani yang kuat dan sungguh-sungguh.

Aku tidak akan berlari. Aku akan memilih bersama mereka. Biar tak kulihat lagi, apa yang aku takuti. Agar bisa kupandang wajah siapapun dengan getaran cahaya yang sama seperti mereka. Agar bisa kuakrabi, cahaya yang lebih kuat hingga aku hilang dan tenggelam bersamanya. Yang terlihat tak ada. Yang terdengar tak ada. Yang terasa tak ada. Aku menjadi tak ada. Hanya cahaya. Hanya cahaya. Persekutuan cahaya.

Kunci kelima bertautan, maka kita akan sampai pada titik dimana semua berkumpul di perkampungan kekasih. Di kampung tautan inilah tidak ada iri, tidak ada dengki, tidak emosi dan puisi-puisi basi, sebab semua bertaut bersama kemegahan rohani yang tak ternilai harganya. Sebab di sana Engkau menjadi tujuan yang tak pernah letih aku mintakan.

Kunci ke enam bermukim, untuk itu mari kita bermukim di kampung rohani. Kampung yang segalanya serba ada. Serba berlimpah. Serba bahagia. Sebab tujuan akhir manusia adalah bermukim bersama Tuhan.

Kunci ke tujuh bersama. Kita bermukim bersama. Sebab seringkali kita hidup bermukim tapi tidak bersama. Bersama tapi tidak mengenal. Bersama tapi tidak dekat. Untuk membuka 7Gerbang Cahaya kita harus bersama dalam menyapa langit, bersama dalam mengenali, bersama dalam terbang, bersama dalam bermukim. Bersama dalam artian seiring, serentak, agar apa yang ingin dicapai bisa tercapai yaitu Kebaikan yang memang dilahirkan dari rahim kebaikan.

Pesan saya kita harus membaca buku ini bahkan harus merenungi isi cerita ini. Cerita yang bernas mengurai rentetan kegelisahan spiritual yang akhir-akhir ini jarang kita lakukan, minimal dengan membaca buku, kita diajak berdiam sebentar, merefleksikan keberadaan kita yang sibuk dengan urusan dunia dan dana. Buku ini memberikan penyegar bagi kita yang sedang kepanasan di tengah keramaian isu agama, isu politik dan isu ekonomi. Semoga manfaat khususnya bagi saya. Salam.

[Di Pengantar Buku “7 Gerbang Cahaya” Evi Idawati]

____________________
*) Matroni Muserang, lahir di Banjar Barat, Gapura, Sumenep, Madura. Alumni Al-Karimiyyah dan Al-In’Am. Menulis di banyak media baik lokal maupun nasional. Buku antologi puisi bersamanya adalah “Puisi Menolak Lupa” (2010), “Madzhab Kutub” (2010), Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan (Dewan Kesenian Jatim, 2010). Suluk Mataram 50 Penyair Membaca Jogja (2011), Menyirat Cinta Haqiqi (temu sastrawan Nusantara Melayu Raya (NUMERA, Malaysia, 2012), Rinai Rindu untuk Kasihmu Muhammad (2012), Satu Kata Istimewa (2012), Sinopsis Pertemuan (2012), dan Flows Into The Sink, Into The Gutter (2012, dua bahasa, Ingris-Indonesia), Sauk Seloko (PPN VI Jambi 2012). Menyelesaikan studi S-1 dan S-2nya di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.
https://matronielmoezany.blogspot.com/2019/10/7-gerbang-cahaya-sebuah-rumah.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *