Membaca Berlin Proposal-nya Afrizal Malna


Fatah Anshori *

Puisi yang ditulis ketika Bahasa kehilangan representasinya sebagai bahasa atau alat untuk menggambarkan sesuatu, seperti apa bentuknya? berlin proposal buku kumpulan puisi Afrizal Malna ini ditulis dalam kondisi seperti itu. Ketika ia tak lagi menemukan makna yang mampu diungkap bahasa.

Dalam catatan moabit dalam buku ini ia sendiri mengatakan: Tubuh saya ada disini. Makna juga ada di sini. Tetapi bahasa yang saya gunakan tidak ada di sini. Ada jendela dari reaksi neurotik yang terbuka … Sebenarnya catatan moabit tak ubahnya sebuah Kata Pengantar dalam sebuah buku. Dalam catatan itu menerangkan bahwa buku puisi ini ditulis Malna ketika ia sedang menghadapi konflik yang terjadi dalam dirinya. Bahasa Indonesia yang biasa ia gunakan dalam mengungkap apapun tiba-tiba kehilangan kesaktiannya, lumpuh dan tak mampu berbuat apa-apa lagi ketika ia sedang berada di Berlin. Saat ia sedang mengikuti artis residen dari DAAD di Berlin selama 1 bulan (2012), dilanjutkan selama 1 tahun (2014 – 2015).

Sebenarnya beberapa tahun yang lalu—entah satu atau dua tahun yang lalu—saya telah selesai membaca buku puisi ini. Menurut saya mengulang pembacaan buku yang sudah selesai dibaca tidak jauh beda dengan memutar ulang film yang telah selesai ditonton. Tentu saja tidak menarik, kita sudah mengenal tokoh-tokohnya, alur cerita, setting, konflik, lalu apa yang kita peroleh kecuali kebosanan dan hanya membuang-buang waktu. Kurang lebih seperti itulah yang saya pikirkan sebelumnya. Namun setelah saya melakukannya di beberapa buku ternyata saya salah besar. Mengulang bacaan bukanlah kesia-siaan.

Di satu titik saya menyadari sebagaimana, kodrat manusia berawal dari kebodohan, tidak tahu apa-apa, dan senantiasa terus belajar untuk mencari tahu. Selama jeda dua tahun ketika pertama kali membaca berlin proposal. Saya mencoba untuk terus membaca dan mencari tahu, memperkaya khazanah bacaan saya istilah kerennya barangkali seperti itu. Di pembacaan kedua saya seperti menemukan banyak yang telah terlewatkan di pembacaan yang pertama. Pandangan saya tentang puisi juga semakin kompleks, meski sebenarnya hingga sekarang saya masih belum tahu makna konkrit dari sebuah puisi. Mungkin sebagaimana Orhan Pamuk, saya hanya menyukai harum buku, gambar sampul, larik-larik tulisan, melihat indahnya dunia di dalam tulisan, dan entah secara sadar atau tidak sadar membuat saya terpancing untuk menulis juga.

Dulu Afrizal Malna tak ubahnya seperti Mario F Lawi di kepala saya, orang yang membuat saya bingung tentang puisi. Namun seiring saya terus membaca dan mencoba menulis puisi, pandangan saya terhadap puisi, dan bagaiamana puisi yang bagus dan memiliki gaya pembaharu atau mungkin karakter yang kuat, adalah kau harus menjadi seperti Mario F Lawi atau Afrizal Malna. Untuk sementara atau batasan pengetahuan saya hanya sebatas mereka. Afrizal Malna dan Mario F Lawi di dalam puisi-puisinya seperti menyuguhkan dunia baru yang benar-benar asing namun tetap menyenangkan untuk dinikmati.

Sebenarnya persoalan terakhir inilah yang membuat saya membaca ulang buku berlin proposal disamping status saya sebagai mahasiswa yang serba kekurangan uang untuk membeli buku bacaan. Akhirnya saya memutuskan untuk membacanya ulang, saya mencoba masuk, dan menyelam di dalamnya sembari menikmati berjuta rasa yang disuguhkan Malna di dalam puisi-puisinya. Dan saya rasa telah berhasil melakukannya. Sedikit bocoran di dalam berlin proposal, Malna seperti sedang bereksperimen tentang bentuk, metafor, frase, kosakata dan macam-macam lainnya tentang puisi yang umum dituliskan orang-orang. Malna seperti ingin menemukan yang baru, melompati hal-hal yang wajar untuk menuju kewajaran yang baru. Barangkali seperti itulah yang telah dilakukan Afrizal Malna dalam berlin proposal. Atau ini hanya semacam ketololan saya yang mencoba mengulas sebuah buku puisi.

________________________
*) Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Novel pertamanya “Ilalang di Kemarau Panjang” (2015), dan buku kumpulan puisinya “Hujan yang Hendak Menyalakan Api” (2018). Salah satu cerpennya terpilih sebagai Cerpen Unggulan Litera.co.id 2018, dan tulisanya termuat di Sastra-Indonesia.com sedang blog pribadinya fatahanshori.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *