Menebar Senyum Sambil Meraung

Kata Pengantar untuk Kumpulan Puisi Tangisan Kanal Anak-anak Nakal

Riza Multazam Luthfy
Riau Pos, 27 Mei 2012

ADONIS, penyair Arab kontroversial paska Perang Dunia Kedua (dalam Adonis, Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam, terj. Khoiron Nahdliyin, LKiS, 2012 (Edisi Khusus Komunitas), melontarkan bahwa puisi melambangkan sarana ideologis: dipakai untuk membela dan memberi kabar gembira (madh), atau mengkritik dan menyerang (hija). Continue reading “Menebar Senyum Sambil Meraung”

Riau Pos dan Generasi Baru Penyair Riau

Marhalim Zaini
Riau Pos, 1 Juni 2014

Di awal tahun 2008, saya pernah menulis esai cukup panjang di media ini, berjudul “Ihwal Regenerasi Sastra Riau.” Esai ini, kemudian direspon oleh seorang sastrawan dari Sumatera Barat, Zelfeni Wimra, dengan judul, “Setelah Regenerasi Sastra, Apa Lagi?” Karena saya anggap perlu merespon balik esai itu, lalu saya menulis lagi dengan judul yang agak provokatif, “Ayo, Lupakan Saja Indonesia!” Fokus dari tulisan saya itu sebetulnya lebih bersifat catatan dokumentatif ihwal bagaimana dinamika pergerakan sastra Riau (modern) sejak awal kelahirannya. Namun, menjadi agak meluas ke wilayah “ideologi sastra” setelah direspon Zelfeni. Continue reading “Riau Pos dan Generasi Baru Penyair Riau”

Mengapa Konfrontasi

Soedjatmoko

Sudah beberapa lama dunia kesusastra­an kita mempersoalkan, apakah kita berada di dalam krisis kesusastraan ataukah tidak. Munculnya pertanyaan ini sebenarnya sudah menandakan adanya krisis. Pertanyaan terse­but tidak dapat dikesampingkan begitu saja dengan menunjukkan arus yang terus-mene­rus diciptakan dalam karya sastra yang telah mengisi lembaran majalah kesusastraan dan kebudayaan kita. Continue reading “Mengapa Konfrontasi”

Sastra Tionghoa dan Prasangka “Politik Identitas”

Muhammad Al-Fayyadl *

Perhatian publik sastra saat ini tampaknya tertuju pada bangkitnya genre sastra Tionghoa, tepatnya Melayu-Tionghoa, kembali ke kancah sastra Indonesia modern. Gejala kebangkitan ini merupakan sesuatu yang layak disambut luas. Seyogianya memang demikian, karena kita sudah lama kehilangan “saudara kembar” (twin sister) dalam genre sastra kita, yang umumnya didominasi sastra Melayu saja. Continue reading “Sastra Tionghoa dan Prasangka “Politik Identitas””

Bahasa »