PUISI, DUKA DUNIA, KACA MATA HITAM

: Semacam Surat Kreatif Kepada Iqbal Baraas, Pengarang “Mawar Gandrung”


Mashuri *

Bung Iqbal Baraas yang baik.

Membaca sajak-sajakmu dalam buku puisi Mawar Gandrung (2017), saya teringat sebuah kisah unik dari Jawa Timur. Kisah yang berkumpar pada sosok populis pada tahun 1980-an, yang gandrung berperilaku di luar kebiasaan umum. Sosok tersebut berasal dari sebuah pesantren salaf yang termasuk subkultur Mataraman, yang pernah menjulang dengan kerajaan tempo doeloenya, yaitu Kadhiri/Dhaha, yang memberi tilas pada sejarah kuno nusantara ihwal penasbihan seorang raja waskita Sri Aji Prabu Jayabaya yang mashur dengan warisan Kitab Musarar, kuyup dengan modifikasi jangka Jayabaya, alias nujum sang raja terkait dengan masa depan tanah Jawa. Ia adalah Gus Miek –sapaan karib KH. Hamim Jazuli, pengampu Pondok Pesantren Ploso, Kediri.

Semasa hidup, Gus Miek gemar berkaca mata hitam. Bila dilihat dari habitusnya, itu sebuah kebiasaan ganjil. Kaum sarungan menyebutnya khari’ul adah. Namun, fungsi kaca mata itu melampaui makna dan arti harfiah yang dipahami awam, misalnya sebagai tren atau mode, alias agar penampilan tidak ndeso. Tokoh pendiri jamaah Jatmiko Mantab “Dzikrul Ghafilin” dan dikenal gandrung berdakwah di tempat-tempat tidak biasa dan dijauhi kalangan kiai-santri seperti diskotik, perjudian dan lokalisasi tersebut mengaku bahwa ia selalu berkaca mata hitam sebagai tabir untuk merahasiakan air matanya. Pasalnya, ia sering menangis ketika memandang dunia, berjumpa dengan orang-orang dengan deret dosa di wajah dan tubuh mereka, dan sekian kedukaan yang terhampar di semesta.

Lewat sajak-sajakmu dalam rentang 1991—2010, mengumparkan satu hal yang mirip dengan kondisi tersebut. Kau begitu setia menggunakan kaca mata hitam dalam menulis sajak-sajakmu, sehingga otomatis dunia yang terbangun tampak gelap dan muram. Yang membedakan kau dengan Gus Miek adalah kau memungsikan kaca mata hitam tidak sebagai pelindung diri dari pandangan orang lain ke dalam diri, tetapi sebagai sebuah sudut pandang dalam memahami dan merekonstruksi dunia ke dalam puisi. Meski demikian, pandangan dunia antara sufi dan penyair kadang selaras dan terperangkap dalam ruang yang sama. Keduanya kerap memperlakukan dunia sebagai nganga luka, kubang duka, dan liang nestapa.

Bung Iqbal Baraas yang baik.

Meski judul kumpulan puisimu Mawar Gandrung, yang segera menyeret sederet referensi simbolik dengan medan semantik antara mawar dan gandrung di belakangnya, tetapi saya tidak menemukan tawaran cinta penuh pesona dan gebyar dunia. Mawar memang telah ‘mati’ sebagai lambang cinta, yang dalam dunia sufi juga bermakna cinta meski tidak cinta profan sebagaimana lambang cinta sepasang muda-mudi (tentu tidak seperti Layla-Majnun), seakan-akan menjadi peneguh dari gandrung yang juga bermakna cinta tetapi lebih mengarah pada cinta dengan nuansa yang lebih profan. Namun, karena kau berasal dari wilayah kultural Banyuwangi, tentu ‘gandrung’ dalam konteks tersebut tidak dapat dimaknai sebagai gandrung tanpa diskursus kultural.

Banyuwangi, yang dikenal dengan subkultur Osing memiliki ikon budaya yang bernama tari Gandrung –yang meski sebenarnya bukan mengarah pada hal-hal duniawi tetapi dalam perjalanannya, tari tersebut kadung dipersepsi sebagai tari yang mengarah pada cinta amor dan citra seksual. Saya melihat kau bermain dalam wilayah yang ingin memurnikan cinta dan gandrung kepada makna asalinya. Bila selama ini, ‘Gandrung’ merujuk pada gebyar dan geletar, kau membaliknya bahwa ‘Gandrung’ itu murung. Saya berusaha memahami sajak-sajakmu dengan bertumpu pada hal-ihwal tersebut. Telisikan saya ini adalah ikhtiar merangkum kilas pertemuan saya dengan sajak-sajakmu. Tentu saya tak kuasa mendedah semuanya karena puisimu berbicara banyak hal, tetapi dari sisi pembalikan konstruksi tersebut, kiranya dapat dibuhul satu pemahaman awal terhadap puisimu dan pandangan kepenyairanmu terhadap dunia.

Saya memulainya dari sajak pembuka dalam buku puisimu. Sajak pertama berjudul “Ibunda”, dengan subjudul “Hadiah – engkau ibuku tercinta”. Ibu bagi seorang penyair adalah harta karun inspirasi yang tiada habisnya. Ibu dapat malih rupa dalam berbagai bentuk dan matra. Ia dapat berupa ibu biologis, dapat pula berupa ibu ideologis yang menyaru dalam bentang rahim kultural yang melahirkan si penyair. Sajak dapat berupa ode atau himne atau sebuah persembahan ihwal kasih yang tak dapat ditera kedalamannya. Namun, kau memiliki pilihan ganjil soal ibu. Dalam bait pertama puisi, saya segera ditenggelamkan ke dalam telaga duka.

Kukirimkan setetes keringat luka
Lewat hembusan angin
Yang mengantar rindu padamu
Permata yang menitipkan darah di dada

Meski tema cinta dan ibu itu klise, tetapi kau memahami cinta pada ibu dengan sudut pandang muram. Saya tak dapat menebak apakah pandangan demikian adalah sebuah titik kulminasi dalam dirimu yang berlanskap riwayat hidupmu atau hanya sebagai pandangan duniamu terhadap sosok ibu untuk berbagi dengan pembaca. Cinta pada ibu yang sering dimaknai dengan sederet nuansa yang berlandaskah pada dunia penuh makna, menjadi ‘setetes keringat luka’. Rindu adalah ‘darah di dada’. Kondisi demikian menjadi semakin muram karena ujungnya adalah sebuah tangis.

Bila beta kembali, Ibu
Selipkan sepasang sorot matamu
Di haribaan cinta anakmu
Karena sejarah esok
Ada di tangismu

Sajak yang kautulis di Surabaya pada 1991 tersebut tidak mengarahkan saya untuk berbicara tentang ibu yang lain. Ia adalah ibu, sebagaimana penyair D. Zawawi Imron berbicara ihwal ibu kandungnya dalam sebuah sajaknya. Ia berbicara tentang ibu sebagaimana Malin Kundang mengkhianati ibu kandungnya, meskipun penyair Goenawan Mohammad menariknya dalam medan makna ‘ibu’ sebagai sebuah ruang kultural dan tanah kebudayaan asali yang melahirkan si penyair, dalam sajak dan esainya. Ibu dalam puisimu adalah ibu yang bertubuh dan berdaging. Saya tidak dapat memaksa menariknya dalam pemaknaan melampaui ibu biologis, misalnya ibu kulturaul yang berupa ranah Osing. Dalam sajak lain, kau pun konsisten dengan pandangan dunia tersebut. Pandangan cinta dengan kaca mata hitam dapat dilihat pada beberapa sosok yang kau hadirkan dalam sajak-sajakmu, termasuk dunia anak.

Dalam sajak “Anak-Anak Matahari” (1994), dunia anak-anak pun penuh luka, mimpi anak-anak pun bukan dunia bebas dari duka. Dunia mimpi —yang merupakan dunia khas anak-anak, ketika fantasi dan kemerdekaan mereka kalis dari perih dan kekerasan realitas dunia pun kau hadirkan dalam bayang-bayang yang sumir, ganjil dan terusik. Begitu pula sajak “Anakku” (2009), yang saya curigai sebagai sajak persembahan pada anak kandungmu, pandangan duniamu juga ‘perih’ dan semakin mengemuka dalam sajak, yang hanya terdiri atas tiga baris saja.

Anak anak menjaring ikan di sungai kering
Di mana sudah tak ada yang lengkap
Dalam mimpinya
(Anak-anak Matahari, 1994)

Maknanya aku menangis
karena tak berdaya menatap kau
berdendang dengan perih sendiri
(Anakku, 2009)

Kau menganggap bahwa dunia bukan tempat yang indah, meskipun seharusnya anak-anak terbebas dari aroma luka. Bila anak-anak saja tidak menjanjikan sebuah dunia yang bebas nilai, dapat diterka bagaimana kau memandang dunia lebih perih untuk sosok lainnya. Ketika kau berbicara tentang ayah dalam “Sketsa Ayah” (1995), saya mendapati hubungan yang terbangun dengan cinta dan kasih yang pedih. Hal itu dapat menyimak enam larik awal di mana kau membangun dunia dan persepsi tentang ayah dalam satu tarikan dengan kemuraman lain yang dibangun dalam konstruk sajakmu.

ketika engkau lepaskan keringat
dua patung itu menyimpan kebisuan
ada air mata yang menyirami
kamboja, ayah
inilah doa dari sebongkah batu
yang tak bicara
(Sketsa Ayah, 1995)

Sajak tersebut punya kesejajaran dengan sajak pertama “Ibunda” (1991). Cinta adalah ‘keringat’, penuh ‘air mata’, ber-‘kamboja’ dari ‘sebongkah batu’. Anasir-anasirnya dominan muram. Begitu pula dengan sajak-sajak yang lain, yang referensial, baik itu berupa lokus geografi maupun berupa sosok yang pernah karib denganmu dan menerbitkan kesan khusus. Dalam “Bedugul” (1996), yang kita tahu Bedugul adalah sebuah lokus geografi di Bali, dan sajak dipersembahkan untuk ‘Umbu Landu Paranggi’ dalam subjudul, kau mengumparkan satu hal yang purna tapi tetap diakhiri dengan sebuah kondisi yang tidak sempurna. Begitu pula sajak untuk sosok penyair lain yang pernah bersua denganmu di Bali, seperti Raudal Tanjung Banua dalam “Pasar Kumbasari Petang Itu” (1997) dan Wayan Sunarta dalam “Nostalgia” (2000), Kau menunjukkan lanskap sendu dan muram.

lambung yang kau lintaskan
antar kutub
akan kuselami bagai surga
walau gagal kucapai upacara
(Bedugul, 1996)

rumahku roboh oleh nyanyian tangis
hanya sebaris doa yang sisa
semoga tak memaksa gagak hitam
tuk mematuknya
(Pasar Kumbasari Petang Itu, 1997)

kembali kau lihat wajahmu
di cermin
tidakkah retak sang abadi itu
kau panggil-panggil
seakan gerimis berjatuhan
di atap rumah
demikian kerdilkah aku mengenangmu
(Nostalgia, 2001)

Ketiga sajak persembahan untuk kawan penyairmu tersebut menyimpan ‘gagak hitam’ dengan modifikasi yang berbeda. Hal senada juga berlaku untuk beberapa ruang geografis di Bali, hadir dalam puisi dengan jejak yang rumpang. Bayang-bayangnya tidak menyaru sebagai tilas ingatan yang mengkristal dalam memori-memori manis dan legit, tetapi tragis dan pahit. Padahal siapapun tahu, Bali selalu bercitra surga, bahkan ada yang menyebutnya sebagai firdaus yang masih tertinggal di dunia. Namun, kau memandangnya dari sisi subjektifmu yang unik dan lebam. Hal itu berlaku mulai dari Jembrana, Gianyar, bahkan Sanur.

bayang-bayang sukmamu melipat
di dalam lagu yang mengiris
dan suara serangga malam
membisikkan kepulanganmu pada
bulan
(Pasar Malam Jembrana, 1997)

hanya waktu
yang membuat kita payah
dan rupa-rupa yang berkarat
seperti kecapi dalam ayunan;
semestinya bibir pantai kita bertemu
tapi aku tak rajin menuai angin
menembaki sepi;
kugali lubang kubur
dalam bisikan pasir hitam
(Pantai Sabe Gianyar, 1999)

Malam tertawa-tawa
Setelah membantai bulan di tepinya
Tidakkah ombak-ombak memburu pasir
Di dalam kabutnya
Sehari hari gadis-gadis
Menari
Membajak mimpi
Menyembelih kembang mawar
(Pantai Sanur, 2000)

Dalam sajak “Pantai Sanur” tersebut, kau menyajikan sebuah dunia, yang diawali dengan ‘malam tertawa’, yang menyaran sebuah pemaknaan yang luas dan benderang, tetapi lagi-lagi diikuti dengan pembantaian bulan. Kau juga menyajikan tentang ‘gadis’, ‘menari’, dan ‘membajak mimpi’. Dengan anasir tersebut terbangun sebuah konstruksi dunia yang molek, tualang dan indah. Namun, ujungnya tetap saja tersaji sebuah kondisi yang muram, meskipun di sana, kau menghadirkan simbol mawar tetapi laku yang kau tawarkan adalah ‘menyembelih kembang mawar’. Kehadiran ‘mawar’ yang seharusnya sebagai penutup lanskap yang sudah dibangun indah, hadir bukan dalam kapasitas yang indah yang purna, tapi berdarah. Kekerasan pada simbol mawar itu dapat ditemui dalam gambar mawar pada beberapa sajakmu yang lain, salah satunya “Mawar Gandrung Ular” (2007).

Mawarku jatuh dari tangkainya
ke tanah kering– menjelma ular hitam
meranggas– menggilas rindu

Mawar yang disembelih, mawar yang jatuh. Dunia cinta yang memar. Dunia tanpa cinta yang indah! Citraan senada dapat ditemui dalam sajak-sajakmu dengan lokus geografis dalam wilayah kebudayaan lain, seperti “Cengkir Gading” (1997). Dalam sajak tersebut, kau menguraikan sebuah pandangan pesimis pada dunia. Kau memandang dunia sebagai hal yang tersengal dan penuh nestapa. /Di rentang kegersangan atau di luas gigil/ Aku menunggumu/ Sesak nafas yang menikung darahku/ Seperti udara menyedot habis sesal lahirmu. Bahkan untuk sebuah lokus yang sangat identik dengan Banyuwangi, kampung halamanmu, yaitu Pelabuhan Muncar, kau juga menghadirkan lanskap yang suram dan perih dalam puisi “Muncar” (2000). Memang, lanskap dan latar pantai dan pelabuhan yang kau unggah tidak seperti “Senja di Pelabuhan Kecil” Chairil Anwar atau “Berdiri Aku” Amir Hamzah.

Berikut ini dipilih beberapa larik dengan pertimbangan sebagai latar dan lanskap geokulturmu.

perahu hitam
perahu kumal

leher nyeri
mata buram

menggali perih
merajam senja

kau lahirkan aku
dalam bayangan

Dari sajak tersebut, terus terang, saya tidak dapat menakar lubuk terdalam duniamu dalam bangun sajak yang muram. Sebagaimana sajak lainnya, dunia persepsimu memang terlalu subjektif dan seringkali kau menutup diri dengan tidak menampakkan simpul yang ditarik sebagai penerang. Kau merayakan persepsimu dalam satu titik dengan ramuan pengalaman hidup dan cerapan kekinian dalam wilayah personal. Saya hanya dapat menangkap kilatan, yang seringkali juga tak terang dan membungkus diri dalam rahasia dan sandi pribadi. Dari situlah, yang berkumpar hanya satu suara dan satu warna: keluh dan hitam.

Contoh lain adalah ketika saya membaca sajakmu “Jalan Tunjungan” (2003). Sebagai orang yang pernah hidup dan kuyup dalam atmosfer kultur Surabaya dalam rentang 1994—2010, Tunjungan selalu menuntun saya pada hal-ihwal yang penuh dengan sensasi mata, urban, plus poskolonial. Namun, kau meringkasnya dalam bangun sajak yang penuh intimidasi. Kau mendialogkan kondisi empiris berkonteks tahun 2003 dengan ruang pribadi yang hanya kau dan Tuhan yang tahu. Hal itu dapat dilihat dalam empat baris pertama sajak “Jalan Tunjungan” (2003).

rumah buram pikiran kelewang
bayangan semesta kematian
terlahir menimang-nimang
berbujur terbujur terkalahkan

Pengalaman tragis apakah yang membuatmu mengkonstruksi jalan Tunjungan demikian bernafas malaikat maut? Namun kesangsaian saya terjawab ketika saya berusaha menakik kembali sajak-sajakmu yang lebih lama. Di antaranya pada beberapa sajak, yang dapat dikatakan sebagai ‘kredo’-mu dalam menggurat karya. Dalam “Rumah Sajak” (1999), saya menemukan bahwa kegundahan batin yang menuntunmu dalam mempersepsi dunia memang bertumpu pada hal-ihwal yang berbau ‘bangkai’ dan ‘kematian’. Dari baris sajak, saya mengerti kenapa pandanganmu demikian muskil melihat hidup, meskipun ketika diputarkan lagu, kau ‘menari’ tapi kau memang memilih mengambil jarak dari hidup: bagimu aku masih berbau bangkai/berlinangan kangen/pesisir tua; aku ingin jarak/.

Jika “Rumah Sajak” berbicara tentang pandangan duniamu terhadap dunia sajak, konkretisasi dunia dalam alam pandangmu, yang bermawar memar dan gandrung murung dapat dilihat dalam sajak “Kekasihku” (1994). Dalam sajak yang ditulis pratahun 2000 tersebut, kau sebenarnya menyatakan ‘kredo’ dan pemahaman soal cinta dan kasih yang berbeda. Sebagaimana yang sudah-sudah, cinta dan kasih yang kau proklamirkan tidak perlu dibayangkan sebagai cinta amor yang berbau glamor, tetapi lebih pada wilayah cinta sarat horor.

KEKASIHKU

Kekasihku, secarik ataukah selembar pikiran cela sempat lahir dalam nadiku, dunia yang mestinya kuhindari, dunia yang tak pernah kau kira lahirnya, sebagaimana perlawanan perlawanan masa lalu yang diletakkan ayah dalam mimpiku, mimpi tentang sesal dan burung gagak, juga tentang hunian monyet botak yang menggaruk kepalanya hingga berdarah, seperti pembantaian yang tak mungkin meledak, musabab manusia, berduka atau berbunga hampir tak beda, perasaan yang berpikiran ataukah pikiran yang berperasaan, semisal sejumput rambut bimbang yang menyebabkan celakamu, nista duka terbit sebelum kekasihku membasuh lukanya di telaga

“Kekasihku” merupakan sebuah sajak yang menghamparkan rahim cinta, tapi tidak menerbitkan ketentraman dalam kandungannya. Dunia yang berlumur ‘nista duka’ dan penyangkalan diri. Sajak tersebut kembali mengingatkan saya pada pandangan dunia di kalangan para sufi. Kalangan ini mempersepsi dunia sebagai ruang sementara dan sarat dukalara. Sebagaimana kisah Fuzail bin Iyaz yang memandang dunia adalah sebuah pasung duka. Bahkan, selama tiga puluh tahun, ia tidak pernah tersenyum dan sekali tersenyum ketika seorang anaknya meninggal dunia. Bahkan sufi lain, Abu Sa’id, bersajak dalam sebuah kuplet bebentuk mirip rubai: Dua buah mata yang memandang redup/ Dua buah untaian rambut yang terurai lepas/ Sebuah tubuh ramping yang menggoda/Benarkah engkau berkata, “Wahai, mengapakah engkau berduka? (dalam Tadzkiratul Awliya’ karya Faridudin Attar). Karena pada awal pengantar ini saya mencuplik kisah Gus Miek, tentu sebelum saya akhiri tulisan sekadarnya ini, saya pun mengutip sebuah dawuh Gus Miek ihwal dunia. Ia pernah mengatakan, “dunia ini semakin lama semakin gelap” (Muhamad Nurul Ibad, Dhawuh Gus Miek, LKiS, 2007, hlm. 111).

Pandangan tersebut memiliki satu kesejajaran persepsi dalam memandang dunia dengan puisimu. Misalnya, dalam “Kekasihku” (1994), kau berkata: “berduka atau berbunga hampir tak beda”. Begitu pula dalam “Pulang Kembali” (2010), kau menegaskan: Kepulanganku seperti kepergian burung-burung/Bukankah tak beda pulang dan pergi/ Seperti siang dan malam dalam jiwamu/Sebab musabab yang menerbitkan cita-cita/ Harapan ialah perjalanan yang tak pernah pulang. Apakah kau menggunakan pandangan sufi dalam karya-karyamu? Kau tak perlu menjawabnya. Biarlah pembaca yang budiman yang akan mengendus aroma tersebut dalam sajah-sajakmu. Terus terang, saya tidak dapat menjawabnya dengan lebih detail karena dalam tulisan sekilas ini saya tidak melakukan penelisikan ke arah tersebut secara khusus.

Bung Iqbal Baraas yang baik.

Demikianlah pertemuan saya dengan sajak-sajak lirismu. Dari sajak ke sajak, saya seperti berguling dari satu palung duka ke palung duka lain. Kau memang penyair yang begitu setia dengan kaca mata hitam –sebagaimana kaca mata hitam yang digunakan penari Seblang, pemain Jaranan, Sandur, juga para pelantun kisah-kisah lama dalam tradisi lisan kita. Tentu, tujuanmu bukan semata-mata seperti sindiran arek-arek dari subkultur Arekan: “ben mbois, bro!” Ataukah kau berkaca mata hitam sebagaimana Gus Miek? Entahlah, saya tak punya kapasitas untuk memastikannya lebih jauh.

Semoga Pembaca tidak percaya pada ‘surat’ ringkas saya ini. Karena bila komentar sekadarnya ini diniatkan sebagai jembatan menuju puisi-puisimu, sungguh konstruksinya sangat labil dan rapuh. Pembaca harus segera melewatinya dan membaca sendiri puisi-puisimu secara utuh.

MA
On Sidokepung, 2020

(Tulisan ini bertumpu pada pengantar buku puisi Mawar Gandrung karya Iqbal Baraas, diterbitkan Akar, Yogyakarta, 2017).

_______________
*) Mashuri, lahir di Lamongan, Jawa Timur, 27 April 1976. Karya-karyanya dipublikasikan di sejumlah surat kabar dan terhimpun di beberapa antologi. Dia tercatat sebagai salah satu peneliti di Balai Bahasa Jawa Timur. Tahun 2018, bersama Sosiawan Leak dan Raedu Basha, dipercaya jadi kurator yang bertugas memilih narasumber dan menyeleksi para peserta Muktamar Sastra. Hubbu, judul prosanya yang mengantarkan namanya meraih predikat juara 1 Sayembara Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), tahun 2006. Dia menggeluti hal-ihwal terkait tradisionalitas dan religiusitas. Mashuri, merupakan lulusan dua pesantren di tanah kelahirannya. Dia menyelesaikan pendidikannya di Universitas Airlangga dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Di luar aktivitas pendidikannya, berkiprah di Komunitas Teater Gapus, dan Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *