Sunoto, Pejuang Buku-buku Murah di Lamongan Kota


Nurel Javissyarqi *

Tulisan ini terposting di catatan facebook 23 April 2020, bertepatan Hari Buku Sedunia (HBS), Hak Cipta Sedunia, Hari Buku Internasional, ialah kala perayaan tahunan yang diadakan UNESCO didalam promosi peran membaca, penerbitan, dan hak cipta. HBS dirayakan awal sekali tahun 1995, bertepatan kematiannya William Shakespeare, Inca Garcilaso de la Vega. Hubungan 23/04 dengan buku, mulanya oleh toko buku di Catalonia, Spanyol 1923. Idenya dari penulis Valencia, Vicente Clavel Andrés, secara menghargai Miguel de Cervantes yang meninggal di tanggal tersebut. Paragraf prolog ini sekadar senggol google, wikipedia, demi paparan masa ke depannya.

(I)
Sunoto (Pak To), lelaki kelahiran 2 Juli 1956 di Desa Sidomulyo, Deket, Lamongan (LA), sejak Agustus 1989 telah menyewa stand membuka kios berjualan buku-buku harga murah di depan Samsat. Buku-buku lawas dan terbilang baru yang relatif terjangkau, laksana menciptakan surganya kaum pembaca. Ada beberapa buku dijual di facebook (fb) 25 ribu, di tokonya hanya 5 ribuan. Di fb 50 ribu, di sana paling banter 15 ribu, itupun ori bukan bajakan. Contoh bazar buku di beberapa kota, harga terpasang 25 ribu, di situ 10-15 ribu, kadang malah 9 ribu. Ini bukan bicara kualitas nilai suatu karya, tapi perlu sekali tempo meringankan soal padanan rupiah.

Di toko Sunoto, peredaran keluar-masuknya buku sangat cepat, tak lebih sebab harganya, dan memang tak ambil pusing tak banyak untung, atau tak begitu (ingin) tahu mutu suatu buku, sehingga tidak ribet mengukur harga jualnya, atau demikian memaknai hidup “mung mampir ngombe.” Di sini pun ada buku-buku hard cover, jika toko lain ratusan ribu, di Pak To sekitar 60-75 ribu. Dan berulang kali saya ke Jogjakarta cari buku, disaat dapati buku bagus, tapi harganya terlalu mahal, maka harus relakan waktu enam bulan lebih, menunggu buku itu sampai LA dengan harga menggiurkan. Ini tak berarti menyia-nyiakan peluang baca buku bagus bersegera, tentu ada pertimbangan lain, misal terbitan mana yang tak mungkin nyasar ke LA, selain kandungannya seperti apa, dst, yang tak mengharuskan lekas membacanya.

Pak To tak sempat baca buku atau bukan hobinya, kebiasaannya menjual buku harga murah. Ia hanya suka amati perbincangan para pembeli, dan sesekali saya berbilang kata: “Buku ini bagus, bisa dinaikkan harganya,” lewat tersenyum biasanya dijawab; “Itu juga sudah untung.” Saya kira tidak banyak penulis LA yang rajin ke tokonya, terbukti misal ada buku bagus lumayan banyak, tetapi waktu membelinya uang tak cukup memborongnya, lalu beberapa hari kemudian mendatangi lagi masih utuh. Kesempatan itu sering hadir, jadilah ikutan jualan buku di tahun kemudian atau sekarang. Awal menjadi bakul buku atas inspirasi harga murah dari Pak To, sepertinya telah banyak pedagang buku dari beberapa kota. Saya kenal sejak tahun 1990, semasa duduk di bangku Tsanawiyah, dan tahun 1991 sudah biasa kelayapan ke Jalan Semarang Kota Surabaya, untuk cari buku-buku lawas. Sedari tahun 2000, buku-buku di toko Pak To lumayan komplit, seluruh bebidang pengetahuan ada. Pembaca tentu tak menyangka, saya mendapati buku Antonie Wessels, Biografi Muhammad dalam Penulisan Bahasa Arab Masa Kini, Sebuah Studi Kritis atas Karya Muhammad Husain Haekal, Hayat Muhammad, diterjemahkan Farouk Zabidi, Litera AntarNusa – Hikmah Perdana, seharga 10 ribu, tentu ada selisih waktu terbitannya, paling banter rata-rata setahunan. Buku-buku agama hingga aliran kepercayaan, dari sufi sampai radikal, syiah, atheis, dan buku berbahasa Inggris, Jerman, Prancis; sosial, politik, kebudayaan, kedokteran, pertanian, peternakan, pertukangan, tak luput pesawat terbang, dan sekecilnya susastra ada.
***

Sebelum menuju kisaran ruang-waktu bersama buku, mari jalan menyisir ke samping diri terlebih dahulu. Saya termasuk pelaku perbukuan; penerbitan, toko, pembaca, di sebelah suka menulis. Ketika tahu harga buku di LA sangat murah dibanding di Surabaya dan Yogyakarta, jadi jarang keluar kota kecuali dua bulan sekali, memburu buku penerbit lain yang tak sampai LA. Harga buku baru di toko besar mahal, sebab dihitung lipatan lima kali dari ongkos cetak, itu pula separuhnya masuk distributor. Untuk buku saya yang tak lewati jalur pemasaran, paling banter dua lipat lebih sedikit. Dan jika dihitung lamanya berkarya hingga jadi, tak sebanding, apalagi buku saya lewati tahunan baru terbit, artinya menelan banyak biaya, tenaga, sisi waktu luang jarak tempo pengeditan, dst. Maka, sejak awal menekuni jalan menulis, telah menyiapkan diri dalam kebutuhan hidup tidak tergantung buku, sebab jika dihitung pengeluaran segenap daya sebuku, untuk untung lebih tak kecuali best seller, atau sekalian berputar bebas di roda percetakan, penerbitan, pemasaran, dengan mata biru (hijau). Olehnya, jangan tanya menghargai karya, sewaktu berhadapan pedagang atau para pembeli, dan saya menilai para penulis bukan dari titel pun kantornya, tapi lebih capaian hidup dalam karya-karyanya, juga tidak dari nama besarnya.

Prinsip saya demi masyarakat luas bisa manjangkau buku-buku yang diperlukan, dengan itu khalayak umum tak terlanjur disibukkan cari nafkah, tapi dalam hayatnya ada jarak renungan lama, daya mengolah kedalaman batin, menjumputi bebulir pekerti kearifan para pendahulu bagi pemberi arti menenangkan jiwa raya yang kaya, tidak sebatas lelimpahan materi saja yang dikejarnya. Sebab kedewasaan pikir kematangan olah nalar, dan keindahan merangkai cabang pohon penalaran, membuat batiniah insani rindang tak gampang kepanasan, sampai membentur ke tembok putus harapan. Ada hal unik sejenis keajaiban ikatan buku dengan pembacanya. Ketika saya mencintai Voltaire, buku-buku karyanya mudah didapat seharga murah, dan karena membenci tokoh A misalnya, biasanya kesulitan peroleh buku-buku karyanya. Dari pengalaman itu, saya buka lebar cakrawala cinta perbukuan dan para pelakunya, sehingga secara energi, walau cara pandang pola pikir berseberangan, masihlah mudah dapati karya-karyanya.
***

(II)
Banyak orang merekam tangga ingatannya kepada rerupa jalanan dilalui, jejak kesadarannya terekam dalam bau-bau kembang pernah dihirupnya, pada wewarna langit senja, bintang berkedip di satu arah, atau pesta lampu-lampu di lembah dari ketinggian bukit cinta tarhadap napas-napas dunia. Sederhanya, tangga kesadaran menempel di mana saja, sebagai saksi lawan bicara, pada rerumputan bergoyangan, serbuk sari bunga tiupan angin, ke pohon tinggi atau seluruh alam merekam kuat. Rekamannya dititipkan ke orang-orang merawat hening meresapi sendi-sendi hayati bersama peristiwa maknanya; sebagian dari mereka melukisnya di lembar-lembar ingatan lain; rerumah buku, bilik-bilik pekerti, batu-batu kata bersimpan udara. Dan batu ingatan mengurai dirinya lagi, maka lahirlah pepintu kata, jejendela guna; keluar menyambangi awal pembentukannya, itulah sebentangan alam nan luas dengan perputaran bumi, matahari, planet, dst.

Manusia tak bisa ciptakan (kilatan cahaya) masa, tapi waktu bisa ditarik-ulur panjang-pendeknya, tempo dapat ditentukan daya tekanannya. Anak manusia membuat kembaran ruang, ini pemberi napasan kerja masa berdialog, merenung dalam pergumulan kasih, percampuran derajat lahirkan kedudukan baru cabang pengetahuan, menyadari tetumpukan kesadaran pada langit-langit ingatan. Jenjangnya berkembang jauh-sedalam-luas ingatan dirawat kewarasan, ketenangan, kedamaian, dan nafsu ibarat pencuri kerap silap kepemilikannya, yakni kekayaan pekerti, nurani bening setelaga merekam bayangan. Dalam ketentraman jiwa meski kondisi peperangan, membaca dimungkinkan hadir beri rerongga pencerah, seperti berjarak dari bentuk kekalutan, atau bagaimana pembaca melenyapkan kantuk mengusir bosan, itupun masih ditimpahkan hukuman buang-buang waktu percuma. Demikian kehidupan di negeri berkembang, memerlukan banyak tuntutan dasar yang kadang kurang berdasar.

Saya jadi ingat cara menghabisi rasa malu membaca buku di depan umum, langsung saja di keramaian pasar, di terminal yang padat orang berlalu lalang, sambil memutuskan ujaran “toh kebahagiaan pula sengsara, surga-neraka dirasai sendiri, sebagaimana dikubur dalam keranda sendirian.” Sekecilnya, laku baca tulis mengurangi waktu cuap-cuap bibir mudah ditelah angin kembara. Sedari buku jadi mengerti pelbagai pemikiran, gaya sudut pandang, capaian pendahulu pun lenyapnya sebagian pengetahuan; paham berbagai bahasa antar bebangsa berkawin mesra, menyenggamai tafsir berbeda, mensyarahi sudut terpencil sampai jangkauan jangka (ramalan) dari runutan muasalnya, lalu orang-orang di hari kemudian memetik hasil, panenan berlimpah, perbendaharaan tersembunyi terungkap, tanah dijanjikan muncuat, juru selamat hadir sesosok-gagasan, setidaknya bintang-gemintang di langit tetap menjaga kesetiaan sejauh pohonan lebih tua dari usia manusia, yang akarnya menghisap saripati kesadaran paling purba.
***

(III)
Setelah agak-agak puitis biar terkira penyair, kini mengepak tak lagi mengapung, agar sewaktu turun tak berpijak di ujungnya karang sendirian. Penanda penting peran Pak To di laman perbukuan, mungkin kurang disadari, dirinya tidak alergi memborong buku apa saja dari bakul buku Surabaya, dengan tekanan harga pembelian rendah, agar bisa dijual murah, tak luput kitab-kitab terjemahan, terutama susastra dari penerbit besar dan indie yang gulung tikar atau cuci gudang. Para pedagang yang kulakan di tokonya, tak hanya seputaran LA, juga kota-kota lain; Jombang, Mojokerto, Bojonegoro, Tuban, Blora, dan bukunya sampai ke Gresik, Malang, Kediri, Nganjuk, Magetan, Madiun, hingga tlatah reyok, warok Ponorogo, seperti yang saya sebarkan.

Kita tahu bangkitnya suatu bangsa oleh pertukaran budaya, yang dapat dilalui lewat menerjemah karya wewarna kebudayaan lain dalam perkawinan pihak penerjamah. Hati ini sepatutnya bersyukur, kepada penerbit yang berani menekuni bidang terjemahan, dari karya-kaya besar, tersebar di penjuru dunia ke dalam bahasa Indonesia, ini lebih langgeng daripada perlombaan percantik bangunan kota, lebih damailah dibanding impor senjata bagi peralatan perang. Kerja yang pantas digalakkan, dan seyogyanya pemerintah turut andil mendukung kiprahnya yang sudi berbakti mulia, demi luas cakrawala pikir anak-anak bangsa.

Kekayaan buku dipunyai Pak To tiada separuhnya Gudang Buku Raja Murah Yogyakarta, tapi kalau dipetik setiap hari perputaran rupiah di tokonya, berkitar 3-5 juta lebih; buku-buku membeludak pelbagai pengetahuan dengan harga murah, telah menebarkan jejaring kuat pemikiran dibawai kitab-kitab itu. Alangkah indah jikalau para pembacanya terekam di layar televisi, ada yang baca di tangga ujung kampus, di taman bunga, halte, rumah reot, gubuk sederhana, perpustakaan desa, sekolahan; komunitas diskusi, dari kanak sampai beranjak menua. Dinamika ini sungguh menyenangkan, mereka terlelap di samping buku, tertidur di dekat tumpukan buku; di rumah sakit, tempat persalinan; buku menyebar laksana virus corona menyadarkan pentingnya menimba ilmu, mawas diri senantiasa belajar, meski tak lagi jadi siswa. Pada ujungnya, minat baca bisa dilancarkan dengan hadirnya buku-buku murah.
***

Senada dikisahkan Pak To, buku-buku dijualnya dimasa awal tak sekomplit sekarang, sedari tahun 1989-1990, hanya menjual kitab-kitab basis Islam, yang biasa diperdagangkan di bus angkutan umum; selain majalah, koran, komik, cerita silat, kalender, mata pelajaran sekolah, dan perkuliahan. Namun selepas gelombang Reformasi 1998, pesta-pora demokrasi mencapai pintu gerbang kemerdekaan, membeletat gembok kebebasan pers, khususnya perbukuan di Yogyakarta kian semarak, disusul Bandung, kota-kota lain merangsek pusat Jakarta. Ledakan itu sampai juga; sebagian buku-bukunya tak tertampung di kota-kota penerbit dan sekitarnya, akhirnya menemui para pembacanya yang jauh ke Surabaya, ke LA. Buku-buku bekas relatif bagus kondisinya masih segelan, barangkali dulu ngendon di beberapa distributor bermasalah, ini melengkapi banjirnya buku agama terbitan dari Kota Pahlawan, atau dalam hitungan tahun 2000 hingga kini, Sunoto, sudah mengabdikan jasa besarnya, menyebaran buku murah berkualitas. Barangkali berkah menjamurnya penerbit indie terus bermunculan, datang tumbang, hadir bergelimpangan, yang sebagian tetap bertahan. Namun, kegetiran dirasai pelaku buku tak membuat jerah, malah dari timbulnya perpecahan di antaranya, melahirkan penerbit baru tumbuh mengalami jatuh bangun nasib malang mujur diembannya. Nyata ini, menguntungkan para pembeli (pembaca) dengan harga bersaing rendah, hingga pelaku perbukuan besar turun jalan lewat bazar buku-buku murah.

Pak To dengan mental bakulan sudah teruji lama, bisa ‘menekan’ pedagang yang menawarkan buku dihargai rendah demi dapat menjual dengan murah, disamping timbunan buku bekas bocornya beberapa perpustakaan pemerintah dan pribadi, di sisi buku pengadaan sekolah, kampus, yang dikala mencetak kebanyakan tak sanggup mendistribusikan. Ini pula membikin komplit alam perbukuan di tokonya; meski yang lebih aktif para pembelinya dalam mencari-cari buku incarannya. Bagi yang punya banyak waktu luang membongkar tumpukan buku, akan menemukan yang bagus sekaligus langka dan mahal, jika didapat di toko lain. Toko buku murah rintisan Sunoto, sedikit-banyak pengaruhi gerak gairah literasi di LA, maka tak heran tahun-tahun kemudian atau kini, telah bertengger nama-nama penulis kelahiran bencah Mbah Lamong, yang lebih dahulu dikenal Kota Soto, warung pecel lele, yang tersebar dihampir seluruh Tanah Air. Betapa buku murah memberi andil besar jalan nalar anak-anak bangsa, sanggup sadarkan posisi kedirian sekaligus berkehendak di masa datang, terbangunlah sketsa rancangan tinggi cita-cita, bagi bersuntuk mengolah diri berbaca, menuntaskan pergumulan kasih dalam kemandirian jiwanya, sebelum melakoni langkah harapan meyakinkan. Buku dijual murah, telah memudahkan guru, pegawai, karyawan, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, orang-orang tidak sanggup lanjutkan studinya, bisa bercengkerama hangat dengan para penulis lewat karya-karyanya; dari pelbagai belantara daerah, hingga para penulis luar negeri yang jauh dari belahan bumi yang tidak mungkin dipijaknya. Sungguh mata rantai terindah sekaligus mahal nilainya.
***

(IV)
Kini “Musim yang Berat” (judul esainya Mardi Luhung membaca corona), lelangkah perputaran mata uang rupiah diatas beban tertimbun di pundak, seperti berjalan di jalur banjir, menyeret kaki-kaki bersusah payah. Serasa ada digandoli, digembolnya, mewaspadai diri berlebih, kecurigaan terus diawas-awasi, suara-suara hilang lenyap, membisu tertelan diganti teks-teks lapar. Perasaan “landep” ke sekujur tubuh belati, tak hanya tajam ujung matanya, kemungkinan tersebut ambyar, kecuali berbekal keyakinan, tapi cobaan ini biasa bagi menganggap hari-hari lalu ujian, malah jadi ringan, sebab yang merasai kini tak hanya dirinya. Namun tetap saja musim berat tetap lain, meski asing sudah akrab sebelumnya, dan pendengaran buntu seolah berada di puncak waktu tertentu. Atau musim kini, serupa awal kali Pak To membuka kios buku murahnya di Jl. Veteran, Dapur Timur, Banjar, Kec. Lamongan, Lamongan, Jawa Timur.
***

23 April 2020, Lamongan, Jawa Timur.

*) Pengelana yang suka mencari-curi ilmu, admin website Sastra-Indonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *