Masjid Al-Aqsa di Wagenstraat Den Haag

Muhammad Antakusuma

Panti pijat penuh gadis manis asal Cina, toko Cina yang menjual seafood beku dan bumbu asia, restoran Indonesia yang menjual nasi rames dan babi kecap, dan lampion me­rah bergelantungan adalah pemandangan biasa ketika memasuki wilayah pecinan di pusat kota Den Haag. Di sore hari, bahasa Belanda mengalir deras di kafe pojok jalan, sederas bir yang ditegak ketika musim panas tiba. Di malam hari, bahasa Turki gentayangan bersama orang-orang yang mengenakan abaya dan kopiah, merasuk ke Masjid Al-Aqsa di Wagenstraat, salah satu jalan di “China Town.”

Kata Arif, orang Purwokerto yang sedang mencuci piring dapur Al-Aqsa, sebelum jadi masjid, Al-Aqsa adalah tempat ibadah orang Yahudi, Sinagog. Karena sepi, bangunan tersebut kemudian dijadikan tempat salat oleh orang Turki. Mereka mencoba merayu pemerintah Be­landa dengan cara berdiam diri di dalam Sinagog tersebut. Akhirnya terjadilah jual beli antara pemerintah Belanda dengan sebuah yayasan Turki. Ini kata si Arif, yang sudah membantu komunitas muslim tersebut selama empat kali Ramadan.

Pukul 21:30, kubantu Arif melayani orang-orang yang mengantri untuk mendapatkan makan malam atau buka puasa. Baklava (kue manis khas Turki), salad, nasi, dan sup kambing becampur kentang tersedia di meja panjang. Aku biasanya memberi satu orang, satu baklava. Kulit hitam, kulit putih, warga negara Belanda, warga ne­gara asing, pendatang ilegal, gelandangan, dan mungkin non muslim mengantri di satu jalur. Sangat sedikit yang mengucapkan terima kasih. Entah kenapa. Mungkin orang lupa menjadi manusia ketika aroma lezat sup kambing tanpa tulang merasuk nikmat.

“Allahuakbar Allahuakbar,” sekitar pukul 22:00, seo­rang petugas masjid yang berdarah Turki menguman­dangkan azan tanpa pengeras suara. Setelah makan, ada yang salat sendiri, ada yang salat berjamaah dalam jumlah kecil. Namun tidak ada salat berjamaah besar seperti di Indonesia. Ketika kecil dulu, aku ingat berbuka puasa dengan bulu pecak—makanan khas Bugis berbentuk bu­bur padat, di atasnya ada semacam abon, kemudian di­bungkus daun pisang. Dan setelah itu salat berjamaah, lalu makan besar. Ini sangat nikmat, apalagi masjid di kam­pungku di Kalimantan berdiri di atas laut. Den Haag? Berada dua meter di atas permukaan laut, punya pantai bebas bugil dan pantai Scheveningen, namun belum ada masjid di atas laut.

Sebelum ke Belanda, Arif sempat bekerja di Amerika dan pulang ke Indonesia. Kini, statusnya ilegal di Belanda setelah “loncat” dari kapal pesiar tempatnya bekerja ke­tika sedang bersandar di Jerman. Istrinya sedang sakit di Tasikmalaya.

“Tapi kamu dapat upah kan, Mas, bantu-bantu di sini?” tanyaku ketika membantunya mencuci tempat ma­kan.

“Kenapa orang-orang yang habis diberi makan GRATIS itu menggeletakkan begitu saja tempat makannya?” tanyaku.

Arif membantu dengan sukarela. Jika ada yang mem­beri upah, ia terima. Tapi aku tidak terima dengan sikap orang yang menyisakan banyak makanan dan menyisakan tumpukan pekerjaan bagi Arif. Dan kuyakin, ia tidak bisa salat tarawih dengan sempurna. Satu orang mencuci satu piring, apa susahnya? Bikin susah orang lain aja!

Sekitar pukul 24:00, salat tarawih dimulai. Dua ra­kaat-dua rakaat. Tentu sangat senang jika bisa salat dalam keadaan khusyuk. Tapi kalau surat Al Fatihah dibaca satu tarikan napas dan satu ayat Alquran dalam satu rakaat, inikah yang namanya ibadah?

Lampu sepeda sudah menyala. Harus seperti itu kalau bersepeda malam di Belanda supaya tidak kena denda. Aku dan Arif pulang bersama, bersama angin dingin melewati perumahan komunitas Turki dan Maroko, melintasi jalur trem. Arif nama sebenarnya? Aku tidak tahu.

Yang aku tahu, ia sedang mengumpulkan uang dan ingin segera pulang ke Indonesia.


Den Haag, 2013.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *