TAHLILAN PUISI BINHAD NURROHMAT


Rahmat Kemat Hidayatullah *

Sepanjang sejarah umat manusia, orang telah disibukkan oleh pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti: Mengapa saya ada di dunia ini? Apa tujuan hidup saya? Apa yang saya perjuangkan? Apa makna kehidupan? Pertanyaan-pertanyaan universal ini berhubungan dengan keprihatinan inti manusia dan telah mengilhami berbagai mitos, agama, seni, dan filsafat dalam budaya yang berbeda di seluruh dunia melintasi ruang dan waktu. Saat ini, di era ledakan ilmu pengetahuan, teknologi digital dan budaya populer, di mana motto “lebih baik, lebih cepat, lebih unggul” (better, faster, higher) telah menjadi nilai-nilai sakral, problem-problem eksistensial muncul secara lebih kuat.

Isu-isu eksistensial semacam ini telah dieksplorasi secara serius oleh para filsuf eksistensialis, yang dibangun di atas garis pemikiran filosofis René Descartes, Immanuel Kant, Friedrich Hegel dan berkembang dalam tulisan-tulisan Søren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche, Martin Heidegger, Jean-Paul Sartre, Gabriel Marcel, Albert Camus, Karl Jaspers, Miguel de Unamuno, Ortega y Gasset, Martin Buber, Paul Tillich, dan lainnya. Meskipun para filsuf ini mendekati pertanyaan eksistensial dari perspektif yang sangat beragam dan kadang-kadang menarik kesimpulan yang sangat berbeda, semua pemikir ini membahas pertanyaan tentang apa arti menjadi manusia, bagaimana manusia berhubungan dengan dunia fisik dan metafisik yang mengelilinginya, dan bagaimana manusia menemukan makna dari realitas kehidupan dan kematian yang bersifat niscaya. Yang paling penting, mereka mempertimbangkan implikasi dari bagaimana “orang-orang biasa” (ordinary people) bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial dalam kehidupan sehari-hari (everyday life). Dengan demikian, masalah eksistensial tidak dianggap sebagai bahan renungan para filsuf dan pemikir belaka, tetapi sebagai problem mendesak yang memiliki dampak besar pada kehidupan semua manusia.

Jauh di ujung timur Pulau Jawa sana, seorang penyair eksentrik bersarung santri menggemakan isu eksistensial serupa melalui wacana dan praktik simbolik yang digali dari kearifan lokal; “kuburan”. Ya kuburan, simbol kefanaan dan kematian—salah satu sumber kecemasan eksistensial utama sepanjang sejarah umat manusia. Sebagaimana dicatat Paul Tillich, “kecemasan akan takdir dan kematian adalah [kecemasan manusia] yang paling mendasar, universal, dan tak terhindarkan. Setiap upaya untuk membantahnya akan sia-sia” (Tillich, 1952: 42).

Lewat Kuburan Imperium (2019) dan Nisan Annemarie (2020), sang penyair, Binhad Nurrohmat, mengajak kita untuk berziarah ke lorong waktu antara masa silam dan masa depan, antara titik kelahiran dan titik kematian. Sebagaimana ditulis Martin Heidegger, “Begitu seorang manusia lahir, ia sudah terlalu tua untuk mati” (Heidegger, 1996: 228). Manusia adalah “Ada-menuju-kematian” (Sein-zum-Tode). Ironisnya, manusia seringkali lupa pada “masa depan kematiannya” akibat tenggelam dalam mode kehidupan sehari-hari. Binhad menggemakan kembai gagasan ini dalam larik-larik puisinya:

Tiada tempat bagi keabadian di bumi
Mimpi tiba dan pergi sebelum terjaga

Apakah masa silam dan masa depan
di dalam mimpi? Mimpi adalah sejarah
yang tidur di luar masa apa pun

Masa depan semua orang adalah bayang
yang belum terengkuh di kejauhan

Manusia selalu menunggu
dan lupa di sepanjang usia
yang berguguran dan pucat

di sebujur hayat

— “Masa Depan Semua Orang”, Kuburan Imperium (2019).

Namun, berbeda dari Heidegger yang ‘meragukan’ konsep “keabadian ruhani”, Binhad justru bertolak dari khazanah spiritual kaum santri yang merindukan keabadian ruhani:

Sungai kecil meliuk dari selatan ke utara
Silsilah di barat dan di timur bersenyawa
Sebatang kali menjamah batas antar sepi
Seperti jembatan menautkan dua teritori

Di semua penjuru arah doa-doa tertabur
Munajat keramat para leluhur tak luntur
Masa depan menunggu langkah cahaya
Di sudut takdir bertapa berkat alif ba’ ta’

— “Wasiat Rejoso”, Kuburan Imperium (2019).

Nisan Annemarie (2020), kumpulan puisi terbaru Binhad, menggemakan kembali gagasan tentang keabadian ruhani melalui suara tradisi. Menahbiskan Nisan Annemarie sebagai judul utama dari kumpulan puisinya tentu bukan tanpa alasan. Siapa yang tak mengenal Annemarie Schimmel? Di kalangan para pengkaji sufisme, ia bukan sosok asing. Lahir di tanah kelahiran Martin Heidegger, Jerman, Annemarie Schimmel mendedikasikan seumur hayatnya untuk mereguk khazanah spiritual Islam yang memukau. Di nisan kuburannya terpatri ucapan Ali ibn Abi Thalib yang terkenal: “al-nas niyam, fa idza matu intabahu” (semua manusia tertidur, saat mati mereka terbangun). Kepada sosok inilah Binhad melantunkan “Fatihah Puitik” dalam puisinya:

Berbisik riwayat selepas menepi hayat
dan ingatan tak lari dari batas biografi
Hidup menyibak pintunya lamat-lamat
semenjak maut melengkapi kisah diri

Manusia di dunia sejenak tidur belaka
dan tersibak mata sejak tiba kematian
Takdir membuat masa depan tak ada
setelah semua diguratkan di belakang

Perjalanan di dunia seumpama mimpi
menempuh serentang ruang dan masa
Seperti Annemarie Schimmel mengerti
di relung pusara bermula segala cerita

Udara tak kentara menjangkau pundak
sesamar waktu merayap tanpa terlihat
Sebujur fana manusia sebatas tampak
sebelum jala-jala kekal hadir menjerat

Lewat kalimat kasat mendiang berucap
pada nisan dari masa lalu yang terpahat
Langit bertitah kepada yang kelak lindap
sedari hayat di dunia hanya lelap sesaat

— “Nisan Annemarie”, Nisan Annemarie (2020).

Tema keabadian ruhani dapat dilihat secara lebih gamblang dalam puisi Binhad yang lain, ketika ia menyebut kematian sebagai “kehidupan pertama”:

Tak selamanya tubuh menghuni dunia
Daging dan tulang bernyawa tak abadi
Kemenangan dan kekalahan cuma fana
Berlumur cairan lupa dan hasrat khayali

Semua harapan diri tak henti menyala
Sebelum menjamah langkah terakhir
Mimpi-mimpi menatap suka dan duka
Di sekujur hayat tanpa henti mengalir

Hidup adalah awal kematian pertama
tanpa pernah ada lagi maut yang lain
Kematian adalah kehidupan pertama
setelah dunia tak lagi berpaling

— “Terbujur Kaku Sebelum Berlalu”, Nisan Annemarie (2020).

Antropologi Puitik

Binhad bukan seorang antropolog, ia adalah penyair sarungan dan pujangga kuburan. Tapi membaca puisi-puisi Binhad, jejak persentuhan dengan “yang imanen” tergores begitu tebal—dalam bahasa antropologi disebut “thick description”. Puisi-puisi Binhad bertabur jajak-jejak persentuhan itu; nama kota, tokoh, situs, petilasan, artefak, peristiwa dan praktik kultural orang-orang biasa—semuanya dibingkai dalam frame masa silam dan masa depan, kehidupan dan kematian. Puisi-puisi Binhad bahkan dapat disebut sebagai “antropologi puitik” yang menafsir ulang partitur abstrak para filsuf dan antropolog seputar agama dan kecemasan eksistensial, khususnya kecemasan akan kematian (anxiety of death).

Menurut Bronislaw Malinowski, “dari semua sumber agama, krisis kehidupan tertinggi dan terakhir—kematian—adalah yang paling penting” (Malinowski, 1948: 29). Malinowski mengakui bahwa teori-teori tentang asal muasal agama yang menyatakan bahwa kebanyakan inspirasi keagamaan berasal dari masalah kematian merupakan pandangan ortodoks yang sepenuhnya benar. Dalam semua tahap kebudayaan, manusia senantiasa dihantui oleh ide tentang kemusnahan (the idea of annihilation) yang mengancam eksistensi dan hasrat untuk hidup (desire for life) dan mempertahankan diri (self-preservation).

Dalam arena permainan kekuatan emosional yang menimbulkan dilema inilah agama hadir sebagai “juru selamat”; memberikan keyakinan positif, pandangan yang menghibur, kepercayaan budaya yang berharga akan keabadian, dalam roh yang bebas dari tubuh, dan dalam kelanjutan kehidupan setelah kematian. Dengan demikian, keyakinan pada keabadian (belief in immortality) merupakan hasil dari wahyu emosional (emotional revelation) yang mendalam, yang distandarisasi oleh agama, bukan doktrin filosofi primitif. Keyakinan pada ruh (belief in spirits) adalah hasil dari keyakinan akan keabadian. Keyakinan manusia akan kehidupan yang berkelanjutan adalah salah satu karunia agung agama (Malinowski, 1948: 33). Binhad menggaungkan gagasan semacam ini dalam puisinya yang bernada retoris:

Manusia lahir dari manusia sebelumnya
Dari sorga bermuasal manusia pertama

Yang mati sekujurnya terkubur di dunia
Di mana ruh rebah sejak raga di pusara?

— “Risalah Muasal”, Nisan Annemarie (2020).

Bagi Binhad yang hidup dalam subkultur santri dan budaya Jawa (Jombang), tak sulit meniti jejak perjalanan ruh ke rumah primordialnya. Bahkan “yang mati” sesungguhnya tidak pernah pergi, ia senantiasa hadir dalam memori dan suasana hati “yang hidup”, sehingga selalu terdapat ruang liminal yang memungkinkan kita berdialog dan bercengkerama dengan mereka. Binhad secara epik mengilustrasikan situasi ini dalam puisinya:

Suara perempuan tua
semerdu tembang di pegunungan
tempat terkubur wangsa pemuja arca
Kalam Tuhan terucap di sekujur lidah renta
menyapa kabut, angsana dan patung dewa

Bahasa Arab berlogat Jawa
menyebut Nabi Muhammad
serta nama aulia dan para malaikat
serupa gema dari jazirah bergurun pasir
hinggap di tanah Wanasaba berhawa dingin

— “Kisah Tawasul Ibn Mutmainah”, Nisan Annemarie (2020).

Sebagaimana Malinowski, Ernest Becker berpendapat bahwa ironi terbesar dari kondisi manusia adalah kebutuhan mendalam untuk bebas dari kecemasan akan kematian dan kehancuran (Becker, 1973: 66). Dalam menghadapi ironi tersebut, manusia membangun simbol-simbol budaya yang tidak menua atau membusuk untuk meredakan ketakutan akan tujuan akhirnya dan memberikan janji durasi yang tidak terbatas (Becker, 1975: 3). “Segala sesuatu yang dilakukan manusia di dunia simbolisnya,” jelas Becker, “adalah upaya untuk menyangkal dan mengatasi nasib anehnya” (Becker, 1973: 27). Becker menyebut obat penangkal kecemasan eksistensial ini dengan istilah “pandangan dunia” (worldview), semacam ideologi kolektif afirmatif di mana seseorang dapat memerankan drama kehidupan yang diterimanya sebagai makhluk (Becker, 1973: 198). Menurut Becker, pandangan dunia “lebih dari sekedar pandangan tentang kehidupan; ia adalah formula keabadian” (Becker, 1973: 255).

Dalam kesempatan lain, Becker menyebut pandangan dunia dengan istilah “ilusi” (illusion), “ilusi budaya” (cultural illusion) atau “ilusi bersama” (shared illusions). Istilah “ilusi” di sini tidak merujuk pada gagasan Sigmund Freud tentang “neurosis kenanak-kanakan” (infantile neurosis) yang berasal dari Oedipus complex dan dapat mengakibatkan psikopatologi pada kepribadian seseorang (Becker, 1975: 96-98, 198-199). Sebaliknya, Becker memaknai ilusi sebagai “permainan kreatif pada level tertinggi” (creative play at its highest level). Ilusi budaya adalah ideologi pembenaran diri (ideology of self-justification) yang diperlukan, dimensi heroik yang merupakan kehidupan itu sendiri bagi hewan simbolik (symbolic animal). Seseorang yang kehilangan “ilusi budaya heroik” (heroic cultural illusion) akan mengalami “dekulturasi” (deculturation), yang berarti kematian itu sendiri. Oleh karena itu, Becker menegaskan bahwa “hidup hanya mungkin dengan ilusi” (life is possible only with illusions) (Becker, 1973: 189).

Menurut Becker, dari pelbagai jenis pandangan dunia atau ilusi budaya yang dibangun oleh manusia, “agama merupakan ‘ilusi terbaik’ untuk hidup” (the best illusion under which to live), karena agama memberikan makna secara langsung bagi manusia dan terkait dengan kondisi dasar dan kebutuhannya (Becker, 1973: 202). Becker menegaskan bahwa fungsi utama agama adalah memecahkan masalah kematian yang tidak dapat dipecahkan oleh setiap individu yang hidup (living individuals). Selain itu, agama berfungsi memberi harapan bagi manusia, karena agama mampu menyingkap dimensi tak dikenal (unknown) dan tak diketahui (unknowable), misteri penciptaan (mystery of creation) yang bahkan tak bisa didekati oleh akal manusia (human mind), kemungkinan multidimensionalitas ruang eksistensi (spheres of existence), surga dan kemungkinan perwujudan jasmani di akhirat. Dengan cara demikian, agama mengurangi absurditas kehidupan duniawi dan melampaui keterbatasan dan frustrasi yang dialami makhluk hidup. Dalam istilah agama, “melihat Tuhan” berarti mati, karena makhluk hidup terlalu kecil dan terbatas untuk dapat menanggung makna penciptaan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, dalam pandangan Becker, agama merupakan konstruk terbaik untuk memperbaiki kecemasan eksistensial karena ia dapat “memecahkan masalah kematian” (Becker, 1975: 203).

Refleksi filosofis-antropologis yang dikumandangkan Becker menemukan pijakan empirisnya dalam Terror Management Theory (TMT) yang dikembangkan oleh para pengusung psikologi eksistensial. Dalam perspektif TMT, agama berfungsi untuk mengelola potensi teror yang ditimbulkan oleh kesadaran manusia yang unik akan kematian dengan memberikan rasa keamanan psikologis dan harapan akan keabadian. Meskipun keyakinan sekuler juga dapat berfungsi sebagai manajemen teror, keyakinan agama sangat cocok untuk mengurangi kecemasan akan kematian karena ia bersifat serba mencakup, bergantung pada konsep-konsep yang tidak mudah dipatahkan, dan menjanjikan keabadian literal (Vail et.al., 2010: 84).

TMT didasarkan pada premis bahwa manusia, seperti semua hewan lain, memiliki naluri untuk bertahan hidup (instinct for survival). Namun, tidak seperti hewan lainnya, manusia memiliki kemampuan kognitif yang canggih, termasuk kapasitas untuk berpikir temporal dan refleksi diri (temporal and self-reflective thought), yang memberi mereka kesadaran akan kematian. Konflik antara naluri untuk bertahan hidup dan kesadaran akan kematian ini menciptakan potensi teror yang melumpuhkan.

Teror ini dikelola dengan menanamkan diri ke dalam “pandangan dunia budaya” (cultural worldview), yang memberikan penjelasan tentang eksistensi, seperangkat nilai yang menentukan perilaku baik dan buruk, dan janji keselamatan dan transendensi kematian bagi mereka yang mematuhi standar pandangan dunia tersebut (Simon et.al., 1997: 1132).

Pandangan dunia budaya merupakan “seperangkat keyakinan tentang sifat realitas yang dimiliki bersama oleh kelompok-kelompok individu yang memberikan makna, keteraturan, ketetapan, stabilitas, dan janji keabadian literal (literal immortality) dan/atau keabadian simbolik (symbolic immortality) bagi mereka yang hidup sesuai dengan standar nilai yang ditetapkan oleh pandangan dunia tersebut” (Harmon-Jones et.al., 1997: 24).

Keabadian simbolik diperoleh dengan cara mempersepsikan diri sebagai bagian dari budaya yang bertahan lama melampaui usia hidup seseorang, atau dengan menciptakan bukti nyata bagi eksistensi seseorang dalam bentuk sains atau karya seni agung, bangunan atau monumen yang mengesankan, menimbun properti atau kekayaan besar, dan memiliki anak dan keturunan.

Keabadian literal diperoleh melalui berbagai harapan keselamatan akhirat yang dijanjikan oleh hampir semua agama, baik berupa surga bagi pemeluk agama-agama monoteistik seperti Yahudi, Kristen dan Islam, atau eksistensi halus yang dijanjikan bagi umat Hindu dan Buddha dalam bentuk Nirvana (Solomon et.al., 2004: 18-19; Greenberg et.al., 1995: 418-419).

Motivasi yang mendasari pengejaran keabadian literal dan keabadian simbolik ini pada dasarnya sama, yakni menyangkal bahwa kematian meniscayakan “pemusnahan diri absolut” (absolute self-annihilation) (Vail et.al., 2010: 85).

Puisi-puisi Binhad dalam Nisan Annemarie (2020)—juga Kuburan Imperium (2019) dan Kwatrin Ringin Contong (2014)—banyak mengelaborasi bentuk-bentuk ekspresi budaya yang dimaksudkan untuk mengejar keabadian simbolik dan keabadian literal ini.

Binhad tidak hanya menarasikan bagaimana kaum religius berupaya mengejar keabadian literal melalui bentuk-bentuk ekspresi ritual dan peribadatan yang berpusat pada satu tujuan; Tuhan (Lihat: “Yasin dan Tahlil di Bawah Beringin”, “Pulang Dari Kuburan Abdurrahman”, “Pagar Jeruji Kuburan Kyai Asyari”, “Ziarah Trah Shoichah”, “Selasa di Pekuburan Ma’la”, “Kaki Ibn ‘Arabi”).

Binhad juga memperlihatkan bagaimana kaum sekuler berupaya mengejar keabadian simbolik melalui bentuk-bentuk ekspresi seni dan ideologi yang mampu melampaui usia kehidupan mereka yang terbatas (Lihat: “Yang Terukir di Pusara Baudelaire”, “Pusara Komunis Pertama”, “Wiski di Kuburan Hemingway”, “Pusara Semesta: Hawking”, “Kuburan Pembunuh Tuhan”, “Esksistensialisme di Montparnasse”, “Kuburan Mesin Walter Benjamin”).

Sebagaimana dicatat dengan sangat baik oleh Martin Suryajaya dalam pengantar bertajuk “Kuburan Sastra Indonesia”, sekujur buku Nisan Annemarie pada dasarnya menandai gerak ulak-alik antara tradisi dan modernitas. Binhad seolah hendak “memperlihatkan bagaimana puisi modern Eropa pun lahir dari obsesi tentang maut dan neraka,” bahkan “sensibilitas barat modern pun diorganisasikan di sekitar batu nisan.”

Last but not least, puisi-puisi Binhad dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi untuk menghayati kecemasan eksistensial secara lebih otentik. Melalui puisi-puisi Binhad, yang saya sebut dengan istilah “antropologi puitik”, kita dapat menggali kearifan tradisional yang didasarkan pada prinsip “unum noris omnes”, yang berarti “jika kau mengenal seseorang, maka kau mengenal seluruhnya” (if you know one, you know all). Prinsip ini mengekspresikan gagasan yang sama dengan prinsip “kenalilah dirimu” (know yourself) dalam ajaran Socrates dan prinsip “siapa mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya” (man ‘arafa nafsah ‘arafa rabbah) dalam ajaran Islam. Sebagai penutup, izinkan saya mengutip sekali lagi puisi Binhad:

Barangkali maut sebujur isyarat nyata
bahwa hidup semata belum sempurna
Langkah dan kata berakhir di balik tanah
adalah lubuk makna bagi yang musnah

Ruang dan waktu yang telah ditinggalkan
akankah tak terdaur di masa kemudian
Laksana sampah menggunung di dunia
lebur bersama masa dan kembali tiada?

Kuburan adalah firman terbujur membisu
dan angin membawa berita dari penjuru
Peristiwa tak sirna dari ingatan semesta
dan di bawah tanah bersemayam cerita

Kehidupan hanyalah benih masa silam
yang berkeliaran memburu masa depan
Kematian menunggu segala yang hidup
dan peristiwa menjadi pintu tak tertutup

— “Firman Kuburan”, Nisan Annemarie (2020).

Referensi:

Becker, Ernest, Escape from Evil (New York: The Free Press, 1975).

Becker, Ernest, The Denial of Death (New York: The Free Press, 1973).

Greenberg, Jeff, Linda Simon, Eddie Harmon-Jones, Sheldon Solomon, Tom Pyszczynski, And Deborah Lyon, “Testing Alternative Explanations For Mortality Salience Effects: Terror Management, Value Accessibility, or Worrisome Thoughts?,” European Journal of Social Psychology, Vol. 25 (1995).

Harmon-Jones, Eddie, Linda Simon, Jeff Greenberg, Sheldon Solomon, Tom Pyszczynski, and Holly McGregor, “Terror Management Theory and Self-Esteem: Evidence That Increased Self-Esteem Reduces Mortality Salience Effects,” Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 72, No. 1 (1997).

Heidegger, Martin, Being and Time, trans. Joan Stambaugh (Albany: State University of New York Press, 1996).

Malinowski, Bronislaw, Magic, Science and Religion and Other Essays (Glencoe, Illinois: The Free Press, 1948).

Simon, Linda, Jeff Greenberg, Eddie Harmon-Jones, Tom Pyszczynski, Sheldon Solomon, Jamie Arndt, and Teresa Abend, “Terror Management and Cognitive-Experiential Self-Theory: Evidence That Terror Management Occurs in the Experiential System,” Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 72, No. 5 (1997).

Solomon, Sheldon, Jeff Greenberg, and Tom Pyszczynski, “The Cultural Animal: Twenty Years of Terror Management Theory and Research,” in Jeff Greenberg, Sander L. Koole, and Tom Pyszczynski, Handbook of Experimental Existential Psychology (New York & London: The Guilford Press, 2004).

Tillich, Paul, The Courage to Be (New Haven: Yale University Press, 1952).

Vail, Kenneth E., Zachary K. Rothschild, Dave R. Weise, Sheldon Solomon, Tom Pyszczynski, and Jeff Greenberg, “A Terror Management Analysis of the Psychological Functions of Religion”, Personality and Social Psychology Review, Vol. 14, No. 1 (2010).

*) Rahmat Kemat Hidayatullah, adalah Dosen di UIN Jakarta.
__________________
[Yang berminat pesan Nisan Annemarie (2020) dan Kuburan Imperium (2019), langsung aja kontak penyair Binhad Nurrohmat]
https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=10220182338322355&id=1043542687

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *