UJI NYALI SEORANG PENYAIR


Ahmad Fatoni *

Hal yang pasti, setiap kreativitas yang ditulis seorang penyair akan berdasarkan motivasi tertentu, dari sebatas sambilan, penyaluran potensi diri atau sekedar hobi. Tujuannya bisa bermacam-macam, ada yang cuma mencari status sosial, aktualitas diri, tambahan penghasilan, sarana curahan hati sampai yang benar-benar bertujuan kultural.

Pernah suatu ketika penyair “binatang jalang” Chairil Anwar berkata dalam sajak “rumahku”: Rumahku dari unggun-unggun sajak/ di sini berbini dan beranak. Sebuah ungkapan yang tulus. Betapa hidup adalah sajak dan sajak adalah hidupnya.

Padahal, kenyataannya sekarang cukup pahit, bahwa pilihan hidup sebagai penyair (di Indonesia) masih sama artinya memilih hidup miskin. Memilih hidup sebagai “Chairil Anwar masa kini” sama halnya ikut berbaris di antara orang-orang miskin di negeri ini yang jumlahnya sekarang lebih kurang 28 juta jiwa.

Sementara kalau kita lihat beberapa penyair tenar di negeri ini, tidak satu pun di antara mereka yang mengabdikan diri sepenuhnya pada dunia kepenyairan. Mereka menjadikan dunia kepenyairan bukan sebagai satu-satunya profesi. Misalnya, Sapardi Djoko Damono adalah Guru Besar UI, Goenawan Mohamad adalah seorang budayawan dan kolumnis, Cak Nun, Gus Mus atau D. Zawawi Imron juga dikenal sebagai dai-budayawan selain sebagai penyair. Di sini hanya menyebut beberapa nama saja.

Di zaman yang krisis ini, sungguh mengherankan bila ada orang “nekat” terjun ke dunia kepenyairan sebagai satu-satunya lahan profesi. Terbukti, kita sebenarnya memiliki beribu-ribu penyair di tanah air, tetapi kita tidak mempunyai cukup banyak orang yang suka membeli karya-karya mereka. Ini bisa dilihat dari banyaknya buku-buku puisi yang teronggok lesu di beberapa toko buku. Bandingkan dengan buku-buku how to (pengembangan diri), kisah-kisah penuh hikmah, filsafat populer, atau keagamaan, buku puisi kurang komersil untuk dibisniskan.

Selain itu, nasib buruk yang menimpa penulis puisi—lebih-lebih terhadap penyair pemula—adalah kurangnya apresiasi media cetak terhadap nilai puisi mereka, dalam arti yang objektif. Dari segi ini telah membuat anak-anak jenjang menuju ruang “profesi” sebagai penyair tidak tersedia secara luas. Akibatnya, tidak ada jaminan bahwa mereka itu nantinya terus menaruh perhatian pada puisi. Para penyair (pemula) itu sekali dua kali bangga melihat beberapa puisinya dimuat di majalah atau koran, dan atau kemudian menerbitkannya dalam bentuk buku stensilan atau cetakan yang banyak salah cetaknya. Setelah itu hidup mereka kembali wajar sebagai mahasiswa, staf perusahaan, pegawai kantor, pengajar, pengusaha, atau profesi lainnya.

Nasib buruk yang lebih memilukan adalah kalau naskah puisi yang mereka kirimkan ke media cetak via e-mail langsung di-delete tanpa dibaca isinya terlebih dahulu. Perkara ini tentu lebih tragis ketimbang salah cetak. Kita amati sebagian media cetak cukup berselera tinggi dan khusus melanggengkan “orang bernama”, seperti apa pun kualitas karyanya. Hal sama tapi dengan alasan berbeda ialah banyak media cetak cuma memuat puisi-puisi dengan model atau tema tertentu yang dianggap sesuai dengan kebijakan redaksional sebuah media.

Fenomena tirani subjektivitas di atas diperparah lagi oleh kecenderungan khalayak yang lebih suka menulis daripada membeli karya puisi. Terlebih, kini bertebaran media jejaring sosial sebagai lahan menumpahkan kata-kata puitis. Dengan agak narsis, banyak “penyair” dadakan di dunia maya yang berharap banyak mendulang apresiasi atas puisi-puisinya ketimbang mengapreiasi karya puisi penyair sungguhan. Tidak heran bila ada sebagian penyair sejak dulu hingga belakangan ini mau menerbitkan sendiri karya-karya puisinya dan dibagi-bagikan untuk kalangan teman-teman penyair sendiri. Mungkin penerbitan semacam ini akan memberikan kepuasan asketis (batiniyah) bagi penyairnya kendati tidak harus menambang keuntungan materi.

Di tengah ketidakmenentuan nasib sebagai penyair, bagaimanapun, uji nyali kepenyairan tetap dibutuhkan. Tidak dalam kaitannya sebagai mata penghidupan, namun dalam hubungannya dengan kesungguhan melakukan kreativitas. Penciptaan puisi lebih merupakan cermin sikap objektif-empatik seorang penyair terhadap realitas alam sebagai wujud gerakan nilai tentang kehidupan dan keindahan.

Sekarang persoalannya, masih adakah sosok “Chairil Anwar masa kini” yang berani memilih dunia kepenyairan sebagai lahan profesi, meskipun kehidupan secara materi tak tercukupi? Bila pertanyaan tersebut diajukan dalam kondisi bangsa yang akhir-akhir ini megap-megap menghadapi harga-harga yang serba mahal, barangkali banyak orang yang akan mencibir: “makan tuh puisi!”

*) AHMAD FATONI, Penikmat puisi dan Penggiat Pusat Studi Islam dan Filsafat UMM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *