AROMA KOPI KIAI SUTARA


Taufiq Wr. Hidayat *

Selepas berbuka puasa, saya kembali sowan ke rumah Kiai Sutara. Saya bawakan sebungkus rokok kegemarannya. Rumahnya dengan lampu yang redup. Daun-daun segar. Agak sepi. Aroma kopi itu tercium hidungku, aroma yang selalu menggugah kenangan masa kecilku. Kulihat Kiai Sutara mendekatkan kedua matanya yang telah senja pada sebuah kitab kuno. Pertemuan saya kali ini dengan Kiai Sutara, menarik. Saya merekam semua dhawuh Kiai Sutara dengan Hp. Sehingga dhawuh-dhawuh Kiai Sutara cukup detil dapat saya sampaikan kembali dalam cerita ini.

“Assalamu’alaikum,” ujarku.

“Masuk!” jawab Kiai Sutara.

Saya duduk. Meletakkan sebungkus rokok di mejanya. Kiai Sutara masih membaca kitab kuno itu. Kemudian menutupnya.

“Mau apa kamu?”

“Ampun, Kiai. Saya sowan. Hanya sebungkus rokok, Kiai.”

“Bagus!”

“Kalau boleh tahu, kitab apa gerangan yang barusan Kiai baca?”

Kiai Sutara menyalakan rokok. Asap tebal mengepul tenang dari bibirnya. Aroma asap rokok dan wangi kopi memasuki hidungku, dua jenis aroma yang telah menjadi kenangan yang tak terlupakan dalam ingatanku. Aroma kopi dan wangi asap rokok itu telah saya hafalkan sebagai ciri khas Kiai Sutara, sejak saya masih kecil. Hidung saya menyimpan ingatan perihal Kiai Sutara sejak pertama kali saya belajar mengeja ayat suci al-Qur’an, melalui wangi asap tembakau dan aroma kopinya sampai hari ini. Tergambar jejak ketekunan dan istikomah yang menakjubkan.

“Ini adalah antologi puisi prosais karya Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad al-Barzanji. Dia penulis buku puisi berjudul “Maulid”, yakni puisi yang berkisah perihal kelahiran Nabi Muhammad, yang kita kenal dengan “Maulid al-Barzanji”. Judul aslinya “‘Iqd al-Jawahir” (kalung permata), “‘Iqd al-Jawhar fi Maulid an-Nabiyyil Azhar”. Tahu kamu?! Santri modal dengkul mana mungkin tahu. Barzanji adalah nama wilayah di Kurdistan, yakni Barzanj. Nama al-Barzanji dikenal 1920-an, saat Syekh Mahmud al-Barzanji memimpin perlawanan Kurdi terhadap Inggris yang menguasai Irak. Karena sastra sebagai ilmu, riwayat itu penting, di situ kamu belajar bagaimana tradisi keilmuan terpelihara berabad-abad. Paham?”

“Ampun, Kiai. Insya Allah saya paham.”

“Bagus!”

Kiai Sutara memutar pemutar Mp3. Terdengar musik yang asing di telinga saya. Mumpung bertemu beliau, kesempatan bertanya selalu saya pergunakan sebaik-baiknya.

“Musik apa gerangan, Kiai?” tanya saya.

“Hahaha! Kamu tidak perlu banyak tanya soal musik. Otakmu gak nutut! Otakmu isinya mesum, ngiler kalau lihat perempuan seksi. Gak tahan melihat bathuk klimis.” Kiai Sutara tertawa, nyaris terbatuk. Diteguk kopi pahitnya.

“Ampun, Kiai. Walaupun asing, musik ini enak didengar, Kiai.”

“Enak-enak diengkulmu ambruk! Ini musik berjudul “Tango from Espana Op.165 Nomor: 2”. Karya agung Isaac Albeniz. Tidak usah tanya-tanya lagi. Capek menjawab pertanyaan-pertanyaanmu yang gak bermutu!”

“Begini lho, Kiai. Saya merasa, hidup saya akhir-akhir ini kurang beruntung, Kiai. Pekerjaan makin susah gara-gara wabah. Padahal saya selalu memohon kepada Tuhan agar dimudahkan dalam segala urusan. Mohon petunjuk, Kiai.” Saya memulai perbincangan agak serius. Pelan-pelan. Berharap mendapatkan pencerahan yang manjur.

Kiai Sutara kembali tertawa. Saya tidak mengerti apa yang kali ini tengah beliau tertawakan.

“Santri tolol! Gak pandai-pandai jadi manusia. Kamu tahu Rasulullah Muhammad? Beliau manusia yang dicintai Allah. Manusia mulia yang terpilih. Dijamin surga. Tapi diam-diam tanpa sepengetahuan siapa-siapa, ia senantiasa menangis dalam sujudnya. Dia memilih sebagai orang kebanyakan. Tak pernah menyebut dirinya ahli ini ahli itu. Tidak pernah selalu kenyang. Sehingga kadang mengganjal perutnya menahan lapar di tengah negeri Arab yang panasnya bikin rambutmu terbakar. Bajunya dua potong. Rumahnya tak sampai 25 meter persegi. Tapi Allah membiarkan orang-orang Thaif melemparinya batu dan kotoran. Ia menyingkir. Memaklumi, memohonkan ampunan dan surga bagi orang-orang yang melemparinya dengan kebencian.”

“Sedang kamu, santri goblok! Hidupmu sangat gampang dibanding beliau. Selera budayamu rendah, hobimu senang sendiri, mencuri dan merampas hak orang lain, perbuatanmu memalukan, otakmu cabul, politikmu bau bangkai. Tapi kamu ingin kemudahan, ingin agar Tuhan memuliakanmu. Kalau kaya, kau menyombongi dan merendahkan yang melarat, ingin kekuasaan sekuat-kuatnya untuk menindas. Punya kepandaian untuk membodohi, menceramahi, berkhotbah-khotbah kayak bakul jamu, dan kau sebut itu dakwah. Endasmu bocor! Kalau kena musibah, kau bilang ujian Tuhan. Buat apa menguji kamu, gak ada gunanya!“

Kiai Sutara mengeraskan musik pada pemutar Mp3nya. Kali ini terdengar lagu berjudul “Pertama” yang dinyanyikan Reza Artamevia.

“Ini penyanyi perempuan Indonesia tahun 1997 dengan suara alto yang khas dan menakjubkan. Mengasikkan!” Kiai Sutara menggeleng-gelengkan kepalanya. Minat musiknya tak dapat saya ikuti, melompat-lompat segala jenis musik dan zaman.

“Tapi bagaimana mengatasi kesulitan hidup, Kiai? Saya kan bukan Nabi.”

“Tolol! Santri semprul! Ganggu orang lagi dengarin musik. Ingat! Justru karena kamu bukan apa-apa, kamu wajib punya komitmen pada Nabi yang kau imani. Kalau Nabimu sabar, kenapa kamu gak bisa sabar?”

“Dengar baik-baik, santri dengkul! Kehidupan itu berjalan atas kemungkinan-kemungkinan. Itu yang disebut “qodrat-iradat”. Dan segala kemungkinan bersarang dalam diri manusia. Manusia berdiri di persimpangan antara kemungkinan dari manifestasi sesuatu dan ketidak-manifestasian sesuatu. Sesungguhnya manusia tak berkuasa atas segala “ada”. Melainkan manusia hanya menjaga, mengolah, menggembalakan segala “ada”. Manusialah yang menginterpretasi (memikirkan), juga yang diinterpretasi (dipikirkan).”

“Berpikir itu mempertanyakan, mencari penjelasan, dan mendengarkan dengan rendah hati perihal “ada” yang menguakkan ke-ada-annya. Kemudian “khalaqal insana ‘allamahul bayan” (menciptakan manusia dan mengajarinya berbahasa). Manusia pun berada pada posisi subyek dan obyek tak terpisah, ia mengada dengan bahasa, bahasa sebagai struktur suatu masyarakat. Realitas yang tak ada menjadi ada dalam tiadanya, diperbincangkan dan dinanti-nantikan. Sejatinya semua itu berada dalam diri manusia sendiri sebagai yang berpikir dan yang dipikirkan. Tapi kamu terjebak dalam kebatilan, yakni absurditas dan keluh-kesah. “Allahu-shomad” (Allah tempat bergantung), yakni manusia harus aktif melakukan perubahan dan merupa gerak perubahan itu sendiri. Kalau ngajimu cuma “Sullam-safinah”, kamu tidak akan sampai pada pengertian ini. Sampai di sini, saya yakin pusing kepalamu. Itulah yang membuat kepalamu perlu diserempet sandal.” Kiai Sutara tertawa. Ruangan penuh asap dari rokoknya yang nikmat, menyerbakkan aroma kenangan masa kecil yang telah jauh tertinggal.

“Ampun, Kiai. Saya sedang mencoba memahami,” jawab saya dengan masih menyisakan kebingungan.

“Itulah sebabnya, kamu tidak akan sampai padaku. Kalaupun sampai, kau harus merangkak atau melata. Pikiranmu masih pikiran untung-rugi, otak-atik, tahayul, mesum, dan mengimani omong kosong!”

“Ingat! Setelah Tuhan menciptakan realitas, Dia mengajarkan nama-nama realitas itu kepada manusia: “wa ‘allama Adama al-asma’a kullaha…”. Di situ ada pendekatan skriptual, disebut “dalil naqli”. Kemudian pendekatan rasional, disebut “dalil aqli”. Ajaran Islam itu Tauhid, yakni keesaan. Tauhid itu akhlaq! Perilaku. Bukan kakean cangkem. Bukan klenik. Dia tidak di sana, sekaligus tidak di sini. Di sini sekaligus di sana, yang di luar yang di dalam. “Ahad”. Tan keno kinoyo ngopo. Jangkep ning ganjil. Ganjil ning jangkep. Mumet endasmu!” Kiai Sutara tertawa.

“Segala sifat dan nama-nama-Nya utuh. Dalam al-Malik (penguasa), ada as-Syakur (bersyukur), yakni kerendahan hati-Nya terhadap diri-Nya sendiri melalui makhluk, syukur-Nya meliputi. Apa itu? Itulah sarana, itulah teladan. Sarana dan teladan bagi seluruh ciptaan, terutama manusia untuk mengenali dirinya sendiri yang sempurna tapi rapuh, yang pintar tapi tolol kayak kamu! Kesadaran terhadap kejahiliyaan nafsunya: “faqod jahila nafsahu”. Maka dalam ajaran Islam, pengentasan derita sesama dan berbagi rejeki (apakah itu materi, kenikmatan atau kebahagiaan) adalah alat ukur vital keimanan. “Tak beriman seseorang yang kenyang, tapi tetangganya lapar sedang ia mengetahui,” dawuh Kanjeng Nabi Muhammad.”

“Sebelum aku lanjutkan, aku tanya dulu, apakah otak dan telingamu masih pada tempatnya?”

“Ampun, Kiai. Inggih. Insya Allah, Kiai,” jawab saya cengengesan.

“Bagus! Hubungan dua arah antara miskin dan kaya, di sini sangat tegas dan mendasar. Agar tidak terjadi keterasingan yang cuma memosisikan manusia dengan ukuran materi dan pekerjaan. Dunia itu penting sebagai jembatan setiap gerak dan upaya kemanusiaan. Kenapa kamu mengabaikannya? Kenapa kamu sibuk dengan urusan formalitas belaka? Islam itu “yashluhu likulli zamanin wa makanin”, gagasan keselamatan, penyelamatan, dan menyelamatkan sebagai pedoman dan sikap hidup yang sesuai ruang dan waktu. Yang membebaskan dari kerdilnya simbol dan penanda, menjelma sikap luhur kemanusiaan. Bagaimana dapat sesuai ruang-waktu, kalau kamu kerdilkan ajaran agamamu itu cuma dalam bentuk formal dan nafsu berkuasa, mempersetankan keselamatan dan kepentingan bersama sebagai “mashlahatil ‘ammah?”

“Inggih, Kiai. Lalu bagaimana saya harus menghadapi kesulitan hidup yang saya alami, Kiai?”

“Goblok! Dari tadi gak paham-paham. Tolol! Dengar, santri kelas “Sullam-safinah”. Obatilah penderitaanmu dengan penderitaan. Sehingga penderitaan itu tertutup dengan penderitaan baru. Justru kamu akan sembuh. Tidak ada manusia ajaib. Sumber mukjizat para nabi adalah hatinya. Sumber kekuatan orang biasa, terletak pula pada hatinya. Sebab yang ajaib itu hati yang teguh, tulus, dan sabar. Dan itu hanya dapat dibuktikan dengan waktu. Tidak ada manusia sakti, bisa melihat masa depan secara tepat dengan dugaan-dugaan gombal, atau mengatasi kesulitan dengan jalan pintas, bohong itu! Palsu! Selesaikan kesulitanmu dengan kesulitan, yakni bekerja keraslah, gunakan kreativitasmu sebaik-baiknya, hadapi, gebuk dan pukulilah kesulitan itu, sampai segala kesulitan mohon ampun dan tunduk padamu, pada potensi sejati kemanusiaanmu. Dan jangan berputus harap kepada Tuhan. Pertanyaannya, apakah kamu masih punya Tuhan?”

“Ampun, Kiai. Saya tetap bertuhan, Kiai.”

“Aku kira Tuhanmu sudah ganti android. Hahaha! Pulang sana, saya mau tarawih, mumpung kepalamu belum saya lempar sandal.”

“Inggih, Kiai.”

Saya buru-buru mohon diri. Kiai Sutara segera beranjak meninggalkan saya. Badannya yang tua tampak kokoh dan tegas dalam melangkah. Tinggallah saya sendiri dalam perjalanan pulang yang panjang, yang tak kunjung paham, tak habis mengerti. Sedang wangi asap rokok dan aroma kopi Kiai Sutara senantiasa tersisa dalam ingatan. Masa kecil yang berlari-lari itu pun melintas perlahan-lahan di dalam kenangan.

Sobo, 2020.
_____________________
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab Iblis” (PSBB, 2018), “Agama Para Bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *