AGAMA YANG SIBUK


Taufiq Wr. Hidayat *

Malam itu, saya kembali sowan ke ndalem Kiai Sutara di pinggiran kota. Malam itu saya melihat beliau sedang membaca sebuah kitab yang tebal. Listrik sedang pemadaman. Beliau menyalakan lilin. Suasana gelap dan sebuah lampu api, mengingatkanku pada masa kecil. Suara orang mengaji dari surau. Terdengar nyaman di telinga. Tak memekakkan. Serasa damai. Tak tampak gairah menggebu untuk menunjuk-nunjukkan agama. Melainkan agama memang suatu kewajaran kemanusiaan yang saling mengerti dan rendah hati.

Kopi kental pahit di atas meja Kiai Sutara. Aroma tembakau. Dan sunyi yang hikmat sekali.

“Menurut Kiai, apakah kita sebagai orang yang beragama harus bisa membaca kitab sucinya, membaca kitab-kitab rumit setebal itu, Kiai?” tanya saya memecahkan sepi.

Kiai Sutara tertawa.

“Tidak harus, santri. Beragama itu keperluan identitas dan menjaga struktur masyarakat. Yang lebih penting, walau gak ngerti ilmu-ilmu agama, ia mengerti menjadi manusia yang baik. Yang tampak dari agama adalah identitas. Tapi yang utama dalam beragama adalah perilaku yang baik. Kalau tidak tahu, bertanyalah. Kalau tahu, jangan sok tahu. Sudah hidup saja yang baik. Itu sudah beragama. Jalani apa pilihan agamamu sebaik-baiknya,” Kiai Sutara menutup sebuah kitab tebal di mejanya.

“Tapi apakah orang beragama harus selalu sibuk dengan agamanya, Kiai?”

“Itu kamu. Karena kamu memang tolol. Agamamu kau jadikan sibuk menghakimi kehidupan, bukannya berdialog dengan kehidupan dan mengarifi segala perubahan. Ngapain kamu sibuk dengan agama jika segala perilaku hidupmu adalah agama itu sendiri dan keteguhan iman pada kebaikan? Jika kau anggap agama belaka simbol dan doktrin-doktrin, kau akan sibuk dengan simbol dan doktrin-doktrin itu. Kita juga perlu dangdutan, perlu kerja, perlu melihat sepakbola, perlu pandangan yang tenang terhadap kehidupan. Untuk berupaya saling mengarifi dan saling mengerti. Alangkah ribet dan ributnya hidupmu jika sedikit-sedikit agama, sedikit-sedikit dosa, sedikit-sedikit makna, sebentar-sebentar khotbah dan ceramah-ceramah. Keributanmu memaknai hidup ini pakai agama atau moral, justru membuatmu hidup kayak robot. Susah disuruh santai mendengarkan lagu dangdut sejenak saja.”

Saya terdiam. Pelan-pelan saya mencoba cerna dawuh-dawuh Kiai Sutara supaya tak mengalami salah paham.

“Tapi Adam diturunkan ke bumi lantaran ia melanggar perintah Tuhan, Kiai.”

“Dengarkan baik-baik, santri dengkul. Orang mengira Adam diturunkan ke bumi seperti dijatuhkan dari langit. Ya boleh saja kau tafsirkan begitu. Tapi di situ perlu pendalaman pada tafsir yang disebut “tafakkur” dan “tadabbur”. Berkali-kali ayat suci memerintahkannya. “Tafakkur” adalah memikirkan dan mengamati. Meneliti dan mengobservasi, dan seterusnya itu termasuk di dalamnya. Dan “tadabbur’ adalah mencermati. Tadabbur itu berpikir dengan melihat akhirnya. Tafakkur adalah kekuatan dalam berpikir terhadap apa yang dilihat. Bukankah ini kalau kita kaitkan dengan metodologi keilmuan termasuk cara kerja akal atau logika?”

“Kata “diturunkan” dalam ayat suci tak bermakna harus jatuh dari ketinggian. Itu pemaknaan dangkal. Sedang ayat suci itu “qaulan tsaqila”, perkataan yang sulit dan rumit, bisa juga berat, dalam, luas, muskil. Diturunkan ke bumi mengandung pengertian derajat atau statusnya diturunkan, dari status surga yang penuh kemudahan ke status bumi yang penuh perjuangan. Ini kan begitu. Makanya ngaji yang benar! Jangan sekali ngaji langsung jadi ustdaz dadakan. Pengertian itu saja masih membuka peluang yang lebih dalam lagi pada wilayah tadabbur dan tafakkur. Katakanlah tafsir dalam bentuknya yang praktis.”

“Bagaimana Kiai melihat anjuran “hijrah” dalam agama kita?”

“Kalau “hijrah” dipahami dan diklaim berganti tempat dan busana, itu kan dangkal. Kamu menyepelekan ayat suci yang ” qaulan tsaqila” itu. Alasan utama yang membuat orang macam Abu Jahal harus dilawan adalah kebodohannya yang merusak. Sehingga ia memperlakukan agama sebagai sesuatu yang harus tampak, simbol, dan merendahkan sesamanya. Bukan nilai. Yang memandang busana saja dalam istilah yang disebut “hijrah”, sebenarnya sudah sangat jahiliyah. Abu Jahal begitu. Itulah kenapa Nabi berkata tegas: “Innallaha laa yandhuru ila suwarikum wa amwalikum, walakin yandhuru ilaa qulubikum wa a’malikum”; sungguh-sungguh Allah tidak melihat bajumu dan hartamu. Melainkan melihat hatimu dan perbuatanmu. Jelaslah bahwa baju sebagai status dan keturunan atau yang tampak dan materi sudah disembah sejak zaman jahiliyah sebagai berhala. Bukannya fungsi dan nilai. “Hijrah” itu fungsi dan nilai. Kebaikan kemanusiaan yang dibuktikan oleh waktu dan pergaulan di dalam masyarakatmu. Pengertiannya jauh lebih luas dan kontekstual itu! Tapi kenapa agama kau bikin sibuk membenarkan kebodohanmu yang kau jejal-jejalkan sama orang lain? Gak ada kerjaan saja!”

“Paham, santri goblok?”
“Ampun, Kiai. Paham, Kiai.”

Saya menundukkan kepala dalam-dalam. Kiai Sutara kembali menyalakan rokoknya. Asap tebal memenuhi ruangan. Aroma tembakau Kiai Sutara sampai dalam kedua hidungku. Dan saya terus berusaha mencerna dawuh-dawuh beliau dalam diriku.

Tembokrejo, 2020

_____________________
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *