Bek Sayap

Alfian Dippahatang *
Jawa Pos, 8 Mar 2020

BEK sayap itu bernama Kasmir. Ia rajin membantu penyerangan di sisi kiri pertahanan lawan. Pertandingan menyisakan lima belas menit saat insiden tak menyenangkan itu terjadi. Kelurahan Tanuntung telah unggul dengan skor 2-0. Saat kisruh, Pasli berhenti mengamati waktu pertandingan pada arloji yang melekat di pergelangan tangan kanannya.

”Aaahhh…”

Dahi Pasli berkerut. Seketika itu juga ia merinding. Ia merasa kaki kanannya ikut nyeri.

Di sisi lain, tak ada secuil pun penyesalan di raut muka pemain yang melanggar Kasmir. Bahkan, yang tampak pada pemain bertubuh jangkung itu adalah kepuasan.

”Balas. Patah. Balas. Patahkan kakinya!”

Riuh para pendukung Kelurahan Tanuntung menggebu-gebu. Meloncat-loncat kayak kesurupan. Bahkan, kaki-kaki mereka telah jauh masuk ke garis permainan. Tak lama, orang-orang sudah mengerumuni sisi lapangan.

Pasli pas berada di hadapan Kasmir saat terjatuh dan mengerang. Ia melihat dengan jelas pergelangan kaki Kasmir patah seperti batang tebu yang ditebang. Kasmir ditekel cukup keras oleh pemain bernomor punggung 2 –nomor yang tercantum pada punggung Kasmir.

Dari dulu, tanah dan rumput di lapangan Tanuntung tak begitu rata. Kerikil juga masih berserakan. Sisa hujan sebelum pertandingan dimulai sore itu membuat lapangan basah. Sebenarnya tak bisa dikatakan bagus untuk menekel sambil meluncur, tetapi karena tensi dan emosi pertandingan, Kasmir yang dianggap membahayakan gawang lawan harus dicegat tanpa ampun dengan kaki yang sudah menarget untuk melanggar.

Nomor punggung 2 dari pihak lawan itu adalah Rakka. Di mata Pasli, Rakka memang tak memiliki niat untuk mengambil bola, tetapi sepenuhnya sengaja bertindak keras untuk mencederai Kasmir. Kasmir benar-benar tak sanggup menahan tangis. Kasmir yang gondrong juga manusia yang tak bisa menahan sakit.

”Gondrong juga manusia biasa. Sakit tak mengenal bentuk fisik!” kata salah seorang penonton di samping Pasli.

Sejak pertandingan dimulai, para penonton memang menyoroti tingkah laku Rakka yang cukup keras dalam merebut bola dan mengawal pemain. Rakka sering melakukan pelanggaran. Kelakuan Rakka makin menjadi-jadi dan tampak garang jelang berakhirnya pertandingan –seolah bermain bola hanya persoalan otot, tak perlu memakai hati dan otak. Dengan skill yang mumpuni dan selalu merepotkan Rakka, Kasmir memang harus dihentikan paksa.

Di turnamen antarkampung ini, khusus wilayah Kecamatan Herlang, lapangan Tanuntung memang tak pernah tergantikan. Delapan tim dari desa atau kelurahan berlaga untuk memperebutkan hadiah berupa sabun Lux batangan, handuk murahan, dan uang tunai satu setengah juta rupiah. Anehnya, tak ada trofi. Tentu saja, hadiah-hadiah itu tak begitu memuaskan. Demi hobi dan memeriahkan suasana, para lelaki di tiap desa bersatu membentuk tim bola. Pemain tak diberi jaminan jika mengalami sakit atau luka. Semua itu berpulang pada individu masing-masing.

Dalam turnamen yang digelar sekali setahun itu, tak ada istilah tuan rumah. Namun, para penonton masih menyebut tim Kelurahan Tanuntung sebagai tuan rumah karena lokasi lapangan berada di daerah tersebut.

”Bunuh!”

Seorang lelaki berkepala botak menambah ketegangan. Kemudian, ucapan yang sama diikuti orang-orang, saling susul membuat situasi makin pecah dan mengerikan.

”Jangan mendekat di kerumunan. Bahaya.”

Tangan seorang lelaki dewasa menahan Pasli yang hendak bergerak. Ia dinasihati penonton yang seperti kenyang pengalaman menyaksikan kekerasan.

Pasli melihat lelaki berkepala botak dan bertubuh tambun itu kembali memprovokasi keadaan. Pendukung dari Kelurahan Tanuntung kian berang. Mereka merasa harga diri telah diinjak-injak di kampung mereka.

Rakka dikejar-kejar. Sekelompok orang berusaha mengamankan Rakka. Beberapa orang dari kedua tim pendukung bentrok. Belum ada yang berani melerai.

Wasit yang memimpin pertandingan memang tak adil, Rakka hanya diberi kartu kuning. Dari awal turnamen, di antara banyak pelanggaran keras, kartu merah memang tak pernah muncul dari saku wasit. Pasli menganggap wasit memang tak memiliki kartu tersebut untuk menghukum pemain. Keadilan di lapangan seperti susah ditegakkan.

Di partai final ini, wasit tak pelak ikut menjadi pusat sasaran. Ia dikejar-kejar untuk ditendang, dipukul, dan dilempari benda keras oleh pemain dan penonton yang kecewa dengan kinerjanya.

”Wasit, asu. Asu, wasit. Asu. Asu. Jangan biarkan lolos!” teriak orang-orang.

”Wasit tailaso!” orang-orang tak henti memaki.

Teriakan yang memojokkan wasit terus terdengar. Lantang. Polisi yang hanya berjumlah tiga orang tak kuasa melakukan pergerakan dan hanya menatap kekacauan.
***

Arloji yang selalu melekat di pergelangan tangan kanan Pasli adalah pemberian Rumallang, almarhum kakeknya. Ia telah memakai benda itu selama lima tahun lebih.

”Tak usah jadi pemain sepak bola!”

Ketika itu, setelah memberi arloji berwarna hitam, Rumallang menasihati Pasli yang berumur enam belas tahun.

”Kenapa kakek tiba-tiba bilang seperti itu?”

”Saya lihat kamu mulai menggemari olahraga ini. Cari cita-cita lain yang lebih baik dan bisa dibanggakan!”

”Saya memang tak bercita-cita menjadi pesepak bola, Kek.”

”Bagus. Saya kira kamu mau serius jadi pesepak bola. Di kampung kita, sangat susah melakukannya. Kamu tak pernah bisa naik level. Tak akan bisa dilirik para pencari bakat. Kampung kita pedalaman dan terlalu jauh dari pusat. Berjuang untuk ikut seleksi juga belum tentu tembus di tahap akhir jika tak dibarengi dengan uang. Kemampuanmu hanya dinilai begitu-begitu saja oleh orang-orang!”

Rumallang memang pesimistis. Sebab, ia punya pengalaman ikut seleksi di kabupaten. Kala itu, saat seleksi, ada pemain yang lebih andal dalam persoalan skill, fisik yang bagus dan kuat, tetapi gugur. Pemain yang tak ia prediksi lolos bisa lolos. Belakangan ia cari tahu, ternyata sepak bola juga disusupi hantu berduit.

”Kan hanya untuk olahraga, Kek!”

”Kalau untuk olahraga biasa, tak masalah, Nak.”

”Saya kira Kakek tahu, bermain bola cukup bagus untuk kesehatan dan kebugaran. Dan bukan berarti saya tiap sore pergi main bola, lantas saya ingin serius jadi pemain sepak bola.”

”Jika seperti itu, saya bisa lega dan senang mendengar langsung darimu, Nak!”

Rumallang memang tak ingin cucunya lebih jauh mencintai sepak bola. Di kampung, jika cedera mendera, tak ada yang bakal bertanggung jawab. Turnamen antarkampung tak menjamin masa depan individu. Ia telah merasakannya dan hanya menyisakan penyesalan.

”Kaki sebelah kiri saya patah karena sepak bola antarkampung.”

Pasli tahu bahwa kaki kiri kakeknya pernah patah, tetapi baru kali ini kakeknya yang bilang sendiri. Selama ini Pasli juga segan menyinggung masalah itu. Ia segan kepada kakeknya yang tak bisa ia tebak kepribadiannya. Jika telanjur diam, ya diam. Jika telanjur bicara, ya bicara, meski kesannya masih banyak hal yang dirahasiakan mengenai pengalaman sepak bolanya.

”Saat saya mengalami itu, saya mengubur harapan untuk serius menjadi pesepak bola. Hanya sia-sia. Sebab, kita hanya besar di situ-situ saja.”

”Maksudnya, Kek?”

”Jika kita merasa berkualitas, nama kita hanya harum di kampung. Tak naik level. Pokoknya serbasusah menembus tim profesional yang bermain di kasta yang jelas. Pemerintah setempat juga abai mengenai kualitas individu warganya.”

Pasli mengangguk-angguk. Berpikir dan menimbang-nimbang pernyataan kakeknya.
***

Pasli terkenang ucapan almarhum kakeknya saat melihat peristiwa baku hantam puluhan menit lalu. Kasmir telah dibawa pulang ke rumahnya dengan menggunakan mobil. Sekelompok orang telah mengamankan Rakka dari kejaran massa yang sangat kesal menumpahkan amarahnya. Jumlah aparat keamanan telah bertambah, tapi tak cukup sepuluh orang berada di area lapangan.

”Kami selalu latihan bersama. Kami cukup dekat dan bersahabat!”

Salah seorang pemain dari Kelurahan Tanuntung yang duduk di tepi lapangan membeberkan kepada orang-orang yang bertanya mengenai sosok Rakka.

”Mungkin karena waktu pertandingan sudah hampir selesai, tim lawan yang juga ingin juara, ditambah sorakan penonton yang terdengar seperti menjatuhkan lawan, emosi itu tak tertahankan. Hal seperti itu memang biasa. Tetapi, perlakuan Rakka memang tidak bisa dibenarkan. Terlalu gegabah mengambil tindakan.”

”Wasit juga kurang ajar!” ujar penonton yang duduk di dekat pemain yang setim dengan Kasmir itu. Sejak tadi, penonton tak kuasa menahan kekesalan.

”Pelanggaran keras hanya diberi kartu kuning. Wasit itu memang sekampung dengan tim lawan. Sangat jelas, wasit selalu mencari cara agar kita tak juara lagi.”

”Ya sudahlah, kemenangan di depan mata. Gelar juara kita pertahankan!” tutup sang pemain, berusaha bijak.
***

Sore itu sebenarnya Pasli tak ingin pergi bermain bola. Ia merasa tubuhnya tak butuh olahraga. Namun, ia tak enak hati menolak ajakan temannya yang datang menyambangi rumahnya. Pasli memakai seragam yang pernah dipakai almarhum kakeknya untuk main bola sewaktu muda.

”Kau makin tampak seperti kakekmu. Tapi, hari ini kau akan kulewati dengan gocekan kedua kaki ini!” ujar temannya yang memang tiap main bola berposisi sebagai penyerang.

”Tak akan saya beri kemudahan untukmu melewati saya!” balas Pasli dengan nada yakin.

Pasli dikenal teman-teman sepermainannya sebagai bek tangguh yang pernah sekali mematahkan pergelangan kaki penyerang lawan. Sialnya, Pasli melakukan itu saat bermain bola biasa, bukan turnamen.
***

Alfian Dippahatang, Lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan, 3 Desember 1994. Bergiat di Institut Sastra Makassar. Buku kumpulan cerpennya, Bertarung dalam Sarung (2019), longlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2019. Novelnya, Manusia Belang, juara III Sayembara Novel Basabasi 2019. Mengikuti Residensi Penulis 2019 oleh Komite Buku Nasional ke Prancis.
https://www.jawapos.com/minggu/cerpen/08/03/2020/bek-sayap/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *