Gairah dan Petualangan Peneliti “Nias Selatan”


Arif Yudistira *
Koran Jakarta, 17/2/2017

Alkisah di tahun 1886 tepatnya di bulan April-September, seorang antropolog asal Florence Italia, Elio Modigliani melakukan petualangan di daerah pemburu kepala manusia di Nias Selatan. Cerita bermula dari keberhasilan Vanni Puccioni mendapat buku bagus dari pendeta di Nias yang ditulis oleh Elio Modigliani yang berjudul Viaggio a Nias atau Perjalanan ke Pulau Nias (1890). Di masa penjajahan Belanda, Elio Modigliani meminta izin kepada pemerintah Belanda di waktu itu untuk menyediakan pengawal untuk melakukan ekspedisinya itu. Akhirnya setelah semua peralatan lengkap, anak buah pun disediakan, Elio berangkat mengarungi ancaman dan halangan menuju pulang Nias paling selatan yang konon susah ditaklukkan berulangkali oleh Belanda.

Apa sebenarnya hasrat Elio sehingga ia begitu ingin meneliti dan membawa pulang hasil ekspedisinya?. Pengetahuanlah yang membawa Elio menyusuri rawa-rawa, gunung, danau dan laut. Ia hendak menyimpan apa yang ia teliti itu ke dalam museum Florence di Italia.

Berbekal berpeti-peti tembakau dan barang antik lainnya yang memungkinkan menarik suku-suku di Nias selatan, Elio berani menyeberangi sungai, menerobos hutan dengan ancaman hewan liar sampai dengan ancaman pemburu kepala manusia. Di tahun 1886, Nias waktu itu masih merupakan daerah yang cukup tradisional. Elio menuliskan pengisahannya mengenai betapa orang Nias di masa lalu begitu sederhana teknologinya sehingga barang-barang dan aktifitas ekonominya hanya dilakukan dengan tangan manusia.

Begitu pula dalam hal medis, mereka hanya mengandalkan ere atau dukun yang melakukan pengobatan dengan memadukan kepercayaan mistis dengan perantara penyembelihan babi. Kita simak bagaimana Elio menuturkan perihal kebiasaan berburu kepala manusia bisa berjalan di Nias. “Setiap laki-laki di desa mempunyai tujuan menjadi prajurit yang ganas, tanpa mempedulikan bagaimana sifat aslinya. Untuk naik pangkat menjadi prajurit, mereka harus berpartisipasi menghias osale, minimal dengan sebuah tengkorak yang dibunuh dengan tangannya sendiri”. Inilah salah satu alasan mengapa perburuan kepala manusia masih dilaksanakan di tahun itu. Alasan lain adalah karena maskawin dalam pernikahan disana adalah kepala manusia. “tidak ada seorang laki-laki pun yang dapat melamar seorang perempuan tanpa membawa maskawin berupa kepala manusia [….] dan disanalah emas kurang berharga dibandingkan dengan tembaga dan kuningan (h.35).

Elio hanya menggunakan senjata senapan modern di masa itu dengan kemampuan menembak yang sangat jauh dan akurat serta bisa menembakkan lebih dari sebelas kali. Kemampuan lain Elio hanya mengandalkan kecerdasan dan kemampuannya dalam menciptakan dialog yang konstruktif dengan suku Nias dalam situasi apapun bahkan dalam situasi paling buruk (h.128).

Selama perjalanan ditemani anak buahnya yang cukup pengalaman dari Jawa dan dari suku setempat yang menguasai bahasa pedalaman dengan begitu lihai Elio memberanikan diri melaksanakan ekspedisi ini. Elio sendiri adalah seorang keturunan seorang bankir yang kaya raya, sehingga orangtuanya mendorong penuh kemauan Elio ini.

Elio mengoleksi berbagai hewan mulai dari kupu-kupu, laba-laba, sampai dengan burung dan ular. Semua barang bawaannya ditaruh dalam peralatan yang cukup memadai dan diawetkan serta kelak dikemas dalam peti yang rapi. Elio juga dilengkapi dengan kamera yang cukup canggih di waktu itu, hingga mampu memotret gambar burung serta potret orang Nias di masa itu.

Kedatangannya bermula dari Bukit Titoli di Teluk Dalam berlanjut ke Bawolowalani, Hilizihono, Hilisimaetano, Kepulauan Hinako, hingga ke Gunung Lolomatua. Di setiap tempat yang ia singgahi, ia berusaha bertemu dengan raja dari suku tersebut dan menawarkan barang yang ia bawa terutama tembakau, dan barang antik lainnya seperti pernak-pernik. Elio mengatakan maksud kedatangannya di suku-suku yang ia singgahi dan mencoba untuk mengatakan berbeda ia dengan orang kulit putih lainnya (Belanda) yang datang menjajah.

Elio berhasil meyakinkan dan membawa hasil ekspedisinya bukan tanpa halangan. Elio bahkan hampir kehabisan beras dan hampir perang dengan penduduk setempat. Ia meyakini, bahwa dengan menjalin persaudaraan dan komunikasi yang baik, ia berhasil menaklukkan rasa takutnya sendiri serta diterima dengan baik oleh raja-raja di setiap suku yang ia singgahi. Gairah Elio Modigliani inilah yang barangkali patut kita tiru di masa sekarang. Penting bagi peneliti untuk mengetahui dan mengenal betul tempat yang akan diteliti. Mulai dari orang, kehidupan hingga latar belakang geografisnya.

Selain kecakapan, sikap Elio yang rendah hati dan penuh persahabatan menjadikan lebih dekat dengan objek yang diteliti hingga mereka tak merasakan kecurigaan dan ancaman.

*) Arif Yudistira, terkadang dengan nama lengkap Arif Saifudin Yudistira, tuan rumah Pondok Filsafat Solo, Pengelola doeniaboekoe.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *