John Rogers Searle dan Puisi-puisi Saya

Imam Nawawi *

Tahun 1980, John Rogers Searle menulis artikel berjudul “Minds, Brains, and Programs,” dalam jurnal Behavioral and Brain Science, Volume 3 Nomor 3 hlm 417-457. Tanggal 24 April 2020, saya menulis dua buah puisi bertitel “Ramadhan I” dan “Ramadhan II”. Apa hubungan substansial, antara artikel ilmiah, dan karya sastra yang terpaut 20 itu?

John R. Searle, seorang filsuf Amerika sekaligus profesor filsafat di Universitas California, Berkeley. Karya-karyanya menyangkul filsafat bahasa, filsafat pikiran, dan filsafat sosial, sebagai pepintu masuk ke dalam puisi-puisi saya. Karenanya, penting sekali membahas hipotesa Searle satu-persatu dalam artikel tersebut.

Searle sebenarnya hanya menguji konsekuens-konsekuensi yang mungkin lahir dari dua proposisi, yang diajukannya sendiri. Dia menegaskan tujuan pemikirannya itu dengan mengatakan, “this article can be viewed as an attempt to explore the consequences of two propositions.” Proposisi perkara penting dalam ilmu pengetahuan, termasuk filsafat.

F Budi Hardiman mengutip Fichte yang berpendapat bahwa filsafat harus menjadi ilmu pengetahuan (wissenschaft). Untuk menjadi ilmu pengetahuan, filsafat butuh proposisi yang nantinya dapat membentuk keseluruhan yang sistematis. Filsafat membutuhkan satu proposisi dasar yang dijamin kebenarannya yang mendahului proposisi-proposisi lainnya (Hardiman, Filsafat Modern, 2007: 159).

Dua proposisi yang John R. Searle ajukan itu; pertama, “intentionality in human beings (and animals) is a product of causal features of the brain.” Manusia dan binatang, sama-sama memiliki intensionalitas. Sedangkan intensionalitas tersebut, sebuah produk yang dihasilkan oleh kerja dan proses otak yang bersifat kausalitas, atau bercirikan hukum sebab-akibat.

Setelah John Searle mengandaikan ada hukum sebab-akibat, otomatis dia butuh dua entitas untuk memenuhi konsepnya. Di sana, dia pun menempatkan dua entitas itu berupa otak (brains), dan proses-proses tertentu di dalam jiwa (mental processes). Dua komponen inilah yang dipakai memuluskan adanya hubungan kausalitas tertentu. Searle mengatakan, “I assume this is an empirical fact about the actual causal relations between mental processes and brains.”

Ketika otak mulai bekerja, maka proses-proses di dalam jiwa/mental manusia maupun binatang juga bekerja. Ketika otak dan jiwa sama-sama bekerja, maka intensionalitas itu terjadi. Searle mengatakan, “it says simply that certain brain processes are sufficient for intentionality.” Memahami peran kinerja otak dan mental yang melahirkan intensionalitas sangat penting, demi memahami proposisi pertama John R Searle.

Hipotesa kedua John R Searle ialah memasang program komputer, merupakan sebuah kondisi yang tidak pernah cukup untuk melahirkan intensionalitas. Ia mengatakan, “instantiating a computer program is never by itself a sufficient condition of intentionality.” Sebuah komputer dapat diinstal dengan program tertentu, sehingga menyerupai perilaku manusia maupun binatang. Tetapi bagi Searle, sampai kapanpun tidak akan menyerupai manusia dan binatang. Karenanya, akan selamanya tak kan mampu melahirkan intensionalitas.

Berdasar proposisi pertama, intensionalitas hanya akan dilahirkan oleh kolaborasi otak dan mentalnya, sedangkan program yang diinstal ke dalam komputer tidak mencerminkan otak dan mental. Karena itulah, intensionalitas tidak lahir dari komputer yang diprogram sedemikian rupa. Jadi, inti dari artikel jurnal Searle itu, hanya membuktikan bahwa manusia memang mampu memasukkan program ke dalam komputer, tapi komputer tidak akan menghasilkan intensionalitas. Inilah proposisi kedua.

Dua proposisi di atas menghasilkan beberapa konsekuensi; pertama, otak yang mampu memproduksi intensionalitas, tidak dapat diganti dengan menginstal sebuah program ke dalam komputer. Program komputer secanggih apapun tidak akan pernah menggantikan otak manusia, yang menginstal dan menciptakannya. Searle mengatakan, “the brain produces intentionality cannot be hat it does it by instantiating a computer program.”

Konsekuensi kedua, mekanisme apapun yang mampu memproduksi intensionalitas haruslah memiliki kekuatan kausal yang setara dengan otak. Kecanggihan komputer harus setara otak si penginstal/penciptanya. Sehingga ada duplikasi di sana. Peniruan program komputer atas otak manusia. Searle mengatakan, “any mechanism capable of producing intentionality must have causal power equal to those of the brain.”

Konsekuensi ketiga, segala upaya untuk menciptakan intensionalitas artifisial tidak akan pernah sukses hanya dengan menciptakan desain sebuah program, tapi haruslah menduplikasi kekuatan kausalitas yang dimiliki otak manusia. Searle mengatakan, “any attempt lierally to create intentionality artificially (strong AI) could not succed jus by designing programs but would have to duplicate the causal powers of the human brain.”

Teori filsafat intensionalitas John R Searle di atas dapat digunakan menganalisa bait-batin dalam puisi saya. Salah satu baitu tersebut berbunyi:
“…mengapa kepada laut engkau berterima kasih atas ikan dan garam yang diberikan/mengapa kepada pohon engkau menundukkan kepala dengan khidmat atas buah-buah yang dimatangkan/mengapa kepada sampan dan kereta engkau bersujud karena mengantar pada seberan/sampaikan pada mereka: panjatkan puja puji syukur kepada gagasan yang tumpah ke dalam kepala tanpa tahu dari mana asalnya!..”

Penggalan bait di atas terdapat dalam puisi saya berlabel “Ramadhan II”. Pertama, saya sepakat dengan John R Searle bahwa manusia, binatang, dan tumbuhan memiliki kekuatan kausalitas (causal powers). Searle memang tidak menyebut soal tumbuhan, saya sendiri yang menambahinya. Karena tumbuhan dan binatang, sama saja pada konteks kepemilikan mereka atas hukum kausalitas dalam dirinya.

Jika manusia dan binatang lapar, maka akan berusaha dan berdoa untuk mencari makanan. Tumbuhan juga. Setelah manusia, binatang, dan tumbuhan telah makan serta minum, maka mereka semua tinggal tidur, lalu sesudah bangun, menyadari bahwa diri mereka telah tumbuh lebih dewasa dibanding hari kemarin. Bagi umat muslim seperti saya, ada keyakinan bahwa manusia, bintang dan tumbuhan, sama-sama berdoa kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Jagad semesta ini sebenarnya sebuah mini komputer.

Penjelasan bahwa jagad semesta ini merupakan komputer, dapat Anda temukan dalam kitab-kitab tasawuf. Bukan tempatnya saya panjang-lebar bicara itu di sini. Tetapi, bahwa manusia dan binatang, memiliki kekuatan kausalitas pada dirinya, saya sepakat dengan Searle. Secara alamiah, komputer lebih rendah tingkatannya dibanding manusia dan binatang, juga tumbuhan. Sebab, tiga makhluk ini memiliki intensionalitas yang tidak dimiliki komputer.

Hal yang tidak dibahas Searle, mungkin itu proyek masa depan ilmuan, adalah menciptakan komputer yang hidup. Jika baterainya habis, ia mengisi sendiri. Jika komponennya rusak, ia bisa memperbaiki sendiri. Hingga mencapai satu puncak kondisi di mana “pencipta” komputer tersebut terkalahkan oleh komputer sebagai “ciptaannya” sendiri.

Sebagaimana Searle lebih mengagumi otak manusia dibanding program komputer, saya pun kagum pada gagasan yang tumbuh di dalam kepala, daripada berterimakasih pada alam semesta (laut, ikan, pohon, buah) atau pada teknologi (sampan, kereta, dll.). Saya lebih menaruh kagum pada “gagasan” di dalam kepala manusia, yang tidak dimiliki oleh teknologi, seperti sampan dan kereta. Bahkan, kualitas gagasan di kepala saya jauh lebih berharga daripada alam semesta ini.

Untuk itulah, silahkan nikmati puisi lengkap saya berikut ini:

Ramadhan (I)

Aku bertanya: tidakkah cukup satu matahari, satu rembulan, dan jutaan bintang di langit?
Sampaikan pada mereka: cukup kalian menjadi manusia tanpa perlu turut menerangi kegelapan!
Bukan dari benda-benda langit kalian dihidupkan, tetapi pada air, tanah, tumbuhan dan binatang kalian berhutang kehidupan.

Engkau membangkang: aku lahir dari rahim bumi tapi sari patinya adalah langit. Salahkah aku?
Aku menjawab: bila kuturuti maumu, apakah selain dirimu kau anggap kegelapan?
Engkau masih bertanya: lantas apa maumu kau ciptakan aku?
Aku jawab sekali lagi: bila kau temukan jawabannya, apa bedamu dariku?!

Ramadhan (II)

Aku bertanya: “mengapa kepada laut engkau berterima kasih atas ikan dan garam yang diberikan,
mengapa kepada pohon engkau menundukkan kepala dengan khidmat atas buah-buah yang dimatangkan?,
mengapa kepada sampan dan kereta engkau bersujud karena mengantar ke seberang?,
Sampaikan pada mereka: panjatkan puja puji syukur kepada gagasan yang tumpah ke dalam kepala tanpa tahu dari mana asalnya!”

Engkau menjawab: “tak ada titian yang bisa kutapaki dari tebing cahayaku ke tebing kegelapanmu. Apakah ada matahari yang lebih terang bagiku selain aku?

Aku bertanya: “bila kutunjukkan jembatan itu, maukah engkau akan menyesali ucapanmu?
Tebingmu tebing kegelapan. Tebingku cahaya itu.”

Engkau menjawab: “aku tetap tak mau percaya.
Aku adalah pohon. Sesuka hati kapan hendak berbuah.
Aku adalah laut. Sesuka hati kapan hendak melahirkan ikan-ikan. Juga mutiara, bila kau tahu.
Cahayaku jauh lebih terang dari cahayamu.”
Aku berdamai denganmu hari ini, tidak hari esok.

Yogyakarta, 2020.

*) Imam Nawawi, lahir di Sumenep 1989. Sempat belajar di beberapa pondok pesantren seperti PP. Assubki Mandala Sumenep, PP. Nasyatul Muta’allimin Gapura Timur Sumenep, PP. Annuqayah Guluk-guluk Sumenep, PP. Hasyim Asy’ari Bantul Yogyakarta, PK. Baitul Kilmah Bantul Yogyakarta, PP. Kaliopak Bantul Yogyakarta, dan PP. Al-Qodir Sleman Yogyakarta. Kini sedang menempuh pendidikan jenjang S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *