Parade Puisi-Puisi Ibnu Wahyudi


KEPATUHAN ITU

kepatuhan itu
belajar dari bayangan
lawan seakan di hadapan
mencegat di tiap waktu

kepatuhan itu
bermula dari keterpaksaan
buta akan kuasa lawan
seperti ada di tiap pintu

kepatuhan itu
mewujud seperti antrean
awalnya harus dipaksakan
lama-lama tertib membatu

kepatuhan itu
menjaga diri dengan elegan
mengonsumsi sehat asupan
itulah cara yang membantu

kepatuhan itu
secara alami akan berjalan
lewat cara-cara penyesuaian
bagi hidup nomor satu

14 Mei 2020

ADALAH KUNCITARA

adalah kuncitara
mustahil membelenggu
sepanjang jalan usia

hari-hari bagai gagu
menghadapi misteri
yang terus sembunyi
dengan tanda tanya

cuma laku kuat daya
cekatan menyiasati
halimun yang tak pasti

ambil inti dari petaka
cari esensi pada luka
dengan pikiran baru
lewat ikhtiar tak jemu

inilah gunanya ilmu
bukan sekadar dihafal
sebab tiada yang kekal

maka saat masih berkabut
dan dikungkung kalut
harus berani hidup beda
bernalar lebih dewasa

13 Mei 2020

KUREBAHKAN JENUH WAKTUKU

kurebahkan jenuh waktuku
kurihatkan suntuk hariku
dalam kalam estuaria
agar asin-tawarnya terasa
pun hitam-putihnya kuncitara
dapat kuraih inti kuncinya
sehingga abu-abunya hari
kurasai dalam esensi

perjalanan berwarna-warni
abu-abu hanya salah satunya
sedang kita enggan mencerna
maka yang tersisa rasa kesal
yang berkuasa nuansa mual
padahal kompromi itu siasat
sebab ada hidup usai tamat
dan harap kita tentu selamat

12 Mei 2020

RUANG LAIN

kubuka ruang lain
terasa adanya angin
menyihir redup pagi
jadi lebih berenergi
sebab semangat pun
ambyar tak terpumpun
ketika belenggu ruang
mendera tanpa peluang
atau kita terjebak diam
pelan-lahan terbenam
seperti patah arang

perlu ada rasa girang
sehingga cuaca terbuka
cakrawala beri cara
kiat membuka jalan
tetapi nalar lamban
sering menjadi utopia
bahkan dijadikan zona
padahal semua ajaran
sarat dengan ajakan
untuk tidak berkilah
untuk tidak kalah

11 Mei 2020

PADA MATA IBU

Pada mata ibu mengalir rindu yang menyisir riak waktu dalam zikir yang menjelma telaga ketika perjumpaan belum terkendala sekat yang tidak mudah dicerna terlebih di kala biasa menawarkan nuansa sarat pemaafan.

Maaf yang utama akhirnya harus dimaknai bukan melulu melalui bersatunya tubuh yang diikat meja dengan opor dan kawannya melainkan kemurnian hati yang meski berjarak ruang tetapi tetap senantiasa mengalun dendang.

10 Mei 2020

DALAM KEBINGUNGAN PERJALANAN

Dalam kamar belajar kamus yang bingung aku cari persamaan dan perbedaan rasa lewat tesaurus yang suka tak setia maka kuselusuri sepanjang jalan kenangan ensiklopedia yang suka berkaca-kaca sewaktu aku tak lagi limbung oleh bingung.

Bingungku kini beralih jalur mengarah ke pulang kota lantaran udiknya rasa linglung itu menghilir ke pemangku kata-kata yang sering tak percaya diri lantaran mulai menyadari bahwa pandemi ini terus saja menghari dengan misteri yang ditaja oleh teka-teki.

10 Mei 2020

PESAN TERSIRATKAN

menyadari batas
bukan perkara hitungan
seperti mengukur diri

bahkan rasa suka
atau namanya asmara
tak cuma satu tambah satu
karenanya banyak yang pilu
yang dirasa ternyata sementara
sebab topeng ikut serta

kepergiannya beri isyarat
jangan memuja berlebihan
: secukupnya lebih punya arti

8 Mei 2020

DUKA YANG BERARAK

duka yang berarak
izinkan lewat sekejap
menulis sendiri sajak
memahat indah epitaf
atau mencatat obituari
dengan sepenuh hati
sesetia matahari

ada yang dalam gegas
lekas diselimuti diam
semua pilihan bebas
juga kala lekas padam
tapi betapa sarat makna
ketika pun harus tiada
terus mengalir kata

6 Mei 2020

DUKA TAK TERTAHAN

duka tak tertahan
menyergap tiba-tiba
sebab kepergian
sering tanpa rencana
sering kita tak siaga
dengan isyarat
dengan hidup tamat

dalam kondisi tak pasti
kepastian jadi teka-teki
bukan buat menyerah
tapi siasati peluang
sebentar atau panjang
membangun daya diri
bagi hidup lebih berarti

5 Mei 2020

TERSESAT DALAM PUISI

tersesat dalam puisi
aku bersua diksi basi
sisa kunyahan politisi
sarat fiksi

aku lari mencari
hati yang terus nyeri
di antara wacana mati suri
yang tak tahu diri

akhirnya kujumpa kau
menyihirku dalam pukau
menyimak setiap ceracau
tempat kebenaran terpantau

4 Mei 2020

BALADA KORONA (5)

karena korona kita terjarak
mungkin di awal kau ingin teriak
mau kau tantang virus dungu itu
tubuhmu kau anggap mampu
melibas ancaman semu bagimu

tapi ketika sedikit ada waktu
pelan kau saksikan hidup nyata
langit berpendaran cahaya
ada liyan yang tinggal bersama
ada jalan yang lama kau lupa

kekangan diri berbulan-bulan
mengajarkan arti hidup bersisian
bahwa tidak ada yang sendirian
bahwa barangkali pula ini siasat
agar kita tahu makna tersesat

25 April 2020

BALADA KORONA (4)

begitu luka memberi duka
baru masif rasa terancam kita
tapi terlambat dapat dikata

ketika maut telah di depan mata
masih saja banyak yang menista
tak percaya niat baik penguasa

penasaran selalu saja menggoda
Ini bangsa yang memang digdaya
atau masih juga belum dewasa?

24 April 2020

BALADA KORONA (3)

baru setelah ada yang tumbang
rasa takut merayap kencang
tapi masih ada yang amat tenang
mungkin sebab tak kasat mata
atau karena tak mampu baca

baca alam tak ada di kurikulum
itu sebab polusi suka tersenyum
bahkan banjir senyum dikulum
dan kita terus saja penuh tawa
akan ancaman bernuansa luka

23 April 2020

BALADA KORONA (2)

diragukan sebagai pandemi
meski kabar silih berganti
gambarkan kengerian tak terperi
orang bertumbangan tiap hari
tetap yakin akan ketahanan diri

rasa percaya diri amat hebat
sebab konon di tropis ia tak kuat
sinar mentari tameng dahsyat
pula karena ini negeri yang taat
jauhlah dari hari-hari kiamat

hidup terus melenggang saja
bahkan sempat ada rasa jemawa
ini tubuh kami penuh daya
datanglah jika kau memang mala
derita kami telah bangun daya

22 April 2020

BALADA KORONA (1)

ketibaan yang begitu saja
mungkin menghadirkan tanya
atau tak dianggap istimewa

terlebih bukan pangeran
pun bukan makhluk rupawan
cuma tipis menggedor kesadaran

mau berbusa-busa khawatir itu
bahkan ancaman yang pilu
tetap dianggap angin lalu

21 April 2020

YANG PANIK

yang panik
adalah yang paham akibat
dan yang gamam lalu tercekat

anak-anak masih berlarian
pedagang terus berjualan
penjahat dapat kesempatan

khotbah agar tak panik
bisa hanya membentur mimpi
jika tanpa ancangan manusiawi

20 April 2020

ADA WAKTU YANG BERGEGAS

ada waktu yang bergegas
ada banyak pula yang malas
seperti memerangkap kita
dalam kejenuhan tak terkira
yang mungkin disebut jemu

semua kembali kepada kalbu
waktu sendiri tak akan ingkar
bersama detik terus melingkar
mendaki fana tanpa maklumat
menuju titik mencapai tamat

19 April 2020

TAK SETIAP MAAF

tak setiap maaf
berhulu dari inti nurani

maaf yang lekas terucap
biasanya sebab mau cepat
meredam sekam biar reda
namun risau terus mengada

hidup sungguh bukan aljabar
esensi hati rumit dinalar
boleh jadi akan terus mengalir
masygul yang tiada akhir

tapi selama rasa tetap misteri
maaf masih yang terpuji

18 April 2020

MEMBANTU WAKTU

Membantu waktu mengisi detak detik dengan utak atik pesan yang menyenyumkan itu akan menyelamatkannya ketika nanti ditanya oleh-Nya. Waktu mustahil berkelit. Itu sebab kita mesti jauhkan arogan lantaran waktu telah lama sebagai kawan. Deminya kita coba tak sia-siakan setiap masa dengan nuansa dewasa dan bukan aniaya yang tiada rasa. Demimu waktu.

18 April 2020.

BARIS GARIS

baris garis
menjeda kita
seperti bait
atau alinea

atau paragraf
bahkan nisan
dengan epitaf
sarat pesan

pesannya jelas
ujung hidup
mungkin lekas
akan meredup

17 April 2020

RINDUNYA RINDU

rindunya rindu
menggoda nubuat senja
akankah sampai menuju
di kala siang masih di tanya
bahkan pagi masih misteri

banyaknya rindu
sampai hari pun lupa
untuk lirih atau melaju
dalam detik tanpa sesiapa
yang dapat diasmarai

akhirnya rindu
menulis di cakrawala
pesan-pesan serba biru
jernih tanpa polusi makna
bagi yang bakal bersemi

17 April 2020

PENJARAKAN DIRI

aku
kamu
dia
mereka
jangan
lupa
tetap
bersama
DIA

16 April 2020

AKU MEMBACA KEDUKAAN

aku membaca kedukaan
lolongannya kian memiriskan
kegelapan menyergap erat
bukan oleh diam dan tak pergi
atau ikuti anjuran dengan taat
tapi karena tiada lagi konsumsi

bahan pokok tuntas ludes
penghasilan harian raib sudah
apa namanya kalau bukan apes
dirumahkan oleh virus mewabah
dan keseharian tanpa kepastian
pikiran jahat kerap bermunculan

yang bergaji tetap saja mengeluh
merasa sengsara dan mengaduh
padahal ada yang terus berkabut
bahkan untuk pengganjal perut
bukan perkara mudah tanpa uang
kelaparan sungguh sudah datang

: kubaca luka ini dengan berlinang

13 April 2020

YANG TERMUDAH

yang termudah
menyalahkan orang lain
keadaan tak luput diludah
semua keliru dan bukan dibatin
tapi diujarkan secara pongah

yang amat sulit
menyisihkan sikap arogan
juga merunduk meski agak sakit
atau menyadari kedaifan
sebab ada langit di atas langit

yang sungguh diperlukan
di masa resah yang tak terduga
adalah memahami ketiba-tibaan
seperti kini yang begitu menyiksa
namun penting sebagai pelajaran

12 April 2020

AKUTU

akutu
bukan batu

sebentar saja
cuma sementara
seperti biasa

akutu
seperti miyapah
atau ciyus
tak akan terus
sekejap berembus

jauhkan gelisah
muskil punah
bahasa kita

biarkan tentu
akutu

11 April 2020

ADALAH WAKTU JUA

adalah waktu jua
yang akan memaksa kita

kesadaran saat berkendara
laku antre yang berbudaya
empati terhadap sesama
merawat alam dengan rasa
atau hidup secara bijaksana

meski juga ada yang kecewa
sumpah serapah jadi media
kemarahan diumbar suka-suka
atau hidup terasa bebannya
tapi kesadaran baru pun tiba

muaranya pada persepsi kita
mau sama atau jadi dewasa

11 April 2020

AKU KEHILANGAN JUMAT

aku kehilangan Jumat
tengah hari hanya lengang
ada suwung yang sulit dicerna

tapi aku tak bicara kiamat
kefanaan mengajariku tenang
endapan emosi kutangkal biasa

nalar pendek yang bikin sesat
genting tak sebabkan pecundang
ketauhidan adalah kunci semua

10 April 2020

KEMATIAN ITU …

kematian itu
–kita tahu–
selalu tak terduga
sering tak dinyana

boleh jadi
karena seperti itu
banyak tak peduli
atau main-main saja
bahkan menantangnya

tapi jika percaya
kefanaan hanya di sini
bekal apa kita bawa
untuk di hidup abadi?

dengan tabungan benci
himpunan caci maki
sirik yang menggurita
dusta yang tak terkira

atau sebaliknya?

9 April 2020

DARI LAPAS

dari lapas
diberi lepas
semoga alam
membuka kalam
sisihkan kelam
bagi hidup
dalam huruf
sarat denyut
penuh empati
juga berbakti
pada muara
pada suara
jernih indah
kaya berkah
sebab fana
dekat kita
dan kematian
tanpa kasihan
pastilah tiba
menuju tiada

8 April 2020

DALAM KEKERUHAN HARI

dalam kekeruhan hari
akankah kecerahan semesta
keindahan lazuardi
dan sejuknya cakrawala
dicemari pengacau insani?

bukan sebab dari lapas
atau tak rela mereka bebas
tapi rasa waswas itu ada
atas sisi kebingungan realitas
yang terus serupa tanda tanya

8 April 2020

REVISI

setiap jejak kehidupan
ada revisi membayangi
lantaran yang masih di depan
hampir tak ada yang pasti
seberapa pun rencana disusun
selalu ada celah terbangun
yang membuat ngungun

di kala pagebluk ini
banyak lagi yang tak pasti
jangan kira semua benderang
lalu penangkal didapat terang

lebih bijak jika kita pilih diam
nikmati dinamika dengan putih
sia-sia terus simpan geram
atau menghakimi lewat dalih
sebab saat dunia serba abu-abu
wajar ada revisi atas langkah baru
kecuali takdir yang pasti bertemu

7 April 2020

REMISI

Pencipta kami

jika pandemi ini
tiba atas kehendak-Mu
bagian cara biar mengerti
tentang hidup paling baku
maka kami harus menyadari
kesesatan sepanjang laku
dan abai atas tiap dimensi
petunjuk-Mu

Pengakhir kami

jika ini adalah teguran
beri kami ruang kontemplasi
sebab banyak tuhan keliaran
membujuk rayu lewat materi
dan menuntun dengan ajaran
penuh pengertian yang sipi
serta sekian banyak ancaman
menyimpang dari jernih nurani

Tuhan kami

jika semua ini tanda
kami harus mempercerdas diri
belajar membaca yang fana
dan mengedepankan empati
maupun menimbang sekian noda
maka tak pantas kiranya remisi
lantaran semua cela muaranya
jadi biarkan kami temukan inti

6 April 2020

VIRUS ITU

virus itu telah jadi bintang
sekaligus seperti binatang
liar memaksa kita tak ke luar
biar beri kesempatan pada suar
yang selama ini terlupakan
yang sehari-hari terabaikan

ia tak ke mana-mana
setia merawat geliat cinta
tapi kita pilih terbuai tipu
lupa ada yang siap buka pintu
atau hidangkan rasa tanpa biaya
sayangnya tiada di mata biasa

karena ulah virus tak diundang
tiba hikmah yang harus dibilang

5 April 2020

KETIKA BERSYUKUR

ketika bersyukur hanya di kata
tak apa juga sebab yang utama
adalah datangnya arus dalam diri
aliri kanal emosi yang menari

jika dari kata sudah jelma jiwa
tinggal disentuhkan ke hati lega
lantaran tanpa kelegaan murni
tercipta cuma rintik manipulasi

karenanya diperlukan lapang rasa
yang mampu membuka cakrawala
bahwa ketercukupan adalah inti
biar tak terus menggelombang iri

4 April 2020

YANG

yang tak ceria oleh bening udara
adalah jiwa dipenuhi nestapa
yang tak bahagia dalam hening
adalah rasa sarat nafsu pening
yang tak nyaman diam di rumah
adalah kebiasaan sulit diubah
yang tak suka di tengah keluarga
adalah diri yang memilih luka
yang tak hargai menu darurat
adalah sesiapa nan rugi berlipat
yang tak tercerahkan oleh wabah
adalah manusia tak tahu hikmah
yang tak mampu menarik hikmah
adalah yang hidup tanpa arah

4 April 2020

___________________
Keterangan gambar dari fb Ibnu Wahyudi: Tepat empat tahun lalu, 13 Mei 2016, dini hari, ibu saya dipanggil menghadap kepada-Nya. Ibu saya termasuk diberi usia panjang, 90 tahun. Sebagai orang kampung di perbatasan antara Semarang dan Surakarta, ibu saya termasuk dibekali pendidikan baik oleh Eyang saya. Pada tahun 1942-an, ibu saya bersekolah menengah di Semarang, biasa diantar oleh mobil eyang itu. Sayangnya, mobil keren pada zamannya tersebut dirampas Jepang pada tahun 1943-an. Al-Fatihah.
***

Ibnu Wahyudi, sastrawan kelahiran Ampel, Boyolali, Jawa Tengah 24 Juni 1958. Mengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (d/h Fakultas Sastra) Universitas Indonesia (UI), selain itu menjadi pengajar-tamu di Jakarta International Korean School (sejak 2001), di Prasetiya Mulya Business School (sejak 2005), di Universitas Multimedia Nusantara (sejak 2009), dan di SIM University Singapura.
Pendidikan S1 di bidang Sastra Indonesia Modern diselesaikan di Fakultas Sastra UI (1984). Tahun 1991-1993, mengikuti kuliah di Center for Comparative Literature and Cultural Studies, Monash University, Melbourne, Australia dan peroleh gelar MA, serta menempuh pendidikan doktor (Ilmu Susastra) di Program Pascasarjana UI. Tahun 1997-2000, menjadi dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan.
Kumpulan puisinya yang sudah terbit, Masih Bersama Musim (KutuBuku, 2005), Haikuku (Artiseni, 2009), dan Ketika Cinta (BukuPop, 2009). Kumpulan prosamininya berjudul Nama yang Mendera (Citra Aji Parama, 2010). Buku puisinya Masih Bersama Musim masuk 10 besar penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2005. Buku-buku yang pernah disusun /disuntingnya, Lembar-lembar Sajak Lama (kumpulan sajak P. Sengodjo) Balai Pustaka 1982, Pahlawan dan Kucing (kumpulan cerpen Suripman) Balai Pustaka 1984, Konstelasi Sastra (Hiski, 1990), Erotisme dalam Sastra (1994), Menyoal Sastra Marginal (2004), Toilet Lantai 13 (Aksara 13, 2008), Ode Kebangkitan (2008), dll.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *